Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Membanggakan pak Alan


__ADS_3

...💔💔💔...


"Pak Amer Khan, tunggu!" suara bariton Alan terdengar di telinga Amer.


Amer membalikkan tubuhnya, melihat ke arah asal suara yang menyerukan namanya.


"Oh pak Alan. Apa ada yang ingin pak Alan sampai kan pada saya?" tanya Amer saat Alan sudah berada di depannya.


"Saya hanya ingin mengingatkan anda, pak Amer. Anda sedang berada di wilayah kekuasaan saya, kurang etis rasanya. Jika anda membawa pergi begitu saja karyawan saya!" sungut Alan dengan menyeringai.


Amer mengerutkan keningnya, jari telunjuk kanannya menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Owh begitu ya? Apa anda lupa, istri saya bekerja di sini atas permintaan anda. Dan itu pun setiap ada disein baru yang anda inginkan! Jadi istri sayanbukan lah karyawan anda." ucap Amer dengan tatapannya yang tajam.


Layla yang tidak tahu, jika Amer sedang berbicara dengan Alan pun langsung berseru, tanpa menggeser duduknya di dalam mobil.


"Ka Amer, ayo. Aku udah laper ini!"


"Iya sayang, tunggu sebentar ya!" jawab Amer tanpa memalingkan pandangannya dari Alan.


"Anda dengar itu pak Alan! Saya duluan ya!" Ucap Amer yang masuk ke dalam mobil.


"Lama sekali si ka!" seru Layla saat Amer mengenakan sabuk pengamannn pada tubuhnya.


"Iya, maaf ya! Tadi aku bicara dulu dengan seseorang." terang Amer tanpa menyebutkan nama Alan.


Kaca pintu mobil Amer, di ketuk oleh Alan dari luar.


Tok tok tok tok.


"Mau apa lagi sih orang ini!" gumam Amer pelan, namun tangannya menurunkan kaca mobilnya, hingga Alan dapat melihat wajah Amer dan Layla setelah ia membungkuk.


"Hai Layla, ingat ya. Setelah jam makan siang berakhir, kembali ke ruang kerja mu, kau harus merubah beberapa warna yang ada pada disein mu ini!" Alan menunjukkan flashdisk yang ada di tangannya pada Layla.


"Apa harus hari ini juga, pak Alan?" tanya Layla.


"Jika kau ingin lebih lama bersama dengan ku, kau bisa datang lagi besok." ucap Amer.


Layla memutar bola matanya dengan malas, "Apa ada lagi yang ingin pak Alan sampaikan?" tanya Layla.


"Tidak ada, hanya itu. Oh iya, tadinya aku ingin mengajak mu makan siang bersama dengan ku, Layla. Ternyata ada pak Amer yang lebih dulu menjemput mu." terang Alan yang membuat Amer, langsung menoleh ke arahnya.


"Jaga sikap anda pak Alan!" seru Amer dengan penuh penekanan.


"Batu krikil tetap lah batu krikil, tidak akan mungkin bisa menjadi berlian yang berharga!" ucap Alan yang langsung meninggalkan Amer.


Amer hendak ke luar dari dalam mobil, namun langkahnya di cegar dengan genggaman tangan Layla pada lengan Amer.


"Tidak perlu di dengarkan, ka! Anggap saja anjinggg sedang menggonggong." Layla tersenyum pada Amer lalu mengecup pipi Amer sesaat.


"Kau benar Layla " Amer melajukan mobilnya, meninggalkan pelataran parkir gedung Ardiansyah group.


"Kita mau makan di mana, ka?" tanya Layla.


"Kau maunya makan di mana, sayang? Restoran, pinggir jalan, atau mau makan di mall?"


"Pinggir jalan aja deh ka, kayanya makan bakso enak ka, pedas dan panas, menggugah selera." ucap Layla dengan bersemangat.


Amer langsung menepikan mobil nya, saat melihat kios yang menyediakan bakso.


Ke duanya turun dari dalam mobil, Amer langsung menggenggammm jemari Layla, memasuki kios.

