
...💔💔💔...
Sedangkan Layla sudah tertidur pulas karena ke lelahan dengan permainan Amer.
Amer memiring kan tubuhnya menghadap Layla, tangannya terulur membelai pipi Layla.
"Bangun sayang! Kita bersih bersih dulu sebelum tidur!" Ujar Amer dengan berusaha mengusik Layla hingga ia terbangun dari tidurnya.
Layla mengerjap kan ke dua matanya, melawan rasa kantungnya karena lelah.
Amer beranjak dari tidurnya menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Ke dua mata Layla mengikuti ke mana Amer melangkah.
"Apa yang akan kau lakukan, ka?" Tanya Layla saat mendapati Amer yang menghentikan langkah kakinya di pinggiran kasur bagian Layla.
Tatapan mata Amer menatap tajam sepasang mata Layla, "Aku ingin menerkam mu kembali!" Ucapnya dengan ke dua tangannya yang membawa Layla memasuki kamar mandi.
Layla membulatkan matanya, "A- apa?"
"Apa kau keberatan hem? Ingat kan, aku ini sekarang suami mu, kau tidak bisa menolak apa yang menjadi ke ingin ku saat ini!" Ucap Amer dengan penuh penekan.
Dengan ke dua tangannya yang melingkar di leher Amer, Layla ingin mengatakannya namun hatinya meragu, aku lelah, tapi jika aku menolak, ka Amer pasti akan marah.
Amer menurunkan Layla dari gendongannya, "Aku tidak akan melakukan nya lagi, sekarang kita mandi saja!" Ujarnya dengan menyalakan air shower hangat dan membiarkannya membasahi tubuh ke duanya.
Layla membuang nafasnya dengan perasaan lega. Syukur lah jika ka Amer tidak mengulanginya kembali. Rasanya tulang di tubuh ku ini seakan remuk.
Sesekali sepasang mata Amer menatap dengan penuh nafsuuu pada daging kembar yang membusung padat milik Layla.
Amer menguatkan hatinya sendiri dengan menatap wajah Layla, sabar Amer, kau tidak boleh memaksaaa kan ke inginan mu itu, lihat wajah Layla sudah tampak lelah. Masih ada hari esok untuk melakukan nya kembali.
Amer membantu Layla membersihkan tubuhnya, dengan membalurkan sabun pada kulit tubuh Layla yang halus. Amer memperhatikan warna ke unguan pada kulit Layla.
"Ada apa, ka?" Tanya Layla saat mendapati Amer yang tersenyum puasss menatap tubuh polos Layla.
"Aku hanya sedang memperhatikan tanda ke unguan yang ada pada tubuh mu, Layla!" Ujarnya.
"Ohh, aku pikir ka Amer ingin memintanya lagi." Ucap Layla dengan memalingkan wajahnya dari Amer, dasarrr bego, lo lagi nawarin diri atau apa sih! Gak malu lo ngomong gitu sama ka Amer?
Amer menatap Layla dengan tatapan nakal, "Apa kau ingin aku mengulanginya kembali Layla?"
Bukan bibir Layla yang menjawab, tapi cacing yang ada di dalam perut Layla yang menjawab.
Kruuuk kruuuk kruuuk.
Dengan bodohnya Amer malah bertanya, "Kau lapar, Layla?"
__ADS_1
Wajah Layla bersemu, malu dengan suara perutnya sendiri yang di dengar oleh Amer.
"Sedikit." Dasarrr perut gak bisa di ajak kompromi sedikit apa, gak usah bunyi kalo lapar, aku kan jadi malu.
"Kau tidak perlu merasa malu Layla, aku minta maaf ya, aku lupa jika kau belum makan malam!" Amer menyudahi mandinya dan mengenalkan jubah handuk dengan di ikuti Layla.
"Tunggu lah di sini, biar aku ambilkan baju ganti untuk mu!" Amer menutup pintu kamar mandi dan berjalan ke arah lemari, tangannya terulur mengambil pakain untuk Layla kenakan saat ini.
Ceklek.
Amer membuka pintu kamar mandi dan meletakkan baju yang akan Layla kenakan di atas tepian westafet.
