
...💔💔💔...
"Nona kenapa, Tuan?" Tanya Rafa saat melihat Amer menggendong tubuh Layla masuk ke dalam rumah.
"Tidur." Ucap Amer.
Rafa mengikuti Tuannya melangkah memasuki rumah, setelah Hendra dan Jono menyerahkan semua belanjaan Nona Muda nya.
"Apa ada pesan untuk ku?" Tanya Amer tanpa menoleh.
"Ada Tuan, Nyonya bilang Tuan harus segera membuat Nona hamil dan segera memberikan Nyonya dan Tuan besar cucu." Ujar Rafa.
Amer mengerutkan keningnya, "Apa ada lagi yang mereka katakan selain itu?"
"Tuan di minta untuk menghubungi Nyonya besar." Rafa membuka kan pintu kamar Tuan-nya.
"Bagai mana dengan Zeefa? Apa mama dan papa, pergi dari rumah bersama dengan wanita itu?" Amer menidurkan tubuh Layla, dengan hati hati di atas tempat tidur. Amer melepasss kan sepatu flat yang terpasang di ke dua kaki Layla.
Rafa menyimpan semua paper bag, yang ia bawa di atas sofa yang ada di kamar itu.
"Apa ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Rafa.
"Buatkan aku kopi dan antar ke ruang kerja ku!" Seru Amer yang lantas masuk ke dalam kamar mandi, setelah mengambil handuk dari dalam lemari.
"Baik Tuan, akan saya siapkan." Rafa lantas ke luar dari kamar Tuan-nya.
Dengan di temani secangkir kopi susu, wajah yang tampak fresh, kini Amer berkutat dengan layar laptopnya di meja kerjanya.
Amer tengah meninjau laporan yang masuk ke dalam email nya. Laporan dari beberapa perusahaan, yang mengajaknya untuk bekerja sama sebagi suplayer dari bahan baku untuk perusahaan yang sedang Amer pimpin.
Amer juga tidak lupa, untuk memeriksakan hasil laporan penjualan dari toko toko miliknya.
Toko toko Amer yang tersebar di beberapa kota, akan ke banjiran pesanan saat menjelang hari raya, hingga Amer akan menambah jumlah bagian produksi menjadi 2 kali lipat dari hari biasa.
Itu ia lakukan agar tetap bisa memenuhi jumlah pemesanan dari customer nya.
Tanpa terasa, Amer sudah berkutat dengan laptopnya selama 1 jam.
Pintu ruang kerja Amer di ketuk dengan seruan dari luar.
Tok tok tok.
"Kaaa, boleh aku masuk?"
Suara Layla terdengar dari balik pintu.
"Masuk lah, Layla."
Ceklek.
Layla membuka pintu, saat Amer sudah mempersilahkan Layla untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Amer dengan meminta Layla untuk duduk di atas pangkuan nya.
"Aku duduk di kursi ini saja ka!" Ke dua tangan Layla, menyentuh kepala kursi yang ada di hadapan Amer.
"Bagai mana bisa aku memperlihat kan pada mu, jika kau duduk di sana, sayang!"
"Baik lah, memang apa yang ingin ka Amer perlihatkan pada ku?" Layla menghampiri Amer dan mendudukan dirinya di ke dua paha Amer.
__ADS_1
Tangan kiri Amer memeluk Layla dengan erat, sedang tangan kanan Amer mengarahkan layar laptopnya pada sebuah file.
Ke dua mata Layla berbinar, "Apa benar... wanita yang ada di dalam foto itu adalah aku, ka?" Ke dua tangan Layla mengucekkk ke dua matanya, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Amer terkekeh melihat tingkah Layla, "Tentu saja itu kau, sayang!"
"Cantik sekali ka, kaka juga sangat tampan."
"Aku memang sudah tampan dari sananya." Amer menggenggammm jemari Layla, "Aku berjanji pada mu, tidak akan ku biarkan kau menderita lagi!" Ujarnya lagi dengan mencium jemari Layla.
Tes.
Bulir bening yang sudah menganak sungai, kini mengalir deras dari ke dua pelupuk mata Layla.
Layla memeluk tubuh Amer, "Terima kasih ka, Amer?"
Ke esokannya Layla dan Amer kini sudah kembali masuk kantor.
Gunawan menyambut Tuan nya yang baru saja tiba di lobby kantor.
"Selamat pagi, Tuan. Selamat pagi, Nona!" Sapa Gunawan dengan menunduk hormat pada ke duanya.
"Selamat pagi juga Gunawan!" Ucap Amer yang berjalan dengan menggenggammm tangan Layla.
Semua pasang mata tertuju pada Layla dan bos mereka. Ada yang melihatnya dengan tatapan bahagia, karena bosnya sudah mengakhiri masa lajangnya.
Ada pula yang mencela Layla. Seorang karyawan yang hanya berpendidikan SMA, bisa mendapatkan hati seorang Amer Khan, dan bahkan kini mereka sudah menikah.
