Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Aulia (sekretaris)


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Bu, aku banyak pekerjaan yang harus aku urus!" Seru Amer beralasan.


[ "Hah, pekerjaan? Yang benar saja kau Amer!" ] Suara si penelpon tampak gusar.


"Bu!"


[ "Aku di ruang kerja mu, Amer! Sibuk dengan siapa diri mu saat ini, hah! Anak nakalll. Seenaknya saja merubah jadwal meeting!" ]


"Kenapa ibu tidak mengabari ku? Bukankah ibu sibuk dengan jalan jalan? Traveling ke luar negeri, keliling dunia?" Amer berseru dengan santai.


[ "Anak nakalll, makanya cepat lah kau menikah dan berikan lah ibu cucu yang banyak." ]


Amer membuang nafasnya dengan kasar.


"Pergi lah ke panti bu, banyak anak anak yang bisa kau asuh dengan kasih sayang mu!" Seru Amer.


[ "Owh begitu kamu ya sama ibu mu ini? Berani kamu sekarang? Cepat lah kembali dan bawa lah calon menantu ibu!" ]


Panggilan berakhir dan Amer menyimpang hapenya ke dalam saku celananya.


Amer kembali masuk ke dalam ruang rawat Layla dan berjalan ke sofa, "Apa kau suka?" Tanya Amer saat melihat Layla masih memainkan hape barunya.


"Suka, sangat suka... boleh aku bertanya pada Tuan?"


Amer mendudukkan dirinya di sofa tunggal sedangakan Layla di sofa panjang.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Amer menyandar kan punggungnya pada sandaran sofa.


"Kenapa Tuan begitu baik pada saya?"


Kening Amer mengkerut, "Menurut mu, apa alasan ku baik dengan mu?" Amar malah memberikan pertanyaan pada Layla.


Layla menjawab dengan apa yang ada dalam pikirannya, "Tuan kasihan pada ku?"


"Sangat realistis kah?" Tanya Amer dengan santai.


"Tidak juga sih, aku rasa kebaikan Tuan ini berlebihan pada ku." Ujar Layla.


"Jika aku katakan, apa kau akan percaya pada ku?" Tanya Amer dengan serius.


"Bisa percaya dan bisa saka tidak, tergantung dengan apa yang Tuan bicarakan."


"Apa kau berencana untuk menggugat cerai suami mu?" Tanya Amer.

__ADS_1


Layla menatap curiga pada Amer, "Kenapa Tuan bisa berkata seperti itu?"


"Ayo lah Layla, sudah cukup kau bertahan dengan derita... sudah waktunya kau mengakhiri hubungan yang tidak sehat ini." Ujar Amer.


"Aku semakin tidak mengerti dengan perkataan mu, Tuan?" Tidak mungkin kan jika Tuan Amer tahu akan masalah ku?


"Aku sudah banyak mendengar, La... hanya kau saja yang terlalu naif untuk tetap bertahan dengan suami mu!" Seru Amer.


"Apa yang Tuan tahu?"


"Sangat banyak dan tidak sedikit."


"Setidaknya apa yang Tuan tahu?" Tanya layla lagi.


"Baiklah, kau ingat saat kau datang ke kantor dengan kaki mu yang luka?"


Layla mengerutkan keningnya, "Aku tidak sengaja jatuhkan!" Seru Layla beralasan.


"Itu hanya alasan mu saja, Layla!" Seru Amer, "Aku juga tahu jika suami mu bermain dengan adik tiri mu, bahkan jauh dari sebelum kalian menikah."


"Apa? Sebelum aku menikah?" Tuan Amer pasti sedang berbohong. Tapi jika memang itu benar, tidak ada gunanya lagi untuk ku, aku sudah memutuskan untuk berpisah dengan bang Rudi.


"Apa yang sedang kau fikirkan, Layla?" Tanya Amer.


"Tidak ada."


Sesuai dengan apa yang sudah Amer katakan pada Layla, ia akan ke kantor saat jam istirahat usai.


πŸ‚Di kantor AmerπŸ‚


Amer turun dari mobil dan memasuki lobby kantor.


