
...πππ...
Noer menowel pipi gembul Lilian, dengan senyum yang terukir di bibirnya dan menatap Zeefa.
"Di mana suami mu, Zeefa?" Tanya Noer.
"Suami ku, emmm dia sedang tidak di sini tan." Ucap Zeefa.
"Dady pergi dan tidak kembali, oma." Ucap Lilian dengan polosnya.
Noer dan Ali mengerut kan keningnya, Noer menatap wajah sendu Zeefa.
"Lebih baik kita bicara di sana!" Noer menunjuk sebuah meja yang ada di pojokan ruang, yang aga jauh dari ke ramaian.
Zeefa dan Lilian berjalan lebih dulu ke arah meja yang di maksud. Dengan jemari mungil Lilian yang menggenggam erat jemari Zeefa.
Noer dan Ali berjalan di belakang nya, Noer mencubit gemas pinggang Ali yang berjalan di sampingnya.
"Awwh, apa apaan sih mah!" Ali meringis, dengan tangannya yang memegangi bagian pinggangnya yang di cubit oleh Noer, cubitan yang sama saja dengan capit kepiting bagi Ali.
Noer mengatakannya dengan penuh penekanan, "Papa dari mana aja sih! Tau gak itu Tasya, tadi anak itu buat ulah, hampir aja Layla di buat celaka olehnya." Gerutu Noer.
"Iya maaf, tadi papa sedang di toilet. Tau sendiri kan kalo urusan toilet, tidak baik jika di tunda." Kilah Ali.
Mereka berempat duduk di meja yang sama, dengan beberapa hidangan pencuci mulut yang beraneka jenis, bentuk dan rasa terhidang di atas meja.
Zeefa yang tidak ingin mengingat masa lalunya pun tidak banyak bercerita pada Noer. Zeefa mengalihkan pertanyaannya pada Amer dan Layla.
"Jadi sekarang kamu Zee, yang mengurus perusahaan ayah mu?" Tanya Noer dengan terus memperhatikan wajah polos Lilian yang mirip dengan ibunya Zeefa.
"Iya tante... semenjak ayah sakit sakitan, aku jadi yang meneruskan perusahaan ayah."
"Lalu bagai mana dengan ke adaan Tuan Wahyu itu sendiri, Zee?" Tanya Ali yang sudah lama tidak berjumpa dengan kawan lamanya itu.
"Ayah sedang menjalani perawatan di luar negeri. Setelah beberapa hari yang lalu, melakukan operasi." Terang Zeefa.
...πDi kamar pengantinπ...
Setibanya di kamar hotel yang mewah dan elegan, serta merupa kan salah satu dari sweet room di hotel tempat acara berlangsung. Amer langsung mengunci pintu kamarnya.
Ke dua mata Layla, langsung di manjakan dengan kelopak bunga mawar merah yang menghiasi tempat tidurnya, yang berukuran super besar.
Kelopak bunga mawar merah dengan bentuk hati, serta lampu yang redup. Menambah kesan romantis, suasana kamar pengantin baru Amer dan Layla.
__ADS_1
Layla berdiri di depan cermin meja rias yang terdapat di kamar itu, tangannya berusaha menjangkau resleting gaun pengantin, yang berada di belakang punggungnya.
Amer yang melihat Layla ke sulitan pun membantu Layla untuk menurunkan resleting gaun pengantin nya.
"Biar ku bantu." Ucapnya dengan tangannya yang terulur menurun kan resletingnya.
Amer memandang takjub, punggung putih mulus milik Layla yang kini menjadi istrinya.
Tangannya bergerak dengan sendirinya, menelusuri punggung Layla yang kini tereksposss. Sedang kan Layla, seakan tersengat dengan sentuhan yang di lakukan Amer pada punggungnya.
Entah sejak kapan, kini gaun yang di kenakan Layla tergeletak di lantai. Dengan tubuh Layla yang berbalut celana ketat dengan si kembar yang di tutupi oleh ke dua tangan Layla.
Amer membalikkan tubuh Layla hingga menghadap ke arahnya.
"Boleh kan aku meminta jatah ku, Layla!" Ucapnya dengan suaranya yang parau di telinga Layla.
Membuat darah Layla berdesirrr hebat, dengan mengangguk kecil. Meski ini bukan kali pertama Layla melakukan nya, tapi apa yang Amer lakukan padanya sungguh membuat hatinya tersentuh.
Amer membantu Layla melepasss hiasan pada rambutnya. Hingga rambut panjangnya kini menjuntai indah.
Amer menggendong tubuh Layla ke kamar mandi. Di bawah guyuran air shower yang hangat, Amer memeluk tubuh Layla dengan tangannya yang meresss bokongggg Layla.
