Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Tanda tanya besar


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Tuan memanggil saya?" Tanya Aulia, pasti ini cowo mau memberi kan pujian buat minuman yang udah gw buatin untuk mereka!


"Apa kau tau kenapa aku memanggil mu, Aulia?" Tanya Amer, dengan menatap tajam Aulia, mantan sekretaris pribadi nya itu.


"Tidak, pak. Memang apa yang membuat bapak memanggil saya ke sini?" Aulia melirikkan ke dua matanya pada Alan dan Nusi, dua orang pria tampan yang duduk di hadapan bosnya, Amer.


"Kau ---"


Alan memotong perkataan Amer.


"Jika Nona berkenan, silahkan cicipi minuman yang anda buatkan ini!" Alan mengarahkan cangkir teh, yang ada di tangannya pada Aulia. Wanita yang tadi membawakan minuman untuknya.


Aulia mengambil cangkir teh dari tangan Alan, dengan senyum yang merekah.


"Suatu ke beruntungan untuk saya, bisa minum dari cangkir yang sama dengan anda, Tuan Alan."


Dalam hati Aulia, ia bersorak senang, ini sama aja gw berciumam bibir tanpa menyentuh secara langsung, aaaah mimpi apa gw semalam.


Nusi menatap jengkel Aulia, dasarrr wanita tidak tahu malu, tidak menyadari ke salahannya sendiri.


Amer mengerutkan keningnya, kenapa Aulia tampak senang? Harusnya kan ia merasa khawatir, setidaknya mengakui kesalahan yang sudah ia perbuat.


Aulia menyemburkan minuman, yang baru saja mengenai indra pengecapnya ke wajah Alan. Karena saat ini, posisi ia berdiri tidak jauh dari Alan.


Byuuuurrrr.


"Kenapa rasanya asin sekali!" Keluh Aulia dengan mengelap bibirnya yang basahhh.


Sedangakan Alan di buat geram dengan tingkah Aulia, satu tangannya menyapu wajahnya yang di sembur Aulia dengan kasar, sedangkan satu tangannya lagi mengepalll keras, kurang ajarrr, wanita sialannn!


Amer beranjak dari duduknya, "Aulia! Apa yang kau lakukan?" Bentak Amer.


Aulia membola, menyadari ke salahan nya. Aulia buru buru meraih dan menarik tisu, dari tempatnya yang ada di atas meja kerja Amer. Lalu mengarahkannya untuk mengelap wajah Alan.


"Ma- maaf pak, a- aku benar benar tidak sengaja, sungguh pak!" Ucap Aulia dengan bergetar dan terbata bata, wajahnya pias saat mendapati tatapan tajam dari Alan.


Alan menepis tangan Aulia, yang menyentuh wajahnya dengan tisu.


"Tapi wajah pak Alan basahhh, aku benar benar minta maaf ya pak! Aku tidak sengaja melakukan nya!" Aulia hendak mendaratkan kembali tangannya ke wajah Alan.


"Singkirkan tangan mu dari wajah ku!" Ucap Alan dingin.


Alan beranjak dari duduknya, yang di ikuti Nusi.


"Aku akan menuntut perusahaan mu Tuan Amer, dengan tuduhan perbuatan yang tidak menyenang kan!" Alan menyeringai, tanpa sengaja kau justru membantu ku, untuk mendapatkan kerja sama ini!

__ADS_1


Amer beranjak dan menghalau Alan dan Nusi, yang hendak melangkah ke luar dari ruang kerja Amer.


"Maaf pak Alan, atas perbutan yang tidak menyenangkan, dari salah satu karyawan saya pada anda. Saya sungguh minta maaf, ini di luar kendali saya, pak. Tolong jangan tuntut perusahaan saya ini, pak!" Ucap Amer dengan setengah memohon.


Aulia mengepalkan tangannya, ini semua salah Layla, karena lo, gw jadi dapat masalah sebesar ini.


Nusi berjalan mendahului Tuannya, membuka pintu ruang kerja Amer dan mempersilahkan Tuannya Alan untuk segera ke luar.


"Ayo pak, tunggu apa lagi? Semakin bapak lama di sini, entah masalah apa lagi yang akan menimpa bapak." Ucap Nusi.


Alan menyenggol lengan Amer dan melewatinya begitu saja, melenggang ke luar dari ruang kerja Amer. Dengan wajah angkuh nya.


"Dasarrr bodohhh, awas jika pak Alan sampai melanjutkan masalah ini ke meja hijau!" Amer melangkah ke luar meninggalkan Aulia.


"Pak Alan, tunggu sebentar. Tolong jangan tuntut perusahaan saya ini!" Pinta Amer yang menyusul Alan yang kini berada di luar ruang kerjanya.


Alan menghentikan langkah kaki nya, di susul dengan Nusi yang ikut menghentikan langkah kakinya.


