Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Sifat yang berbeda


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Ibu, mau nasi uduknya dong satu bungkus, pake semur ya!" Seru Melisa yang kini berdiri di samping si ibu penjual nasi uduk.


"Tumben nyarap nasi uduk neng, emang Layla lagi gak masak?" Tanya si ibu penjual nasi uduk.


"Layla ya! Emmm... entah lah." Gw baru ingat semalam kan gw udah nyuruh bang Rudi buat ngusir Layla dari rumah. Ah bodohnya diri ku ini!


"Ini neng! Cuma satu bungkus aja?" Tanya si ibu penjual nasi uduk.


"Iya, satu bungkus aja bu! Ini uangnya." Melisa memberikan uangnya pada si ibu.


Sementara seorang pemuda yang sedang duduk dengan memakan nasi uduk tengah mencuri pandang pada Melisa.


Melisa yang risih di buatnya pun angkat suara, "Apa lo liet liet! Sok kecakepan banget jadi orang!" Seru Melisa dengan ketus.


Pemuda itu angkat bicara, "Cantik cantik tapi sayang judes!" Seru pemuda itu dengan acuh.


Melisa membuang wajahnya dengan malas.


"Ini neng, makasih ya!" Si ibu menyerahkan uang kembalian dan Melisa pergi dari warung nasi uduk.


Pemuda itu pun penasaran dan bertanya pada si ibu penjual nasi uduk, "Cewek itu siapa sih, bu! Jutek banget jadi orang."


"Itu, Melisa... dia emang gitu... anaknya judes, angkuh, beda sama kakaknya." Ujar si ibu.


"Bisa gitu ya, kaka beradik tapi beda sifat." Ujar pemuda itu lagi.


"Lah ya bisa, orang tuanya waktu masih hidup itu beda ko cara mendidiknya, jadi lah mereka berdua dengan sifat yang berbeda.


πŸ‚Di rumah sakitπŸ‚


Amer kembali ke rumah sakit dengan membawa beberapa tentengan di tangannya.


Di depan ruang rawat Layla, tengah duduk seorang scurity di kursi tunggu.


"Maaf ya pak, sudah merepotkan!" Seru Amer saat sudah berada di depan scurity itu.


Scurity itu beranjak dari duduknya, "Tidak apa, pak! Sudah menjadi tanggung jawab saya untuk menjaga keamanan pasien."


"Ini pak, ada sedikit untuk bapak dan teman teman." Amer menyerahkan sekantong plastik buah apel pada pak scurity.


"Wah, jadi enak ini saya, pak!" Pak scurity menerima plastik buah dari Amer dengan senang hati.


"Ah si bapak bisa aja."


"Kalo begitu, saya permisi pak... tugas negara sudah memanggil." Oceh scurity.


"Silahkan, pak... sekali lagi terima kasih pak!" Seru Amer yang lantas masuk ke dalam ruang rawat Layla.


Ceklek.

__ADS_1


Di lihatnya Layla masih terpejam di atas ranjang rawatnya.


Amer menaruh semua kantong belanjaannya di atas meja, kakinya melangkah dan berdiri di samping ranjang rawat Layla, memperhatikan wajah Layla yang terlelap.


Tangannya terulur menyentuh dan merabaa pipi Layla, "Aku harap wajah mu akan selalu ceria tanpa ada air mata kesedihan yang perlu kau tumpahkan." Gumam Amer.


Ternyata sentuhan tangan Amer membuat Layla terusik dari tidurnya, Layla mulai mengerjapkan ke dua matanya dan pandangan pertama yang Layla lihat saat Layla membuka mata adalah Amer yang sedang berdiri di samping ranjangnya.


"Maaf aku sudah mengusik tidur mu!" Amer tersenyum ramah pada Layla.


"Tuan?"


"Iya, aku... memang ada pria yang kau tunggu selain aku?" Tanya Amer.


"Ah, tidak ada... Tidak ada yang aku tunggu."


"Berhubung kau sudah bangun, apa yang ingin kau makan lebih dulu?" Tanya Amer yang melangkah menuju meja dan berdiri di depannya, menunggu Layla mengatakan apa yang akan ia makan.


"Tidak perlu, Tuan... biar aku makan di sana saja!" Layla menurunkan kakinya dan melangkah dengan tangan yang menyeret tiang selang infusnya.


