
...💔💔💔...
"Duduk lah!" Seru Amer dengan dingin dan tatapan mata yang tajam pada sekretaris pribadi itu.
"Ada apa Tuan memanggil saya?" Tanya Aulia.
Tok tok tok tok.
"Masuk!" Amer menyuruh orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam.
Ceklek.
Reina muncul dari balik pintu dengan pedenya.
Aulia menoleh ke arah pintu dan melihat siapa yang masuk ke dalam ruang kerja Amer atasannya, apa pak Amer juga memanggil wanita gatel ini juga ya?
Reina juga menatap sinis pada Aulia, baginya tidak asing jika ada Aulia di ruang kerja pak Amer, kenapa pak Amer masih membiarkan Aulia di sana? Kan pak Amer memanggil ku!
"Duduk lah!" Amer menyuruh Reina untuk duduk di kursi yang ada di depannya bersebelahan dengan kursi yang di duduki Aulia.
"Ada apa ya pak? Bapak tumben memanggil saya!" Sembari Reina mendudukkan dirinya di kursi.
Aulia mengerutkan keningnya, jadi pak Amer juga memanggil Reina ke sini? Ada apa ini? Bukan kabar buruk kan? Ah mungkin pak Amer mau memberikan bonus atau naik gaji, yah mungkin!
Amer menegakkan duduknya, menautkan ke dua tangannya yang berada di atas meja, matanya menatap tajam pada ke dua karyawannya kini.
"Apa tujuan kalian bekerja di sini?" Tanya Amer dengan tegas.
Aulia terperengah, "Hah?"
"Bisa kalian jelaskan apa tujuan kalian bekerja di sini?" Amer mengulang pertanyaannya kembali.
"Saya yang jawab duluan pak, saya sudah tertarik untuk bekerja di perusahaan bapak sejak lama, di tambah gaji yang di dapat saat bekerja di sini juga cukup besar meski hanya sebagai resepsionis, perusahaan bapak juga mengutamakan kesejahteraan karyawannya, dan tidak sayang dalam memberikan bonus untuk karyawan yang berprestasi." Tutur Reina.
Aulia baru mengerti pertanyaan dari bosnya serelah mendengar pernyataan dari Reina.
Amer menatap tajam pada Aulia.
Aulia menatap balik Amer dengan perasaan yang berkecamuk, gak mungkin kan gw bilang mau ngejer cinta lo, Amer, secara kita ini temenan udah lama, tapi kenapa lo masih gak ngerti juga perasaan gw ini!
"Apa yang membawa mu untuk bekerja di sini, Aulia?" Tanya Amer di saat Aulia belum juga mengatakan tujuannya.
"Sa- saya bekerja di sini selain ingin memajukan perusahaan ini, saya juga ingin dekat terus dengan mu Amer, maksud saya pak Amer." Aulia mengatakan nya dengan gugup.
Amer mengerutkan keningnya mendengar penuturan dari Aulia, tidak mungkin kan jika Aulia memiliki perasaan pada ku?
Reina menoleh pada Aulia, apa jangan jangan Bu Aulia menyukai pak Amer? Sama dengan ku? Astaga ini konyol namanya.
__ADS_1
"Apa pun itu alasan kalian, tapi saya tidak ingin antara karyawan saya dengan karyawan yang lain ada yang saling mengintimidasi, ada yang saling membully, saya ingin semua karyawan saya dapat bekerja sama dengan baik. Tidak terkecuali dengan diri mu, Aulia! Di sini kau karyawan ku, bawahan ku, bukan teman ku!" Terang Amer menegaskan posisi Aulia di kantor.
Di bawah meja, tangan Aulia meremasss rok pendek yang ia kenakan dengan geram, "Saya mengerti, pak!" Sialannn Amer udah buat gw malu, itu sama aja dengan penolakan buat gw!
Reina membatin, sialannn nih, pasti ada yang ngadu sama pak Amer. Tapi siapa ya? Secara udah ada beberapa karyawan yang gw bully.
"Jika saya dengar kalian melakukannya lagi, saya tidak akan ada toleransi pada kalian berdua dan pada saat itu juga kalian siap angkat kaki dari perusahaan saya ini!" Seru Amer dengan tegas.
"Saya tidak melakukan apa apa, pak!" Aulia berkilah.
Amer menoleh pada Aulia, "Saya rasa kau cukup tahu di mana kesalahan mu, Aulia!" Terang Amer dengan penekanan saat mengucap nama Aulia, keputusan ku ternyata tepat untuk Aulia ini.
Pintu ruang kerja Amer di ketuk dan ada seruan dari seorang pria.
Tok tok tok tok.
"Pak, ini saya!"
"Masuk!" Amer mempersilahkan orang itu untuk masuk ke dalam.
Aulia membatin, siapa lagi ini?
Reina membatin, semoga bukan orang yang di perintahkan pak Amer buat gantiin posisi gw.