__ADS_1


Layla dan Amer berdiri di samping gerobak, dekat dengan penjual bakso yang tengah menghidang kan bakso, untuk pengunjung lainnya.


"Bakso 2 porsi ya, pak!" ucap Layla.


"Mau makan di sini atau di bungkus, neng?" tanya kang bakso.


"Di sini aja, pak! Yang satu gak pake mie kuning ya, pak!" terang Layla yang langsung mencari kursi, untuk ia dan Amer duduki.


Amer dan Layla duduk di salah satu meja, yang terdapat di pojok ruang.


"Apa pak Alan benar benar memperlakukan mu dengan baik di kantornya, sayang?" Amer langsung mengajukan pertanyaan pada Layla, setelah ke duanya mendudukan dirinya di kursi.


Layla mengerutkan keningnya, "Tidak ada alasan untuk pak Alan berlaku buruk pada ku, ka!" ucap Layla, maaf ya ka, aku harus berbohong. Ini demi ke baikan kita bersama.


"Kau tidak sedang membohongi ku kan, Layla?" Amer mencari titik ke bohongan dari mata Layla.


Layla tampak gusar saat Amer memandangnya seperti itu, sabar Layla, tenang, ayo tenang, tunjukkan pada ka Amer, bahwa tidak terjadi apa apa. Semua akan baik baik saja selama satu tahun ke depan.


"Layla!" Amer menggenggammm jemari Layla.


Akang bakso datang, dengan membawa 2 porsi bakso ke meja Layla dan Amer. Menyelamatkan Layla dari pertanyaan Amer.


"Permisi teh, mas... baksonya!" Kang bakso meletakkan mangkuk di depan meja Layla dan Amer.


"Makasih ya, pak!" ucap Layla.


"Sama sama teh, mau minum apa teh, mas?" tanya kang bakso.


"Es teller 1 porsi, es jeruk 2 porsi ya, pak!" ucap Layla.


"Di tunggu atuh kalo begitu, biar bapak buatkan dulu minumnya." kang bakso langsung kembali ke tempatnya, menghidangkan minum dan es teller yang di pesan Layla.


Layla dan Amer menyantap bakso pesenan mereka, tidak lama minuman ke duanya datang. Untuk sesaat ke duanya melupakan permasalahan kantor.


Hape yang tersimpan di blezer Layla, bergetar.


Dreeet dreeet.


Layla mengeluarkan hapenya, melihat siapa yang mengiriminya pesan.


Layla membola, tidak percaya dengan nomor tidak di kenal yang mengiriminya pesan, ternyata nomor dari Alan.


...Jangan lupa untuk kembali ke kantor, aku menunggu mu!...


...by. Alan...


Layla menyimpan kembali hapenya, di dalam saku blezer yang ia kenakan. Tanpa berniat untuk membalasnya.


"Siapa sayang? Kenapa tidak kau balas?" tanya Amer yang curiga pada Layla.


"Tidak penting ka, hanya pesan dari operator, mengingatkan aku untuk mengisi pulsa." Layla menunjukkan sederet gigi putihnya.


Setelah selesai dengan makan siangnya, Amer dan Layla kembali masuk ke dalam mobil. Amer mengantar Layla ke gedung Ardiansyah group.


Perjalanan begitu terasa dekat, hingga mobil yang Amer kemudian, kini sudah berada di depan lobby kantor Ardiansyah group.


"Aku turun ya, ka! Kaka langsung kembali ke kantor." Layla meraih tangan kanan Amer dan mencium punggung tangan kanannya.


"Tunggu aku ya sayang, aku akan menjemput mu!" seru Amer yang kini mengecup kening Layla.


"Iya, ka." Layla turun dari mobil lalu melambaikan tangannya pada Amer.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama, Nusi tahu tahu sudah berdiri di belakang Layla.


"Ehem ehem, maaf Nona... anda sudah di tunggu Tuan Alan di ruang kerja." ucap Nusi yang mengaget kan Layla, hingga berjingkat kaget.


"Astaghfirullah, pak Nusi? Sejak kapan anda berdiri di belakang saya?" tanya Layla saat dirinya membalikkan tubuhnya.


