Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Cairan infus


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Hanya kamu nak, yang akan memiliki Tuan Amer." Bi Asih tampak berbinar menatap Puput yang kini sudah bersamanya.


"Tapi bu, bagai mana jika rencana ibu kali ini gagal dan wanita itu selamat?" Tanya Puput dengan mengurai pelukannya dan menatap ibunya dengan tanda tanya.


"Ibu tidak mungkin gagal, nak. Kau tahu kan ibu mu ini adalah wanita yang dapat di andalkan." Terang bi Asih dengan menyeringai meyakinkan pada putrinya Puput bahwa rencananya pasti akan berhasil.


"Ya sudah lah, kali ini aku percaya kan saja pada ibu. Aku istirahat dulu ya bu!" Puput meraih pegangan pada kopernya dan menarikkk nya.


"Istirahat lah nak, kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan panjang yang menguras tenaga mu!" Bi Asih tersenyum dengan tulus, tangannya terulur membelai pipi Puput yang tampak berisi.


Kening Puput mengkerut merasakan belaian tangan ibunya yang kasar pada telapak tangan nya, kasar sekali, ini menyakitkan!


Tangan Puput terulur menyingkirkan tangan ibunya yang kasar itu dari pipinya.


Kening bi Asih di buat mengkerut dengan perlakuan Puput padanya. Bi Asih menatap aneh pada putrinya, ada apa dengan putri ku? Kenapa ia seakan tidak ingin aku menyentuhnya?


"Ibu lanjutkan saja pekerjaan ibu!" Serunya dengan memutar bola matanya dengan malas.


Bi Asih menatap punggung Puput dengan membesarkan hatinya sendiri, mungkin saat ini Puput hanya sedang lelah. Iya, Puput pasti lelah makanya ia bersikap seperti tadi.


Baru 3 langakah kaki jenjang Puput melangkah, ia menghentikan langkah kakinya dan berbalik ke arah bi Asih, wanita yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkannya.

__ADS_1


"Ada apa, Put?" Tanya bi Asih dengan lembut.


"Buatkan aku susu hangat rasa vanila dan antarkan ke kamar ku ya, bu!" Serunya tanpa ragu meminta ibunya untuk membuatkan dan membawakan nya ke kamarnya.


"Iya, nanti ibu akan buatkan untuk mu." Terang bi Asih.


Puput melangkah meninggalkan ruang makan dan benar benar menuju kamarnya.


Puput nengunci pintu kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empun dengan kamar yang terdapat pendingin ruangan. Jauh dari kata kamar seorang anak pembantu.


Amer memperlakukan bi Asih dan setiap pekerjanya yang ada di rumah layaknya keluarga, apa lagi Amer tahu betul bagai mana perilaku bi Asih yang selama ini ia kenal ibu yang baik, penyabar dan penyayang.


Puput meraih hapenya yang ada di dalam tas selempangnya, jemarinya mengarahkannya pada nomor telepon dan melakukan panggilan telepon.


[ "Hey beb, aku juga merindukan mu. Cepat lah kau urus masalah mu itu!" ] Suara seorang pria dari sebrang sana.


"Sepertinya aku akan sedikit lama di sini honey!"


[ "What? Kenapa bisa begitu? Apa kau sudah kepincut dengan majikan ibu mu itu?" ]


Tok tok tok tok.


πŸ‚Rumah sakitπŸ‚

__ADS_1


Sampai di rumah sakit Layla yang sudah dalam ke adaan lemas dan tidak sadarkan diri langsung di berikan cairan infus dan mendapatkan penanganan dari dokter Samuel.


Amer di buat gelisah selama menunggu di luar ruang tindakan, Amer berjalan mondar mandir layaknya teriskaan yang sedang di gosokkan pada pakaian.


Sedangakn pak Jojo, Hendra dan Jono ikut menunggu dengan mendudukan diri mereka pada kursi yang ada di ruang tindakan dengan raut wajah yang tidak kalah cemas dengan Amer.


"Tuan, dari pada Tuan terus saja bolak balik. Lebih baik Tuan berdo'a untuk ke selamatan nyawa Nona Layla." Ujar Jojo.


"Kau benar pak, aku lebih baik berdo'a untuk ke selamatan Layla." Amer mendudukan dirinya dan terus berzikir dalam diamnya, berdo'a untuk ke selamatan nyawa Layla yang entah berapa lama lagi berada dalam ruang tindakan.


Lama Amer menunggu dari menit ke menit, hinga dari jam ke jam dan 2 jam berlalu.


Ting.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2