
...πππ...
Bukan sapaan hangat yang di terima gadis yang mengenakan tengtop dan celana pendek di atas paha ini, melainkan guyuran air segayung yang membasahi wajah cantiknya.
Byuuuur.
Melisa gelagepan dari tidurnya ia langsung duduk dengan ke dua tangan menyapu air yang membasahi wajahnya, ia menatap dengan kesal pria yang tengah berdiri di depannya.
"Apa yang kamu lakukan, bang?" Tanya Melisa.
"Dasarrr wanita manja, cepat bangun... buatkan aku sarapan!" Rudi meninggalkan Melisa yang masih mencerna apa yang baru saja terjadi padanya.
Rudi mendudukkan dirinya di kursi, dengan meja yang tampak kosong.
Rudi menatap ke atas meja, jika saja aku tidak mengusir Layla, pasti saat ini sarapan ku sudah tersedia di atas meja.
Penyesalan selalu datang belakangan, itu lah yang Rudi rasakan saat ini, karena bujuk rayu Melisa semalam, membuatnya tega untuk mengusir istrinya sendiri.
Melisa bangkit dari duduknya, kakinya melangkah menghampiri Rudi.
Dengan tidak tahu malunya Melisa berdiri di samping Rudi, memeluk pria yang tidak lain adalah kaka iparnya sendiri.
Tangannya melingkar di leher Rudi, dengan tubuh depannya yang menempel pada lengan Rudi.
"Apa yang sedang kau pikirkan, bang?" Tanya Melisa dengan suara yang mendayu dayu.
Rudi melingkarkan satu tangannya di pinggang Melisa, ia merapatkan tubuh Melisa padanya, tangannya mencengkram pinggang Melisa dengan kencang.
"Apa kau tidak mendengar apa yang tadi aku katakan pada mu, Melisa!" Seru Rudi dengan suara yang penuh penekanan.
"Akh, aaaw sakit bang!" Melisa mengaduh kesakitan.
Rudi menyeringai, tangannya yang ia gunakan untuk mencengkram kini ia gunakan untuk menghempaskan tubuh Melisa hingga wanita itu jatuh terduduk di lantai.
"Akh, a- apa yang kau lakukan bang!" Melisa mengusappp usappp bokongggnya yang mendarat di lantai, kenapa bang Rudi jadi sekasarrr ini pada ku?
Brak.
Rudi mengebrak meja dengan tangannya hingga Melisa berjingkat kaget.
"Cepat buatkan aku sarapan! Malah bengong!" Seru Rudi dengan ketus.
Melisa bangkit berdiri, "A- abang kan tahu a- aku tidak bisa memasak bang." Oceh Melisa dengan rasa takut yang kian menjalar dalam dirinya.
"Huh, dasarrrr wanita tidak ada gunanya! Lantas bisa apa kau hah!" Rudi membentak Melisa.
Melisa menatap Rudi dengan diam, aku hanya bisa memanjakan mu di ranjang bang, tapi untuk urisan dapur dan mencari uang, aku tidak bisa.
Melisa di didik dengan manja oleh ayah dan ibunya, berbeda dengan Layla yang selalu di tuntut harus bisa masak dan menghasilkan uang untuk keluarga.
Rudi bangun dari duduknya dengan sengaja kakinya menginjak jari kaki Melisa dan menekannya.
__ADS_1
"Aaakh, sa- sakit bang!" Menyesal aku memilih mu bang! Rupanya bukan hanya pada Layla kau bisa berbuat kasar, tapi sekarang kenapa aku yang kau perlakukan dengan kasarrr?
"Mulai sekarang, kau harus bisa masak! Jika tidak, ku usirrr kau dari rumah ini." Rudi berjalan ke kamar dan mengambil kaos dari dalam lemari, ia memakai kaos itu lantas berjalan ke luar.
Melisa duduk di kursi, bagai mana bisa ini terjadi pada ku!
Rudi yang melihatnya di buat geram.
Brak.
Rudi menggebrak meja lagi dengan tangan kanannya, Melisa berjingkat kaget.
Tubuh Melisa bergetar, degup jantungnya berdetak dengan kencang.
Rudi menatap tajam Melisa, benar benar tidak ada gunanya!
