Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Menaruh curiga.


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Gw harus kerja, gw dapet teguran dari bos gw karena ninggalin kerjaan gw." Mia menyampirkan tas di bahunya melangkah meninggal kan Melisa di ruang rawatnya.


Prang.


Bugh.


Melisa menghempaskan plastik yang berisi buah dan roti yang ada di atas nakas.


"Gw benci sama lo!" Melisa terisak menghadapi masalah yang kini menimpanya.


Saat dokter Mawar memasuki ruang rawat Melisa untuk melakukan kunjungan.


Ceklek.


"Selamat siang bu Melisa!" Seru dokter Mawar yang tercengang dengan ruang rawat Melisa dengan buah yang berserakan di lantai.


Suster memunguti buah dan roti yang berserakan di lantai menyimpan kembali ke dalam kantong plastik dan menaruhnya di atas nakas.


"Bagai mana ke adaan, bu Melisa?" Tanya dokter Mawar dengan melakukan pemeriksaan yang seharusnya di lakukan oleh suster.


"Seperti yang dokter lihat!" Seru Melisa dengan ketus.


"Kapan saya boleh pulang, dok?"


"Nanti ya setelah ke adaan ibu membaik, pasti akan di izinkan untuk pulang." Ujar dokter Mawar dengan suaranya yang terdengar lembut.


"Bagai mana dengan biaya rumah sakit, dok? Saya tidak sanggup untuk membayarnya!" Melisa membuang nafasnya dengan kasar.


"Ibu tenang saja, sudah ada pihak yang mengurusnya."


Suster yang sudah selesai menangani buah dan roti pun kini beralih menghampiri dokter dan melakukan tugasnya pada pasien.


"Bagai mana, sus?" Tanya dokter saat melihat suster mencatat pada data pasien.


"Tekenannn darah rendah dan denyut nadi relstif normal dok." Ujar suster.


Tok tok tok tok.


Pintu ruang rawat Melisa di ketuk dari luar.


"Masuk lah." Dokter Mawar yang menjawab.


Ke dua orang pria dengan berpakaian polisi lengkap dengan atributnya memasuki kamar rawat Melisa melangkah masuk dan berhenti di sisi ranjang rawat Melisa.


"Selamat siang bu Melisa, apa ke adaan ibu sudah membaik?" Tanya salah seorang polisi dengan perkataannya yang tegas.


Melisa mengerutkan keningnya, mau apa lagi ke dua polisi ini masuk ke sini? Apa yang akan mereka lakukan sama gw? Mereka ke sini bukan untuk menangkap gw kan?


Dokter Mawar menepuk bahu Melisa, "Ibu tenang saja, ke datangan polisi ini ingin mengaju kan pertanyaan mengenai pak Rudi." Ujar dokter Mawar.


Dokter mawar mendampingi Melisa selama seorang polisi mengajukan beberapa pertanyaan pada Melisa dengan merekam semua jawaban Melisa.


Hingga satu jam berlalu polisi meninggalkan ruang rawat inap Melisa.

__ADS_1


"Kalo gitu ibu istirahat ya, saya mau cek pasien yang lain!" Dokter Mawar dan suster meninggalkan ruang rawat inap Melisa.


"Bagai mana ini, gw takut buat mejemin mata gw, gw takut kalo Angga bakal dateng lagi buat nyakitin gw!" Melisa meremasss selimut yang menutupi tubuhnya dengan perasan cemas.


Dengan dinginnya ruang, di tambah dengan sepinya suasana rumah sakit, dengan lelahnya pikiran Melisa tanpa terasa ke dua matanya kini terpejam dengan kening yang berkali kali mengkerut.


πŸ‚Ruang rawat LaylaπŸ‚


Amer mendudukan dirinya di sofa dekat dengan ranjang rawat Layla, mengerjakan semua pekerjaan kantornya dari rumah sakit. Enggan baginya untuk berada jauh dari Layla.


Dreeet dreeet dreeet.


Dering telepon berbunyi dari hape Amer yang berada di dalam saku jasnya.


Amer menjawab panggilan teleponnya begitu tahu siapa yang menghubunginya.


"Bagai mana hasilnya? Apa ada hal yang mencurigakan?"


[ "Saya sudah mengirimkan bagian yang mencurigakan pada nomor bapak, bapak bisa melihatnya. Untuk selanjutnya saya menunggu perintah dari bapak." ]


"Baik, biar aku cek dulu buktinya."


Amer mematikan sambungan teleponnya dan mengecek potongan video yang sudah orangnya kirimkan padanya.


Amer menatap layar hapenya tanpa berkedip, tidak ada yang salah. Bi Asih tampak biasa saja mengerjakan tugasnya.


