
...💔💔💔...
"Kau sudah bangun?" Tanya Amer yang kini menegakkan duduknya dengan meregangkan urat di lehernya.
Ku tatap wajah tampannya, pria ini kan? Tangan ku saling pertautannn sambil mengingat ingat lagi pria yang kini duduk di samping ku.
Pria dewasa dengan sepasang alis mata yang tebal, mata yang indah, tatapan yang tajam, hidungnya yang mancung, rahangnya yang sempurna, nampak Tuhan menciptakan manusia yang satu ini tanpa celah kekurangan sedikit pun.
Amer menatap Layla dengan tanya, apa yang sedang dia pikirkan? Kenapa dari tadi hanya diam? Bukannya menjawab pertanyaan ku! Apa ada dari bagian tubuhnya yang di rasa sakit?
Amer melambaikan tangan kanannya di depan wajah Layla, "Hai! Aku sedang bertanya pada mu! Apa kau baik baik saja?" Suara Amer yang begitu lembut membuat ku tersadar dari lamunan ku yang menatap indah paras wajah tampannya.
"Sa- saya, baik baik saja Tuan... saya di mana?" Mata ku mengedar ke setiap sudut ruang menatap besarnya kamar dan mewahnya barang barang yang ada di kamar ini..
"Di kamar ku!"
Mata ku membola, mata ku langsung tertuju pada tubuh ku yang tertutup selimut, i- ini tidak mungkin terjadi pada ku kan? Aku menyingkap selimut yang menutupi tubuh ku.
Sreek.
Amer menatapnya dengan bingung, apa yang Layla lakukan?
Pikiran buruk menyeruak di otak ku mana kala aku melihat baju yang aku kenakan tidak lagi sama dengan baju yang terakhir kali aku kenakan, mata ku panas, seperti akan ada genangan air yang menerobos ke luar dari pelupuk mata.
"Aaaaaaaaaaa." Aku berteriak mengeluarkan suara ku di iringi tangisan ku yang pecah, aku kotor, apa bedanya aku dengan bang Rudi dan Melisa?
Wajah cemas menyelimuti Amer, "Hai! Kenapa kau berteriak, Layla?" Amer menggenggam tangan Layla, mencoba menenangkan wanita yang kini terlihat tidak baik baik saja, tangannya terulur menyapu air mata yang membasahi pipi Layla.
Aku menepis dengan kasar tangan pria yang kini menggenggam tangan ku, "A- apa yang sudah Tuan lakukan pada saya?" Ke dua tangan ku berada di depan dada ku dengan saling meremasss dan bertautannn.
Amer mengurut keningnya dengan tangan kanannya, jadi dia berfikir aku sudah menyentuhnya? "Aku tidak melakukan apa apa dengan mu! Tenang lah, aku masih bisa berfikir dengan jernih!" Amer mengatakannya dengan santai dan tenang.
__ADS_1
"Lalu bagaimana bisa saya memakai baju ini? Ini bukan baju yang terakhir kali saya kenakan, Tuan." Aku terisak dengan mengadahkan wajah menatap pria yang terlihat seperti keturunan arab ini yang beranjak dari duduknya.
Mata ku mengikuti dirinya yang melangkah menuju sebuah meja yang ada di kamar megah ini.
Aku mendudukkan diri ku dengan bersandar pada kepala ranjang.
"Aku menyuruh orang untuk mengganti pakaian mu yang basahhh, aku juga sudah mengobati luka di kening mu."
Kening ku? Tangan ku terulur menyentuh kening ku, kulit tangan ku merasakan ada perbanan di kening ku.
Amer kembali dengan tangan membawa sebuah nampan di tangannya, di atas nampan itu terdapat sebuah mangkuk, air putih dan piring mangkuk kecil.
Amer melihat Layla yang meraba luka di keningnya, "Kening mu terpaksa harus mendapat satu jahitan."
Tadi bang Rudi menghempaskan tangan ku dengan kasar, lalu aku terbentur sudut meja, aku tidak menyangka luka ku separah ini hingga harus mendapat jahitan. Ku pikir hanya luka gores, tapi kenapa tadi aku tidak merasakan sakit saat di rumah?
