
...💔💔💔...
"Halo, Tuan!" Seru Layla saat sambungannya di jawab.
[ "Ada apa, Layla? Apa kau tidak bisa tidur? ]
"Tuan tidak marah pada ku, kan?"
[ "Apa hak ku untuk marah, Layla? ]
"Maaf, Tuan."
[ "Hemm, tidur lah, ini sudah larut. Apa kau besok ingin berangkat ke kantor dengan ku? Atau kau masih harus istirahat di rumah? " ]
"Aku ikut dengan, Tuan saja."
[ "Kalau begitu cepat lah tidur." ]
"Tuan, aku --- " Layla menjeda perkataannya saat telinganya mendengar suara dengkuran halus dari Amer.
"Selamat tidur Tuan, mimpi yang indah."
Layla memutuskan sambungan teleponnya dan berusaha memejamkan ke dua matanya namun pikirannya tidak sejakan dengan matanya yang lelah.
Ke dua mata Layla tampak terasa kering dan enggan untuk terpejam. Pikiran Layla ada bersama dengan Melisa. Ia mengkhawatirkan ke adaan Melisa.
"Apa aku coba hubungi Mia saja ya? Tapi ini sudah larut. Bagai mana jika Mia sudah tidur? Yang ada aku hanya akan mengganggu waktu istirahatnya saja."
Hape yang sudah ia genggam dan mendiel nomor telepon Mia pun akhirnya Layla urungkan.
"Tunggu besok pagi saja, iya tunggu besok. Sabar Layla, sabar. Masih ada hari esok." Gumam Layla.
Mencoba berzikir menyebut lafadz Allah dengan ke dua mata yang di paksakan terpejam dan bibirnya berhenti mengoceh saat dirinya sudah terbawa ke alam mimpi.
Suara azan subuh berkumandang, membangunkan dua insan yang tengah terlelap di kamar yang berbeda untuk beranjak dari tidurnya dan mendirikan ke wajibannya sebagai seorang muslim.
Tok tok tok tok.
Amer mengetuk pintu kamar yang di tempati Layla.
Tok tok tok tok.
"Layla, apa kau sudah bangun?" Tanya Amer setelah berkali kali mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.
__ADS_1
Tok tok tok tok.
"Layla! Jangan membuat ku khawatir Layla!" Seru Amer dengan wajahnya yang tampak cemas dan panik.
Amer membuka pintu kamar yang tidak di kunci itu.
Ceklek.
Berbarengan dengan Layla yang baru saja ke luar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang lebih segar setelah membasahinya dengan air.
Amer melangkah masuk dengan kening yang mengkerut, "Layla? Ku pikir kau?"
"Tuan? Tuan sedang apa di sini?"
"Aku hanya ingin membangunkan mu, ku pikir kau masih tidur. Tapi saat aku mengetuk pintu kamar, tidak ada jawaban dari mu." Terang Amer yang mekangkah membuka pintu lemari pakaiannya.
"Maaf aku tidak mendengarnya, tadi aku sedang di dalam kamar mandi, Tuan. Apa tuan sudah sholat?"
Amer menjongkokkan tubuhnya dan tangannya meraih sesuatu dari dalam lemari, ia beranjak dengan tangan yang memegang mukena dan sejadah lalu memberikan nya pada Layla.
"Gunakan ini, aku belum sholat."
Layla mengambil mukena dan sejadah itu dari tangan Amer tanpa menyentuh jemari Amer.
Amer menatap lekat bola mata Layla dengan penuh harap, aku harap ini pertanda bahwa Layla sedang belajar untuk menerima kehadiran ku di hatinya.
"Baik lah, aku ambil air wudhu dulu." Amer menarik sudut bibirnya ke atas dan masuk ke dalam kamar mandi di kamar itu.
Layla menggelar sejadah nya dan membuka pintu lemari di mana amer mengambilkan sejadah dan mukenanya itu, tangannya terulur mengambil benda yang ia cari.
