Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Anak manja


__ADS_3

Ceklek.


Pintu yang terbuka, di tutup kembali.


Mia mengurungkan nietnya untuk masuk ke dalam ruang rawat Melisa dan kembali ke parkiran saat dirinya teringat jika ada barangnya yang tertinggal di motor.


Melisa langsung mendorong dada Angga dengan sekuat tenaganya ketika telinganya mendengar ada yang membuka hendle pintu ruang rawatnya.


"To--- emmmmm!"


Bibir Melisa di bekap dengan telapak tangan Angga.


Angga menoleh ke arah pintu yang kembali tertutup rapat.


"Lo harus inget Melisa, kalo lo sampe laporin gw ke polisi dan lo gak paksa kaka lo itu buat cabut laporannya, lo tanggung sendiri akibatnya!" Angga menyeringai.


Melisa menatap tajam Angga dengan mulutnya yang masih di bekap oleh tangan Angga, lo bakal membusuk di penjara, bajingannn lo Angga!


Angga menatap perut Melisa yang rata tertutup selimut, "Beruntung ya lo, anak dalam kandungan lo matiii! Coba kalo dia bertahan dan hidup, lo bakal ribet sendiri buat cari tahu siapa ayah biologis dari anak lo itu!" Angga berkata dengan sinis dengan matanya yang merendahkan Melisa.


Kurang ajarrr lo Angga, sialannn, pengen gw bunuhhh lo saat ini juga!


Melisa melirik nakas yang ada di samping ranjang rawatnya, terdapat buah dan pisau buah di atasnya. Gw harus bisa meraih itu!


Tangan Melisa mencoba untuk menggapai pisau yang ada di antara buah.


Anggaa mengikuti arah lirikan mata Melisa.


Sreek.


Tanggan Angga menggapai pisau itu lebih dulu dan menempelkannya pada pipi Melisa yang mulus.


"Lo mau ambil ini? Heh! Telat lo, gw duluan yang dapetin!" Angga menekan ujung pisau ke kulit Melisa.


"Sintinggg lo Angga!" Seru Melisa dengan sinis, "Akkkh." Melisa merasakan perih pada pipinya yang terus di tekan oleh ujung pisau.


"Lo bakal inget ini baik baik! Jangan pernah lo anggap remeh ancamannn gw! Wanita jalanggg!"


Sreek.


"Aaakkkkh pipi ku! Bajingan lo Angga!" Melisa histeris.


Prang.


Pisau jatuh di atas lantai.


"Anggap itu peringatan dari gw!" Angga langsung melarikan diri dari ruang rawat Melisa.


Saat di koridor rumah sakit Angga yang berlari dengan tergesa gesa menyenggol lengan seorang wanita yang tidak ia kenal.


Bugh.


"Aawwwhhh."


Wanita yang di senggol Angga jatuh terjerembab di atas lantai rumah sakit dengan buah yang menggelinding dari kantong plastik yang ia bawa.


Bukannya membantu, Angga hanya menolehnya sesaat dan langsung berlari meninggalkan wanita itu begitu saja tanpa niet untuk membantu atau meminta maaf.

__ADS_1


"Dasarrr cowo buta! Jalan tuh pake mata woy!" Mia bersungut sungut dengan merangkak memunguti buah yang berhamburan di atas lantai, memasukkannya ke dalam kantong plastik kembali.


Seorang suster berjalan dengan tergesa gesa melewati Mia yang tengah berjalan dengan santai.


Kening Mia mengkerut, "Ada apa ya? Itu suster jalan buru buru gitu, udah kaya mau ngambil gaji aja hahaha!" Gumamnya dengan pelan.


Suster masuk ke ruang rawat Melisa setelah berkali kali Melisa menekan tombol pada ruanganya yang ada di atas kepalanya.


"Ya ampun, apa yang terjadi bu!" Seorang suster menekan kembali tombol darurat. Lalu tangannya menggenggam pergelangan tangan Melisa untuk melihat seberapa dalam lukanya.


