
...💔💔💔...
"Apa anda pikir, saya mau menyetujui kerja sama ini?" Tanya Amer.
"Maaf Tuan Amer, jika kesan pertama saya dengan anda kurang mengenakkan. Tapi ini bisnis. Dalam hal bisnis, ke untungan yang paling utama. Apa Tuan Amer tidak ingin perusahaan ini maju dan berkembang pesat?" Ucap Alan dengan tatapan mata yang tajam.
Alan membatin, aku yakin, orang ini akan menerima penawaran ku untuk bekerja sama, tidak ada alasan untuk nya menolak penawaran ku ini.
"Mari silahkan duduk dulu, Tuan!" Gunawan mempersiapkan 2 orang calon klien barunya untuk duduk.
Alan dan Nusi duduk di kursi yang ada di hadapan Amer, Amer mendudukan dirinya kembali di kursi ke besarannya.
"Biar saya minta ob untuk buatkan minuman, maaf Tuan Alan mau minum apa? Pak Nusi?" Tanya Gunawan sebelum meninggalkan ruang kerja bosnya, Amer.
"Buatkan teh manis hangat saja untuk kami berdua, pak." Ucap Nusi.
"Kalo begitu silahkan mengobrol dulu, biar saya minta untuk di buatkan minuman untuk kalian." Ucap Gunawan.
Gunawan meninggal kan ruang kerja Amer, setelah tahu apa yang harus di hidangkan untuk tamu penting Tuannya itu.
Nusi menyodorkan berkas yang sudah di siapkan sebelum nya pada Amer.
Amer menerima berkas itu, dan langsung melihat isi lembarannya. Membacanya pada bagian yang menerangkan pada poin poin penting.
Amer membatin, apa yang di katakan Tuan Alan memang ada benarnya juga. Dalam bisnis... yang di cari adalah ke untungan, selain membuat usaha berkembang, aku juga harus memikirkan ke sejahteraan karyawan ku. Untuk saat ini, aku harus menyampingkan ego ku.
"Tuan Amer bisa mempelajari nya lebih dulu, sebelum menolak tawaran kerja sama, yang saya ajukan untuk perusahaan anda ini!" Ujar Alan dengan sikapnya yang tenang, lebih tepatnya berusaha menahan sikap arogannya.
__ADS_1
Gunawan kembali ke ruang kerja Amer, dengan Aulia yang bersama nya. Aulia yang membawa nampan dengan berisikan 2 cangkir gelas teh hangat dan 1 kopi hitam untuk Amer. Serta sepiring kecil jajanan pasar.
"Silahkan Tuan, teh hangat manisnya." Ucap Aulia, dengan menaruh cangkir gelas teh di hadapan Alan dan Nusi, senyum manis nampak di bibir Aulia.
Aulia juga menaruh secangkir kopi di hadapan Amer, pada hal ia juga melihat kopi yang tadi di bawa Layla, masih ada dan belum tersentuh bibirnya sama sekali. Aulia kini menaruh sepiring kecil jajanan pasar di atas meja.
Aulia berdiri mematung, ke dua matanya menatap ke dua tamu Tuan-nya secara bergantian, gila gw harus dapetin salah satu dari mereka, kalo gw pengen nyaingin Layla yang berhasil dapetin Tuan Amer!
"Aulia! Apa lagi yang kau tunggu?" Tanya Amer yang menatapnya dengan sinis.
"Tidak ada Tuan, apa Tuan tidak butuh apa pun lagi?" Tanya Aulia.
"Pergi lah! Kau itu terlalu banyak bicara!" Sungut Amer.
"Kalo begitu saya permisi, Tuan." Aulia ke luar dari ruang kerja Amer.
Amer meminta Gunawan, untuk ke luar dari ruang kerjanya dengan gerakan kepalanya.
Amer mempersilahkan ke dua tamunya, untuk menikmati apa yang di hidangkan, "Silahkan di minum, Tuan! Kuenya juga boleh anda cicipi, Tuan! Jika anda sudah mencobanya, pasti anda akan merasa ke tagihan dan ingin segera memakannya kembali." Seru Amer, dengan tangan kanan yang terulur meraih cangkir kopi yang di buat Layla.
"Baik lah jika anda yang meminta nya, pasti rasanya sangat enak." Ucap Alan, dengan tangan kanan nya yang terulur meraih cangkir teh dan begitu pun dengan Nusi, mengikuti gerak Tuannya.
Amer merasakan hal aneh pada bibirnya, ada apa dengan kopi ini ya? Kenapa rasanya berbeda dari biasanya? Tapi ini kan buatan Layla, lalu bagai mana dengan teh hangat manis Tuan Alan dan Nusi?
Dengan susah payah, akhirnya kopi yang sudah di seruput oleh Amer. Berhasil masuk juga ke tenggorokan nya.
Alan dan Nusi, langsung menyembur kan minuman, yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Byuuuurrrr.
Byuuurrrrr.
Amer mengerutkan keningnya, apa mungkin... rasa minuman ke duanya juga sama dengan ku? Kalo iya, siapa pelakunya?
"Ada apa, Tuan? Apa ada yang salah dengan minuman anda berdua?" Tanya Amer dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Apa anda ingin meracuni Tuan saya, Tuan Amer?" Cicit Nusi dengan tatapan yang sinis pada Amer.
Alan meminta Nusi diam dengan gerakan tangan kanannya.
"Saya benar benar tidak mengerti, apa yang di ucapkan asisten anda ini Tuan!" Ucap Amer.
"Teh ini rasanya asin, Tuan Amer. Jika anda tidak percaya... anda bisa mencobanya!" Ujar Alan.
Amer meminta Gunawan, untuk menyuruh Aulia masuk ke dalam ruang kerjanya, lewat telpon kantor yang ada di atas meja.
"Tuan memanggil saya?" Tanya Aulia, pasti ini cowo mau memberi kan pujian buat minuman yang udah gw buatin untuk mereka!
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
__ADS_1
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭
Author gabut sebatas halu 😊😊