Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Orang tua?


__ADS_3

...💔💔💔...


"Oh iya bang, boleh aku minta pada mu!" Alangkah baiknya ayah dan ibu tiri ku tidak perlu tahu hal buruk yang baru saja menimpa ku, bila mereka tahu bukannya mereka bersimpati pada ku, yang ada mereka akan semakin gila menyiksa ku.


"Apa?"


"Abang jangan mengatakan pada orang tua ku akan musibah yang baru saja menimpa ku ini!" Seru ku.


Rudi mengerutkan keningnya, kenapa gadis ini malah meminta ku untuk berbohong? "Bisa kau beri alasannya?


"A- aku hanya tidak ingin orang tua ku jadi cemas dan menghawatirkan aku, bang.... hanya itu saja."


"Hanya itu?" Tanya Rudi dengan mencuri pandang gadis yang tengah di boncengnya.


"Iya, bang... bisa kan abang merahasiakan nya?"


"Bisa, tapi kau bayar dengan tubuh mu, jika kau mau!" Seru Rudi.


"A- apa? Itu sama saja abang dengan ke dua preman itu! Abang tidak ada bedanya dengan mereka." Tangan ku memukul mukul punggung bang Rudi, "Saya minta abang hentikan motor abang sekarang juga!" Emosi ku tidak bisa lagi di tahan, aku keliru jika berfikir bang Rudi ini malaikat ku tapi ternyata sama saja dengan preman jahat itu, preman yang hampir saja merenggut kesuciannn ku.


"Aku hanya bercanda! Jangan di ambil serius perkataan ku!" Oceh Rudi dengan tangan kiri yang menarik tangan kiri ku dan melingkarkan tangan ku di perutnya.


Deg deg deg.


Degup jantung ku begitu kencang saat bang rudi menarik tangan kiri ku dan tubuh depan ku kini menempel tanpa jarak di punggungnya.


Rasa apa ini? apa yang terjadi pada diri ku? Tangan kanan ku menahan punggung bang Rudi berusaha untuk memberi jarak antara aku dan bang Rudi.


Rudi menyeringai, ternyata gadis ini bukan lah wanita gampangan. Ia pasti belum pernah tersentuh, atau bisa saja dia yang menutup diri dari laki laki.


Sampai di rumah aku melihat ayah dan ibu tiri ku sedang duduk di kursi yang ada di teras rumah.


"Masih ingat rumah juga ternyata putri mu, bang!" Seru Santi dengan sinis.


Sorot mata tajam Nata mengarah pada Layla, anak kurang ajarrr pulang sampai larut... hanya untuk berpacaran? Alasan saja mengikuti kegiatan sekolah!


Dengan berat hati kaki ku melangkah ke rumah dengan di ikuti bang Rudi yang berjalan di belakang ku, haduuh ayah dan ibu pasti marah besar pada ku.

__ADS_1


"Assalamualaikum yah!" Tangan ku terulur untuk mencium punggung tangan kanan ayah.


Plak plak.


Tamparan keras mendarat di ke dua pipi ku, ke dua tangan ku memegangi pipi ku yang kena tamparan ayah, sudut bibir ku berdarah saking kerasnya tamparan tangan ayah.


Apa apaan ini, Rudi terperangah mendapti Layla mendapat perlakuan kasar orang tuanya, "Apa yang anda lakukan, pak?"


Sedangkan Santi tersenyum puas melihat Nata menampar Layla.


"Orang luar tidak perlu ikut campur!" Bentak Nata pada Rudi.


"Aku tidak bisa hanya diam melihat anda memperlakukan Layla dengan kasar!" Seru Rudi.


Nata bangkit dari duduknya, menatap tajam Layla, "Jadi ini alasan mu pulang malam? Membawa orang luar untuk membela mu?" Tanya Nata dengan ke dua tangan yang mengepal.


"Bukan begitu, yah... bang Rudi hanya ingin mengantar ku pulang agar aku tidak di ganggu preman." Oceh ku, pada kenyataannya aku di lecehhhh kan ke dua preman itu, mereka, sudah lah... ayah tidak akan perduli.


Tangan Nata mencengkrammm pipi putrinya, "Omong kosong!" Menghempaskan Layla dengan kasar.


"Udah, yah.. malu ini di luar rumah... Layla bisa jelasin semuanya, ini gak seperti apa yang ayah pikirkan!" Aku menggenggam tangan ayah mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.


Nata menatap tajam Layla, anak tidak tau diri! Beraninya mencari perlindungan di luar rumah, dia pasti sudah banyak bercerita tentang apa yang sudah ia terima di rumah ini!"


