
...💔💔💔...
"Kau siapanya bang Rudi?" Tanya Mia.
"Bagai mana dengan Melisa?"
Amer mendorong kursi roda yang sedang di duduki Layla ke arah di mana Mia sedang duduk.
Tanpa kursi roda pun Layla sudah bisa berjalan, namun sayangnya Amer bersikeras mengharuskan Layla duduk di kursi roda jika ingin ke tempat Melisa, jika Layla tidak menurut maka Amer tidak akan membawa Layla ke tempat Melisa berada.
Mia dan Santi menoleh ke arah Layla.
"Kau kenapa ke sini, Layla?" Mia menghampiri Layla.
Santi menatap dalam pria yang tengah mendorong kursi roda, gila ini cowo keren banger, pasti keturunan blasteran, matanya indah banget, tubuh tinggi, atletis lagi, astaga astaga pasti belum ada yang milikin tapi kalo pun udah ada yang milikin pasti gw rebut lah itu cowo pantesnya sama gw, pria matang, gw bakal dapetin lo! Dan lo harus jadi milik gw.
Layla meraih tangan Mia, "Gimana dengan keadaan Melisa, Mia? Dia baik baik aja kan?" Tanya Layla yang sudah tidak sabar ingin tahu keadaan adik tirinya.
"Melisa mengalami ke guguran, saat ini dokter sedang mengambil tindakan untuk membersihkan rahimnya Melisa." Terang Mia.
Bulir bening menerobos ke luar dari pelupuk mata Layla. Ya Allah kenapa nasib Melisa bisa seperti ini? Apa yang terjadi dengannya hingga mengalami musibah seperti ini?
Amer berdiri dengan ke dua lututnya di depan kursi roda Layla, tangannya terulur menyapu pipi Layla yang basah karena menangis.
"Sudah ya, jangan menangis lagi! Anggap saja itu balasan untuknya karena sudah sering menyakiti mu!" Seru Amer dengan suara yang lembut dengan menarik sudut bibirnya ke atas.
Tak tak tak.
Sepatu high heels Santi bunyi membentur lantai rumah sakit saat melangkah ke arah di mana Layla, Amer dan Mia kini.
"Lo itu bukannya istrinya bang Rudi ya?" Tebaknya yang membuat Layla mengadahkan kepalanya pada wanita itu.
Amer bangkit dari posisinya dan berdiri di samping Layla, matanya menatap tajam pada wanita yang sedang bertanya pada Layla, Layla mantan istrinya pria brengsekkk itu, mereka akan segera berpisah!
Layla mengerutkan keningnya saat menyadari dress yang di kenakan wanita yang sedang berdiri di depannya adalah dress pink selutut miliknya. Ini kan dress ku, kenapa bisa di pakai olehnya?
Mia mengelusss bahu Layla, "Wanita ini juga ada di rumah saat gw nemuin Melisa tidak sadarkan diri, La!" Seru Mia.
__ADS_1
"Hai, nama gw Santi!" Santi mengulurkan tangannya pada Layla dan Amer serta Mia.
Namun hanya Mia dan Layla yang membalas uluran tangan Santi.
"Maaf Nona, aku tidak bisa bersentuhan dengan wanita yang tidak aku kenal!" Amer tersenyum sinis.
Santi menyeringai, semakin menantang aja lo buat gw deketin!
"Maka dari itu, kita perlu kenalan kan, Tuan ganteng!" Seru Santi dengan mengerlingkan matanya ke arah Amer.
Mia membatin dengan tatapan yang tidak suka, gila ini cewek berbisah juga. Keket eeey udah kaya uler, bikin gatel lama lama kalo deket ama ini cewek!
"Tuan, jangan begitu!" Seru Layla dengan tangannya yang menggenggam pergelangan Amer.
"Saya Layla, kakanya Melisa dan bukan lagi istrinya bang Rudi. Kau siapa? Aku baru melihat mu!" Ujar Layla dengan suaranya yang lembut namun terdengar tegas.
"Bagai mana bisa kaka beradik bermain dengan pria yang sana? Kalian berbagi pria?" Tanya Santi dengan nada suara yang meledek.
Amer menunjuk jari telunjuk kanannya ke depan wajah Santi, Amer berbicara dengan nada penuh penekanan, "Jaga bicara anda Nona! Atau perlu saya usir kau dari rumah sakit ini!" Amer lagi lagi di buat geram dengan tingkah Santi, wanita yang baru di kenalnya.
