Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Masalah besar bagi ku!


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Saya tidak akan mungkin bisa, melupakan wanita yang dulu membuat Tuan hampir putus asa karena seorang wanita." Ujar pak Jojo, wanita masa lalu mu Tuan.


Amer berdecih, "Cih, sedalam itu pak Jojo pada wanita itu?"


"Bukan saya Tuan, kan Tuan yang memiliki rasa mendalam pada wanita itu." Ujar pak Jojo dengan perkataan nya yang menohok Amer.


"Enak aja pak Jojo kalo bicara. Saya tidak ada lagi sangkut pautnya dengan Wanda, pak!" Oceh Amer dengan nada bicara yang serius.


"Saya harap begitu, Tuan." Ucap pak Joko.


Amer mengeluarkan hapenya dari dalam saku celananya, menghubungi salah seorang tangan kanannya yang berjaga di pertokoan miliknya.


[ "Selamat siang, Tuan... apa ada yang bisa saya bantu? Tidak biasanya Tuan menghubungi saya?" ] Tanya Bayu salah seorang manajer di salah satu toko karpet milik Amer.


"Begini Bayu, saya akan menempatkan seseorang sebagai karyawan baru di toko. Apa bisa kau terima dan kau ajarkan dia dengan baik?" Ucap Amer dengan serius.


[ "Boleh Tuan... kapan karyawan itu mulai masuk kerja?" ] Tanya Bayu.


"Besok pagi, saya akan suruh orang itu untuk datang ke alamat toko dan bisa langsung mulai kerja." Ucap Amer dengan pasti.


[ "Orangnya wanita atau pria, Tuan?" ] Tanya Bayu yang belum tahu, orang yang akan menjadi karyawan baru nya wanita atau pria.


"Wanita, 25 tahun."


[ "Apa wanitanya cantik, Tuan?" ] Tanya Bayu dengan ambisius.


"Mau cantik atau tidak, buat apa kalo wanita itu tidak bisa apa apa? Hanya mengacau!" Oceh Amer.


[ "Apa? Kenapa Tuan mengirim wanita itu pada saya? Kenapa tidak Tuan saja yang menangani wanita itu sendiri?" ] Keluh Bayu.


"Ihsss kau ini, untuk apa aku membayar mu mahal kalo bukan untuk mengurus toko ku?" Oceh Amer yang lantas memutus sambungan teleponnya secara sepihak tanpa mendengarkan ocehan Bayu terlebih dahulu.


Amer membuang nafasnya dengan kasar, "Huuuh, akhirnya masalah dengan Tasya dapat terselesaikan juga." Oceh Amer.


Kini Amer langsung menghubungi nomor Tasya, malas sebenarnya untuk aku menghubungi wanita itu!


Suara riang Tasya langsung terdengar di telinga Amer.


[ "Ka Amer, kenapa baru menghubungi ku? Aku sudah dari semalam menunggu ka Amer menghubungi ku!" ] Oceh Tasya.


Amer menjauhkan sedikit benda pipihnya dari daun telinganya.


"Kalo kamu itu berbicara terus, kapan aku bisa bicaranya?" Tanya Amer dengan ketus.

__ADS_1


[ "Ah maaf ka Amer, aku terlalu eksaitid saat tahu ka Amer yang menelpon ku! Jadi bagai mana ka, apa aku bisa bekerja sebagai sekretaris kaka? Sebagai asisten pribadi ka Amer juga aku tidak masalah ka." ]


Dengan percaya dirinya yang tinggi, Tasya mengira bahwa Amer akan memberikan pekerjaan padanya dengan posisi sekretaris atau pun asisten pribadi Amer.


Amer menggelengkan kepalanya saat mendengar ocehan Tasya, tidak masalah bagi mu tapi akan menjadi masalah besar bagi ku!


[ "Bagai mana ka, kapan aku bisa mulai bekerja?" ]


"Nanti akan aku kirimkan alamat nya pada mu, datang lah kamu ke alamat yang aku berikan pukul 10 pagi, ingat harus tepat waktu."


[ "Siap, ka. Pasti aku akan datang tepat waktu. Sampai ketemu besok jam 10 pagi ka!" ] Seru Tasya dengan riang.


Amer menutup teleponnya, "Tidak sudi aku bertemu dengan nya besok." Gumam Amer pelan.