Pria dengan tatapan teduh dan tubuhnya yang tinggi dengan mengenakan kemeja biru lengan panjang berdiri di depan kursi yang di duduki Aulia.
"Iya, apa itu berkas yang saya minta?" Tanya Amer.
Aulia yang penasaran menoleh pada pria yang di panggil Amer itu, mau apa pria ini di panggil, Amer?
Dengan gerakan kepala, Amer meminta pria itu untuk berjalan ke samping mejanya dan menyerahkan berkas yang ada di tangannya pada Amer.
Reina membatin, berkas apaan itu ya?
Amer membaca berkas yang kini berada di tangannya.
"Gunawan saat ini juga kau, aku angkat menjadi sekretaris pribadi ku untuk menggantikan posisi Aulia." Terang Amer menoleh pada Gunawan dan Aulia bergantian.
Aulia beranjak dari duduknya, tidak menerima dengan hasil keputusan Amer, "Yang benar saja Amer, kita berteman sejak lama, kenapa posisi ku di gantikan olehnya?"
"Dengar dulu Aulia, kau akan menjabat sebagai asisten gunawan, kau akan membantunya dalam menangani masalah kantor. Saya rasa pembicaraan kali ini cukup sampai di sini, kalian bisa kembali pada posisi kalian masing masing." Terang Amer dengan tegas tidak ingin mendengar ada bantahan.
Reina beranjak dari duduknya, "Saya permisi, pak!" Melangkah ke luar dari ruang kerja Amer dengan kemenangan, jika posisi bu Aulia di geser, itu artinya intensitas waktu bertemu pak Amer dengannya akan semakin berkurang, hahay, sukurin lo, sekarang gak bisa lagi tuh dia sok berkuasa.
"Urus perpindahan meja kerja kalian, segera!" Seru Amer dengan tegas dan berjalan meninggalkan ruang kerjanya, aku rasa ini keputusan yang terbaik untuk membuat mu jauh dari ku Aulia, jika kau terus menempel dengan ku, aku khawatir akan sikap mu yang semena mena pada karyawan ku.
Gunawan membungkuk hormat pada Aulia, "Mohon kerja samanya bu Aulia!" Seru Gunawan.
__ADS_1
Aulia mengepalkan ke dua tangannya, menatap benci pada pria yang berdiri di depan nya, karena lo... posisi gw jadi di geser, sialannn lo!
Aulia meninggalkan ruang kerja Amer dengan menghentakkan ke dua kakinya, bibirnya mengerucut sebal atas keputusan yang sudah di ambil Amer untuk dirinya.
# Flashback on
Sesampainya di kantor, Amer langsung berjalan ke arah ruang HRD, meminta pada bagian HRD untuk mencarikan orang yang paling berkompeten dalam bekerja.
Ceklek.
Irfan yang bekerja sebagai HRD langsung menolehkan wajahnya pada orang yang sudah membuka pintu ruangannya tanpa permisi.
Irfan terperangah ruang kerjanya kedatangan pemimpin perusahaan, "Pak Amer?"
Amer langsung mendudukan dirinya di kursi yang berada di depan meja kerja Irfan.
"Carikan aku karyawan laki laki yang berkompeten!" Seru Amer dengan tegas, satu kakinya menyilang bertumpu pada kakinya yang lain.
"Untuk apa pak?"
Amer menoleh pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "Cepat carikan, waktu mu hanya 5 menit dari sekarang!" Amer berkata dengan serius.
"Serius, pak? Hanya dalam waktu 5 menit, mana bisa?" Irfan tidak yakin akan menemukan orang yang di inginkan bosnya dalam waktu 5 menit.
"Waktu terus berjalan, dari pada kau terus mengoceh, cepat kerjakan apa yang aku perintahkan kan!" Seru Amer yang beranjak dari duduknya.
Irfan langsung melihat layar moniter laptopnya dan mencari nya di grafik karyawan yang ada di perusahaan.
"Ini dia, akhirnya aku menemukannya!" Gumam Irfan yang hasilnya menemukan satu nama.
Irfan menghubungi atasannya lewat sambungan teleponnya, "Pak, saya sudah mendapatkannya. Orang itu dari bagian accounting, pendidikan terakhirnya S1, usia 25 tahun dan belum menikah." Terang Irfan saat Amer sudah menjawab panggilan teleponnya.
[ "15 menit dari sekarang, suruh anak itu ke ruangan ku dan berikan berkas pribadinya saat akan ke ruangan ku!" ] Seru Amer yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Aiiiiih gila bos sintinggg, untuk apa pak Amer meminta ku untuk mencarikan satu karyawan pria yang berkompeten ya?" Gumam Irfan yang langsung menyiapkan berkas Gunawan dan segera menghubungi Gunawan untuk ke ruang HRD.
# flashback end.
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran ðŸ¤ðŸ¤
Author gabut sebatas halu 😉
__ADS_1