
...💔💔💔...
"Kapan Tuan Amer mengambil foto ini ya?" Tanya Layla pada dirinya sendiri.
Ceklek.
"Kau sudah bangun?"
Amer tersenyum saat mendapati Layla yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Ku pikir, Tuan berangkat ke kantor!" Seru Layla saat melihat siapa pria yang bertanya padanya.
Amer menaruh belanjaannya di atas nakas, "Ya memang aku dari kantor, tapi sekarang aku sudah kembali, menemani mu!" Amer mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla.
Mata Layla tertuju pada belanjaan Amer yang ada di atas nakas, "Apa yang Tuan beli?" Tanya Layla.
"Oh itu, brownies lumer, kesukaan mu kan!" Amer beranjak mengambilkan satu kotak makan yang berisi brownies lumer ke sukaan Layla.
Ke dua bola mata Layla berbinar saat Amer mrngatakan brownies lumer Layla mengerutkan keningnya, "Dari mana Tuan tahu?"
"Kan aku sudah katakan, apa pun tentang mu... aku pasti tahu." Amer mendudukan dirinya kembali di tepian ranjang dan membuka kotak yang berisi brownies lumer dengan tangannya Amer mengarahkan sendok untuk menyuapinya pada mulut Layla.
Tangan Layla mencegahnya, "Aku bisa sendiri, Tuan!"
Amer menggelengkan kepalanya, "No, selama ada aku dan kau masih sakit, biar aku yang akan menjadi tangan mu untuk makan, kaki mu untuk berjalan, mata mu untuk melihat!" Terang Amer yang membuat pipi Layla merona.
"Apa Tuan Amer merayu ku?" Tanya Layla dengan kepalanya yang menunduk malu.
Tangan Amer terulur menyentuh dagu Layla dan mengangkatnya ke atas hingga mata bulat Layla dapat melihat sepasang mata elang yang tengah menatapnya dalam.
"Aku serius pada mu, Layla. Aku tidak ingin melepaskan mu di saat aku memiliki peluang untuk mendapatkan cinta pertama ku kembali." Ujar Amer dengan tulus.
"Tapi Tuan ---"
Amer meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibir Layla, mencegah Layla untuk berbicara lagi, "Maaf jika kali ini aku memaksa, tapi aku tidak ingin melihat mu kembali bersama dengan suami brengsekkk mu itu. Tolong pikirkan lah perkataan ku ini Layla, jika urusan mu dengan pria brengsekkk itu sudah selesai, menikah lah dengan ku, membuka lembaran baru dengan ku dan menutup rapat lembaran lama mu dengannya." Ujar Amer.
Layla menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Apa Tuan tahu kekurang ku saat ini? Aku takut tidak bisa memberikan Tuan keturunan jika aku mendampingi, Tuan." Layla mengatakan apa yang menjadi ke takutannya pada Amer.
"Aku tidak memikirkan soal itu Layla, aku mencintaimu bukan ingin menjadikan mu mesin pembuat anak untuk ku, tapi kau harus ada di saat suka duka ku, kita lalui semua bersama. Apa kau mau Layla?"
Layla menatap Amer dalam, sebegitu pentingnya kah aku buat mu Tuan, hingga anak tidak lagi menjadi penghalang untuk ku jika aku benar mendampingi mu kelak. Berbeda dengan bang Rudi yang menghianati ku dengan alasan aku yang tidak bisa memberikannya keturunan padanya.
Amer menghembuskan nafasnya dengan kasar, mungkin ini terlalu cepat untuk Layla, biar lah aku biarkan Layla menyelesaikan persoalannya lebih dulu pada pria brengsekkk itu.
Tangan kanan Amer terulur kembali mengarahkan sendok berisi brownies lumer pada mulut Layla, "Kau makan lah dulu, untuk masalah yang barusan bisa kau sampingkan, yang terpenting saat ini kau pulih dan berikan surat itu pada mantan suami mu!"
__ADS_1
Layla pun memakannya, menikmati manisnya rasa brownies lumer yang benar benar lumer di dalam mulutnya.
"Apa ini enak?" Tanya Amer.
Layla menganggukkan kepalanya dengan semangat, "Ini enak sekali, Tuan." Terang Layla dengan mata yang berbinar.
Amer menyapu coklat yang terdapat pada sudut bibir Layla dengan jempolnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya, "Rasanya manis, semanis senyum mu saat bahagia." Terang Amer.
"Jangan merayu ku terus, Tuan!" Ke dua tangan Layla meremasss selimut yang menutupi tubuh bawahnya.
"Siapa yang bilang aku merayu mu, Layla! Aku mengatakan apa yang aku lihat, itu nyata Layla!"
Tok tok tok tok.
