Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Wanita masa lalu


__ADS_3

...💔💔💔...


Ceklek.


Amer mengerutkan keningnya saat melihat sosok yang tengah duduk di salah satu kursi ruang meeting.


Amer membatin, mau apa wanita ini ke sini!


Wanita itu langsung beranjak dari duduknya saat melihat pria yang sudah bertahun tahun ia tinggal kan dan kini ada di hadapannya.


Wanda membatin, kau semakin tampan saja Amer... dengan di topang bentuk tubuh mu yang kekar dan pasti tubuh depan mu membentuk roti sobek yang sangat menggemaskan.


"Selamat siang, Tuan Amer... lama tidak berjumpa!" Ucap Wanda, wanita yang satu tahun lebih muda dari Amer itu mengulurkan tangan nya saat Amer dan sekretarisnya sudah berada di hadapannya.


Amer menyambut uluran tangan Wanda, "Selamat siang, Nona Wanda. Maaf sudah membuat anda menunggu, maklum saya harus memutar kembali arah tujuan untuk sampai ke tempat ini!" Oceh Amer dengan sinis menyindir Wanda secara tidak langsung karena sudah seenaknya merubah tempat meeting mereka secara mendadak.


Mereka berempat duduk di tempat yang sudah di pesan Wanda.


"Apa kabar mu, Tuan Amer! Apa kau masih mengingat ku?" Tanya Wanda dengan senyumnya yang tipis.


Tatapan ke dua mata Wanda sulit di artikan dengan alisnya yang menukik tajam, tubuhnya yang proporsional membuatnya tampak seksiii, apa lagi setelah kantor yang Wanda kenakan sangat ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya, rambut panjangnya tergerai indah dengan warna coklat.


Gunawan dan Dika sama sama memperhatikan interaksi ke duanya dalam diam.


Gunawan membatin, apa pak Amer mengenal bu Wanda sebelumnya ya? Atau ada hubungan khusus di antara ke duanya?


Dika membatin, apa aku tidak salah lihat... kenapa bu Wanda menatap Tuan Amer seperti itu, sulit rasanya untuk mengartikan tatapan Nona Wanda pada Tuan Amer. Setahu ku, Nona Wanda sangat dingin pada setiap pria, tapi kali ini berbeda dengan sikap Nona Wanda pada Tuan Amer.


Tangan Amer terulur membuka lembaran berkas yang ada di atas meja tepat di hadapannya, mempelajari setiap poin yang ada dalam berkas yang sudah di ajukan pihak PT. Buana.


"Seperti yang kau lihat, saya sangat baik tanpa kurang suatu apa pun. Bisa langsung saja kita mulai meetingnya!" Ujar Amer yang ingin membahas pada inti pertemuannya kali ini dengan Wanda selaku pihak dari PT. Buana.


"Baik lah, mari kita mulai. Berdasar kan pada perusahaan anda yang bergerak dalam bidang karpet, saya tertarik untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan yang Tuan Amer pimpin ini dengan ..." Ucap Wanda panjang lebar, mengatakan apa yang menjadi dasar untuk melakukan pengajuan kerja sama dengan Amer Crop.


Amer mengerti dengan apa yang di sampaikan Wanda, Wanda melakukan persentasi dengan sangat baik.

__ADS_1


Amer menatap Wanda dalam diam dan tanpa sadar tatapannya membawa Amer dalam lamunan.


Andai saja... dulu kau mau mempertahankan hubungan kita, mungkin saja saat ini kita sedang membahas perkembangan usaha. Bukan pengajuan kerja sama. Tapi itu hanya masa lalu, aku tidak boleh membiarkan hati ku larut dalam perasaan masa lalu. Masa lalu ya masa lalu, masa kini dan masa depan ku adalah Layla dan hanya Layla seorang, aku harus bangkit dan ke luar dari masa lalu ku.


"Jadi bagai mana, Tuan... apa pengajuan kerja sama PT. Buana dapat di terima?" Tanya Wanda saat ia sudah selesai dengan persentasinya.


Gunawan, Dika dan Wanda sama sama menatap ke arah Amer. Namun Amer belum kunjung juga memberikan jawaban, hingga Gunawan yang duduk di kursi sebelahnya, menyadarkan nya dari lamunan panjangnya.