Namun sebel tangan Amer menyentuh dada Santi, Amer lebih dulu menepis dengan kasarrr tangan Santi, "Jangan pernah berani menyentuh ku!"
"Ah Tuan, jangan kasar. Aku ini tidak seperti mereka yang akan berbagi pria. Lebih baik Tuan bersama dengan saya saja, jika Tuan bersama dengan wanita ini, nanti tubuh Tuan yang gagahhhh itu akan di bagi juga lo sama adiknya!" Seru Santi yang mencoba mendekati Amer.
Amer yang melihat pak satpam langsung melambaikan tangannya dan menyuruh pak satpam untuk menghampirinya, "Pak satpam!"
Layla dan Mia di buat geleng geleng kepala melihat Santi.
"Astaga lo murahan banget ya, kurang lo bayaran dari bang Rudi? Apa lo kurang di puasinnn sama bang Rudi, makanya lo jadi gatel?" Tanya Mia dengan sinis.
"Jaga bicara lo!" Santi mendorong bahu Mia.
Mia mendorong balik bahu Santi dengan keras, "Jangan lo pikir gw gak tau ta! Gw tau lo itu udah dari semalam di bawa sama bang Rudi pulang ke rumah! Cewe bayarannn kan lo? Atau lo di pungut di jalan yang lantas di bawa pulang buat muasainnn hasratnyaaa bang Rudi?" Mia menyeringai membuat Santi tidak bisa berkata.
Santi berkilah dengan wajah yang masam, "Jaga bicara lo!"
"Ada yang bisa saya bantu, pak?" Tanya pak satpam yang sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Tolong jangan biarkan wanita ini masuk ke dalam rumah sakit ini lagi, pak! Wanita ini pengacau!" Seru Amer menunjuk pada Santi.
"Saya bukan pengacau, pak. Saya sedang menunggu teman saya!" Santi menggelengkan kepalanya bergarap pak satpam akan percaya dengan perkataannya.
"Bawa dia pergi, pak! Cepat!" Seru Amer dengan suaranya yang tegas.
"Baik, pak." Pak satpam menuruti perkataan Amer, orang yang paling berpengaruh nomor satu di rumah sakit.
"Kalian berdua sama saja, wanita murahan! Awas ya kau Tuan, kau akan jadi milik ku!" Seru Santi yang terus mengoceh saat tangannya di tarik menjauh dari Mia, Amer dan Layla.
Amer mengelus bahu Layla, "Kau jangan hiraukan perkataan wanita sintinggg itu! Dasarrr wanita tidak warasss!"
Layla menganggukkan kepalanya patuh.
"Bagai mana dengan bang Rudi? Apa bang Rudi yang melakukan ini sampai Melisa mengalami ini semua?" Tanya Layla pada Mia.
Mia bertanya pada Amer lewat gerakan kepalanya, dan tanpa suara bibirnya mengoceh, 'Bagai mana ini pak? Apa yang harus saya jawab?'
Amer mengalihkan kursi roda Layla ke arah kamar rawatnya kembali, "Kau urus lah sisanya, Layla butuh istirahat untuk mempersiapkan perjalanannya besok!" Seru Amer membawa Layla menjauh dari ruang di mana Melisa masih mendapat tindakan oleh dokter.
"Ihs si pak Amer mah, gw lagi gitu yang ngurusim itu bocah sialannn, malas bamget dah!" Mia menggerutu dengan menatap sebal pada pintu ruangan yang ada di depannya.
Santi di seret ke luar dari rumah sakit, "Pak, ih saya bukan pengacau!" Santi terus berkilah dan sampsi di depan gerbang. Pak satpam baru melepaskannn genggamannn tangannya dari Santi, wanita yang di seretnya ke luar atas perintah Amer.
"Tolong Nona jaga sikap ya! Ini rumah sakit bukan tempat untuk mencari sensasi!" Seru pak satpam.
Di koridor menuju ruang rawat Layla, "Tuan, aku ingin ke luar dari rumah sakit sekarang juga! Aku ingin segera menyerahkan surat itu pada bang Rudi!" Seru Layla dengan mendongakkan kepalanya pada Amer.
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran ðŸ¤ðŸ¤
Author gabut sebatas halu 😉
__ADS_1