
...💔💔💔...
"Apa kau tidak merasa cemburu jika aku dekat dengan wanita lain?"
Amer mendekatkan wajahnya dengan wajah Layla.
Deg deg deg deg.
Jantung Layla berdetak dengan kencang, begitu pun dengan Amer yang merasakan hal yang sama pada jantungnya.
Layla nampak gugup dan memalingkan wajahnya dari Amer.
Amer menyentuh dagu Layla dan membawanya hingga menatap wajahnya.
"Apa Layla? Katakan pada ku, kau cemburu tidak, jika ada wanita lain yang dekat dengan ku?" Tanya Amer dengan matanya yang teduh menatap mata Layla.
Layla menjawabnya dengan gugup, "A- aku..." Apa ini, Tuan Amer terlalu dekat dengan ku, apa yang aku rasakan saat ini? Apa aku akan marah saat melihat Tuan Amer dekat dengan wanita lain?
"Aku apa, Layla?" Tanya Amer yang sudah di buat penasaran dengan jawaban Layla.
"Aku tidak tahu, Tuan!" Jawab Layla dengan polosnya.
Amer mengerutkan keningnya raut wajah kecewa tampak ia perlihat kan pada Layla, aku pikir Layla akan mengatakan cemburu jika melihat ku dekat dengan wanita lain. Ini malah tidak tahu? Jawaban yang di luar perkiraan ku!
"Maaf Tuan, aku benar benar tidak tahu!" Seru Layla.
Amer tersenyum pahit, tangannya mengelus sayang kepada Layla.
"Sudah lah, nanti juga dengan berjalannya waktu. Hati mu akan menerima ku seutuhnya." Ucap Amer.
Amer menghabiskan waktu makan siangnya di rumah sakit dengan Layla.
Amer menggenggam jemari Layla, "Aku janji, setelah meeting ku selesai. Aku akan kembali ke rumah sakit untuk menemani mu!" Ujar Amer saat akan meninggalkan Layla, hati ku seakan berat untuk meninggalkan mu Layla.
Layla menepuk nepuk jemari Amer, "Tuan tidak perlu menghawatirkan ku, aku di sini pasti akan baik baik saja. Tuan harus fokus pada meeting." Ujar Layla dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Cepat lah pulih, aku tidak bisa jauh dari mu, Layla!" Seru Amer yang beranjak dari tepian ranjang rawat Layla.
"Iya Tuan, aku pasti akan cepat pulih."
Amer mengecup kening Layla, "Aku pasti akan sangat merindukan mu!" Seru Amer.
"Jangan gombal Tuan, Tuan hanya jauh dari ku untuk beberapa saat saja kan!" Ledek Layla.
"Ya kau benar."
Amer memeluk tubuh Layla yang berbaring di atas ranjang rawatnya.
Amer berbisik di telinga Layla, "Jika akta pisah mu sudah ke luar, aku akan langsung menikahi mu, Layla!" Ucapnya dengan lembut.
"Iya Tuan." Jawab Layla dengan pipi yang merona.
Amer melangkah meninggalkan Layla di ruang rawat.
"Kalian, jangan sampai membiar kan orang asing masuk ke dalam menemui Layla!" Ucap Amer pada ke dua bodyguard yang berjaga di depan pintu kamar rawat Layla.
__ADS_1
"Siap, Tuan!" Ucap Hendra.
Amer melangkah meninggalkan ruang rawat Layla dengan langkah kakinya yang lebar.
Amer mendudukan dirinya di kursi belakang dengan menyandarkan punggungnya, sedangkan pak Jojo berada di belakang stir kemudi melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir rumah sakit menuju kantor Amer Crop.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Amer yang berada di dalam sakunya bergetar.
"Ada apa lagi Gunawan?" Tanya Amer saat panggilan teleponnya sudah ia jawab.
[ "Maaf Tuan jika saya mengganggu. Tapi apa Tuan sedang dalam perjalanan menuju kantor?" ] Tanya Gunawan.
"Iya, aku sedang di jalan menuju kantor. Ada apa? Klien dari PT. Buana belum datang kan?" Tanya Amer.
[ "Maaf Tuan, pihak PT. Buana meminta tempat untuk meeting di pindah ke resto Permata yang ada di jalan Taman Sari, mereka sudah membuking ruang VVIP untuk rapat yang akan berlangsung pukul 13 lewat 10 menit, Tuan." ] Ucap Gunawan.
Amer mengerutkan keningnya, "Kenapa mereka seenaknya saja mengambil keputusan!"
[ "Saya juga tidak tahu, Tuan. Sekretaris pribadi Nona Wanda baru saja mengabari saya jika Nona Wanda sudah memesan tempat untuk meeting kali ini!" ] Ucap Gunawan memberikan penjelasan pada atasannya.
Amer membuang nafasnya dengan kasar, baru mau mengajukan kerja sama saja sudah mengambil ke putusan semaunya, bagai mana jika kerja sama ini sampai diel! Bisa kacau perusahaan yang sudah aku besarkan selama ini!
