
...💔💔💔...
Makan malam mereka berdua terusik, dengan dering telpon yang terus menjerit dari hape Layla yang ada di atas nakas, samping ranjang mereka.
Dreeet dreeet dreeet dreeet.
"Biar aku lihat ka, siapa yang menelpon nya!" Layla beranjak dari duduknya.
Keningnya mengkerut saat mendapati nomor tidak di kenal yang menghubunginya.
"Siapa yang menelpon, Layla?" Amer menyantap hidangannya dengan matanya yang menatap Layla.
Layla mengerdilkan bahunya dengan berjalan kembali menghampiri Amer, "Tidak tahu ka!"
Amer mengerutkan keningnya, "Ko bisa tidak tahu?"
Layla memperlihat kan layar hapenya pada Amer, "Bagai mana menurut mu, ka? Apa aku harus menjawabnya?" Layla meminta pendapat Amer.
Amer meraih hape Layla di saat Layla sudah mendudukan dirinya kembali di samping Amer.
"Biar aku yang menjawabnya!"
Layla menyerahkan hapenya pada Amer.
Suara seorang pria langsung terdengar saat Amer menjawab panggilannya.
[ "Apa ini saudara Layla? Kaka perempuan dari ibu Melisa?" ]
Amer mengerutkan keningnya, siapa pria ini? Tapi siapa pun pria ini, dia pasti mengenal baik Melisa dan juga Layla.
Layla bertanya pada Amer dengan mengangkat sedikit kepalanya, bibirnya bergerak tanpa suara.
'Siapa ka Amer? Apa aku mengenalnya?'
Amer menggeleng gelengkan kepalanya.
"Sepertinya anda salah sambung. Ini bukan nomor seseorang yang anda sebutkan tadi." Ucap Amer pada orang yang kini berbicara dengannya di telpon.
[ "Ini pasti Tuan Amer, suaminya Nona Layla, betul kan tebakan saya?" ]
Amer mengerutkan keningnya, dari mana orang ini tahu jika aku suaminya Layla? Layla hanya memberikan nomor telepon ini pada Mia dan Nami. Tidak mungkin jika Melisa mendapatkan nomor telepon Layla yang baru ini!
"Maaf, saya sedang berbicara dengan siapa? Dari mana anda mendapat kan nomor ini?"
[ "Tidak penting anda tahu siapa saya! Yang harus anda tahu, saat ini harap anda menjemput ibu Melisa, ia ada di hotel Melati, di lantai 2, tepatnya di kamar 111. Anda hanya memiliki waktu 1 jam dari sekarang." ]
"Apa anda pikir, saya akan begitu saja percaya dengan anda? Maaf anda salah orang!" Tanpa banyak berkata lagi, Amer langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Amer bahkan menon aktif kan hape milik Layla.
__ADS_1
Layla mengerut kan keningnya, "Kenapa ka? Hape ku kenapa di matikan? Nanti kalo Mia menghubungi ku, bagai mana?" Layla mencecar Amer dengan beberapa pertanyaan.
"Nanti kita beli SIM card yang baru untuk mu! Yang ini di buang saja!" Ucap Amer dengan santainya, ia mengeluarkan SIM card dari hape Layla, dan membuangnya ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari mereka.
Layla membatin, ada apa dengan ka Amer? Apa yang tadi di bicara kan orang yang menelpon ya?
"Sudah ayo kita makan lagi!" Ucap Amer dengan menyuapkan makanan ke mulut Layla.
Amer membatin, maaf Layla, aku harus melakukan ini pada mu! Aku takut pria itu hanya membohongi mu, bisa saja kan ini permainan dari adik tiri mu yang licik itu!
Setelah makan malam, Amer dan Layla menghabiskan waktu mereka dengan menonton film horor di dalam kamar.
"Apa tidak sebaiknya kita menonton film romantis atau komedi saja, sayang?" Tanya Amer saat film akan mulai di putar.
"Aku lebih menyukai film horor ka, apa kaka tidak menyukai film horor?" Tanya Layla saat Amer beranjak naik ke atas kasur.
Amer menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sedangkan Layla kini bersandar pada tubuh Amer. Amer melingkarkan ke dua tangannya di perut Layla.
Sesekali Amer menenggelamkan wajahnya di bahu Layla di saat hantu dalam film akan menampakkan wajahnya.
"Apa yang ka Amer lakukan? Apa ka Amer takut pada hantu itu?" Tanya Layla dengan polosnya.
Amer membatin, kalo aku katakan yang sebenarnya jika aku ini takut, bisa jatuh harga diri ku... Layla bisa saja mentertawakan ku!
"A- aku tidak takut ko, hi- hidung ku hanya gatal, i- iya... hidung ku hanya gatal." Kilah Amer dengan menggosokkk gosokkan hidungnya pada bahu Layla.
