
...πππ...
Amer melangkah dengan wajah senang, kau akan terbebas dari suami brengsekkk mu itu Layla.
Saat di pertigaan lorong rumah sakit.
Bugh.
Amer bertubrukan dengan seorang pria dan amplop coklat yang ia pegang di tangannya jatuh ke atas lantai.
Pria yang menubruk Amer membungkuk kan badannya dan tangannya terulur mengambil amplop coklat itu dari lantai, "Maaf Tuan, saya tidak sengaja." Ujar Rudi dengan tangan kirinya membawa botol minum dalam kantong plastik dan menyodorkan amplop coklat pada Amer dengan tangan kanannya.
Amer mengerutkan keningnya dengan tatapan mata yang tajam, pria ini kan! Mau apa pria brengsekkk ini ada di sini? Ke datangannya ke rumah sakit bukan untuk mencari Layla kan?
Rudi mengulangi perkataannya lagi, "Maaf Tuan, saya tidak sengaja... ini amplop coklat anda!" Seru Rudi menyadarkan Amer dari lamunannya.
Amer mengambil amplop coklatnya dengan kasar, "Maaf saya sedang buru buru." Ujarnya dingin yang lantas meninggalkan Rudi di tempatnya.
Rudi menatap punggung pria yang baru saja ia tubruk, "Aneh, kenapa dia seperti membenci ku? Pada hal kami baru bertemu di sini!" Rudi mengerdikkan bahunya dengan acuh, "Sudah lah." Rudi kembali melanjutkan jalannya menuju ruang operasi di mana Melisa tengah di tindak.
Amer melangkah dengan cepat menuju ruang rawat Layla, memastikan tidak terjadi apa apa pada wanitanya.
Brak.
Amer membuka pintu ruang rawat dengan kasar hingga membuat Layla yang sedang berada di dalam terlonjak kaget.
"Astaghfirullah, ada apa Tuan?" Tanya Layla dengan mengurut dadanya dengan tangan kanannya.
Amer menarik nafas lega lalu berlari ke arah Layla lalu memeluk tubuh Layla yang tengah bersandar di atas ranjang rawatnya, syukur lah Layla masih ada di ruang rawatnya, aku takut pria brengsekkk itu berhasil menemui mu dan menyakiti mu Layla.
Deg deg deg deg.
Degup jantung ke duanya sama sama kencang seakan ke duanya habis berlari maraton.
Layla merasa grogi dengan apa yang di lakukan Amer padanya, tenang Layla, tenang, sooooo tarik nafas lo buang perlahan.
Layla menarik dan membuang nafasnya perlahan, "Ffffh, haaaaah."
Layla menarik kemeja belakang Amer, "Tuan, ada apa?" Tanya Layla dengan mengadahkan kepalanya menatap wajah tampan Amer yang tampak cemas.
__ADS_1
Amer menatap mata coklat muda Layla dalam dalam, aku tidak sanggup jika harus kehilangan mu untuk ke dua kalinya Layla. Aku tidak akan membiarkan mu jatuh ke lubang yang sama meski kau sudah mengatakan akan memilih berpisah dengan suami brengsekkk mu itu.
"Tuan Amer?" Tanya Layla dengan wajah imutnya.
"A- aku tadi melihat suami brengsekkk mu di rumah sakit ini." Ujar Amer dengan melerai pelukannya lalu mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla.
"Tuan Amer mengenal suami ku? Bang Rudi?" Tanya Layla dengan menatap tajam Amer meminta penjelasan atas apa yang sudah ia ketahui.
"Aku mengenal siapa saja yang dekat dengan mu, termasuk suami berengsekkk mu itu!" Amer tampak marah dan enggan menyebutkan nama suami Layla.
Dalam diam Layla menerka nerka apa yang di lakukan Rudi di rumah sakit.
Apa yang bang Rudi lakukan di rumah sakit? Bang Rudi tidak mungkin mencari ku, apa ini ada hubungannya dengan Melisa? Atau ada wanita lain lagi selain Melisa? Entah lah.