"Masuk lah!" Seru Amer menyuruh orang yang mengetuk pintu rawat Layla untuk masuk ke dalam.
Salah satu pria yang di tugaskan Amer untuk menjadi bodyguard Layla masuk ke dalam ruang rawat Layla.
Layla menatap heran pada pria yang baru saja masuk ke dalam ruang rawatnya, aku pikir Tuan Amer hanya bercanda saat mengatakan pria ini akan menjadi bodyguard ku?
"Ada apa?" Tanya Amer.
"Di depan ada yang ingin bertemu dengan Nona, Tuan!" Seru Hendra.
Amer menoleh pada Layla dan berkata, "Siapa yang ingin bertemu dengan mu, Layla? Apa kau ada janji dengan seseorang? Bukakah yang tau kau di rawat hanya aku dan Mia?"
Melisa ke luar dari dalam mobil taksi hendak di papah oleh Herman, namun Melisa menolaknya dengan mendorong tubuh besar Herman.
"Biar gw bantu lo jalan!" Seru Herman dengan tangannya yang hendak meraih pinggang Melisa.
Bugh.
Melisa mendorong tubuh Herman, "Gak perlu, gw bisa jalan sendiri!"
"Dasarrr cewek keras kepala lo! Jalan sana kalo lo bisa!" Sungut Herman dengan kesal yang akhirnya membiarkan Melisa jalan sendiri menuju rumahnya, sedangkan Herman berjalan di belakang Melisa, mengekori Melisa.
Melisa masuk ke halaman rumahnya dengan tertatih tatih dan jalannya pun perlahan.
Herman menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat, "Apa bang Rudi ada di dalam ya?" Gumam Herman.
Ceklek ceklek ceklek.
Tangan Melisa mencoba untuk membuka pintu namum sayangnya pintu dalam keadaan terkunci.
Bugh bugh bugh bugh.
__ADS_1
Melisa menggedor gedor pintu berkali kali dengan tangannya.
"Bang, buka pintunya bang, bang Rudi, ini aku Melisa, bang!" Seru Melisa.
"Coba sekali lagi, mungkin aja kan bang Rudi lagi tidur di dalam kamar!" Seru Herman yang kini mendudukan dirinya di kursi yang terdapat di teras rumah.
Bugh bugh bugh bugh.
"Bang Rudi, buka pintunya bang! Bang Rudi, bang!" Apa mungkin bang Rudi gak ada di rumah?
"Coba lu telpon nomor hapenya, kali aja kalo dia ada di rumah ya itu telponnya bunyi." Terang Herman yang memberikan ide pada Melisa yang kini berwajah pasih.
Melisa mencoba menghubungi nomor telepon Rudi, namun hasilnya hape yang berdering tidak ia dengar bahkan panggilannya tidak tersambung.
[ "Nomor telepon yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan. Mohon hubungi beberapa saat lagi." ] Mesin operator lah yang menjawab panggilan Melisa.
Herman menoleh pada Melisa, "Gimana?" Tanya Herman.
Melisa menggelengkan kepalanya.
Bugh bugh bugh bugh.
"Bang, buka pintunya bang! Lo ada di dalam kan bang!" Sungut Melisa.
Herman yang sudah jengkel dengan Melisa pun akhirnya beranjak dari duduknya, "Biar gw dobrak sini pintunya buat lo!" Herman menggeser tubuh Melisa dari depan pintu.
Baru pintu akan di dobrak oleh Herman, seorang tetangga yang kebetulan lewat saat itu menyapa Melisa.
"Neng Melisa, ke mana aja neng! Baru kelihatan." Tanya si ibu berdaster dengan rambut di konde saat sudah berada di halaman rumah Melisa.
"Habis dari rumah sakit, bu." Seru Melisa.
"Owh kalo neng Layla ke mana ya, neng? Ko ibu udah beberapa hari ini gak liet neng Layla ya? Yang ibu lihat cuma bang Rudi sama temen perempuannya itu loh yang kemarin dateng ke rumah." Ujar si ibu berdaster.
"Bang Rudi sama perempuan? Ke rumah siapa bu?" Tanya Melisa dengan kening yang mengkerut.
"Lah ya ke rumah neng Melisa lah, baru kemaren ibu lihat bang Rudi ngajak cewe cantik masuk ke dalam rumah, malah mesra gitu, hati hati loh neng, kalo ada tamu yang menginap harus lapor sama pak RT sini!" Sungutnya dengan bibirnya yang nyinyir.
"Bang Rudi ngajak perempuan masuk ke dalam rumah? Semalam?" Tanya Melisa lagi untuk meyakinkan indra pendengarannya.
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
__ADS_1
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran ðŸ¤ðŸ¤
Author gabut sebatas halu 😉