"Aaaaaa!" Amer berteriak sekencang kencangnya dengan menyembunyikan wajahnya di bahu Layla.
Layla tersentak kaget di buatnya, "Ada apa ka? Itu kan hanya film." Ucap Layla dengan melihat wajah Amer yang kini pias.
"I- itu Layla, a- aku tadi hanya melihat kecoa, i- iya itu ada kecoa." Ucap Amer yang masih berkilah.
Layla memeluk Amer dengan erat, "Sudah lah ka, terima kasih ya sudah berusaha untuk melihat apa yang aku suka... tapi jangan memaksa kan diri mu ka, jika kau ini benar benar takut akan film horor, kita bisa melihat film yang lain." Ujar Layla dengan senyum yang merekah.
Amer membuang nafasnya dengan kasar, "Apa aku laki laki yang tidak punya harga diri, jika aku takut pada film horor?" Tanya Amer.
Layla menangkup wajah Amer, "Siapa bilang? Kaka itu laki laki yang hebat, kaka itu pahlawan ku! Takut dengan film horor, bukan berarti membuat mu tidak punya harga diri." Terang Layla.
Amer menghujani wajah Layla dengan ciumannn, "Aku sangat bangga pada mu, sayang!" Terang Amer.
Malam semakin larut, Layla dan Amer pun memutuskan untuk pergi tidur.
"Apa kau bahagia menikah dengan ku, Layla?" Tanya Amer dengan satu tangannya yang melingkar di perut Layla, sedangkan Layla menjadikan lengan Amer yang satunya sebagai bantalan kepalanya.
Layla membatin, untuk saat ini aku bahagia, tapi aku harap untuk ke depannya. Hidup ku akan selalu bahagia bersama dengan mu, ka Amer. Aku harap dalam pernikahan ku yang ke dua ini, tidak akan ada lagi air mata ke sedihan, yang ada hanya air mata ke bahagiaan.
"Layla, apa yang kau pikirkan? Aku sedang bertanya pada mu!" Oceh Amer.
"Aku bahagia, aku harap pernikahan kita ini akan selalu bahagia, aku harap kita akan menjadi pasangan yang sakinah, mawadah warahmah." Ucap Layla.
__ADS_1
"Amiiiiin. Jangan lupa ingtkan aku jika aku berbuat ke salahan ya, sayang!" Seru Amer namun tidak lagi mendengar jawaban dari bibir Layla, yang terdengar hanya dengkuran halus dari bibir Layla.
Amer tersenyum dengan tangannya yang mengelusss pipi Layla, "Cepat sekali tidurnya! Mimpikan aku ya sayang!" Amer ikut memejamkan ke dua matanya.
Ke esokannya, Layla dan Amer kembali ke kediaman Amer. Ke duanya di sambut oleh kepala pelayan Rafa beserta Ali Khan dan Noer.
"Selamat datang kembali Tuan, Nona!" Ucap Rafa dengan membuka kan pintu mobil untuk Tuan nya.
"Terima kasih, pak!" Ucap Amer dan tangannya terulur untuk di raih oleh Layla.
Amer dan Layla masuk ke dalam rumah dengan saling berpegangan tangan.
"Selamat datang, every bady... honey sweetie sayang!" Ujar Noer dengan hebohnya dengan ke dua tangan yang merentang.
Ali hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah absrud istrinya.
"Bagai mana malam pengantin mu? Apa putra ku Amer berhasil membuat gol pada mu, sayang?" Tanya Noer dengan memeluk menantunya kini.
Wajah Layla merona, "A- aku a- anu---" Layla sangat gugup di tanyakan Noer seperti itu.
"Maaah, jangan begitu lah tanyanya! Kasian tuh menantu kita. Kau ini! Seperti tidak ada pertanyaan lain saja!" Tegur Ali.
Ke empatnya kini masuk ke dalam rumah, mereka menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol di ruang keluarga.
Rafa datang menghampiri keluarga yang kini tengah bahagia itu.
"Maaf Tuan, ada seorang Nona Muda yang ingin bertemu dengan Tuan, apa saya bisa mempersilah kan nya untuk menemui anda Tuan?"
"Seorang wanita muda?" Tanya Amer dengan keningnya yang mengkerut.
"Apa kau punya janji dengan seorang wanita, Amer?" Tanya Ali.
"Tidak pah, aku tidak punya janji dengan siapa pun. Jika itu teman ku, pasti akan menghubungi ku lebih dulu jika ingin datang bertamu." Ujar Amer.
"Lalu siapa wanita itu, Amer?" Tanya Noer.
"Siapa nama wanita itu?" Tanya Layla.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭
Author gabut sebatas halu 😊
__ADS_1