Rudi meninggalkan Melisa di rumah, matanya membola saat mendapati sepedah motor yang akan ia gunakan.
"Siapa yang berani melakukan ini?" Rudi menatap tajam mengedarkan pandangannya berharap bisa menemukan pelaku yang mengempeskan ke dua ban sepedah motornya.
πDi tempat lainπ
Pak Jojo menghampiri Amer yang masih berada di mushola rumah sakit.
Pak Jojo berkata dengan suara yang pelan.
"Pak, itu dokter ingin berbicara dengan bapak mengenai Nona yang tadi bapak bawa, emmm Nona Layla, iya Nona Layla." Seru pak Jojo.
Di lorong rumah sakit.
"Jadi siapa tadi yang menangani Layla, pak?" Tanya Amer pada supirnya yang berjalan di sampingnya.
"Dokter Samuel, pak."
Amer mengerutkan keningnya, "Samuel?"
Pak Jojo menjelaskan bagai mana dokter Samuel bisa menangani Layla.
Dreet dreet dreet.
Hape Amer yang berada di saku jasnya bergetar.
[ "Kau langsung saja ke ruang rawat wanita ini!" ]
Amer menghentikan langkah kakinya saat panggilan yang berlangsung langsung di putus saat seseorang yang menghubunginya sudah selesai dengan perkataannya.
Kening Amer mengkerut, menatap pak Jojo.
"Ada apa, pak?" Tanya pak Jojo dengan heran.
"Di ruang mana Layla di rawat?" Tanya Amer dengan menepukkan satu tangannya pada pundak pak Jojo.
__ADS_1
"VVIP Mawar, pak."
"Kita ke sana!"
Amer dan Jojo melangkah menuju VVIP Mawar, ruang di mana Layla mendapat perawatan.
"Kau tunggu lah di luar!" Seru Amer saat mereka berdua sudah berada di depan ruang rawat Layla.
Pak Jojo mengangguk patuh.
Ceklek.
"Bagai mana keadaannya?" Amer menanyakannya langsung pada dokter Samuel yang sedang mengecek kantong infus yang menggantung di tiang.
"Seperti yang kau lihat." Ujar dokter Samuel dengan santai.
"Lalu kenapa dia kesakitan pada bagian perutnya? Apa ada masalah dengan pencernaannya?" Amer mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla, tangannya menggenggam jemari mungil yang kini pucat dan terdapat jarum infus di sana.
"Sepertinya kau tidak tahu apa apa tentang wanita ini!" Oceh dokter Samuel.
Kening Amer mengkerut, "Apa maksud mu, Sam?" Tanya Amer.
Dokter Samuel mengambil map merah dari atas meja yang terdapat di dekatnya, membuka data pasien atas nama Layla Savinta.
"Berdasarkan data rumah sakit, 3 tahun yang lalu wanita ini menjalani operasi karena keguguran dan di 3 bulan berikutnya ia menjalani operasi pengangkatan kista. Besar kemungkinan ini efek dari kista yang pernah dia derita." Ujar dokter Samuel.
"Apa tidak ada cara untuk menghilangkan rasa sakitnya?" Tanya Amer dengan serius.
Bukannya menjawab pertanyaan Amer, dokter Samuel malah balik bertanya pada Amer.
"Apa kau suaminya? Di mana suami wanita ini?"
Amer mengerdikkan bahunya, "Aku tidak tahu, Layla di usir dari rumahnya dan aku pastikan Layla akan berpisah dengan suami bejatttnya." Ujar Amer dengan tangan yang mengepal, mata penuh kebencian.
"Kenapa jadi diri mu yang memutuskan hidup wanita ini?" Tanya dokter Samuel.
"Karena aku tidak mau melihatnya menderita lebih lama lagi." Ujar Amer menatap wajah Layla dengan sendu.
"Tahu apa kau tentang hidupnya?" dokter Samuel mendudukkan dirinya di sofa yang terdapat di ruang rawat.
"Dari mana lagi kalo bukan dari security yang bekerja di kantor ku."
"Cinta itu rumit ya! Jadi kau jatuh cinta dengan wanita yang bersuami?" Tanya dokter Samuel tanpa ada keraguan.
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol π€
Author gabut sebatas halu.
__ADS_1