
...πππ...
Pria itu menyeringai, bagus rupa nya kau masih mengingat ku!
Bugh.
Dengan gerakan yang cepat pria bertubuh tinggi, berparas tampan namun tampak sangar itu menutup pintu dan menyudutkan Melisa ke dinding.
"Lepas! Atau aku akan berteriak!" Seru Melisa dengan rasa takut yang kini menjalar pada tubuhnya saat ke dua tangan besar pria itu mencengkrammm ke dua lengannya.
Satu tangan pria itu kini mencengkrammm pipi Melisa hingga bibir Melisa kini mengerucut, "Kau tahu siapa aku! Berani kau bermain main dengan ku! Kenapa kau tidak datang! Hah!" Ucap pria itu dengan suaranya yang meninggi.
"Ma- maaf, a- aku bukannya melarikan diri, ta- tapi aku harus di rawat di rumah sakit! Sungguh aku tidak berbohong, Tuan!" Seru Melisa dengan suara yang yang tercekat, sialll baru juga gw ke luar dari rumah sakit, lolos dari tangan Andri dan sekarang harus berhadapan dengan pria ini, bodyguard bandot tua itu, benar benar!
Bugh.
Pria itu melepaskan tangannya dari pipi Melisa dengan menghempaskan nya secara kasar.
Sonu, bodyguard yang di perintahkan seseorang yang menggunakan jasa Melisa.
"Sekarang, cepat bersiap lah! Bos ingin kau datang saat ini juga!" Ucap Sonu dengan suaranya yang datar.
"Ta- tapi saya masih sakit, Tuan! Apa tidak bisa lain hari saja?" Pinta Melisa dengan ekspresi wajah nya yang memelas.
"Jangan sampai aku menyeret mu saat ini juga!!" Ucap Sonu dengan tatapan matanya yang tajam.
Melisa berlenggak meninggalkan Sonu dengan hati yang menggerutu. Sedangkan Sonu tampak acuh pada Melisa.
Sialannn lo! Baru jadi bodyguard aja udah belagu lo! Awas lo, liet aja gw bakal buat pria buncit, bau tanah itu kasih hukuman buat lo!
"Baik lah, tunggu sebentar!"
Beberapa menit ke mudian, Melisa sudah siap dengan penampilan barunya, dengan salah satu pipinya yang di plester karena luka yang di berikan oleh Andri.
Sonu masuk ke dalam mobil di belakang kemudi, Melisa mendudukan dirinya di kursi belakang.
Dengan kening yang mengkerut, tatapan matanya yang tajam, Sonu berseru dengan suaranya yang dingin.
"Pindah ke depan lo! Lo pikir gw ini supir lo!"
"Ihs bawel banget lo, tinggal jakan juga." Melisa turun dari mobil dan pindah mendudukan dirinya di sebelah Sonu dengan menatap jengkel padanya.
Sonu melajukan mobil ke luar dari area lingkungan rumah Melisa.
Sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan saat Melisa ke luar dari rumah, sampai memasuki mobil honda jazz hitam itu pun menyeringai dengan tatapan matanya yang tajam.
"Kali ini lo bisa aja lolos dari gw, tapi untuk ke depannya... lo gak akan bisa lolos dari gw, Melisa!" Gumam Andri
__ADS_1
πRumah sakitπ
Setelah menjalani masa perawatan di rumah sakit selama 3 hari, akhir nya Layla di perbolehkan untuk pulang oleh dokter.
Amer mendorong Layla dengan kursi roda ke luar dari ruang rawat nya, sedangkan Hendra membawa kan paper bag yang berisikan buah dan makanan yang masih utuh, belum tersentuh oleh Layla.
Hendra dan Jono berjalan di belakang ke duanya.
Di dalam mobil, Layla merasa kurang nyaman dengan perlakuan yang di berikan Amer padanya.
Layla membatin, ada apa dengan Tuan Amer. Aku dapat mendengar suara detak jantung Tuan Amer yang begitu keras dan cepat, apa Tuan Amer sedang nerfes atau grogi?
Amer menyandarkan kepala Layla di dadanya yang bidang. Tangan Amer menggenggammm jemari tangan Layla. Dengan sesekali mencium jemari Layla.