Wajah Amer kian menegang saat melihat dan memperbesar potongan video yang membuatnya tercengang dan tidak habis fikir.


"Apa yang bi Asih berikan pada gelas itu?" Tanya Amer saat bi Asih ke dapatan tengah memasukkan bubuk pada segelas air putih yang berada di atas meja makan.


Potongan berikutnya tampak bi Asih dan Puput begitu senang dengan menatap gelas yang sudah tandas isinya.


Amer menghubungi kepala keamanan yang bekerja di rumah nya itu kembali.


"Apa bi Asih menaruh curiga pada mu?"


[ "Tidak pak, bi Asih tengah sibuk dengan putri nya, sedangkan pekerjaan rumah di kerjakan orang pelayan lainnya. Itu yang saya lihat pak!" ]


"Minta bantuan teman mu, awasi ke duanya, jangan biarkan mereka lolos atau sampai melarikan diri!"


[ "Beres, pak!" ]


"Aku tidak menyangka jika bi Asih pelakunya, apa yang sudah bi Asih lakukan pada Layla sungguh di luar batas."


Dreeet dreeet dreeet.


Hape Amer kembali berdering tapi bukan dari orang suruhannya melainkan dari Gunawan, sekretaris barunya di kantor.


"Ya, Gunawan ada apa?" Tanya Amer dengan suaranya yang terdengar tegas dan berwibawa.


[ "Begini Tuan, di ruang kerja Tuan saat ini ada orang tua Tuan yang sedang menunggu ke hadiran Tuan. ]


"Oh begitu, ya sudah biar saya yang akan menghubungi mereka. Terima kasih ya karena sudah mengabari saya." Ujar Amer.


[ "Iya Tuan, sama sama. Apa Tuan hari ini tidak ke kantor?" ] Tanya Gunawan sebelum Amer memutuskan panggilan teleponnya.

__ADS_1


"Tidak, jika ada hal yang penting. Segera hubungi saya ya! Kau urus kantor dengan baik ya Gun!"


[ "Siap Tuan, terima kasih atas kepercayaannya yang Tuan berikan pada saya." ]


"Iya."


Amer langsung mencari nomor kontak ibunya dan menghubungi nya.


"Assalamualaikum, mah!"


[ "Waalaikum salam, nak... kau di mana nak? Mama dan papa sudah lama menunggu kehadiran mu di kantor." ] Oceh Noer dengan suaranya yang terdengar nyaring.


"Jangan berbohong mah! Hari ini aku tidak berangkat ke kantor, mah!" Seru Amer pada mamanya dengan ke dua matanya yang menatap Layla yang masih memejamkan ke dua matanya.


[ "Ihs dasarrr kau ya mentang mentang pemimpin perusahaan... seenaknya saja bolos! Amer, calon mantu mama bekerja di bagian mananya? Mama ingin menemuinya nih!" ]


"Hari ini Layla tidak masuk kantor mah. Layla harus di opnam di rumah sakit." Ujar Amer yang kini menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, tangannya terulur memijat pangkal hidungnya.


[ "Apa? Bagai mana bisa Layla masuk rumah sakit? Kau apakan calon menantu mama itu, ameeeeer?" ]


"Aku tidak apa apakan Layla, maaaah. Datang lah ke rumah sakit mah, biar aku jelaskan jika mama sudah berada di sini!"


[ "Oke, awas kamu jika mama tahu kamu yang sudah membuat calon mantu mama sampai harus di opname!" ]


"Ihs bawel sekali."


Amer langsung memutuskan sambungan teleponnya. Melanjut kan pekerjaannya yang tertunda dengan memangku laptopnya di atas ke dua pahanya.


πŸ‚ Kediaman AmerπŸ‚


Tok tok tok tok.


"Honey, kita lanjut kan nanti ya! Aku ada urusan dengan ibu ku!"


[ "Baik lah, aku merindukan mu sayang!" ] Seru suara seorang pria yang terdengar manja.


"Aku juga merindukan mu!"


Tok tok tok tok.


Suara ketukan pintu terdengar lagi dari luar.


"Sayang, Puput. Ini ibu sudah buatkan susu hangat rasa vanilla, buka pintunya nak!" Bi Asih sudah mencoba untuk membuka pintu kamar putri nya tapi sayangnya pintu kamar di kunci oleh Puput dari dalam.


"Iya tunggu sebentar, bu... Puput lagi di kamar mandi nih!" Puput langsung melangkah pelan untuk sampai di kamar mandi dan membasahi wajahnya dengan air dari kolam kamar mandi.


Puput menatap dirinya dari depan pantulan kaca, kalo udah kaya gini kan ibu pasti percaya.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭

__ADS_1


Author gabut sebatas halu πŸ˜‰


__ADS_2