Melisa menangis tersedu sedu, "Tadi ada orang jahat sus, yang masuk ke ruang rawat saya! Di- dia melakukan ini semua sama saya sus!" Seru Melisa di tengah isak tangisannya.


"Nanti biar saya obati dulu ya bu! Ibu tunggu di sini!" Seru seorang suster setelah membuat ranjang bagian kepala Melisa lebih tinggi agar Melisa bisa menyandarkan punggungnya.


Mia membola saat melihat Melisa tengah memegangi pipinya dengan darah yang terus mengalir di tangannya.


πŸ‚ Kediaman AmerπŸ‚


"Om, tante, kalian sudah kembali!"


Seruan gadis cantik dengan pakaian minim bahan berlari masuk ke dalam rumah dengan tangannya yang menenteng paper bag dengan tulisan nama restoran terkemuka.


Amer menatap tajam Tasya, wanita yang tadi membuatnya kesal di restoran. Wanita yang sama yaitu wanita yang merusak makan siangnya bersama dengan Layla.


Layla membola saat melihat Tasya yang tampak akrab dengan Noer.


Tasya tampak cipika cipiki dengan Noer dan menyapa Ali yang tengah menatapnya dengan jengah dan risih dengan penampilannya.


Ali geleng geleng kepala melihat pakaian yang di kenakan tamunya ini, astaga beli di mana lagi ini anak pakaian seperti ini! Tidak pantas di pakai, itu pantasnya di jadikan kain untuk mencuci mobil!


"Waw sayang, kamu pasti bawa makanan ke sukaan tante ya!" Seru Noer dengan mata yang berbinar.


Amer menoleh pada Layla yang tampak terkejut dengan ke hadiran Tasya di rumahnya.


Amer beranjak dari duduknya, "Maaf mah, pah, berhubung besok Amer banyak pekerjaan, Amer dan Layla pamit untuk istirahat lebih dulu!" Seru Amer dengan menatap Noer dan Ali secara bergantian.


Ali menatap Layla dan Tasya bergantian, dua orang wanita yang berbeda karakter, ada bagusnya juga Amer membawa Layla masuk ke dalam kamar, jika Layla lebih lama di sini yang ada Layla akan terkontaminasi dengan Tasya, itu tidak baik untuk Layla.


Amer melirikkan ke dua matanya pada Ali, lalu matanya mengerling.


"Loh kamu mau ke mana Amer? Ini kan masih sore!" Seru Tasya yang hendak melangkah mendekati Amer.


"Kau antar lah Layla ke kamarnya Amer! Sudah waktunya untuk Layla istirahat kan!" Seru Ali yang mengerti arti tatapan dan kerlingan putranya Amer.


Amer mengulur kan tangannya pada Layla, "Ayo Layla, aku antar kau ke kamar mu!"


Layla menerima uluran tangan Amer, "Om, tante. Layla istirahat duluan ya!" Seru Layla dengan menundukkan kepalanya.


"Iya, sayang... besok kita ngobrol lagi ya!" Seru Noer yang melambaikan tangannya pada Layla.


"Besok Layla akan berangkat ke kantor bersama dengan Amer, mah!" Amer berkilah.


"Ihs pelit sekali kamu ini, nak!" Gerutu Noer yang merasa tidak di beri ruang untuk dekat dengan Layla oleh Amer.


Amer membawa Layla pergi dari ruang tamu.


Tasya berkata dengan manja pada Noer, "Tante, kenapa Amer di biarkan pergi sih! Tasya kan ingin bicara dengan Amer!"

__ADS_1


Noer merebut paper bag dari tangan Tasya, "Katanya kamu mau makan bareng sama tante! Ya udah sini biar tante temenin kamu makan!" Seru Noer dengan santainya, outra ku itu tidak pantas dengan mu, wanita manja tidak bisa melakukan pekerjaan rumah, memang aku tidak tahu apa jika diri mu itu tidak bisa apa apa?


Tasya mendudukkan dirinya di sofa lain, "Tante ih, Tasya kan sudah lama tidak bicara dengan Amer. Ngomong ngomong tante, wanita yang bersama dengan Amer itu siapa, tan?" Tanya Tasya dengan matanya yang menyelidik.