Amer membatin, sepertinya ini waktu yang tepat, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku harus memberikannya saat ini juga.
"Apa ada yang ingin kau katakan, Layla?" Tanya Amer.
"Emmm besok aku di minta untuk menghadiri sidang di pengadilan, ka."
"Bagus dong." Ucap Amer.
"Kami di minta untuk melakukan mediasi." Ucap Layla.
Amer mengerutkan keningnya, "Apa kau masih mengharapkan pria berengsekkk itu, Layla?"
"Ingat Layla! Apa pun yang terjadi, ada aku yang akan selalu mendukung setiap langkah mu!" Ucap Amer.
"Terima kasih, Tuan." Ucap Layla dengan tulus yang tanpa sadar memanggil Amer dengan sebutan Tuan.
Amer menjauhkan tubuhnya dari Layla, tangannya terulur menangkup wajah Layla.
"Ada apa?" Tanya Layla dengan polos.
"Apa kau tidak sadar, jika bibir mu ini baru saja manggil ku, Tuan?" Amer menempelkan jari telunjuk tangan kanannya pada bibir Layla, dengan tatapan matanya yang menggoda Layla.
Layla menggelengkan kepalanya, "Maaf aku tidak sengaja, ka!" Ucap Layla.
Mobil melewati pintu pagar besar yang terbuka secara otomatis.
Di depan rumah kediaman Amer, ke hadiran Layla dan Amer sudah di tunggu oleh Noer, Ali dan seorang pria yang usianya 45 tahun dengan beberapa rambut putih yang menyelinap di antara rambut hitamnya.
Ceklek.
Rafa membukakan pintu mobil saat mobil yang membawa Amer sudah terparkir dengan sempurna di parkiran yang berada di depan rumah megah bernuansa modern dengan taman bunga yang berwarna putih.
Ceklek.
__ADS_1
"Selamat sore, Tuan!" Seru Rafa saat Amer sudah ke luar dari dalam mobil.
"Sore!" Seru Amer dengan mengulurkan satu tangannya ke hadapan Layla yang masuh duduk di dalam mobil.
"Tante, om!" Seru Layla yang menyalami ke duanya secara bergantian.
Noer cipika cipiki pada Layla dan memeluknya dengan tangannya yang terulur mengusappp usappp punggung Layla.
"Tante seneng, akhirnya kamu bisa ke luar dari rumah sakit." Ujar Noer.
"Aku juga senang tante, akhirnya aku bisa ke luar dari rumah sakit. Dengan begitu aku bisa mulai kembali pada ke sibukan ku di kantor." Ujar Layla sebagai ke dua mata yang berbinar.
"Siapa bilang kau akan kembali ke kantor, Layla?" Tanya Amer.
Layla menoleh ke arah Amer dengan keningnya yang mengkerut, "Apa maksud ka Amer berkata begitu? Aku tidak di pecat kan ka?"
"Ehem ehem, kita berbicara di dalam saja ya! Kurang etis rasanya berbicara di depan rumah dengan berdiri begini!" Celetuk Ali Khan dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Noer terus menempel pada layla, dengan tangannya yang menggandeng lengan Layla.
Sedangkan Amer dan Ali berjalan di belakang ke dua wanita yang sama sama bearti bagi ke duanya.
Rafa yang berjalan di belakang tubuh Amer pun angkat bicara.
"Maaf Tuan, semua yang Tuan minta sudah tersaji di ruang makan, mereka juga sudah berada di sana, apa Tuan mau langsung mengarahkan Nona ke ruang makan?" Tatanya Rafa.
"Untung saja, kau mengingatkan ku, terima kasih ya pak Rafa." Ucap Amer dengan tulus.
"Sudah ke wajiban saya, Tuan." Ucap Rafa.
"Kau ini benar benar persis dengan papa, ingin memberikan hadiah kecil pada pasangan saja sampai repot seperti ini!" Seru Ali.
"Yah... begitu lah, pah. Layla begitu berarti untuk ku." Ujar Amer.
Noer menoleh ke belakang, "Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Noer dengan tatapan matanya yang menyelidik.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
Author gabut sebatas halu
__ADS_1