Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Barang rusak


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Sepertinya aku tahu, apa lagi yang harus aku lakukan untuk selanjut nya." Alan menyeringai.


"Apa lagi Tuan, yang bisa saya lakukan?" tanya Nusi.


Alan memberi perintah pada Nusi dengan jari telunjuknya, memintanya untuk mendekat.


"Jadi begini, kau suruh orang mu untuk mengacau di tokonya, buat ke gaduhan, sebisa mungkin. Aku ingin, perusahaan nya kehilangan kepercayaan dari pelanggan nya." ucap Alan.


"Apa anda yakin Tuan, akan melakukan hal itu?" tanya Nusi dengan ke raguan, itu sama saja dengan Tuan Alan yang menghalal kan segala cara, untuk merusak reputasi Amer Crop.


"Kau lakukan saja apa yang sudah aku katakan pada mu!" seru Alan dengan menatap tajam Nusi.


πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…


Ke esokan nya.


"Apa kau yakin ingin berangkat ke kantor dengan ku, sayang? Kaki mu kan masih sakit." Amer memasti kan kembali Layla, saat Layla merapihkan kerah kemeja yang di kenakan Amer.


"Yakin dong, ka. Kerjaan ku kan hanya duduk ka, lagi pula... aku kan bersama dengan Nami dan Mia dalam satu ruang, aku bisa meminta bantuan mereka, jika aku membutuh kan sesuatu." ujar Layla yang berusaha untuk meyakinkan Amer.


"Apa tidak bisa kau istirahat di rumah, barang sehari atau 2 hari lagi! Ini demi ke baikan kaki mu juga, sayang!" Amer menggendong Layla ke luar dari dalam kamar, dengan Layla yang memeluk tas kerja Amer.


Layla mengerucutkan bibirnya, menatap jengkel Amer yang melarangnya untuk ke kantor.


"Jangan marah begitu pada ku, aku melakukan ini juga untuk ke baikan mu. Jika kaki mu sudah membaik, kapan pun kau mau ke kantor, aku tidak akan melarang mu!" seru Amer.


"Terserah kaka saja lah, percuma juga aku bicara. Toh ka Amer tidak mendengarkan apa yang menjadi keinginan ku juga!"


Amer mendudukan Layla di kursi begitu pun dengan dirinya, menunggu Noer dan Ali untuk sarapan bersama.


Amer mengelusss kepala Layla, "Ayo lah, sayang! Jangan seperti itu!"


Noer dan Ali pun mencul dengan keningnya yang mengkerut, mendapati Layla yang mengerucut kan bibirnya.


"Ada apa ini, sayang? Bocah nakal! Kau apakan lagi menantu mamih?" Noer berkata dengan ketus.


"Apa sih mih! Gak jelas deh!" sungut Amer.

__ADS_1


Ali dan Noer mendudukan diri mereka di kursi.


"Gak jelas gimana Amer! Kau tidak lihat itu, wajah menantu papa... apa kalian bertengkar?" tebak Ali.


"Gak pah, kita baik baik aja ko!" Layla menuangkan nasi dan lauk, ke atas piring yang ada di hadapan Amer, baru setelah itu ke piringnya.


"Jadi kalian gak mau berkata jujur nih sama mamih dan papah?" sungut Noer.


Ke empatnya makan bersama, dengan Noer dan Ali yang masih mendesak Layla dan Amer, yang belum mau mengaku jika mereka berdua sedang bermasalah.


Amer sudah selesai dengan sarapannya, Amer beranjak dari duduknya mengecup kening Layla, "Aku berangkat dulu ya sayang!"


Layla hanya menjawab Amer dengan berdehem, "Hem."


"Amer! Selesaikan dulu permasalahan kalian! Gak baik meninggalkan rumah dengan meninggalkan masalah!" gerutu Noer saat Amer mencium tangan kanannya.


"Layla ingin ke kantor mi, sudah tau kakinya masih sakit." ucap Amer, yang akhirnya mengatakan nya pada Noer.


"Ya ampuuun, kirain masalah apa kali, sampe wajah Layla masam gitu!" kelakar Noer.


"Mih!" Ali menegur istrinya itu.


"Sudah sana kamu berangkat saja, biar Layla ada mami yang urus." oceh Noer.


