Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Jadi lah milik ku!


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Pah, coba lihat siapa ini!" Noer berseru pada suaminya Ali.


Ali menoleh ke arah istrinya, keningnya mengkerut saat melihat bukan hanya Amer dan Noer yang melangkah bersama tapi juga ada seorang wanita muda yang berjalan dengan mereka.


Wanita muda yang cantik dengan tinggi semampai tapi sayangnya terlalu kurus, mungkin jika ia lebih berisi lagi akan tampak sangat menggoda di mata laki laki.


Bi Asih langsung yang melihat ke tiganya berjalan memasuki ruang tamu pun memilih meninggalkan ruang tamu dengan tatapan yang sinis pada Layla, kurang ajarrr wanita itu, beraninya dia merebut perhatian Nyonya besar, kalo begini terus aku harus menyuruh pulang anak ku itu dari luar negeri, apa pun alasannya! Jika tidak, maka posisi yang selama ini aku incar untuk putri ku pasti akan di rebut oleh wanita bersuami itu!


"Ayo sayang, kenalin ini adalah teman hidup tante. Namanya Ali Khan, kamu bisa panggil pria gagah nan tampan ini dengan sebutan om atau papah juga tante gak keberatan ko!" Noer terkekeh dengan perkataannya.


Ali melihat wajah wanita muda itu tampak merona mendengar perkataan Noer, "Mamah, apa apaan sih! Kasian itu tamu kita jadi merona gitu!"


Layla mencium punggung tangan Ali saat Layla sudah berdiri di dekatnya, Layla membungkukkan tubuhnya dan mencium punggung tangan kanan Ali, "Layla, om!" Seru Layla memperkenalkan dirinya pada sosok pria tua namun masih tampak muda di usianya yang tidak lagi muda.


Noer mendudukkan dirinya di sofa yang sama dengan Ali, dengan Noer yang memilih duduk berdempetan dengan Ali.


Noer melingkarkan tangannya pada lengan kekar Ali, "Gimana pah, cantikkan orangnya?" Noer berbisik pada Ali namun bisikannya masih dapat di dengar oleh Layla dan juga Amer.


Amer mencium punggung tangan kanan Ali, "Gak ikut makan aja tadi, pah!" Seru Amer yang kini mendudukan dirinya di sofa.


Amer melihat Layla yang masih berdiri pun menarikkk tangan Layla hingga ia terduduk di atas pangkuan Amer.


Sreek.


Bugh.


"Aaakkkkhh." Pekik Layla dengan satu tangan yang mendarat di dada Amer.


Untuk sesaat Layla menikmatiii wajah tampan rupawayan Amer dan Amer menikmatiii wajah cantik Layla.


Amer menatap sepasang bola mata Layla yang tampak sayu, ada rasa sedih yang mendalam yang tengah Layla rasakan, namun Amer bukan lah seseorang yang pandai dalam menyelami hati setiap wanita. Hingga tidak tahu pasti apa yang sedang Layla rasakan.


"Kau amat cantik Layla, jadi lah milik ku!" Seru Amer yang sesaat melupakan jika di ruang tamu bukan hanya ada dirinya dan Layla, tapi ada sepasang makhluk hidup yang masih memiliki nyawa dan satu darah dengannya.


Mata Layla menatap sepasang mata elang milik Amer, dengan alisnya yang tebal, jambang di dekat telinganya, dan bewok yang mulai tumbuh tipis membuat kesan jika Amer lelaki sempurna dan berapa beruntungnya lagi saat Layla lah pemilik hati Amer.

__ADS_1


"Duduk lah di sini! Layla!" Seru Amer memecah ke heningan di antara ke duanya.


Sedangkan Noer menatap iri pada Layla, melihat putranya memperlakukan Layla sebegitu manisnya.


"Ehem ehem!" Ali berdehem untuk menyadarkan putranya dari ke hadiran orang tua yang tengah menatap ke duanya.


Noer menepak lengan Ali dengan bibir yang mengerucut.


Plak.


Noer bersungut dengan keningnya yang mengkerut, "Papah ih! Merusak suasana ajah!"


"Apa sih mah, jika papa tidak berdehem, anak mu itu akan semakin hilang kendali. Mau kamu putra kita ini berciumannn mesraaa dengan gadis pilihannya di depan mata kita ini heeem!" Seru Ali dengan memainkan alisnya naik turun.


"Gak apa pah, kan biar Amer dengan cepat memberikan kita ini cucu! Gimana sih! Malu mama tuh sama teman teman sosialita mama! Udah setua ini mama belum juga menimang cucu!" Noer merajuk dengan menarik tangannya dari lengan Ali yang tadi ia peluk.