Layla menggelarnya untuk Amer gunakan nanti sebagai imannya
Sambil menunggu Amer selesai dengan wudhu nya, Layla mengenakan mukenanya, selama aku menikah dengan bang Rudi, tidak sekali pun bang Rudi mengajak ku untuk sholat berjamaah, jangan kan untuk sholat berjamaah, aku tidak pernah melihat bang Rudi mendirikan sholat.
Layla dan Amer mendirikan sholat subuh berjamaah bersama di kamar.
Kini ke duanya berada di taman rumah yang berada persis di samping dapur. Taman yang cukup luas dan asri dengan di tumbuhi mawar putih, bunga ke sukaan Layla di tamvah puka dengan ayunan besi.
Amer tampak bersemangat dengan lari paginya apa lagi saat ini ia di temani oleh Layla.
"Apa Tuan biasa melakukan lari pagi seperti ini?" Tanya Layla yang sudah ngos ngosan dan mendudukkan dirinya di rumput yang hijau.
"Aku sudah sangat terbiasa Layla, tapi selama kau berada di rumah sakit, selama itu pula aku tidak melakukan lari pagi." Amer mengatakannya sambil berlari di tempat.
__ADS_1
Ke dua mata Amer terus memperhatikan wajah Layla yang mengeluarkan keringat, tampak lebih menggoda meski Layla hanya mengenakan kaos lengan pendek dan celana training.
"Maaf Tuan, aku sudah banyak merepotkan mu!" Layla merasa tidak enak hati sudah terus menyusahkan atasannya ini.
"Tidak apa, aku suka kau menyusahkan ku! Dengan begitu akan semakin banyak oula waktu yang aku habiskan bersama dengan mu!" Amer mengatakannya dengan kedungguhan dan kin ia mendudukan dirinya di samping Layla.
Tangan Amer terulur menyeka keringat yang ke luar dari kening Layla dengan handuk kecil yang ada di lehernya.
Mata mu sangat indah Layla, wajah ku tampak menggoda iman ku, Layla.
Wajah Layla merona dengan perlakuan Amer.
Deg deg deg deg.
Jantung Layla berdetak dengan kencang seakan jantungnya akan melompat ke luar dari tempatnya.
Layla menggigit bibir bawahnya saat Amer terus menatapnya dengan intens, aduh jantung ku kenapa ini? A- apa ada yang salah dengan jantung ku? A- apa aku salah makan?
Apa itu suara detak jantung Layla? Aku dapat mendengarnya dengan jelas, jantung Layla berdetak dengan kencang.
Tanpa sadar Amer mendekatkan wajahnya pada wajah Layla hingga wajah ke duanya tidak berjarak. Deru nafas Amer yang segar menyeruak di indra penciuman Layla dan menyadarkan Layla akan wajah Amer yang sudah di depan matanya.
"Emmm Tu- Tuan, a- aku akan mandi dulu." Dengan gugup Layla beranjak dari duduknya.
Amer memukul angin dengan tangannya, ah sialll hampir saja aku menciummm nya.
Layla merekatkan ke dua tangannya sambil berlari menuju kamarnya, astaga bodohnya aku, hampir saja.
Bi Asih yang sedang berada di dapur tampak kesal melihat Layla yang begitu dekat dengan Amer, tingkah ke duanya saat di taman pun tidak luput dari ke dua mata bi Asih.
"Lihat saja Layla, kali ini akan aku beri pelajan pada mu! Kau itu harus sadar diri akan posisi mu di rumah ini!" Geram bi Asih dengan memasukkan bubuk putih pada segelas air putih yang ada di atas meja.
"Biar tahu rasa kau, Layla. Wanita murahannn, sudah terlalu sabar aku menghadapi mu selama ini Layla." Gumam bi Asih yang menyeringai dengan menatap kamar yang berada di lantai atas, kamar yang di tempati Layla.
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran ðŸ¤ðŸ¤
Author gabut sebatas halu 😉
__ADS_1