"Kau menyusul lah ke tempat meeting." Ucap Amer.
[ "Baik Tuan, saya akan segera ke sana untuk menyusul Tuan." ] Ucap Gunawan dengan patuh.
Amer menutup panggilan teleponnya dan menyimpan kembali hapenya ke dalam saku celananya.
Amer membatin dengan perasaan yang dongkol dan kesal, seenaknya saja wanita itu mengambil ke putusan, siapa sih Nona Wanda itu? Apa pengaruhnya untuk perusahaan ku, jika aku tidak menerima kerja sama yang di ajukan pihak PT. Buana?
Amer menimbang nimbang ke putusan apa yang akan ia ambil untuk PT. Buana yang saat ini tertarik untuk mengajukan diri bekerja sama dengan Amer Crop.
Dreeet dreeet dreeet dreeet.
Hape Amer bergetar lagi.
Tanpa melihat siapa yang tengah menghubunginya kembali, Amer menjawab dengan ketus karena saat itu, ia pikir yang melakukan panggilan adalah Gunawan.
"Ada apa lagi, Gunawan! Apa kau ingin mengatakan tidak tahu lokasi meeting kali ini?" Tanya Amer dengan suara yang meninggi.
[ "Tu- Tuan, ma- maaf jika aku sudah mengganggu!"] Ujar Layla yang tergagap, hatinya kaget saat mendengar Amer tengah berkata dengan nada tinggi.
Amer membola, "Layla? Jadi kau yang menghubungi ku?"
Amer melihat layar hapenya dan di sana tertera nama Layla yang tengah melakukan panggilan telepon padanya.
"Maaf Layla, maaf... aku tidak tahu jika itu kau... aku pikir tadi Gunawan yang menghubungi ku!" Ucap Amer yang kini merasa malu pada Layla dan ia menggaruk kepalanya dengan frustasi.
Pak Jojo yang melirik Tuan-nya dari kaca spion mobil hanya bisa menahan tawa melihat ke bodohan yang di lakukan Amer.
Pak Jojo membatin dengan kepalanya yang menggeleng, ada ada saja Tuan Amer ini, aku jadi punya hiburan gratis.
Amer menatap tajam pak Jojo, "Pak Jojo! Anda tidak ingin berjalan kaki menuju kantor kan!" Sungut Amer dengan perkataannya yang terkesan mengancam.
__ADS_1
"Maaf, Tuan!" Seru pak Jojo.
Amer melanjutkan bicaranya pada Layla lewat hapenya.
"Layla, maaf tadi aku sedang tidak konsen.... tapi ada apa kau menghubungi ku, Layla? Apa kau sudah merasakan rindu pada ku, Layla?" Ledek Amer yang berusaha mencairkan suasana kembali antara dirinya dan juga Layla.
[ "Makanya Tuan harus banyak minum air putih, untuk menjaga konsentrasi." ] Ucap Layla.
"Ia baik lah, aku akan melakukan apa yang kau katakan. Oh ya Layla, apa kau tau apa yang mampu membuat rasa dahaga di hati ku menghilang?" Tanya Amer.
[ "Apa Tuan?" ] Tanya Layla dengan polosnya.
Senyum Amer tampak terukir di bibirnya, membayangkan jika saat ini Layla tengah merona saat mendengar dirinya menyanjung Layla.
"Tentu saja diri mu, Layla!" Ujar Amer.
[ "Ihs Tuan, bisa saja!" ]
Pak Jojo menghentikan laju mobil nya dan memarkirkan mobilnya dengan sempurna.
Amer yang menyadari jika dirinya telah sampai pada lokasi meeting pun langsung mengakhiri panggilan telponnya dengan Layla.
"Maaf Layla, nanti kita sambung lagi pembicaraan kita ya!"
[ "Iya Tuan, Tuan yang fokus ya dengan meeting nya!" ]
"Pasti, Layla."
Amer menyimpan kembali hapenya ke dalam saku celananya dan melihat sudah ada Gunawan yang berdiri menunggu dirinya di depan pintu masuk resto Permata.
Pak Jojo membukakan pintu mobil untuk Tuan-nya Amer.
Amer melangkah masuk ke dalam resto dengan di ikuti Gunawan yang berjalan di belakangnya.
Di dalam ke duanya di sambut oleh sekretaris pribadi Wanda dari pihak PT. Buana.
"Selamat datang, Tuan! Maaf sebelumnya jika ibu Wanda merubah lokasi meeting secara mendadak." Dika menjabat tangan Amer dan Gunawan secara bergantian.
"Ia, tidak apa. Tapi tidak untuk lain kali!" Ucap Amer dengan suaranya yang dingin dan datar.
"Mari Tuan, biar saya antar ke ruang meeting." Ucap Dika yang berjalan mengimbangi Amer.
Ceklek.
Amer mengerutkan keningnya saat melihat sosok yang tengah duduk di salah satu kursi ruang meeting.
Amer membatin, mau apa wanita ini ke sini!
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Author gabut sebatas halu 😉