Puk puk.


Gunawan menyenggol sikunya pada lengan Amer dengan mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat ke arah Tuan-nya.


Gunawan berseru dengan pelan, "Pak, pak Amer!"


Amer tersadar dari lamunannya dan menjawabnya dengan gelagepan, "I- iya, ada apa?"


Wanda tersenyum tipis melihat Amer, aku rasa alasan mu belum juga menikah karena kau menunggu ke hadiran ku kembali Amer Khan!


"Ehem, apa ada lagi yang ingin kau sampaikan, Nona Wanda?" Tanya Amer dengan menutup berkas yang ada di hadapannya, ke dua tangan nya bertauttt di atas meja.


Amer berujar dengan tegas, "Saya rasa persentasi yang anda lakukan sudah cukup baik. Setelah saya pelajari dari isi poin poin dalam berkas ini. Maka ----"


Wanda yang tidak sabaran, memotong perkataan Amer dengan ambisius.


"Jadi, apa anda setuju dengan pengajuan kerja sama yang PT. Buana ajukan?" Tanya Wanda dengan sorot matanya yang menggebu gebu.


Amer menggeleng, "Maka saya putuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama yang anda ajukan." Ucap Amer yang lantas beranjak dari duduknya di ikuti dengan Gunawan yang mengikuti langkah Amer.


Amer melenggak pergi meninggal kan ruang meeting setelah 1 jam lamanya berada di dalam ruang VVIP, berbagi udara dengan Wanda.


"Tidak bisa begitu, apa alasan anda menolak kerja sama ini, Tuan Amer Khan?" Tanya Wanda yang beranjak menyusul langkah kaki Amer yang lebar namun di halangi oleh Gunawan.


"Maaf Nona, ini adalah hasil akhir dari keputusan Tuan... dan itu tidak dapat di ganggu gugat." Ucap Gunawan dengan sopan.


Setelah menunduk hormat Gunawan pun menyusul Tuan-nya Amer yang sudah ke luar dari restoran menuju mobil yang terparkir di depan resto.

__ADS_1


Wanda mengepalkan tangannya, kurang ajarrr kau Amer. Aku harus mendapat kan kerja sama ini! Jika tidak, ayah akan menghukum ku!


Wanda mengejar Amer yang sudah berada di dalam mobil dengan pak Jojo yang juga sudah duduk di belakang setir kemudi.


"Kau, kembali lah ke kantor!" Ucap Amer pada Gunawan yang berdiri di luar mobilnya.


Wanda yang melihat Amer yang sudah berada di dalam mobil pun berseru, "Amer, kau tidak bisa pergi begitu saja, kau belum jelaskan pada ku, apa alasan mu menolak kerja sama yang aku ajukan?"


Amer menutup kaca mobilnya dan berseru, "Jalan, pak!"


Pak Jojo pun melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir restoran, sedangkan Gunawan melihat kepergian mobil yang membawa Tuannya.


Amer membuang nafasnya dengan kasar, "Kenapa aku harus berurusan dengan wanita itu lagi!" Gumam Amer dengan menyandar kan punggungnya pada kursi mobil.


Pak Jojo melirik dari spion mobil, seorang wanita yang sedang di halangi oleh Gunawan.


Amer menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Antar aku ke rumah sakit." Ucap Amer dengan ke dua matanya yang terpejam, membayangkan wajah Layla yang tengah tersenyum ke arahnya membuat hatinya melunak.


"Maaf Tuan apa itu, Nona Wanda? Wanita yang sama saat Tuan masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dulu?"


Amer membuka ke dua matanya, "Bapak masih mengingat wanita itu?" Tanya Amer.


"Saya tidak akan mungkin bisa, melupakan wanita yang dulu membuat Tuan hampir putus asa karena seorang wanita." Ujar pak Jojo, wanita masa lalu mu Tuan.


Amer berdecih, "Cih, sedalam itu pak Jojo pada wanita itu?"


...Bersambung......


...💔💔💔💔💔...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭


Author gabut sebatas halu 😉

__ADS_1


__ADS_2