Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Pria yang dapat di andalkan


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Apa kau masih bisa berjalan, Layla?" Tanya Amer.


"Kalo jauh rasanya sulit, Tuan... perut saya sakit sekali Tuan!" Seru Layla dengan meringis.


Pak Jojo menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Kau tunggu sebentar ya!" Amer ke luar dari mobil dan meninggalkan Layla bersama dengan pak Jojo di dalam mobil.


Sedangkan Hendra dan Jono di buat bingung dengan bosnya yang langsung turun di pinggir jalan dan berlari ke arah sebuah toko yang terdekat dari mobil yang terparkir.


"Ada apa dengan bos?" Tanya Jono pada Hendra yang kini berdiri di samping motornya.


Hendra mengerdilkan bahunya, "Entah lah, mungkin sedang menanyakan alamat." Jawab Hendra sekenanya.


Amer kembali dan membuka pintu mobil bagian Layla dengan wajah yang sumringah.


Ceklek.


Tanpa banyak bertanya Amer langsung menggendong tubuh Layla dengan ke dua tangannya yang kekar dan membawa Layla ke luar dari dalam mobil.


Pak Jojo yang melihatnya di buat menarik sudut bibirnya ke atas, "Pak Amer memang pria yang dapat di andalkan, tapi ada apa dengan Nona Layla ya? Tadi perasaan baik baik saja. Kenapa sekarang jadi sakit perut gitu." Pak Jojo ke luar dari dalam mobil dan menghampiri ke dua bodigard Tuan-nya.


"Tuan, kita mau kemana? Aku butuh ke toilet Tuan!" Seru Layla yang kini merasakan perutnya terasa di cabik cabik dan ingin mengeluarkanmya, rasanya begitu tersiksaaa.


"Iya aku tahu itu. Kau tenang lah." Seru Amer yang kini fokus pada jalan, aku tidak akan membiarkan mu kenapa napa Layla.


"Di mana, pak?" Tanya Amer saat sudah berdiri di depan seorang pria yang tadi ia hampiri.


Pria itu menatap wajah wanita yang tengah di gendong oleh Amer, dari wajahnya tampak menunjuk kan jika wanita itu sedang menahan sakit.


"Mari Tuan, ikut saya!" Pria itu melangkah mendahului Amer memasuki kios baju yang ada di hadapannya.


Amer mengikuti langkah kaki pria itu dengan tangannya yang tetap menggendong Layla, Layla mengalungkan satu tangannya pada leher Amer dan tangan satunya berada di perutnya.


Pria itu membukakan pintu toilet untuk Layla, "Ini Tuan, silahkan." Ujarnya yang lantas membiarkan Amer membawa masuk Layla ke dalam toilet.


Amer menurunkan Layla dari gendongannya membantu Layla berdiri sesaat untuk menjaga keseimbangan bobot tubuhnya.


"Aku menunggu mu di luar." seru Amer dengan tangannya yang menyapu peluh yang ke luar dari wajah Layla semakin deras, wajah Layla bermandikan keringat dingin.


Sementara Layla berada di dalam toilet, Amer berbincang dengan pria tua yang sudah bersedia meminjamkan toilet yang ada di rukonya untuk Layla.


"Apa tadi itu istri, Tuan?" Tanya pria tua itu pada Amer.


"Belum pak, tapi baru calon dan akan segera jadi istri saya." Seru Amer dengan wajah yang bersemu.


"Kalo di lihat dari sekilas pandangan saya, Tuan ini sangat mencintai wanita yang di dalam itu. Hehehe maaf loh Tuan, saya lancang berkata seperti itu." Pria itu terkekeh.


"Tidak ko, pak... baoak benar saya sangat mencintai wanuta yang ada di dalam sana itu." Seru Amer.


"Kalo cinta harus di perjuangkan, Tuan... sebesar apa pun rintangannya. Sikattt habis asal kita bisa bersama dengan wanita yang kita cintai." Ujar pria tua dengan bersemangat.