"Sejak Nona melambaikan tangan, pada mobil hitam yang sudah beralu." terang Nusi dengan suaranya yang dingin. Tangannya mengkode Layla, untuk segera beranjak dari tempatnya berpijak.


Layla melangkah dari tempatnya berpijak, dengan Nusi yang berjalan mengekor di belakang Layla.


Pasang mata dari beberapa karyawan yang ada di sana pun, langsung menatap ke arah ke duanya, memperhatikan Layla dan Nusi. Entah apa lagi yang mereka bicarakan, hanya terlihat bibir mereka yang bergerak, tanpa Layla dapat mendengar suara mereka.


Astaga aku ini sudah seperti apa ini? Kenapa hanya aku saja yang di perlakukan seperti ini? Apa pak Alan, takut aku tidak kembali lagi ke kantor ini?


"Maaf pak Nusi, bisa aku bertanya pada mu!" oceh Layla saat mereka masuk ke dalam lift.


"Katakan saja Nona, apa yang Nona ingin tanyakan pada saya!"


"Apa pada setiap karyawan baru, akan di perlakukan sama seperti saya?" tanya Layla.


"Apa tidak ada pertanyaan lain, yang bisa Nona tanyakan pada saya?" celetuk Nusi.


Layla mengerutkan keningnya, "Sayangnya tidak ada, pak. Memang apa yang bisa aku tanyakan?"


"Apa Nona tidak tertarik pada Tuan Alan? Tuan Alan jauh lebih gagah, lebih mapan, lebih hebat dari pak Amer." Nusi membanggakan Alan saat ke duanya ke luar dari lift, menuju ruang kerja Alan.


"Itu kan bagi pak Nusi, wajar sih ya kalo pak Nusi membanggakan pak Alan, secara pak Alan itu kan bos besarnya pak Nusi." terang Layla yang menanggapinya dengan santai.


Nusi membukakan pintu untuk Layla, "Silahkan Nona!"


"Terima kasih, pak!" Layla melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang kini terasa dingin, bukan dingin suhu ruangannya, namun dingin sorot mata Alan yang menyambut ke datangan Layla.


Layla menatap tajam flashdisk yang ada di atas meja kerjanya,


"Itu kan flashdisk yang tadi aku berikan pada pak Alan, kenapa sekarang ada di meja kerja ku?" gumam Layla.


Layla mendudukan dirinya di kursinya, menghidupkan laptopnya.


"Apa yang perlu aku rubah, pak Alan?" tanya Layla, setelah flashdisk yang ada di atas meja, terhubung dengan laptopnya.


"Aku pikir kau tidak akan bertanya pada ku, Layla!" Alan beranjak dari kursinya, berjalan menuju kursi. Di mana Layla tengah duduk dengan menatap pada layar laptopnya.


"Aku akan bertanya pada mu, jika memang ada yang ingin aku tanyakan, pak Alan! Memang aku cenayang... yang bisa tahu di mana letak yang harus aku rubah." oceh Layla.


Alan berdiri di belakang Layla, dengan mencondongkan tubuhnya, tangan Alan terulur menyentuh jemari Layla. Jarak ke duanya yang sangat dekat, membuat pipi ke duanya hampir berdekatan, hanya berjarak beberapa centimeter.


"Aku ingin kau rubah ini, dengan warna abu terang, ini warna gold." ujar Alan dengan mengarahkan kurso pada bagian yang ingin ia rubah.


Deg deg deg deg


"Ma- maaf pak Alan, bisa kah anda singkirkan jari anda!" ujar Layla dengan suaranya yang merendah, maaf kan Amer, aku tidak sengaja, apa ini bisa di artikan selingkuh?


Alan menolehkan wajahnya, "Ada apa? Apa kau merasa terganggu? Atau kau menikmatiii sentuhan ku? Atau kau sedang mengagumi ke tampanan ku?" ujar Alan dengan senyum yang menyeringai.


"A- apa? menikmatiii?"


Ceklek.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......

__ADS_1


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊


__ADS_2