Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Menyusahkan saja!


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Uuuuh, tubuh ku seakan remuk." Ujar Melisa saat menggerakkan tubuhnya dan berusaha untuk bangkit dari tidurnya.


"Apa lo butuh bantuan?"


Melisa menatap tajam pada pria yang baru saja bertanya padanya, "Gw gak nyangka lo sekejammm itu sama gw, bang!" Seru Melisa dengan sinis menatap Rudi yang duduk di tepian ranjangnya.


"Heh, tapi lo butuh bantuan gw!" Rudi menatap dengan sinis Melisa yang berusaha bangkit dari duduknya.


Melisa mendudukan dirinya di tepian ranjang dengan melilittt tubuh polosnya dengan selimut dan merasakan sakit di area sensitifffnya, "Uuuh." Melisa meringis berusaha berjalan dengan tangannya yang perpegangan pada sekitarnya.


Rudi mengikuti arah jalan yang Melisa tuju, nekat juga ini anak.


Penglihatan Melisa seakan buram, dia juga merasakan basahhh pada area sensitifffnya dan tidak lama Melisa tumbang dan jatuh tergeletak di lantai.


Bugh.


"Dasarrr bodoh!" Rudi membantu mengangkat tubuh Melisa dengan ke dua tangannya dan membawanya kembali ke atas tempat tidurnya.


Rudi menatap acuh pada lantai yang meninggalkan nodaaa darahhh pada saat tadi Melisa tergeletak tidak sadarkan diri.


"Menyusahkan saja!" Rudi meninggalkan Melisa di atas tempat tidur dan meninggalkannya di kamar seorang diri.


Sementara di luar kamar, tengah duduk di sofa dua orang pria yang sudah menjajahiii tubuh Melisa dengan di atas meja ada beberapa botol minuman yang memabukkannn dan cemilan.


Ke dua mata mereka tertuju pada Rudi yang baru saja ke luar dari kamar Melisa.


"Gimana dia, bang? Apa udah bangun?" Tanya pria berkepala plontos.


"Udah tadi." Dengan santainya Rudi ikut duduk di sofa bergabung bersama dengan yang lain menenggak minuman yang memabukkannn untuk dirinya.


Pria berkepala plontos menatap pintu kamar Melisa, "Ko dia gak ke luar, bang?" Apa Melisa baik baik aja ya? Kenapa gw khawatir pada wanita itu?


Pria berambut gondrong menatap temannya pria yang berkepala plontos, "Kalo lo khawatir, mending lo masuk ke dalam, lo liet dia gih! Dari pada mulut lo bawel." Oceh pria berambut gondrong dengan sebel.


Pria berkepala plontos masuk ke dalam kamar Melisa, tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah pucat Melisa.


"Apa selelah itu sampe lo belum membuka mata lo? Wajah lo pucat tapi tidak menutupi wajah cantik lo." Tanya pria berkepala plontos yang kini menduduki tepian ranjang Melisa.


Dengan tatapan matanya yang tajam menelusuri tubuh Melisa yang terbaring di atas ranjang dengan tubuh Melisa yang di lilittt selimut.


"Apa itu?" Tangannya menyibak tubuh Melisa bagian bokongggnya.

__ADS_1


Terdapat bercak darahh yang merembasss ke luar dari tubuh Melisa, "Darahhh? Darahhh apa ini?" Tanyanya dengan mata yang membola.


Ke dua tangannya yang kekar menggendong tubuh pucat Melisa dan membawanya ke luar, "Kita harus bawa dia ke rumah sakit, bang!" Oceh pria berkepala plontos di depan Rudi dan pria berambut gondrong.


Pria berambut gondrong menolaknya, "Buat apa di bawa? Dia cuma lelah aja, bang... gak usah sepanik itu lah!" Serunya santai.


"Gw rasa dia pendarahannn, bang!" Serunya dengan serius menatap Rudi yang sedang menenggak minumannya.


"Uhuk uhuk uhuk." Rudi menyemburkan minumannya yang belum sampai di telannya.


Pria berkepala plontos berjalan ke luar dengan tergesa gesa membawa Melisa yang semakin pucat.


Bisa bahaya kalo Melisa sampe di bawa ke rumah sakit, apa yang akan di pikirkan dokter nantinya?


"Lo gak bisa bawa Melisa ke rumah sakit!" Rudi mencegah pria berkepala plontos untuk membawa Melisa ke rumah sakit.