"Itu yang sedang saya lakukan, pak. Saya sudah salah membiarkannya menjadi milik pria lain yang ternyata tidak membuatnya bahagia. Dan sekarang saya akan mengejar cinta saya itu pak. Akan saya jadikan dia ratu ke dua dalam rumah saya."


Kening si pria tua langsung mengerut saat mendengar Amer bilang akan menjadikan Layla ratu ke dua di rumahnya.


"Ko ratu ke dua, Tuan? Bukan ratu satu satunya di rumah Tuan? Apa Tuan akan membagi cinta Tuan dengan wanita lain? Itu sama saja dengan poligami, Tuan! Tuan jauh akan lebih menyiksaaa batinnya dari pada tubuhnya Tuan." Ujar pria tua dengan alis yang menikuk tajam.

__ADS_1


Amer tergelak mendengar perkataan bapak tua itu yang salah mengartikan ratu ke dua dalam hidup Amer.


"Ahahah bapak ini bisa saja, ratu pertama kan ibu saya, ratu ke dua ya pasti istri saya, pak!" Terang Amer menjelaskan maksudnya pada pria tua itu.


"Ooooh saya pikir Tuan ini ingin melakukan poligami, ternyata saya salah kaprah, hahahha... maaf ya Tuan." Pria tua tersenyum canggung dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Amer menatap ke arah ruko yang di mana berada Layla di dalam toiletnya.


"Kenapa Layla lama sekali ya? Ada apa ini? Apa Layla baik baik saja!" Gumam Amer dengan wajah tampak cemas.


"Kalo cemas ya mending Tuan liet gih, udah lama juga itu si neng di dalam toilet." Ujar pria tua.


Amer berjalan dengan langkah lebar menghampiri Layla yang sedang berada di dalam toilet.


Amer berdiri di depan pintu toilet yang tertutup rapat. Tangannya terulur mengetuk pintu.


Tok tok tok tok.


"Layla, sudah belum La?" Tanya Amer.


"Tuan, saya tidak bisa berhenti Tuan! Rasanya ini mules dan sulit di tahan, sedangkan tidak ada lagi yang bisa saya ke luarkan Tuan." Ujar Layla dengan suara yang lemah dan lemas.


"Boleh aku masuk, Layla?" Tanya Amer dengan wajah cemas saat mendengar pengakuan Layla.


Ceklek.


Amer melihat Layla yang terduduk lemas di atas toilet dengan pakaian yang masih lengkap, wajahnya tampak pucat.


"Apa masih ingin?" Tanya Amer dengan tangannya yang menangkup wajah Layla.


Layla menganggukkan kepalanya, "Tapi tidak ada yang bisa di ke luarkan, hanya rasanya ada yang ingin ke luar." Layla mengerucutkan bibirnya, tubuh ku rasanya kemas sekali.


"Tuan, mending si neng di bawa ke rumah sakit aja, biar di kasih obat. Udah lemes banget itu si neng!" Seru pria tua dengan menatap wajah Layla yang tampak pucat.


"Iya, pak... ini mau saya bawa ke rumah sakit. Terima kasih ya pak sudah di izinkan saya untuk meminjam toilet bapak." Ujar Amer dengan menatap lekat wajah Layla yang kini bersandar di dadanya.


Hendra yang melihat menatap curiga pada Tuannya.


"Ini sih ada yang berbuat sesuatu sama Nona!" Seru Hendra yang membuat pak Jojo dan Jono menoleh ke arahnya.


"Berbuat apa?" Tanya pak Jojo.


"Iya, maksud lo apa bang?" Tanya Jono.


Hendra menarik nafasnya dengan kasar, "Mending tunggu jawaban dari bos, biar kita gak penasaran. Karena ini cuma baru terkaan gw doang!" Seru Hendra yang membuat temannya merasa kesal.


Pletak.


Jono mendaratkan jitakan di kepala Hendra.


Amer melangkah dengan tergesa gesa ke arah mobil dengan sigap Hendra membukakan pintu mobil untuk Tuannya, sedangakan pak Jojo langsung duduk di belakang kemudi.


