
...💔💔💔...
Wanita yang merupakan Melisa, mulai mengerjapkan ke dua matanya.
Melisa langsung menunjukkan raut wajah takutnya, ia menggeser tubuhnya dengan tangannya ke sisi ranjang lain. Saat melihat pria asing, yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan olehnya.
Sedangkan di belakang pria itu, berdiri seorang pria lainnya yang menatapnya tidak kalah tajamnya. Dengan perawakan yang sama tinggi serta atletis.
"Si- siapa kau? A- aku tidak mengenal mu!" tanya Melisa dengan tergagap, rasa takut menyeruak kembali dalam hatinya, takut jika pria yang berdiri di samping ranjangnya kini, adalah teman dari seseorang yang mengurungnya.
Alan menyeringai, dengan posisi duduknya yang menyandar pada sandaran kursi, menyilangkan satu kakinya, ke dua tangan yang memanggku di atas lututnya, menunjukkan betapa arogannya ia.
"Kau tidak perlu takut pada ku, Nona! Justru aku, orang yang sudah menyelamatkan mu, dari kejaran orang orang yang sudah mengurung mu, mengekploitasi mu!" terang Alan.
Melisa menatap pria berjas hitam itu dengan tatapan waspada, "A- apa yang kau inginkan dari ku?"
"Ahahaha kau pintar juga rupanya, baik lah, aku katakan pada mu langsung ke intinya. Melihat sepak terjang mu, dalam merusak rumah tangga kaka mu, memang tidak bisa lagi di ragukan! Dengan pekerjaan mu terdahulu, aku rasa tidak akan sulit untuk mu menjalankan, tugas dari ku! Aku ingin kau melakukan nya lagi!" terang Alan.
Melisa memicingkan matanya, dari mana pria ini tahu... aku sudah merusak rumah tangga Layla? Pekerjaan ku yang terdahulu? Pria ini tau segalanya tentang ku? Siapa sebenarnya pria yang sedang aku hadapi ini?
"Kau tidak perlu banyak berfikir, Nona Melisa! Tidak perlu juga kau banyak bertanya, siapa aku! Kau hanya perlu mematuhi apa yang aku perintahkan pada mu!" Alan melirikkan matanya, pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sudah waktunya aku meninggalkan tempat ini!
__ADS_1
"Bagai mana jika aku menolak perintah anda, Tuan?" aku tidak mungkin menyakiti Layla kembali, mengingat apa yang menimpa ku belakangan ini saja, sudah cukup membuat ku jera.
"Kau tidak punya pilihan, selain menjalankan apa yang aku perintahkan pada mu! Atau kau ingin melihat aku yang menghancurkan sendiri Layla mu itu?" Alan beranjak dari duduknya, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya.
Melisa membuang rasa takutnya, ia bertanya pada pria tampan namun mengerikan di matanya.
"Apa yang akan kau lakukan pada Layla?" Melisa beranjak dari tidurnya, memilih mendudukan dirinya di atas ranjang rawatnya, menatap sepasang mata elang, pria yang tengah bernego padanya.
"Yang pastinya... menghancurkan nya dengan cara ku. Tapi jika kau sendiri menolak melakukan nya untuk ku! Tanpa ragu lagi, aku akan memberi tahukan ke beradaan mu, pada orang orang yang masih mengejar mu itu!" terang Alan yang mengeluarkan hapenya dari saku celananya, siap menghubungi seseorang. Dengan mata Alan yang mengawasi Melisa, melihat ke tidak berdayaan wanita yang menjadi tawanan nya.
Melisa meremasss selimut yang menutupi tubuhnya, aku tidak ingin kembali ke neraka itu! aku juga tidak tahu apa yang akan pria itu lakukan pada Layla. Apa begini cara ku untuk bertemu dengan Layla?
"Baik lah jika kau tidak bersedia melakukan nya untuk ku, aku harus menghubungi orang itu, mengata kan ke beradaan mu di rumah sakit ini, di ruang rawat ini!" Alan berkata dengan tegas, menempel kan benda pipih pada telinganya.
Alan menyeringai, memuji ke putusan yang sudah di ambil Melisa, "Wanita pintar!" Alan menyimpan hapenya ke dalam saku celananya.
Alan melirik sekilas pada Nusi, memberi perintah pada Nusi lewat tatapan matanya. Nusi mengangguk kecil, mengerti apa yang harus ia lakukan.
"Tunggu sampai kau ke luar dari rumah sakit, baru kau jalankan perintah ku!" Alan ke luar dari ruang rawat Melisa, dengan menyunggingkan senyum liciknya, harus nya kau tidak membuang waktu ku!
"Harusnya kau tidak membuang waktu bos ku, Nona! Bos ku itu orang yang tidak punya perasaan! Dia sanggup menghabisiii nyawa mu dalam sekali tembakannn!" Nusi melanggang pergi meninggal kan Melisa, setelah melakukan apa yang menjadi tugasnya, meyakin kan Melisa untuk patuh pada bosnya, Alan.
Air mata Melisa menerobos dengan deras, membanjiri pelupuk matanya.
__ADS_1
Kenapa jadi begini? Apa dosa ku terlalu besar untuk di ampuni oleh mu? Hingga tidak kau beri aku kesempatan untuk menjadi orang baik? Kenapa Tuhan?
Di luar ruang rawat Melisa, Nusi berdiri di antara dua orang pria berbadan besar, yang bertugas berjaga di depan ruang perawatan Melisa.
"Kalian, tetap berjaga di sini! Jangan biarkan wanita itu lolos!" ujar Nusi dengan datar.
"Beres bos;" ucap pria satunya.
Nusi melangkah dengan cepat, menyusul Alan yang sudah berada jauh di depannya.
"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Alan begitu Nusi sudah berada di belakangnya.
"Tentu saja mengingatkan nya pada siapa dia berhadapan!" ucap Nusi.
"Kau harus pastikan wanita itu, jangan sampai berbuat ke salahan. Jika hal itu sampai terjadi, jangan ragu untuk menghabisiii nya!" Alan berkata tanpa mengenal perasaan, dengan wajah datar.
"Bagai mana dengan Nona Layla, Tuan?" tanya Nusi.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
Salam manis author gabut 😊
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