"Selamat siang, pak!" Seru karyawan lain saat bertemu dengan Amer.


Amer hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


Terkenal dingin tapi saat di sapa oleh karyawannya dengan jabatan kecil sekali pun ia akan membalas dengan anggukan kecil jauh dari kata arogan.


Terkenal sebagai bos yang dingin, perduli pada karyawan, namun sulit untuk menyelami hatinya, tidak sedikit wanita cantik, model sekali pun yang mencoba untuk mendekatinya, tapi hasilnya akan tetap di abaikan oleh Amer.


Bagi Amer jika harus menunggu, ia akan menunggu, apa lagi setelah ia tahu senyum bahagia hanya lah kepalsuan untuk menutupi setiap permasalahan yang ia terima selama ini. Semakin membuat tekat Amer semakin bulat untuk menunggunya.


Amer berdiri di depan resepsionis kantor, "Apa ada yang mencari, ku?" Tanya Amer pada Reina, karyawan yang sedang bertugas di meja resepsionis.


"Ada, pak... Nyonya besar tadi datang dan beliau sempat menunggu bapak di ruang kerja, bapak." Ujar Reina.

__ADS_1


"Apa kau lihat sekretaris, ku?"


"Bu Aulia belum kembali, pak."


"Jika kau melihatnya, suruh Aulia ke ruangan ku!" Amer melangkah memasuki lift, membawanya pada ruang kerjanya yang berada di lantai 10.


Amer mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya dengan meja kerja di depannya.


Ruang yang berukuran besar, dengan beberapa lemari yang menjulang tinggi, berkas berkas yang tersusun rapi, ruang kerja yang selalu rapih dan bersih, dengan warna dinding putih, tampak terlihat mewah ruang kerja Amer.


Amer membuka hapenya dan melihat siapa yang Layla hubungi dari hapenya tadi.


Amer menghubungi kontak yang tadi menelponnya.


[ "Sorry Layla, tadi gw gak jadi jenguk lo di rumah sakit... gak tau kenapa bu Rita kasih gw tugas yang seharusnya lo kerjain.. Lo gak marah sama gw kan La?" ] Mia nyerocos tanpa jeda di pikirnya yang menghubunginya saat ini adalah Layla.


Amer membatin, apa mungkin wanita ini mengira yang menghubunginya saat ini adalah Layla?


"Ehem, bisa kau ke ruangan ku sekarang juga!" Seru amer dengan suara yang tegas dan datar.


[ "I- iya pak... saya akan ke ruang kerja bapak." ]


Ceklek.


Aulia masuk ke dalam ruang kerja Amer tanpa permisi.


"Hei! Siapa ini yang berdiri di depan ku? Aku atau kau yang jadi bosnya di sini, hem?" Tanya Amer dengan nada bicaranya yang datar.


"Bos macam apa kau yang membiarkan sekretarisnya harus berhadapan dengan model angkuh seperti itu!" Aulia tampak emosi dan berapi api saat bicara dengan Amer, ia mendudukkan dirinya di kursi yang berada di depan Amer dengan terhalang meja.


"Jadi, bagai mana urusan perusahaan dengan model itu?" Tanya Amer dengan santai.


"Aku kan sudah bilang pada mu dari awal, pikir dulu sebelum memilihnya sebagai salah satu kandidat model yang akan kita gunakan untuk pembuatan iklan karpet itu!" Sengut Aulia.


"Ya sudah, kau diskusikan ulang saja dengan yang lain mengenai model itu, kau bisa lupakan!" Seru Amer dengan tangannya yang menggenggam hape.


Aulia mengangkat satu kakinya ke atas dan bertumpu pada kaki yang lain, dengan punggung bersandar pada sandaran kursi.


Aulia menajamkan tatapan matanya pada Amer, "Ada yang ingin kau jelaskan pada ku, pak Amerkan Ahmad?" Tanya Aulia dengan suara yang tegas.


"Apa aku terlihat sedang menyembunyikan sesuatu?" Amer kembali bertanya pada Aulia.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...

__ADS_1


Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol 🀭


Author gabut sebatas halu.


__ADS_2