Pria arab yang tinggi dan atletis itu kini duduk lagi di sofa dengan tangannya yang membawa mangkuk.
"Ayo makan dulu!" Amer menyodorkan semangkuk bubur pada Lalya.
Amer mengerutkan keningnya, "Apa kau sama sekali tidak mengingat ku?"
Aku menggelengkan kepala ku.
"Aku bos mu di kantor!" Amer mengatakannya dengan datar, tanpa ekspresi.
Kening ku mengkerut saat mendengar pria ini mengatakan bos di kantor.
"Apa Tuan serius? Tuan tidak bercanda?" Tanya ku dengan polos.
"Apa kau lihat aku sedang bercanda? Aku kurang serius di mata mu?" Tanya Amer.
__ADS_1
"Aku masih tidak percaya jika Tuan ini adalah bos ku, pasti Tuan hanya sedang mengaku ngaku saja!" Ucap ku dengan santai.
"Sudah lah, nanti kita lanjutkan debat siapa aku ini... sekarang kau makan dulu biar aku yang menyuapi mu!" Seru Amer, dengan tangannya menyodorkan sesendok bubur ke depan mulut Layla.
Layla tampak ragu untuk membuka mulutnya.
Mata ku menatap mangkuk dan pria ini bergantian, apa Tuan ini tidak menaruh sesuatu pada bubur itu?
Amer menarik sudut bibirnya ke atas, seperti tahu apa yang ada di pikiran Layla, "Tenang saja, bubur ini tidak aku beri racun... hanya saja diri mu yang sudah meracuni hati ku!"
Aku tidak salah dengar? Kenapa aku bisa meracuni hati nya? "Apa Tuan?"
"Sudah lah, ayo buka mulut mu! Setelah ini kau harus minum obat... untuk 3 hari ke depan, kau harus banyak istirahat di rumah." Ujar Amer dengan tegas dan tidak ingin di bantah.
Kruk kruk kruk kruk.
"Ayo buka mulut mu! Kau dengar kan, cacing dalam perut mu saja sudah berdemo minta makan!" Oceh Amer.
Wajah ku malu di saat perut ku bunyi, terakhir aku makan itu di kantor saat jam istirahat makan siang sedangkan sekarang sudah pukul 2 malam, "Terima kasih Tuan... maaf saya sudah banyak merepotkan anda!" Akhirnya aku menerima suapannya dan memakan bubur dari suapan tangan pria yang mengaku bos ku.
"Tidak masalah, asal kau baik baik saja. Apa yang membuat mu berjalan di tengah guyuran air hujan? Hem?" Tanya Amer dengan suara yang kini terdengar lembut.
Dengan tangan yang meremas selimut, sorot mata tajam saat mengingat nama bang Rudi dan Melisa, membuat ku kembali mengingat bagai mana bang Rudi mengusir ku dari rumah, bagai mana aku menyaksikan sendiri dengan mata kepala ku melihat bagai mana busuknya perbuatan bang Rudi dan Melisa, ke dua manusia itu dengan tidak tahu malu bercintaaa di depan mata ku, apa salah ku pada mereka...aku sangat menyayangi mereka, tapi ini balasan ke duanya pada ku. Sejak kapan bang Rudi dan Melisa bermain gila? Kenapa selama ini aku sangat bodoh, tidak bisa melihat dengan mata ku bagai mana sikap yang di tunjukkan bang Rudi selama ini bukan lah sikap seorang kaka ipar terhadap adik iparnya, tapi lebih layaknya seorang kekasih.
Amer menghembuskan nafasnya kasar, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mu, tapi dari sorot mata mu... ada kebencian yang terlukis di sana, entah apa yang nembuat mu jadi seperti ini. Yang pasti itu mungkin membuat luka di hati mu. Apa kau akan melihat ku yang ada di depan mu? Aku yang akan melindungi mu jika suami brengsekk mu itu mau melepaskan mu.
"Apa kau di usir dari rumah?" Tanya Amer.
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
__ADS_1
Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol ðŸ¤
Author gabut sebatas halu.