"Lo gila bang, kalo sampe dia kenapa kenapa... gimana bang?" Sungut pria berkepala plontos menatap tajam pada Rudi.


"Lo mau jawab apa kalo sampe pihak rumah sakit nanya apa yang terjadi sama Melisa? Mau jawab apa lo?" Sungut Rudi dengan tangan yang hendak merebut Melisa dari gendongan temannya itu dan membawanya masuk ke dalam rumah kembali.


Pria berkepala plontos ngikuti Rudi dari belakang, "Tapi bang, kalo sampe dia kenapa napa gimana? Dia harus dapat penanganan medis!"


Pria berambut gondrong ikut bicara, "Heh begooo! Kalo sampe pihak rumah sakit tanya Melisa kenapa bisa pendarahan, lo mau jawab apa? Mau ngaku lo udah perkosaaa itu anak? Mao lo masuk penjaraaa?"


Rudi menidurkan kembali Melisa di atas ranjangnya.


"Lo harus baik baik aja!" Pria berkepala plontos meraih tangan Melisa dengan tangannya dia menggosokkan jemari Melisa, memberikannya kehangatan pada tubuh yang kini memucat.


πŸ‚Di rumah sakitπŸ‚


Di tempat yang berbeda, Layla menikmati indahnya taman rumah sakit dengan sinar mentari yang menyinarinya, dengan duduk di kursi roda.


"Apa lagi yang kau inginkan?" Tanya Amer yang duduk di kursi taman, sedangkan Layla duduk di depannya dengan kursi roda.


Layla menoleh pada Amer, dengan senyum yang mengembang, "Tidak ada."


"Apa tidak ada yang ingin kau makan?" Tanya Amer dengan tangannya yang menggulir pada benda pipih yang ada di tangannya.


"Tidak ada, Tuan. Apa Tuan sungguh ingin menjaga ku? Tuan bisa saja kan pergi ke kantor... pekerjaan Tuan sedang menunggu." Ujar Layla dengan menatap Amer yang sibuk dengan hapenya.


Amer menyimpan hapenya ke dalam saku celana yang ia kenakan, matanya yang teduh menatap Layla, "Tidak ada yang lebih penting jika di bandingkan dengan mu, Layla!"


Pipi Layla merona, baru kali ini ada pria yang mengatakan aku lebih penting dari apa pun, tapi sayangnya kalimat itu ke luar dari mulut mu Tuan Amer, kau itu bos ku, kau itu pria matang yang berhak bahagia, kau itu sempurna berbeda dengan ku.

__ADS_1


"Sepertinya ini sudah cukup terik, kita kembali ya ke ruang rawat mu!" Amer beranjak dari duduknya dan mendorong kursi roda kembali ke ruang rawat Layla.


"Tuan." Layla berseru dengan suara yang pelan.


"Ada apa?"


"Aku rasa Tuan hanya kasihan saja pada keadaan ku, masih banyak wanita di luaran sana yang lebih pantas untuk Tuan cintai." Ujar Layla lagi dengan suara yang bergetar.


"Kau tahu Layla, aku sudah menduga kau akan mengatakan hal itu." Amer menjawabnya dengan santai.


"Tapi, Tuan... a- aku ----"


"Tidak ada kata tapi, Layla... pulihkan lah dulu keadaan mu, untuk masalah gugatan cerai mu untuk pria brengsek itu kau tenang saja... aku yang akan mengurusnya." Ujar Amer.


Amer menggendong Layla dan menidurkan Layla di atas ranjang rawatnya.


"Terima kasih, Tuan." Ujar Layla.


"Tidak perlu sungkan pada ku, Layla." Amer meminggirkan kursi roda yang tadi Layla gunakan, ia dudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla.


Dreeet dreeet dreeet dreeet


🎢 🎢 🎢


Hape Amer terus berdering dan berkali kali di abaikan oleh Amer.


"Angkat saja Tuan, itu pasti sangat penting." Ujar Layla.


Amer mengeluarkan hapenya dari saku celananya dan melihat siapa yang sedari tadi menelponnya.


Keningnya mengkerut saat melihat nama kontak yang menelponnya dan tidak lama orang itu menelpon lagi.


...Calling...


...Rara...


Amer menatap Layla dalam diam.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu.


__ADS_2