Santi beranjak dari duduknya dengan melipat ke dua tangannya, berdiri di depan Rudi, pria gagah yang baru saja datang bersama dengan Layla, "Udah deh, orang luar diem aja... gak usah ikut campur urusan keluarga saya!" Seru Santi.


Rudi menatap Nata dan Santi secara bergantian dengan hati yang bertanya tanya, apa benar mereka berdua ini orang tua Layla? Kenapa mereka terkesan kejam sekali?


Nata menepis tangan Layla, tangan kanan Nata menjambak rambut panjang Layla dan menyeretnya masuk ke dalam rumah.


"Akkkhhh, sakit yah!" Rintihan ku seakan tidak di dengar oleh ayah ku.


Rudi ingin menghentikan sikap Nata namun di cegah oleh Santi, "Berani kau ikut campur!" Santi menunjuk Rudi dengan jari telunjuk tangan kanannya.


Nata menghempaskan tubuh ku ke dinding hingga kepala ku membentur dinding dan berakhir dengan aku terduduk di lantai dengan sangat keras, nyeri... itu yang aku rasa, air mata ku seakan kering untuk menangis bagi ku ini bukan hal yang baru, bukan lagi hal yang perlu aku tangisi, ingin lari dari rumah tapi aku berusaha bertahan ini rumah mendiang ibu kandung ku. Mendiang ibu ku berpesan untuk tidak meninggalkan rumah, ini rumah yang akan di wariskan untuk ku kelak.


Nata mendudukan dirinya di kursi dengan memijat pangkal hidungnya.

__ADS_1


Rudi menerobos masuk ke dalam rumah ku mengangkat dagu ku, "Apa kau baik baik saja?"


Aku tersenyum padanya, baru kali ini ada orang yang begitu perhatian pada ku, "Aku tidak apa apa!"


Rudi mendudukkan ku di kursi.


Nata memperhatikan tingkah Rudi, apa pemuda ini menyukai Layla?


"Ribut sekali!" Melisa ke luar dari dalam kamar dengan memakai celana sebatas paha dan tengtop dengan potongan dada yang rendah.


Rudi terperangah melihat gadis belia yang baru saja ke luar dari kamar, gila ini sih bidadari yang gak kalah manis nya dengan Layla, itu cewek pasti gampangan buat gw maininnn.


"Ada apa ini, yah?" Tanya Melisa pada ayahnya namun matanya melirik pada Rudi, pria yang tengah bersama dengan kakanya Naira, gila ini cowok ganteng banget, gw harus bisa dapetin ini cowok.


"Anak tidak tau diri ini, terus saja mencari masalah!" Nata menunjuk pada Layla.


Melisa ikut mendudukkan dirinya di kursi, "Abang ganteng, duduk aja di sini! Jangan deket dekat dengan Layla, dia itu salah satu wanita ular loh, mending sama aku aja." Ujar Melisa dengan kerlingan mata mengarah pada Rudi.


Rudi tersenyum ke arah Melisa dan membalas kerlingan mata Melisa untuknya. Rupanya aku tidak perlu bersusah payah untuk mendekati gadis itu, dia sendiri yang akan mendekati ku!


Sejak saat itu pula bang Rudi sering ke rumah ku di saat aku ada di rumah atau pun di saat aku tidak berada di rumah.


Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamaran bang Rudi dan kami menikah, rumah tangga yang aku bayangkan akan bahagia berakhir duka.


Ayah ku meninggal saat mendapat kabar jika Melisa di grebek polisi tengah berada di bar, sedangkan ibu tiri ku meninggal di saat dirinya ingin mencegah Melisa untuk tidak menemani om om genit, namun sayangnya ibu menjadi korban tabrak lari dan tewas di tempat.


Saat itu lah aku, bang Rudi dan Melisa tinggal dalam satu atap. Di saat aku tengah hamil besar, aku mencoba melerai bang Rudi yang tengah di keroyok beberapa preman yang menagih hutang ke rumah, namun sayangnya salah satu dari preman itu malah mendorong ku hingga aku membentur meja dan mengalami pendarahan dan satu indung telur ku rusak dan menyebabkan aku sulit untuk hamil kembali.


# Flashback end.


"Kau senang sekali melamun ya!" Suara dingin yang terlontar dari bibir Amer.


"A- apa? A- aku melamun?" Tanya ku dengan tergagap mendapati Amer yang tengah duduk di tepian kasur menata ku dengan intens.


...Bersambung......


...💔💔💔💔💔...

__ADS_1


Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol 🤭


Author gabut sebatas halu.


__ADS_2