Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Hatinya sudah hancur


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Mia mengerutkan keningnya, "Kalo bukan mereka berdua, siapa dong yang bawa lo?"


"Pak Amer yang bawa gw ke rumah sakit." Ujar Layla.


"Ko bisa?" Tanya Mia dengan mulut menganga.


"Terus lo maunya gw di bawa ke rumah sakit sama siapa?"


"Kali gitu bang Rudi yang bawa lo ke rumah sakit, secara kan bang Rudi itu laki lo, atau adik tiri lo itu si Melisa... cewe yang ngerasa dirinya cantik... ih gedek gw jadinya kalo inget kelakuan ade lo itu." Mia beranjak ke arah sofa dan mengeluarkan laptop dari tasnya, membawanya menghampiri Layla.


"Lo mau ngerjain apa lagi, Mia?" Layla menurunkan kakinya dari atas ranjang rawat.


"Tugas apa lagi kalo bukan disein." Mia melihat Layla yang hendak beranjak dari ranjang rawatnya, "Lo mau ke mana La?" Tanya Mia yang kini menaruh laptopnya di atas sofa dekat ranjang rawat Layla.


"Gw pengen mandorin lo kerja lah, mau ngapain lagi emangnya!" Ledek Layla.


Mia membantu memapah Layla dan menyeret tiang infus, "Mending kita duduk di sofa onoh aja dah yuk!" Mia mengarahkan Layla pada sofa yang berada dekat dengan pintu menunjuknya dengan bibir yang mengerucut.


"Hahahaha, bibir lo udah kaya sowang." Layla tergelak melihat bibir Mia.


"Ihs lo udah gw tolongin, gw temenin, gini amat si lo bales gw, pake ngeledek... harusnya tuh ya makasih kek gitu ke gw!" Sungut Mia.


Layla mendudukkan dirinya di sofa.

__ADS_1


"Tunggu sini, lo!" Mia kembali mengambil laptopnya yang ada di sofa dekat ranjang rawat.


"Mia, tolongin dong sekalian bawain hape gw juga hihihi." Layla menunjuk jari telunjuk kanannya ke arah hape yang ada di atas ranjang rawat dekat dengan bantal kepalanya.


"Iya bu bos, biar saya ambilin."


"Sayangnya gw bukan bos lo, Mia... kapan ya gw jadi bos... tapi kayanya jauh banget deh... secara gw udah gak punya tabungan apa apa, duit yang rencananya gw tabung buat buka usaha, lenyap gitu aja." Terang Layla dengan ke dua mata yang sedih.


"Ihs, gak punya apa apa gimana maksud lo? Lo kan punya tabungan di ATM, gak mungkin lah gaji lo abis dalam sebulan." Mia berjalan kembali menghampiri Layla dengan laptop dan hape Layla di tangannya.


"ATM dan duit yang tersisa di dompet gw di ambil bang Rudi."


"Kok bisa, La? Lo berantem sama bang Rudi? Apa bang Rudi kalah judi lagi? Lo gak berusaha buat pertahanin ATM lo gitu?" Mia menyerahkan hape Layla padanya dan mendudukkan dirinya di sofa.


"Ini hasil dari gw ngelawan bang Rudi, Mia." Terang Layla.


"Emang bener bener tuh si Rudi, gw kan udah bilang sama lo... tinggalin laki lo... laki lo itu gak bener, gak bisa deh kalo hubungan lo di pertahanin sama tuh orang, makan ati La." Mia memangku laptopnya di atas ke dua pahanya.


"Mau gimana lagi, dulu gw cinta sama bang Rudi, bang Rudi cinta pertama gw... tapi itu dulu, sekarang rasa cinta gw udah gak ada." Layla menggigit bibir bawahnya dengan getir ke dua matanya memanas, ada sungai yang akan mengalir deras dari pelupuk mata Layla, tangan Layla mengepal kencang, jelas gw sekarang gak cinta lagi sama lo bang, apa lagi lo udah kebangetan banget sama gw, gw salah terus di mata lo.