Amer menatap Layla, membuang nafasnya dengan kasar, "Apa kau merindukannya Layla? Atau kau ingin bertemu dengannya?"
Layla menatap Amer, "Suatu saat aku pasti akan bertemu dengannya Tuan... Untuk merindukannya yang pasti tidak, tidak ada lagi tempat untuk bang Rudi di hati ku." Jawab Layla dengan mantap.
"Ada keperluan apa lagi kau bertemu dengannya, Layla?" Amer bertanya dengan wajah yang serius.
"Tentu saja untuk mengurus status ku, pengajuan gugatan cerai ku untuknya." Layla menarik sudut bibirnya ke atas menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Syukur lah."
"Aku ada sesuatu untuk mu!" Amer memberikan amplop coklat pada Layla.
"Apa ini, Tuan?"
"Buka lah, sesuatu yang sangat aku harap kan dari mu, untuk masa depan kita kelak." Status mu yang baru yang akan membawa mu kembali pulang pada ku, Layla.
πDi depan ruang operasiπ
Pria berkepala plontos menunggu Melisa di depan pintu ruang operasi dengan berjalan mondar mandir.
"Hai kau! Duduk lah, kepala ku pusing melihat tingkah mu bang!" Oceh pria berambut gondrong.
"Aku sangat cemas dengan keadaan Melisa." Ujar pria berkepala plontos dengan wajah yang cemas.
"Dia akan baik baik saja, ada dokter yang menanganinya... bagai mana dengan biaya operasi, dapat uang dari mana kau bang?" Tanya pria berambut gondrong yang tidak lain adalah Andri.
__ADS_1
"Lo gak nyuriii atau nyolonggg kan?" Rudi datang dengan tangan kanannya menyodorkan botol mineral pada ke duanya.
Rudi mendudukkan dirinya di sebelah Andri tepat di kursi tunggu yang berada di depan ruang operasi.
"Gila lo bang, nyuriii sama nyolonggg apa bedanya?" Tanya Andri.
Rudi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Iya juga ya, sama sama nyolonggg ya? Hahahha, dodol gw." Rudi tergelak dengan perkataannya sendiri.
"Kampret lo bang, rumah sakit nih!" Pria berkepala plontos yang bernama Herman bersandar pada dinding rumah sakit, kakinya enggan untuk di bawa duduk dengan perasaan yang sedang kacau memikirkan nasib Melisa di dalam sana.
"Lo dari tadi ke mana aja sih bang? Baru nongol lo!" Tanya Andri.
"Gw dari tadi di kantin, ngisi perut gw nih yang lapar." Oceh Rudi.
Andri geleng geleng kepala di buatnya, "Bujuk dah, keadaan lagi genting gini... lo masih bisa bisanya buat makan."
"Ya bisa lah."
Ting.
Seorang dokter ke luar dari ruang operasi.
Herman menghampiri sang dokter, "Bagai mana keadaannya, dok?" Tanya Herman dengan cemas.
"Apa anda suami pasien?" Tanya dokter menatap curiga pada pria yang berdiri di depannya, sedangkan ke dua orang pria dengan tubuh tegap tetap duduk anteng di kursi tunggu.
"I- iya sa- saya suaminya, dok... tidak ada masalah dengannya kan dok?" Tanya Herman lagi pada dokter dengan mencoba menoleh kan kepalanya ke dalam ruang operasi.
"Kami sudah menjahit pada bagian xx nya yang robek, untuk sementara waktu bapak di larang untuk menyentuh istri anda. Karena kecerobohan anda, hampir saja anda kehilangan calon anak kalian. Untungnya calon anak kalian kuat ya padahal usia kandungannya masih sangat rawan terjadi ke guguran apa lagi setelah apa yang di lalu nyonya Melisa."
Herman mengerutkan keningnya, "Hamil, dok?"
Rudi membola, Melisa hamil? Anak siapa yang ada dalam kandungannya? Itu bukan anak ku kan?
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
__ADS_1
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
Author gabut sebatas halu.