Amer yang terkenal dingin namun terkenal baik dan royal pada setiap karyawan nya. Baik yang di kantor, lapangan dan toko.
Gunawan membatin, astaga Nona dan Tuan tampak mesra, dari turun dari mobil sampai saat ini, ke duanya tampak berpegangan tangan. Mereka berdua seakan pasangan yang tidak akan pernah terpisahkan.
"Setelah ini, saya langsung ke ruang kerja saya ya, pak!" Ucap Layla yang kini berbicara formal pada Amer.
Gunawan yang mendengarnya pun membatin dengan keningnya yang mengkerut.
Kenapa Nona Layla, tampak formal sekali memanggail Tuan Amer. Dengan sebutan pak, bukannya sayang? Ayang, suami ku, atau apa gitu, ini malah panggil pak!
Amer menatap Layla dengan kening yang mengkerut, "Kau barusan bilang apa, sayang?" Tanya Amer.
"Setelah ini, saya langsung ke ruang kerja saya ya, pak!" Layla mengulang kembali perkataan nya.
"Jangan formal begitu sayang, kau lupa aku ini suami mu sekarang!" Amer protes, saat Layla berkata formal padanya.
Ting.
Pintu lift terbuka.
"Iya... kau ini memang suami ku. Tapi saat di kantor, ka Amer ini kan bos ku, atasan ku. Jadi aku harus memanggil mu pak dong ka Amer untuk menghargai jabatan mu itu, ka!" Terang Layla yang kini mereka bertiga berjalan ke arah ruang kerja mereka.
"Aku ke beratan Layla, kau ini memang bawahan ku, tapi kau ini juga kan istri ku. Wajar dong kalo kau ini berbeda dengan karyawan lainnya!" Terang Amer.
"Nanti kita bahas lagi, aku masuk dulu ya! Selamat bekerja, ka!" Layla langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Amer menggelengkan kepalanya, anak itu!
Di saat Amer melewati meja kerja mantan asisten, sekaligus sekretaris pribadinya itu. Aulia menyapa Amer, dengan suaranya yang mendayu dayu.
__ADS_1
"Selamat pagi, pak!" Seru Aulia dengan mengerlingkan satu matanya pada Amer. Laki laki dewasa, yang tidak pernah mengagap Aulia itu wanita dewasa.
Di mata Amer, Aulia hanya wanita yang bersikap ke kanak kanakan, wanita yang hanya sebatas teman kuliah, tanpa ada tempat spesial di hatinya.
Sebelum Amer masuk ke dalam ruang kerjanya, ia memberikan Rafa perintah dengan suaranya yang tegas.
Amer membalik kan tubuhnya dan menatap Gunawan.
"Tolong minta Layla, untuk membuatkan kopi untuk ku, dan langsung antar ke ruang kerja ku!"
"Siap Tuan." Jawab Gunawan.
Amer langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Setelah Gunawan menyanggupi perintahnya.
Aulia yang mendengar perkataan Amer pun langsung beranjak dari duduknya, ia menyeringai.
Kali ini, lo bakal gw kerjain dengan rencana gw yang brilian ini. Enak banget hidup lo, setelah lepasss dari suami kejammm lo yang bernama Rudi... kini lo jatuh ke dalam pelukan Amer! Gak akan gw biarinin lo hidup seperti bahagia!
"Biar gw aja yang sampein pesen Amer ke Layla!" Ucap Aulia yang lantas meninggalkan meja kerja nya.
Gunawan geleng geleng kepala, melihat Aulia yang meninggalkan meja kerjanya.
Ceklek.
"Nona Layla, bisa lo ikut gw sebentar?" Ujar Aulia saat sudah berada di ruang disein.
"Saya?" Layla menunjuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi di sini yang punya nama kaya lo?" Aulia berkata dengan sinis, ke dua tangannya menyilang di depan dadanya.
"Gak ada lagi sih, cuma saya doang." Layla menggrauk kepada yang tidak gatal.
"Saya tunggu di pentri!" Aulia melangkah meninggalkan ruang disein.
Mia dan Nami mengingatkan Layla untuk berhati hati dengan Aulia.
"Gw temenin lo ya, La!" Mia beranjak dari duduknya, saat melihat Layla beranjak dari duduknya kini.
"Gw aja yang temenin lo gimana, La!" Seru Nami.
"Gak usah, udah kalian di sini aja. Kerjain pekerjaan kalian. Gw cuma sebentar ko." Layla menyungging kan senyum dan melangkah meninggalkan ruang kerjanya.
Di pentri Aulia tersenyum puasss, setelah berhasil mengganti label nama gula dengan garam.
"Lo bikinin tuh, kopi buat pak Amer!" Perintah Aulia dengan nada yang sinis.
"Oke!" Tanpa banyak bertanya, Layla langsung membuatkan kopi sesuai dengan selera Amer.
Aulia yang bersandar pada dinding menyeringai, kali ini lo bakal habis Layla! Kita lihat, setelah ini apa yang bakal Amer perbuat sama lo!
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭
__ADS_1
Author gabut sebatas halu 😊😊