
...πππ...
# Flashback end.
"Kau senang sekali melamun ya!" Suara dingin yang terlontar dari bibir Amer.
"A- apa? A- aku melamun?" Tanya ku dengan tergagap mendapati Amer yang tengah duduk di tepian kasur menatap ku dengan intens.
"Apa kau merindukan suami, mu?" Tanya Amer.
Kening ku mengkerut, "Apa masih pantas aku merindukannya setelah apa yang sudah ia lakukan pada ku?"
"Tergantung." Amer beranjak dari duduknya dan berdiri di depan pagar pembatas balkon yang ada di kamarnya itu.
"Apa maksud Tuan itu tergantung?" Tanya ku polos yang kini ikut beranjak dari atas tempat tidur, berdiri di belakang pria yang mengaku bos ku, pria yang sudah menyelamatkan diri ku.
"Sejauh mana suami mu itu menyakiti mu, tapi jika pria sudah berani bermain tangan pada wanitanya, pria itu bukan lah pria yang pantas untuk di maafkan. Wanita harusnya di sayang dan di cintai bukan untuk di sakiti apa lagi sampai main fisik."
"Bagai mana jika pria itu berselingkuh?" Aku berdiri di depan pagar pembatas, bersebelahan dengannya.
Amer menoleh ke arah ku, ini pasti tentangnya, dia di selingkuhi tapi dengan siapa? Siapa wanita itu? Wanita yang sudah dengan tega menyakiti wanita lain, "Kau tahu, jika pria sudah berselingkuh... pria itu tidak pantas untuk di pertahankan, selingkuh hanya di lakukan oleh orang yang tidak tahu diri, tahu tahu rasa syukur, tidak punya moral, tidak punya harga diri." Kau tidak pantas untuk di sakit La.
Dalam diam ku, kali ini bang Rudi sudah sangat keterlaluan, dia bukan hanya mengusir ku, tapi mengambil segalanya dari ku, aku tidak punya apa apa saat ini, adik ku yang aku cintai ternyata dengan sangat tega menikung ku. Tidur bersama dengan suami ku, di mana hati nurani kalian yang telah tega pada ku! Apa semua yang aku lakukan itu tidak cukup untuk membuat mata hati kalian terbuka?
Bulir bening membasahi pipi ku dalam diam aku terisak, sesak di dada ku seakan melenyapkan cahaya yang selama ia terang di hati ku.
Bang Rudi yang memberikan nyala cinta di hati ku dan bang Rudi juga yang memadamkannya. Kau ajari aku cinta tapi kau juga yang mengajari ku arti patah hati dan kecewa.
Amer menyapu air mata yang membasahi pipi ku.
Ke dua tangan Amer memegang pundak ku.
"Jika ada yang ingin kau ceritakan, ceritakan saja ada aku, apa pun itu ... aku akan siap menjadi pendengar yang baik untuk mu." Ujarnya yang justru membuat tangis ku semakin pecah.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks huaaaaaa." Aku menangis sejadi jadinya, "Tuhan tidak adil pada ku!"
Amer membawa ku dalam pelukannya, tangannya mengelus lembut punggung ku, "Jika dengan menangis bisa membuat beban di hati mu berkurang, menangis lah."
'A- aku merasa Tuhan itu tidak adil pada ku, pak! Suami ku yang aku cintai bermain gila dengan adik tiri ku, jika saja dia bersingkuh dengan wanita lain, aku masih bisa memaafkannya tapi dia dia dengan adik ku ----"
Aku tidak lagi mampu berkata kata, hanya air mata ku yang tumpah ruah membasahi baju kemeja yang tengah di kenakan Amer.
Aku harus memberi pelajaran pada suami dan juga adik mu, La... aku tidak akan diam saja melihat dari mu di perlakukan seperti ini.
π Ke esokan paginyaπ
Amer sudah rapih dengan setelah jas kerjanya yang berwarna biru dongker.
Amer duduk di meja makan namun dia tidak melihat ada Layla di sana.
"Bi Asih!"
"Saya, Tuan." Bi Asih menghampiri Tuan nya Amer yang sedang duduk di kursi namun belum memulai sarapannya, "Kenapa sarapannya belum di makan, Tuan?"
"Wanita itu belum ke luar dari kamarnya, Tuan."
Sorot mata Amer menusuk jantung bi Asih, tatapannya yang tajam membuat siapa saja yang ada di dekatnya pasti akan bergidik ngeri,
Amer beranjak dari tempat duduknya, "Loh, Tuan mau kemana? Gak lanjut sarapan aja Tuan?" Tanya bi Asih.
"Aku mau melihatnya dulu." Amer melangkah menuju lantai dua, tempat di mana Layla berada.
Bi Asih membatin saat melihat Tuannya tengah berjalan menuju lantai atas, apa sih istimewanya itu anak, sampe sampe pak Amer ngebela belain buat itu bocah.
Tok tok tok tok.
"La, buka pintumya! Ini sudah pagi, ayo kita sarapan dulu!" Seru Amer dari depan pintu.
__ADS_1
Tok tok tok tok.
"La! Apa kau masih tidur? Aku buka pintunya ya!"
Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar, membuat Amer merasa resah dan mencoba memegang hendle pintu.
Ceklek ceklek ceklek
Pintu kamar di kunci dari dalam oleh Layla.
Tok tok tok tok.
Pikiran buruk menari nari di kepalanya Amer, bagai mana kalau Layla di dalam tengah bersimbah darah.
"La! Jangan nekat kamu, La!"
Brak.
Pintu berhasil terbuka dengan sekali dobrak.
Amer mencari sosok Layla lalu menghampirinya di saat ke dua matanya menemukan wanita yang ia cari.
Amer melangkah dengan cepat ke arah kasur.
Di lihatnya Layla yang tengah meringkuk dengan ke dua tangannya yang memeluk perutnya sendiri, peluh sebesar biji jagung nampak di kening dan wajah Layla.
"Apa yang kamu rasakan, La?" Tanya Amer dengan wajah panik dengan menangkup wajah Layla. Sedangkan Layla dengan mata yang terpejam kian meracau.
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol π€
__ADS_1
Author gabut sebatas halu.