"Sudah biarkan Layla ikut ke kantor, Amer. Mungkin dengan bertemu dengan teman temannya di kantor, bisa membuat suasana hatinya lebih membaik." Ali membela Layla.


"Tuh kan papah aja ngebolehin aku ke kantor, papa emang pengertian." Layla memberikan pujian pada ayah mertuanya.


"Jadi mami gak pengertian gitu sama kamu, sayang?" kini giliran Noer yang mengerucutkan bibirnya pada Layla.


Layla beranjak dari duduknya, menghampiri ibu mertuanya dengan berjinjit, "Maksud Layla bukan seperti itu, mih! Mami dan papa sama sama pengertian ko!"


Amer melirikkan matanya pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, Amer melangkah menghampiri Layla dan langsung menggendongnya ala ala bridal style.


"Yeeee! Aku ikut ke kantor!" Layla melingkarkan tangannya di leher Amer, aku senang sekali. Bisa menemani mu di kantor, bertemu dengan Nami dan Mia.


Di dalam mobil, saat berada di lampu merah, Amer mengarahkan pak Jojo bukan menuju kantor. Melainkan arah lain.


"Kita belok kiri, pak!" seru Amer.

__ADS_1


"Baik Tuan." jawab pak Jojo, mengikuti arahan dari tuannya.


Layla mengerutkan keningnya, menatap Amer dengan bingung, "Loh, kita gak ke kantor ka?"


"Tidak, kita ke beberapa toko karpet dulu. Meninjau persediaan karpet yang ada di lapangan." terang Amer.


"Owh."


🌾🌾🌾


Jam menunjukkan pukul 9 pagi, di sebuah ruko yang terdiri dari berbagai toko, yang menjual berbagai barang. Tampak ramai pengunjung yang silih berganti memasuki toko yang ada.


Seorang wanita muda dengan kaca mata hitam menengger di mata nya, dengan dua orang pria yang berjalan di belakang nya, dengan membopong satu gulung karpet yang cukup besar.


Wanita muda memasuki toko karpet dengan berseru kesal, "Gimana sih ini toko! Barang gak bermutu kok di jual sama saya. Memang di pikir saya ini bukan langganannya apa, sudah gak mutu, barang rusak pula!"


"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang pria yang merupakan salah satu karyawan toko karpet dengan ramah.


"Saya mau bertemu dengan atasan anda! Panggil cepat atasan anda itu! Enak saja, kalian kalo berjualan tuh yang jujur dong!" sungutnya lagi dengan melepas kaca mata hitamnya.


Semua mata pengunjung yang ada di toko karpet langsung menatap nya, tidak sedikit dari mereka yang mulai berbisik. Dengan tatapan aneh pada wanita muda yang tengah mengomel bak orang kerasukan.


"Maaf Nona, ini karpetnya mau di apakan?" tanya seorang pria yang membopong karpet.


"Taruh saja di situ, ribet banget sih kalian ini!" wanita muda itu menunjuk jari telunjuk kanannya ke arah lantai.


Wanita muda yang tadi mengomel semakin geram, melihat karyawan yang hanya berdiri di depannya tanpa berniat untuk beranjak memanggilkan atasannya.


"Heh kau, budek apa tuli! Cepat panggil atasan mu! Aku ingin tukar karpet yang beberapa hari kalian kirim ke rumah ku, apa apaan itu, barang rusak yang kalian kirim!" bentak si wanita muda.


"Ma- maaf Nona, bisa saya lihat nota pembelian karpetnya?" dengan gugup si karyawan wanita yang tidak lain adalah Neli, meminta bukti nota pembelian karpet pada wanita muda yang belum ka ketahui namanya.


"Kalian meragukan ku? Notanya sudah ku buang setelah membayar karpet itu, lagi pula mana mungkin aku menyimpannya. Pokonya saya mau tukar karpet yang baru. Saya tidak ingin barang yang ini, asal situ tahu ya! Barang yang kalian kirim, bukan barang dan motif yang saya inginkan!" kilah wanita muda.


"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" tanya Amer yang baru melangkah kan kakinya di salah satu tokohnya itu.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......

__ADS_1


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊


__ADS_2