
...πππ...
"Aku yakin, tidak lama lagi rencana ku, untuk menghancurkan ke dua nya akan berhasil!" Tekad Alan bulat, dengan mengepalkan ke dua tangannya, menatap tajam kaca spion, lalu menyeringai.
Alan membatin, akan ku hancurkan kalian berdua.
"Apa bapak yakin akan menghancurkan ke duanya?" Tanya Nusi.
Bukannya menjawab, Alan malah memberikan pertanyaan pada asistennya itu, "Kenapa kau berkata seperti itu, Nusi?"
"Maaf pak, jika aku salah bicara. Dari sudut pandang ku, bapak seolah memiliki rasa pada Nona Layla." Ujar Nusi.
"Kau jangan bergurau Nusi, buang jauh jauh pemikiran mu yang sempit itu!" Elak Alan, mungkin apa yang di katakan Nusi ada benarnya juga, tapi tidak lah. Heh, tidak mungkin aku bisa suka pada wanita itu!
"Kita lanjut ke kantor atau pulang ke rumah, pak?" Tanya Nusi dengan melirik Tuan-nya dari kaca spion mobil.
"Antar aku pulang saja, gara gara wanita sialannn itu, lidah ku jadi asin!" Gerutu Alan.
"Apa perlu saya memberikan pelajaran pada wanita itu juga, pak?"
"Boleh juga, beri wanita itu pelajaran, agar dia tahu. Siapa yang ia hadapi saat ini!" Alan menyeringai, tidak ada yang boleh berani melawan ku! Siapa pun itu!
Mobil melaju dengan ke cepatan sedang, melewati beberapa mobil lainnya, membelah kemacetan jalan.
Ciiiiit.
Nusi menginjak pedal rem, saat ada wanita yang tiba tiba saja berlari ke tengah jalan.
Brak.
Bodi depan mobil yang di tumpangi Alan, menabrak wanita itu. Hingga wanita itu terpental dan berakhir dengan terhempas ke aspal, dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
"Akkkkkhh."
Bugh.
"Dasarrr bodoh! Cepat turun!" Gertak Alan pada Nusi yang terpaku.
"I- iya, pak." Nusi ke luar dari dalam mobil dan melihat wanita yang baru saja ia tabrak.
Jalan sangat sepi, karena itu merupakan jalan perumahan elit, yang ke banyakan penghuninya menutup diri dengan lingkungan sekitar.
Nusi langsung kembali ke dalam mobil. Dan mendudukan dirinya di belakang kemudi.
"Bagai mana? Apa korbannya selamat? Ada yang lihat tidak? Aman dari CCTV, tidak?" Alan mencecar Nusi dengan beberapa pertanyaan.
Nusi menoleh ke arah Tuan-nya, "Kritis pak, terdapat beberapa luka lebam pada kaki dan tangannya, di kaki juga terdapat luka yang memperlihatkan. Bahkan wajahnya rusak pak. Sepertinya wanita itu tengah melarikan diri, pak." Ujar Nusi yang menceritakan kondisi wanita yang ia tabrak.
"Menarik juga, cepat bawa masuk wanita itu! Kita selamatkan nyawa nya." Ujar Alan.
Nusi mengerutkan keningnya, "Bapak serius, ingin menyelamat kan wanita itu?"
__ADS_1
"Tentu saja, aku bisa memanfaat kan nya. Di dunia ini tidak akan ada yang gratis!" Alan menyeringai.
"Baik, pak." Nusi turun dan Alan turun dari mobil.
Nusi langsung membawa wanita yang ia tabrak, masuk ke dalam mobil bagian belakang dan membaringkan nya di sana. Sedangkan Alan kini memilih duduk di depan, samping kemudi.
"Merepotkan saja!" Gerutu Alan.
Nusi membatin dengan tangan yang berada di stir kemudi, tadi kan bapak sendiri, yang bilang untuk membawa wanita itu ke rumah sakit, sekarang aja bilang merepotkan. Dasar bos aneh.
Nusi melajukan kembali mobilnya dengan memutar balik menuju rumah sakit.
Alan melirikkan matanya lewat kaca spion mobil ke arah belakang, saat wanita itu merintih dan meracau, dengan kata yang terbata bata.
"Ka, to- tolong ma- maaf kan a- aku, a- ku sa- salah, to- tolong, ma- maaf kan a- aku." Apa aku tertangkap lagi? Apa aku tidak punya harapan, untuk bertemu dengan Layla? Apa aku, tidak bisa mengatakan maaf padanya? Apa ini akhir hidup ku?
Wanita itu tidak sadarkan diri setelah nya, ke dua matanya terpejam.
"Nanti kau selidiki, siapa wanita itu!" Ujar Alan yang kini menatap tajam ke depan.