Amer geleng geleng kepala melihat tingkah orang tuanya, "Astaga kalian membuat ku gila!"


Layla mendudukan dirinya di samping Amer, bibirnya terlukis senyum melihat tingkah ke dua orang tua Amer.


Amer menggenggam jemari Layla, menatap sepasang mata indah Layla, "Maaf ya, kau harus terbiasa dengan tingkah orang tua ku yang tidak tahu malu ini!" Seru Amer.


"Aku suka ke hangatan keluarga yang seperti ini!" Seru Layla, tanpa kalian sadari tante Noer dan om Ali, kalian berdua mengingatkan ku pada sosok mendiang ibu dan ayah ku saat keluarga kami masih utuh.


Amer mengerutkan keningnya, "Keluarga yang seperti ini kau bilang hangat, Layla?"


Amer tidak tahu bagai mana kehidupan Layla saat masih bersama dengan ibu kandungnya dan ayahnya saat itu. Yang ia tahu hanya saat Layla hidup berempat dengan orang tua yang mendudiknya dengan keras. Belum lagi perlakuan yang tidak mengenakkan yang Layla alami.


"Jadi, kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian ini?" Tanya Ali dengan wajah yang serius berkata pada Amer dengan punggung yang menyandar pada sofa.


"Iya Amer, kapan kalian akan menentukan tanggalkan nya? Mama akan buatkan pesta besar besar untuk kalian berdua."


"Jangan lupa undang teman teman sosialita mu itu mah! Biar mereka tahu bahwa kita juga bisa memiliki menantu yang cantik dan Amer itu pria normalll!" Sungut Ali dengan geram.


Amer berseru pada papanya, "Pah!"


Layla menatap Noer dan Ali bergantian, kasihan orang tua mu Tuan, mereka berharap banyak pada ku jika aku ini akan menikah dengan mu, terlebih mereka sangat menginginkan ke hadiran seorang cucu, a- aku tidak yakin bisa mengabulkan harapan mereka, yang ada aku hanya akn menghancurkan harapan mereka berdua.

__ADS_1


Layla meremasss jemari Amer yang tengah menggenggamnya, "Maaf om, tante... a- aku ----"


Dari arah pintu yang terbuka, seruan seorang wanita yang sangat di kenal Amer terdengar di telinganya.


"Om, tante! Kalian sudah kembali!" Serunya dengan riang.


πŸ‚Rumah sakitπŸ‚


"Ke mana aja lo baru dateng?" Tanya Melisa tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam kamar rawatnya, karena ia pikir itu adalah Mia, sahabat kakanya Layla.


Tap tap tap.


Tidak ada jawaban sepatah kata pun dari orang itu, kakinya terus melangkah mendekat hingga ia berdiri di samping ranjang rawat Melisa.


Melisa memiringkan tubuhnya dengan bibirnya yang mengoceh, "Lo budeggg ya! Lo! Ngapain lo di sini!" Kening Melisa mengkerut saat melihat pria dengan rambut gondrong, tubuh besar tengah menyeringai ke arahnya.


"Lo, lo mau apa di sini! Cepet ke luar gak lo!" Melisa beringsut, menggeser tubuhnya dari atas ranjang rawatnya saat tangan kekar Angga tengah mengudara dan mencengkram bahunya dengan kencang.


"Lepas! Sakit!" Melisa merintih saat cengkrammm Angga semakin kencang pada bahunya.


Angga menatap tajam pada Melisa, wajahnya ia dekatkan dengan wajah Melisa, "Gw mau lo cabut laporan lo itu ke bang Rudi! Kalo gak, gw bakal pastiin hidup lo ada di tangan gw!"


Hembusan nafas Angga menyeruak di depan wajah Melisa, bau alkohol begitu menyeruak saat Angga bicara.


Melisa berusaha mendorong Angga dengan tangannya, melakukan perlawanannn dengan memukulll mukulll dada budamg Angga, "Bukan gw yang laporin bang Rudi! Lepas kalo gak gw bakal teriak!" Seru Melisa dengan wajah yang ke takutan.


"Mao lo teriak sekencang apa pun! Lo gak akan bisa lolos dari gw, Melisa!" Angga mencengkram pipi Melisa dan menciumnya dengan rakusss.


Melisa membola saat Angga membungkammm bibirnya dengan ciumannn yang rakusss, "Eemmmmmm emmm." Sialannn lo Angga, gw gak akan biarin lo lepas gitu aja, gw akan buat lo mendekam di penjara biar lo membusukkk bersama dengan bang Rudi.


Ceklek.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu πŸ˜‰


__ADS_2