"Kamu ingin tau banget? Ayo makan ini dulu! Sayang lo kamu kan sudah membelinya!" Noer menyodorkan sebox spaghetti pada Tasya.


"Ihs tante! Jawab dulu pertanyaan ku, wanita yang bersama Amer itu siapa? Dia bukan calon istrinya Amer kan, tan? Calon istri Amer itu aku kan tan?" Tasya mendesak Noer.


Ali yang memang tidak suka dengan Tasya pun beranjak dari duduknya, "Mah, apa kau akan ikut dengan papa atau masih ingin bicara dengan wanita manja itu mah?" Tanya Ali yang memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya.


Noer menatap Ali dengan berbinar, tangannya meraih tas kecil yang ada di atas sofa, "Sudah pasti mama akan ikut papa dong!"


Tasya mengernyitkan keningnya, ihs dasarrr tua bangka dan anak sama saja! Sulit di dekati. "Tante sama om mau ke mana?" Tanya Tasya.


Noer menggandeng lengan Ali, "Maaf ya sayang, tante dan om masih ada urusan di luar, biasa lah ya mau atur jadwal dengan WO." Terang Noer dengan melangkah kan kakinya meninggalkan ruang tamu menuju pintu.


Tasya membola, "A- apa? WO? WO untuk apa tante?"


Noer dan Ali hilang di balik pintu. Tasya seorang diri di ruang tamu, sial, kalo kaya gini gak ada gunanya juga gw dateng ke sini!


Tasya beranjak meninggalkan rumah kediaman Amer, jika Amer sudah masuk ke dalam kamar, Amer tidak akan kembali turun, terasa percuma jika Tasya harus menunggu Amer yang tidak kunjung akan bicara dengannya.


Di dalam kamar Amer membawa Layla masuk ke dalam kamarnya.


"Tuan, wanita tadi itu kan----"


Amer mendudukan Layla di pinggiran kasur.


"Wanita itu yang tadi bertemu dengan kita di restoran, wanita yang ingin mencari masalah dengan mu! Tidak usah kau perduli kan wanita itu Layla, jika mama dan papa ku saja sudah setuju dengan pilihan ku." Seru Amer dengan mengusappp kepala Layla.


"Apa Tuan mencintai wanita itu? A-"


Amer menaruh jari telunjuk kanannya di depan bibir Layla.


"Kita sudah membahas ini Layla. Kau istirahat lah di kamar ini." Ujar Amer yang melangkah ke luar dari kamarnya sendiri.


"Tuan tidur di mana? Jika aku tidur di sini?" Layla memberanikan diri untuk bertanya pada Amer, maaf jika aku sudah membuat mu marah Tuan.


"Aku bisa tidur di kamar lain, kau istirahat lah." Amer menutup pintu kamar dan membiarkan Layla seorang diri di kamarnya.


"Layla Layla, terbuat dari apa hati mu Layla. Apa kamu tidak merasakan getaran cinta di hati mu untuk ku? Meski hanya seujung kuku pun? Jangan kau jandikan cinta ku ini cinta yang bertepuk sebelah tangan, Tuhan!" Gumam Amer yang berdiri menatap pintu kamarnya.


Amer masuk ke dalam kamar yang berada di depan tangga, menempati ruang baru, ruang yang akan menjadi kamarnya saat ini. Setidaknya Amer harus bersabar sampai Layla menjadi miliknya seutuhnya.


Layla menggosok giginya dan mencuci mukanya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Ke dua matanya menatap langit langit kamar, "Apa Tuan Amer sudah tidur ya? Apa yang sedang Tuan Amer lakukan di kamarnya?" Pertanyaan demi pertanyaan terucap dari bibir Layla.


Layla meraih hape-nya yang ada di dekatnya, menekan tombol seseorang dan menunggu panggilannya di jawab oleh orang itu.


"Halo, Tuan!" Seru layla saat sambungannya di jawab.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu πŸ˜‰


__ADS_2