"Siap, pak."
Sampai di rumah sakit, wanita itu langsung di larikan ke UGD, mendapatkan tindakan dari pihak rumah sakit.
Alan kembali ke kediamannya, dengan mobil lain di antar supir pribadinya. Sedangkan Nusi, ia tinggalkan di rumah sakit, untuk mengurusi wanita yang akan ia manfaatkan sebagai alat untuk menghancurkan Amer dan Layla.
...πKantor Amer Cropπ...
Aulia membola dan tidak terima dengan ke putusan yang di buat Amer.
"Apa pak? Yang harusnya bapak pecat itu dia! Bukan saya!" Aulia menunjuk jari telunjuk kanannya pada Layla.
"Pak! Jangan gegabah dalam mengambil keputusan!" Layla memeluk lengan Amer.
"Aku tidak lagi gegabah Layla, tapi ini sudah keterlaluan. Karena wanita ini pula, aku harus menyetujui kerja sama dengan pihak Ardiansyah group." Amer menunjuk jari telunjuk kanannya ke arah Aulia dengan geram.
"Bagus dong kalo akhirnya, pak Amer bekerja sama dengan Ardiansyah group. Perusahaan ini akan semakin di kenal, hingga ke maca negara. Lalu apa yang salah di sini?" Tanya Aulia dengan sinis.
Amer mengepalkan ke dua tangan nya, menatap penuh dengan ke bencian pada Aulia, "Kau tidak akan mengerti!"
Amer melangkah meninggalkan Aulia, dengan tangannya yang menggenggam Layla, ia membawa Layla bersamanya meninggalkan kantor.
Aulia menatap kesal punggung Amer dan Layla, yang semakin menjauh dari pandangan nya.
"Sialannn, lagi lagi aku kalah dengan mu, wanita ular, brengsekkk kau Layla!" Aulia mengepalkan ke dua tangannya.
"Kita mau ke mana ka? Ini kan masih jam kantor!" Ujar Layla.
"Ke tempat yang bisa membuat aku tenang, aku frustasi Layla. Aku bingung, entah kau akan marah pada ku, atau kau akan membenci ku, karena keputusan yang sudah aku ambil." Ujar Amer yang kini melangkah memasuki lift.
"Maksud ka Amer apa? Aku tidak mengerti, keputusan apa yang ka Amer ambil? Apa alasan ku untuk membenci ka Amer?" Layla menggenggam jemari Amer.
__ADS_1
"Nanti akan ku jelaskan, aku hanya tidak ingin kehilangan mu Layla, tapi aku juga tidak ingin perusahaan ku hancur." Ujar Amer.
Layla memeluk Amer, "Apa pun ke putusan ka Amer, aku percaya itu baik. Aku setuju dengan apa pun keputusan yang ka Amer ambil." Layla mengatakan nya dengan penuh keyakinan.
Amer menangkup wajah Layla, menatap dalam ke dua mata wanita yang ia nikahi, "Terima kasih karena kau sudah percaya pada ku, Layla!"
Layla mengutas senyum pada Amer.
Cup.
Amer mengucup singkat bibir Layla sebelum pintu lift terbuka.
Ting.
Amer membawa Layla ke luar dari lift, dengan tangan yang saling menggenggammm. Ke duanya melewati lobby begitu saja.
Di parkiran Amer menghubingi pak Jojo, yang tidak ada di dalam mobil.
"Pak Jojo di mana? Kami ada di parkiran!" Ujar Amer saat pak Jojo sudah menjawab panggilan teleponnya.
[ "Saya lagi di kantin, Tuan, ini kami akan segera ke sana!" ]
Ujar pak Jojo yang mengartikan jika dirinya tengah bersama dengan Jono dan Hendra.
"Saya tunggu bapak secepatnya!" Amer langsung memutuskan sambungan teleponnya, dan menyimpan kembali benda pipih itu di saku kemeja nya yang berbalut jas.
Layla menatap Amer, "Apa ka? Pak Jojo bilang apa?" Tanya Layla.
"Lagi di jalan ke sini, tadi mereka habis dari kantin." Ujar Amer.
"Memang ka Amer mau membawa ku ke mana?" Tanya Layla.
"Nanti juga kau akan tahu!" Amer menaik Layla ke dalam pelukannya.
Rasanya hati ku sedikit tenang mendengar jawaban mu tadi. Meski aku tidak tahu, jika aku mengatakan nya, kau akan tetap mendukung keputusan ku atau tidak.
Pak Jojo menunduk hormat di depan Amer.
"Kita langsung berangkat, Tuan?" Tanya pak Jojo.
...ππππππ...
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
Author gabut sebatas halu π
__ADS_1