
...💔💔💔...
"Kebahagiaan pasti akan datang pada mu, Layla!" Gumam Amer.
"Itu pasti, Tuan. Selama Tuan bisa melindungi Nona Layla." Ucap pak Jojo.
Amer menatap pak Jojo, "Kau benar pak, aku harus melindungi Layla dari tangan tangan manusia yang berniat mencelakainya."
Mata Amar menatap ke arah luar kaca mobil, "Berhenti dulu, pak!" Serunya saat mobil melintasi lokasi pertokoan, tempat di mana Layla tadi menumpang ke toilet salah satu toko.
Pak Jojo menghentikan laju mobilnya dan memarkirkannya di bahu jalan depan toko.
Amer melangkah masuk ke dalam toko, mencari sosok pria tua tadi.
Amer memberikan sejumlah uang pada pria tua itu dan melanjutkan perjalanannya kembali menunju rumah sakit.
Saat di koridor rumah sakit, menuju ruang rawat Layla. Hape Amer menjerit saat ada panggilan masuk.
Dreeet dreeet dreeet.
...Calling...
...Gunawan...
Amer lantas menjawab panggilan telepon dari Gunawan.
[ "Selamat, pagi pak... maaf saya mengganggu waktu bapak." ] Ucap Gunawan dari sebrang sana dengan sopan.
"Tidak apa, ada apa Gunawan? Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan?" Tanya Amer dengan suaranya yang datar.
[ "Saya hanya mengingatkan bapak untuk setelah jam makan siang, bapak ada jadwal meeting dengan klien dari PT. Buana untuk pengajuan kerja sama mereka dengan pihak Amer Crop." ]
"Jam berapa dan di mana?"
[ "Meeting berjalan di kantor Amer Crop, pukul tiga belas lewat 10 menit, pak!" ]
"Baik lah, aku akan tiba di kantor sebelum waktunya meeting. Kau urus berkas berkasnya."
[ "Baik, pak!" ]
Amer menyimpan kembali hapenya ke dalam saku celananya saat panggilan teleponnya sudah berakhir.
Sebelum masuk ke dalam ruang rawat Layla, Amer bertanya pada ke dua bodyguardnya.
"Apa ada yang masuk ke dalam selain orang tua ku?" Tanya Amer dengan tatapan yang tajam.
"Dokter dan perawat yang mengecek keadaan Nona, Tuan!" Seru Hendra.
Amer melangkah masuk ke dalam ruang rawat dan mendapati Layla yang tengah tertidur di atas ranjang rawatnya. Sedangkan ke dua orang tuanya tengah duduk di sofa dekat dengan pintu menghadapi banyak makanan di atas meja.
Amer mencium punggung tangan kanan ke dua orang tuanya.
__ADS_1
"Apa urusan mu sudah selesai, Amer?" Tanya Ali.
"Sudah, pah. Aku sudah membereskannya." Ucap Amer dengan mendudukan dirinya di sofa dan meraih salah satu minuman kemasan yang ada di aras meja.
"Urusan apa yang baru kau selesaikan itu, Amer?" Tanya Noer dengan tatapan penuh selidik pada putranya.
"Bukan urusan apa apa, mah... ini mama dan papa sedang pesta? Membeli makanan sebanyak ini?" Tanya Amer dengan mengalihkan pembicaraan.
"Papa mu, merindukan hukuman dari mama!" Sungut Noer dengan tatapan sebal pada suaminya Ali.
Amer menoleh pada papanya, Ali, "Hukuman? Apa lagi yang sudah papa perbuat?" Tanya Amer dengan polosnya.
"Tidak ada, hanya salah paham saja. Kamu kaya gak tahu mama mu saja!" Ujar Ali dengan santai.
Noer beranjak dari duduknya, "Urusan mu sudah selesai kan, Amer? Bisa kita bicara sebentar!" Ucap Noer dengan tegas.
Amer melirik papanya dan di balas anggukan kepala oleh Ali.
"Apa harus ke luar dari ruang rawat, mah? Apa tidak bisa kita bicarakan di sini saja?" Tanya Amer.
"Ikuti saja perkataan mama mu ini, Amer! Tidak usah banyak membantah!" Sungut Noer.
Noer melangkah ke luar dengan di ikuti oleh Amer yang menyusul di belakangnya.
Amer membatin, aku belum melihat Layla, kau pasti akan baik baik saja Layla.
Noer dan Amer berbicara serius di kursi yang tidak berada jauh dari ruang rawat Layla.