Wajah Layla yang berada dalam guyuran air shower, menambah daya pikattt tersendiri bagi Amer. Amer menyambar bibir Layla yang sudah lama ia rindukan, membelittt lidah Layla serta menyesappp nya dengan dalam. Tangan Amer bergeriliaaa melorottt kan celana ketat serta pengamannn segi tiga pada area berharga Layla.
Matanya tertuju pada benda kecil mungil, yang langsung menjadi sasarannya. Amer melumattt benda kecil itu membuat Layla mendesahhh.
"Aaahhhhhh eeemmm."
Tanpa rasa jijiii, Amer menerobosss kan lidahnya pada area sensitif Layla. Meski hanya sebentar ia jadi tahu bagai mana rasanya benda itu.
Amer membaringkan tubuh Layla di dalam bathtub, dengan dirinya yang berada di atas tubuh Layla.
Amer melakukan penyatuannn di dalam bathtub dan membiarkan miliknya untuk beberapa saat tertanam pada milik Layla.
"Aku senang, akhirnya aku bisa memiliki mu seutuhnya, Layla." Amer membantu Layla mengenakan handuk kecil yang hanya menutupi tubuh atasnya hingga batas pangkal pahanya.
Sedangkan Amer hanya mengenakan handuk yang hanya menutupi bagian bawahnya saja.
"Aku juga senang, bisa membuat mu senang ka." Ucap Layla.
"Jangan panggil aku ka, panggil aku sayang... atau cinta!" Amer menggendong tubuh Layla ke luar dari kamar mandi dan membaringkan nya di atas tempat tidur. Dengan melemparrr kan handuk yang Layla kenakan ke sembarang arah.
"Tapi tadi kita sudah melakukan nya, ka!" Ucap Layla yang tahu Amer akan berbuat apa padanya.
__ADS_1
Amer menatap Layla dengan penuh nafsuuu, hasratnyaaa tidak bisa lagi di bendung. Sudah lama ia menginginkan Layla, dan saat ini lah ia akan tuntaskan semua rasa yang selama ini ia pendam.
"Tapi aku masih menginginkannya! Untuk saat ini, salahkah jika aku egois, Layla sayang!" Amer melemparrr handuk yang ia kenakan ke sembarang arah.
Layla menggelengkan kepalanya, karena sejujurnya ia juga tidak bisa menolak ke inginan Amer yang merupakan suaminya kini, tubuhnya sendiri merespon apa yang Amer lakukan padanya.
Amer mengukung tubuh Layla, menatap takjub dengan setiap lekuk tubuh Layla. Ke dua daging yang membusung padat, tampak menggodaaa dengan ukurannya yang cukup besar.
Bak seorang bayi yang kelaparan, Amer menyesappp puncak si kembar dengan rakusnya, yang satunya ia remasss dengan perlahan dan kadang kencang. Membuat Layla yang merasakan nya merintihhh dan mendesahhh di buatnya.
Senjataaa Amer yang sejak tadi masih berdiri tegak pun. Mencari kembali, goa sempittt milik Layla yang tadi sudah berhasil di bobol olehnya.
Amer menghentakkan miliknya dengan ritme cepat, saat miliknya sudah berhasil menerobos milik Layla. Semakin dalam dan semakin cepat ia memainkannya, membuat Layla semakin kelimpungan dengan permainan yang Amer lakukan.
"Eeeemmmhh uuuhhh aaahh."
Bukan hanya sekali Amer melakukannya di atas tempat tidur menggauliii Layla, tapi sampai berkali kali hingga ia merasa puasss dan lelah dengan apa yang sudah ia lakukan.
Tujuannya kini hanya ingin membukti kan. Jika Layla bisa hamil, buah cintanya.
Layla mencengkrammm punggung Amer di saat miliknya, merasakan sakit dan nikmat di saat yang berbarengan. Mana kala milik Amer menerobosss lebih dalam miliknya. Rasa yang tidak ia dapatkan selama menjadi istri, dari seorang pria yang bernama Rudi.
"Apa kau lelah, Layla?" Tanya Amer di tengah tengah aktifitasnya.
"Apa kau tidak lelah?" Layla balik bertanya pada Amer.
"Aku tidak akan lelah, hanya untuk bercintaaa dengan mu!" Ucap Amer yang membuat Layla merona.
Amer menjatuhkan dirinya di samping Layla, membiarkan matanya terpejam untuk beberapa saat.
Sedangkan Layla sudah tertidur pulas karena ke lelahan dengan permainan Amer.
...ππππππ...
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
Author gabut sebatas halu π
__ADS_1