Amer mengetikkan alamat tokonya dan mengirimkan nya langsung pada Tasya.


Amer menghubungi Layla sebelum ia sampai di rumah sakit.


"Kau sedang apa, sayang?" Tanya Amer saat Layla menjawab telponnya.


[ "Tuan Amer meledek ku, aku lagi di rumah sakit tentu saja tidur terus. Aku bosan di rumah sakit Tuan, bisa kah aku ke luar dari rumah sakit sore ini juga?" ] Rengek Layla.


"Kau harus pulih dulu, baru bisa ke luar dari rumah sakit."


[ "Tapi aku merasa sudah baikan, Tuan." ]


[ "Tidak ada yang ingin aku makan, selain ke luar dari rumah sakit, Tuan!" ]


"Biar aku tanyakan dulu pada dokter Samuel, apa kah kau sudah di izinkan untuk pulang atau tidak." Oceh Amer yang akhirnya mengalah pada Layla.


[ "Terima kasih Tuan. Kau memang paling pengertian." ]


"Siapa dulu aku gitu, Amer calon suami mu."


[ "Ya ya ya, apa pun itu. Terima kasih Tuan sudah mau aku sulitkan, aku sudah banyak membuat Tuan repot." ] Ucap Layla dengan nada yang rendah, suara nya tampak sedih.


Amer menepuk nepuk bahu pak Jojo yang tengeh mengemudikan mobilnya, lalu berkata tanpa suara saat pak Jojo menoleh ke arahnya.


'Tolong nanti berhenti di depan!


Pak Jojo pun langsung menghenti kan laju mobilnya di tempat yang sudah di tunjuk oleh Amer.


"Jangan kau fikirkan itu, Layla. Sudah ya, nanti kita bicara lagi saat aku sudah di hadapan mu!"


[ "Baik lah, Tuan hati hati ya!" ] Oceh Layla.

__ADS_1


"Iya, kau jangan banyak berfikir dulu ya Layla! Biar aku yang memikirkan nya."


[ "He'eh." ]


Amer menyimpan hapenya di dalam saku celananya.


Amer menatap pak Jojo dengan tangannya yang berada di pintu mobi.


"Tolong bapak tunggu di sini sebentar!" Seru Amer.


"Beres Tuan!" Pak Jojo mengacung kan jempolnya ke arah Tuan-nya Amer.


Ceklek.


Amer melangkah ke luar dari dalam mobil dan langsung menuju sebuah mall yang ada di depannya.


Amer langsung menuju ke arah toko yang menjadi incarannya.


"Selamat datang, Tuan!" Amer di sambut seorang penjaga toko perhiasan berlian.


πŸ‚Di kantor polisiπŸ‚


Rudi duduk di pojokan sel dengan beralaskan lantai yang dingin, dengan punggung yang menyandar pada dinding. Tangannya mengepal keras dengan urat uratnya yang menonjolll.


"Kuranggg ajar kalian berdua, berani beraninya kalian jeblosin gw ke tempat terkutuk ini!" Sungut Rudi dengan tatapan matanya yang tajam.


Sementara itu di sisi sel tahanan lainnya. Beberapa penghuni, tengah mengerubungi salah seorang pria dewasa, pria itu tampak menyeram kan dengan bekas luka di pipinya akibat benda tajam.


Pria itu tampak duduk dengan beralas kan tikar. Ke dua matanya terkadang terpejam dan sering kali menoleh ke arah Rudi.


Mereka mengolok olok Rudi, dengan sindiran sindiran yang menyakitkan, tanpa memperduli kan perasaan Rudi itu sendiri.


"Ngapain lo? Belajar gilo lo? Ngomong sendiri! Marah marah sendiri" ] Ledek salah seorang narapidana yang satu sel tahanan dengan Rudi.


"Setresss dia bang, udah kaga ada yang jengukin. Kemaren ke datangan tamu, Bukannya kasih kabar gembira malah di suruh setuju buat pisah." Ejek salah seorang yang menatap tajam Layla.


"Tuan Rudi, ada yang ingin bertemu dengan anda." Oceh ibu sipir dengan membuka pintu pada ruang tahanan Rudi.


"Siapa yang ini bertemu dengan saya, pak?" Tanya Rudi dengan hati yang di landa penasaran.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu πŸ˜‰


__ADS_2