Amer memangku tubuh Layla dengan terus memeluknya.


Matanya menoleh ke arah pria tua yang tengah duduk di kursi plastik menatao dagangannya yang belum laku terjual.


Nanti saja lah urusan dengan pak tua itu aku selesaikan. Sekarang yang terpenting ada lah Layla dulu, aku harus membawa Layla ke rumah sakit.


"Kita kemana nih, pak?" Tanya pak Jojo.

__ADS_1


"Ke rumah sakit, pak!"


Pak Jojo melajukan mobilnya menuju rumah sakit sesuai lwrintah yang di berikan Tuannya Amer.


Sesekali pak Jojo melirik ke arah belakang lewat kaca spion mobil.


Kasihan sekali Nona Layla, baru saja ke luar dari rumah sakit, masa iya sekarang harus di larikan ke rumah sakit lagi? Tapi kalo melihat kondisinya memang Nona Layla membutuhkan penanganan dari dokter.


"Apa yang sebernya terjadi pada mu Layla, beberapa saat yang lalu kau itu tampak biasa saja, sehat sehat saja. Kenapa sekarang tubuh mu jadi lemas begini?"


"Maaf pak, apa mungkin Nona Layla salah makan?" Tanya pak Jojo.


"Kalo salah makan, harusnya saya juga merasakan hal yang sama pak! Apa yang Layla makan, saya juga ikut makan tadi." Oceh Amer menyanggah perkataan pak Jojo.


"Lalu karena apa dong, pak?" Tanya pak Jojo.


"Entah lah, pak."


Amer merogoh saku jasnya dan mengeluarkan hapenya, ia menekan nomor telepon dokter Samuel.


"Kau bersiap lah, aku sedang di jalan menuju rumah sakit." Seru amer saat panggilan telepon sudah tersambung.


"Bersiap untuk aoa lagi, kawan?"


Amer menjelaskan apa yang terjadi pada Layla.


"Ada yang terjadi dengan Layla, tubuhnya lemas, tadi ia berada di dalam toilet, entah apa yang ia rasakan. Layla tampak tersiksaaa pada perutnya. Apa mungkin ini karena indung telurnya yang sudah di angkat itu?"


"Aku akan siapkan ruang tindakan untuk wanita mu itu!"


πŸ‚ Kediaman AmerπŸ‚


Nampak bi Asih dan juga Puput yang tengah tertawa puas di meja makan.


"Kau tahu sayang! Wanita itu pasti sedang merasakan siksaannn dunia, bagai mana sakitnya perutnya itu tercabik cabik dengan obat yang sudah ibu campur ke dalam minumannya." Bi Asih menatap gelas yang tadi Layla gunakan untuk minum dengan isinya yang sudah tandas.


Puput menyeringai, "Urusan menyiksaaa ibu ku ini mang orangnya!" Seru Puput dengan memeluk bi Asih dari belakang.


"Untuk mu, apa pun akan ibu lakukan nak!"


Ambisi bi Asih untuk menjadikan Amer sebagai menantunya semakin kuat setelah ia tahu betapa kayanya Amer atas apa yang ia miliki.


Selain sudah mengenal Amer sejak kecil, bi Asih juga yakin jika Amer mencintai Puput hingga tidak sayang untuk mengeluarkan uangnya saat Puput mengatakan pada Amer ingin sekolah di luar negeri.


Amer memang sangat sayang pada Puput, sayang sebatas kaka terhadap adiknya. Amer sudah menganggap Puput sebagai adiknya sendiri, namun sayangnya itu di salah artikan oleh bi Asih.


Hingga saat Amer membawa Layla pulang ke rumah, rasa percaya bi Asih pada Amer memudar. Rasa takut pada dirinya menyeruak mana kala tahu jika Amer mencintai Layla. Tanpa Amer berkata pun, bi Asih sudah bisa menerka jika Amer hanya mencintai Layla.


"Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Hanya kamu nak, yang akan memiliki Tuan Amer." Bi Asih tampak berbinar menatap Puput yang kini sudah bersamanya.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2