"Ini baju untuk kau kenakan, Layla!" Ucap Amer dengan menelan salivanya dengan sulit, jakunnya naik turun memperhatikan wajah Layla dengan bulir bening sisa sisanya mandinya.
"Terima kasih, ka!"
"Hem!" Amer menutup kembali pintu kamar mandi.
Amer menghubungi bagian resepsionis, untuk di bawakan beberapa makanan dan meminta nya untuk di antar ke kamarnya.
Amer sudah tampak segar dengan kaos berwarna hitam, lengan pendek yang membalut tubuhnya yang sispeck dengan perpaduan jins pendek berwarna senada.
Amer mendudukan dirinya di sofa yang ada di kamar hotel tempatnya bermalam. Dengan memangku laptop di ke dua pahanya. Amer tampak serius mengerjakan pekerjaan nya.
Ceklek.
"Duduk lah di sini!" Amer menepuk nepukkan tangannya pada bagian sofa yang ada di sampingnya.
Layla menuruti perkataan Amer, dengan mendudukan dirinya di sofa yang ada di sebelah Amer.
Wangi aroma tubuh Layla menyeruak di indra penciuman Amer, Amer melirik ke arah Layla dengan handuk yang membelittt di kepala Layla, menutupi rambut Layla yang masih basahhh.
"Ada apa ka? Apa ada yang salah dengan ku?" Tanya Layla yang mendapat tatapan mata yang sulit di artikan oleh nya.
"Kau cantik sekali, andai saja aku tahu indahnya menikah, sudah lama aku halal kan segala cara untuk bisa bersama mu, Layla!" Oceh Amer yang tanpa sadar mengatakannya di depan Layla.
Layla terperangah di buatnya, "Ha? Apa maksud ka Amer?" Cicit Layla.
"A- anu, a- aku hanya asal bicara. Jangan kau dengar kan ucapan ku! Yang terpenting saat ini kau sudah halal untuk ku, begitu pun dengan ku!" Amer menyudahi pekerjaan nya dengan menyimpan laptopnya di atas meja dan menutup laptopnya.
Pintu kamar hotel di ketuk dengan seruan yang menyertainya setelahnya.
Tok tok tok tok.
"Permisi Tuan, layanan kamar."
__ADS_1
Amer dan Layla menatap ke arah pintu.
"Biar ku buka pintunya dulu!" Amer beranjak untuk membuka kan pintu.
Amer tidak membiarkan pelayan hotel memasuki kamarnya. Amer bahkan meminta pelayan hotel untuk menyerahkan troli yang berisikan makanan untuk ia bawa sendiri ke dalam kamar hotel.
Amer mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan menyerah kan beberapa lembar uang pada pelayan pria itu.
"Ini, ambil lah untuk mu!"
"Terima kasih, Tuan."
Amer mendorong troli itu memasuki kamar setelah menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Layla di buat tercengang dengan melihat hidangan yang ada di atas troli yang Amer dorong.
"Ka Amer, makanan sebanyak ini... siapa yang akan menghabiskan nya?" Tanya Layla dengan polosnya.
"Tentu saja, kau dan aku. Tidak ada orang lain di kamar ini selain kita berdua, Layla!" Amer mengambil kan piring dengan hidangan yang ada di atasnya untuk Layla.
"Terima kasih, ka!" Layla menerima piring yang di berikan Amer padanya.
Amer dan Layla menyantap makan malamnya di sofa. Dengan sesekali Amer dan Layla saling memberikan suapan.
"Apa kau suka makanan nya, Layla?" Tanya Amer saat melihat Layla memakan makanannya dengan lahap.
"Sangat suka ka, ini enak sekali. Aku bahkan tidak bisa membuat makanan seenak ini!" Seru Layla.
"Makanan apa pun yang kau masak, rasanya pasti akan enak Layla. Jika kau membuatnya dengan rasa cinta di dalamnya." Ujar Amer.
"Cinta ku kini hanya untuk mu, ka." Ucap Layla.
Makan malam mereka berdua terusik, dengan dering telpon yang terus menjerit dari hape Layla yang ada di atas nakas, samping ranjang mereka.
Dreeet dreeet dreeet dreeet.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭
__ADS_1
Author gabut sebatas halu 😊