"Apa yang ingin mama bicarakan pada ku?" Tanya Amer yang melihat raut wajah bingung pada Noer.
Amer mengerutkan keningnya, memikirkan perkataan yang baru saja di katakan oleh mamanya.
Wanita itu tidak bisa apa apa, jika ia di pekerjakan di kantor ku, bisa kacau kantor ku yang ada.
"Kenapa dengan kantor ku? Kenapa bukan di kantor perusahaan orang tuanya saja mah? Tante Nita juga pengusaha kan? Usahanya jauh lebih maju dari pada usaha ku ini!" Amer berkilah menolak ke inginan mamanya itu.
"Tante Nita meminta mama untuk memberikan kesempatan pada Tasya untuk mendekati mu, nak!" Seru Noer.
"Lantas mama mengizinkannya begitu saja? Mama kan sudah berjanji pada ku! Untuk tidak memaksakan pilihan mama pada ku, aku sudah punya pilihan sendiri mah!" Amer beranjak dari duduknya menatap kesal pada Noer.
Noer menggenggam pergelangan tangan Amer, "Siapa bilang mama melanggar janji mama sama kamu, Amer? Mama dan papa setuju dengan pilihan kamu pada Layla, bahkan mama tidak mempermasalah kan status Layla, apa itu kurang cukup untuk mu?" Sungut Noer.
"Lantas apa yang mama lakulan pada Tasya, itu sama saja mama memberikan kesempatan Tasya untuk dekat dengan Amer!"
Noer menepis tangan Amer yang ia genggam sebelumnya, ia beranjak dari duduknya melangkah meninggalkan Amer.
"Mama pikir kamu cukup pandai untuk mengatasi Tasya, anak manja itu agar menjauh dengan sendirinya dari mu!" Ucap Noer dengan ketus.
Noer kembali masuk ke dalam ruang rawat Layla dan sudah mendapati Layla yang sudah terjaga.
Layla tersenyum ke arah Noer.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun rupanya, Layla!" Seru Noer yang melangkah mendekati ranjang rawat Layla.
Ali yang tidak tahu jika Layla sudah terbangun dari tidurnya pun menoleh ke arah Layla.
"Sejak kapan kamu bangun, Layla?" Tanya Ali.
"Baru saja, om." Ucap Layla.
"Tante pamit pulang dulu ya, sayang! Nanti malam tante akan ke sini lagi!" Ucap Noer dengan mengelus lengan Layla.
"Iya, tante. Terima kasih ya, tante dan om sudah mau menemani ku!" Ucap Layla dengan suaranya yang lirih.
Amer masuk ke ruang rawat Layla, "Mama mau pulang?" Tanya Amer.
"Iya, mama mau pulang!" Noer menggandeng tangan Ali dan menyerettt nya ke arah pintu.
Saat Amer menyalami ke duanya, Noer mengingat kan kembali Amer pada permintaannya.
"Ingat permintaan mama tadi, kau harus fikirkan itu, Amer!" Oceh Noer.
Amer membuang nafasnya dengan kasar, "Ihssss!"
Amer mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla.
Tangannya terulur merapikan anak rambut Layla dan menyelipkannya di telinga Layla, tatapan mata Amer teduh menatap bola mata Layla.
Aku sangat mencintai mu, Layla. Aku akan mempertahankan mu... tidak ada kata mengalah lagi dalam hidup ku untuk mengejar cinta mu.
Layla mengerutkan keningnya, Tuan Amer kenapa?
"Apa ada yang ingin Tuan katakan pada ku?" Tanya Layla, saat Amer hanya menatapnya dalam diam tanpa sepatah kata pun.
Amer tersenyum pada Layla, "Cepat lah pulih, aku akan sangat merindukan mu saat berada di kantor tanpa melihat wajah mu!" Ucap Amer.
Layla merona, "Aku pasti akan cepat pulih, Tuan. Aku juga sudah rindu dengan pekerjaan lu! Pasti saat ini pekerjaan ku sudah menumpuk di atas meja kerja ku."
"Apa kau hanya merindukan pekerjaan mu saja, Layla? Kau tidak merindukan ku?" Tanya Amer.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Layla yang ada di atas nakas berdering.
Membuat Layla dan Amer menatap ke arah hape itu.
"Siapa yang menelpon mu, Layla?" Tanya Amer.
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
__ADS_1
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran ðŸ¤ðŸ¤
Author gabut sebatas halu 😉