Mia menatap tajam pada Layla, ada rasa tidak percaya jika Layla berani mengatakan tidak lagi cinta dengan Rudi, suaminya yang selalu di bela Layla saat telinganya mendengar aduan tetangga atau pun sahabatnya sendiri tentang Rudi yang suka main judi, sering kali melihatnya bersama dengan wanita yang berbeda, saat Nami mengatakan melihat Rudi bersama dengan Melisa di mall berjalan dengan mesra, masih banyak lagi aduan tentang Rudi dan Melisa. Namun pada akhirnya Layla tetap percaya pada Rudi dan adik tirinya. Layla membela ke dua orang yang jelas jelas hanya memanfaatkan uang hasil keringat Layla.


Mia menepuk bahu Layla, "Apa yang membuat lo gak cinta lagi sama bang Rudi, La?" Tanya Mia dengan menutup kembali laptopnya dan menaruh laptopnya ke samping tubuhnya.


Bulir bening menerobos mata Layla, membasahi pipinya yang cabi, "Gw, gw u- udah ngeliet pake mata kepala gw sendiri, bang Rudi dan Melisa hiks hiks mereka ---"

__ADS_1


Layla tidak sanggup lagi mengatakannya pada Mia, apa yang sudah Layla lihat dengan mata dan kepalanya sendiri, hatinya sudah hancur tidak sanggup berkata yang ada hanya air mata, sesak di dada, bayangan saat Rudi dah Melisa tengah bermain gila di atas ranjangnya kian menusuk relung hatinya yang paling dalam, lagi lagi hatinya terluka karena orang yang di sayanginya, berharap balasan cinta dan pengertian Rudi padanya, namun kini hanya penghianatan yang Layla terima.


Mia bingung dengan reaksi yang di perlihatkan Layla, Mia langsung membawa Layla dalam dekapannya, mengusapkan tangannya pada punggung Layla, memberikan kehangatan, ketenangan untuk Layla.


"Kalo lo mau nangis, nangis aja La... lo tumpain rasa sedih lo, tapi setelah ini lo harus bangkit La, lo ga bisa gini aja, jangan karena cinta, jangan karena suami gak berguna lo itu, lo kalah sama keadaan, ingat La... lo masih punya gw sahabat lo, inget almarhum ibu lo pasti bakal sedih kalo liet lo sedih. Lo harus kuat, lo buktiin kalo lo bisa bangkit, lo bisa hidup sukses tanpa mereka berdua di sisi lo." Mia menyemangati Layla.


Layla menangis tersedu sedu dengan tubuh yang bergetar karena sesenggukan. Hatinya merasa hancur sehancur hancurnya. Mungkin ini alasan di balik Layla ke guguran, Layla tidak lagi ragu untuk berpisah pada Rudi.


Dalam tangisnya, batin layla menyerukan dirinya untuk meninggalkan Rudi, aku harus kuat, aku harus bisa berdiri tanpa bang Rudi, selama ini aku mampu untuk menunjang kehidupan bang Rudi dan Melisa, maka kali ini aku pasti mampu untuk menghudupi diri ku sendiri, aku pasti bisa melewati ini semua.


πŸ‚Di tempat lainπŸ‚


Sore menjelang di rumah Melisa.


Rudi kembali ke rumah sejak siang bersama dengan pria berkepala plontos. Mereka bertiga bermain karambol sampai sore hari. Sedangkan Melisa mendudukan dirinya di sofa dengan mata yang fokus pada layar tivi.


Pria berambut gondrong dalam diam memperhatikan Melisa, tunggu sampe malam lo, bakal gw sikattt sampai lo gak bisa jalan besok pagi hahahaha bakal menang banyak nih gw.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol 🀭


Author gabut sebatas halu.

__ADS_1


__ADS_2