Amer berjalan mendekati Layla, "Biar ku bantu." Amer memapah tubuh ramping Layla.


"Aku bisa sendiri, Tuan!" Layla menolak bantuan Amer saat tangan Amer akan menyentuh pinggangnya yang ramping.


Tapi sayangnya Layla kurang keseimbangan saat melangkah dan tubuhnya terhuyung ke belakang, dengan sigap Amer menahan pinggang Layla dengan lengannya.


"Kau tidak apa?" Tanya Amer perhatian dengan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Layla.


Sreet.


Amer menggendong Layla dengan ke dua tangannya, "Kau bisa kan menyerett tiang untuk selang infus mu!" Seru Amer yang mengarahkan tatapannya pada tiang infus.


Layla menganggukkan kepalanya.


Layla dan Amer memakan durian, es teller, es buah yang ada si atas meja.


"Apa kau masih sanggup menghabiskan ini?" Amer mengarahkan tangannya pada browser lumer pada Layla.


Layla menggelengkan kepalanya, dengan tangan mengusap perutnya yang rata, "Aku sudah tidak sanggup lagi, Tuan!"


"Baik lah kalo begitu, aku ada sesuatu untuk mu!" Amer menyerahkan paper bag pada Layla.


"Apa ini, Tuan?" Layla menerima paper bag itu dan melihat isinya.


"Aku rasa itu akan sangat berguna untuk mu!" Layla pasti akan sangat bahagia saat melihat isinya.


Tapi kenyataan tidak seperti apa yang Amer bayangkan, bukan wajah senang yang Layla tunjukkan pada Amer saat mengetahui apa isi dari paper bag itu.


Layla mengerutkan keningnya, antara bingung atau harus senang, di berikan hape secara cuma cuma atau Layla masih harus membayarnya?


"Tu- Tuan, ini pasti sangat mahal, Tuan! Bagai mana aku bisa untuk membayarnya?" Tanya Layla.

__ADS_1


"Kenapa kau harus membayarnya, La?" Amer Menggaruk keningnya yang tidak gatal dengan jari telunjuk kirinya.


"Aku tidak perlu membayarnya?" Kini wajah berbinar di tunjukan pada Layla.


Mata mu sangat indah di saat berbinar senang La, "Tidak, itu ku berikan untuk mu!"


"Benarkah?" Layla memastikannya lagi.


"Benar, jadi di saat aku membutuhkan mu, aku akan dengan mudah untuk menghubungi mu." Terang Amer yang membuat bibir Layla mengerucut.


Dreet dreet dreet dreet.


🎢 🎢 🎢


Hape Amer berdering.


Layla dan Amer menatap ke arah ranjang rawat Layla.


"Kau buka saja hapenya, itu sudah ada sim card-nya!" Amer beranjak ke arah ranjang rawat untuk meraih hapenya yang tengah menjerit minta di angkat saat ada seseorang yang tengah menelpon nomornya.


Kening Amer mengkerut saat tahu siapa yang sedang menghubunginya.


"Aku ke luar sebentar!" Amer meninggalkan Layla di dalam ruang rawat untuk menjawab teleponnya.


"Mau angkat telpon aja sampe ke luar gitu, di kata aku akan mengganggunya gitu? Huh, Tuan yang aneh!" Gerutu Layla yang kini membuka hape barunya.


Sementara di luar ruang rawat Layla.


"Ada apa?" Tanya Amer dengan dingin saat sambungan teleponnya sudah ia jawab.


[ "Begitu cara mu berbicara dengan ku? Tidak sopan kau ya?" ] Suara seorang wanita paruh baya terdengar dari sebrang sana.


"Ya ya, lantas mau apa lagi menelpon ku, bu? Aku sedang sibuk!" Oceh Amer yang kini mendudukan dirinya di kursi tunggu depan kamar rawat Layla.


[ "Sibuk apa kau hah?" ]


"Bu, aku banyak pekerjaan yang harus aku urus!" Seru Amer beralasan.


[ "Hah, pekerjaan? Yang benar saja kau Amer!" ] Suara si penelpon tampak gusar.


"Bu!"


[ "Aku di ruang kerja mu, Amer! Sibuk dengan siapa diri mu saat ini, hah! Anak nakalll. Seenaknya saja merubah jadwal meeting!" ]


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol 🀭


Author gabut sebatas halu.

__ADS_1


__ADS_2