"Bisa saja aku mengurungkan niat ku, untuk melanjutkan masalah ini ke meja hijau, asal kau setujui pengajuan kerja sama ku, dan aku minta wanita itu yang menangai masalah disein ku!" Alan menunjuk jari telunjuk kanannya, di mana Layla berdiri.


Amer mengikuti arah yang di tunjuk Alan.


"Layla?" Gumam Amer.


"Apa kau setuju, pak Amer? Aku ingin wanita itu yang membuat disein dalam setiap barang yang aku pesan, aku ingin setiap disein yang ia buat di kantor ku!" Ujar Alan.


Amer tidak langsung menyetujui permintaan Alan, baginya permintaan Alan ini tidak masuk akal.


"Jadi anda menolak permintaan saya ini? Baik lah, itu sama saja pak Amer membiarkan saya untuk menuntuk perusahaan bapak." Alan melangkah dengan menyeringai, menatap tajam Layla, yang saat ini tidak mengerti apa apa.


Amer mengepalkan tangannya, menatap Layla dengan nanar, maaf Layla,


Dengan berat hati, Amer setuju jika Layla saat mengerjakan disein di perusahaan Alan.


"Baik, aku setuju dengan permintaan mu itu!" Ucap Amer.


Alan yang kini berada di depan Layla, menghentikan langkah kakinya sejenak, menatap wajah Layla yang tampak berbeda di matanya.


"Setelah ini, kita akan sering sering bertemu, Nona Layla!" Ujar Alan dengan menyeringai.


"Apa maksud, bapak?" Tanya Layla dengan polosnya.


Alan menatap lekat, ke dua mata bulat Layla yang tampak jernih bak air sungai. Hidung Layla yang bangir, bibir Layla yang tipis dengan merah menyala. Membuat Alan ingin menyentuh bibir ranum Layla.


"Tuan mau apa?" Tanya Amer yang kini berdiri di samping Layla, dengan tangan kanannya yang merangkul bahu Layla.


"Sampai bertemu lagi di pertemuan selanjutnya!" Ujar Alan yang melangkah meninggalkan ke duanya.

__ADS_1


Dalam hati Alan, Alan merutuki dirinya, dasarrr bodohhh, hampir saja aku lepasss kendali untuk menyentuh wanita itu!


Layla menatap punggung Alan, dengan tanda tanya besar di hatinya. Di tambah lagi dengan sikap Amer, yang masih saja merekatkan tangannya di bahu Layla.


"Apa ada yang bisa pak Amer jelaskan sama saya?" Tanya Layla, dengan menoleh dan menatap dalam wajah suaminya kini dengan jarak yang sangat dekat.


Amer tidak melanjutkan perkataan nya, "Aku---"


Suara hentakan high heels, yang berasal dari kaki jenjang Aulia. Dengan seruannya yang keras, membuat Amer dan Layla menoleh ke arahnya.


Tak tak tak tak.


"Ini semua karena kamu Layla! Ini salah kamu! Kamu yang harusnya bertanggung jawab atas semua ke kacauan yang terjadi saat ini!" Protes Aulia dengan suara naik satu oktaf, menatap marah pada Layla.


Layla dan Amer mengerutkan keningnya mendengar perkataan Aulia.


"Apa maksud mu ini salah ku?" Tanya Layla dengan wajah bingung nya.


"Karena kamu... yang membuat ku menukar label tulisan gula, dan menggantinya dengan garam." Ucap Aulia yang berkata jujur, sialannn. Gw barusan, sama aja gw mengakui ke salahan yang udah gw lakuin!


Amer membola, menyingkirkan tangannya dari bahu Layla, menatap marah pada Aulia, Amer bahkan maju satu langkah di depan Aulia, membuat Aulia mundur satu langkah dari tempatnya.


Aulia berkata dengan terbata bata, menatap takut pada sepasang mata elang yang di miliki Amer, yang menatapnya seolah Aulia adalah buruannya, yang akan di habisiii saat ini juga.


"Ma- maaf pak. A- aku, a- aku hanya salah bicara, a- apa yang aku katakan tadi tidak lah benar."


"Kau pikir, aku percaya pada omong kosong mu, Aulia?" Tanya Amer datar.


...πŸ‚Alan ArdiansyahπŸ‚...


Di dalam mobil, Alan mendudukan dirinya di kursi penumpang, dengan punggung yang ia sandarkan pada sandaran kursi.


"Aku sangat beruntung kan, Nusi?" Tanya Alan, sembari ke dua tangannya ia baluri dengan hair sanitaser.


"Saya akui, ide bapak yang spontanitas itu... benar benar membawa bapak semakin dekat melangkah pada tujuan awal bapak." Ujar Nusi, yang duduk di kursi kemudi.


"Aku yakin, tidak lama lagi rencana ku, untuk menghancurkan ke dua nya akan berhasil!" Tekad Alan bulat, dengan mengepalkan ke dua tangannya, menatap tajam kaca spion, lalu menyeringai.


Alan membatin, akan ku hancurkan kalian berdua.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu 😊


__ADS_2