Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Apa aku perlu


__ADS_3

...💔💔💔...


"Amer! Apa yang menyebabkan Layla jadi seperti ini, nak?" Tanya Ali dengan suaranya yang tegas.


Amer menatap wajah Layla dan Noer secara bergantian, rasanya aku sangat berat untuk mengatakan nya di depan Layla dan mama.


Ali dapat membaca ke raguan dari wajah Amer untuk menjelaskan padanya apa yang terjadi pada Layla.


"Hufh." Ali membuang nafasnya dengan kasar.


Ali beranjak dari duduknya, "Ikut papa sebentar, nak!" Seru Ali yang memilih untuk bicara dengan Amer di luar ruang rawat Layla.


"Kalian mau pergi ke mana?" Tanya Noer dengan tatapan mata yang menyelidik.


"Hanya mencari angin di luar!" Jawab Ali dengan tangan yang kini menyentuh hendle pintu.


"Mah, aku titip Layla!" Amer berpesan pada Noer sebelum ia hilang di balik pintu.


"Tanpa kau suruh pun, mama pasti akan menjaga Layla!" Ucap Noer dengan memutar bola matanya dengan malas.


Wanita yang kini tidak lagi muda di usianya mendudukan dirinya di tepian kasur ranjang rawat Layla.


"Apa kau ingin makan sesuatu, Layla?" Tanya Noer dengan tatapan matanya yang teduh dan suaranya yang lembut.


Layla menggelengkan kepalanya, "Tidak tante, aku tidak ingin makan apa apa." Ujar Layla.


"Apa yang sekarang kamu rasakan, Layla?" Noer menggenggam jemari Layla yang lemah.


"Badan ku rasanya tidak punya tulang, tan... kepala ku terasa pusing."


"Bocah nakal itu tidak melakukan apa pun kan pada mu, Layla?" Noer menatap tajam ke arah pintu.

__ADS_1


Layla mengerutkan keningnya, "Maksudnya tante, siapa bocah nakal?"


"Siapa lagi kalo bukan, Amer... apa bocah itu menyakiti mu?" Tatapan Noer menyelidik pada bola mata Layla yang sayu.


Layla menyunggingkan senyumnya, tampak lesung pipi mengiringi pipinya.


"Tuan Amer sangat baik pada saya, tante. Selalu ada di saat saya membutuhkannya."


"Benarkah begitu? Setahu tante itu anak sangat dingin pada setiap wanita. Dia selalu acuh, kecuali terhadap Puput." Ujar Noer.


"Putrinya bi Asih, tante?" Tanya Layla dengan senyum yang lenyap dari bibirnya, pasti tante Noer sangat menyukai Puput, gadis itu terlihat pintar dan cantik, jika aku tidak salah menebak pasti Puput mencintai Tuan Amer.


Noer beranjak dari tepian ranjang rawat Layla, tangannya terulur untuk mengambil buah apel yang ada di atas nakas lalu mengupas kulitnya dengan pisau.


Memotong motong kecil buah apelnya dan menaruhnya di piring kecil yang sudah tersedia di atas nakas.


Noer mengatur posisi kepala ranjang rawat Layla dan membiarkan wanita itu duduk menyandar, menaruh piring dengan potongan apel di pangkuan Layla.


"Apa tante tidak menginginkan Puput untuk menjadi istrinya Tuan Amer?" Tanya Layla dengan menyuapkan apel ke dalam mulutnya.


Noer mendudukan dirinya di sofa dekat ranjang rawat Layla, "Kalo tante, terus terang aja nih sama kamu ya Layla, tante kurang suka dengan tingkah laku Puput."


"Apa ada yang salah tan, dengan tingkah laku Puput?" Tanya Layla.


"Pokonya tante gak suka aja, udah kamu makan itu buahnya, di habiskan. Biar badan kamu cepet pulih." Noer mengalihkan perhatian Layla.


Layla hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh. Sementara Noer memperhatikan dengan lekat wajah Layla yang cantik meski saat ini ia nampak pucat.


"Boleh tante bertanya sama kamu, Layla!" Noer memberikan botol air mineral pada Layla.


"Tanya apa, tante?" Layla meminum minumannya dengan menggunakan sedotan dan menaruhnya di sampingnya.

__ADS_1


"Apa pekerjaan mu, Layla? Bagai mana dengan orang tua mu? Apa mereka sudah tahu keadaan mu yang sekarang ini? Tante juga kan ingin mengenal lebih jauh keluarga mu, Layla!" Cecar Noer dengan memberikan Layla beberapa pertanyaan seperti seseorang yang tengah menyelidik suatu kasus.


Sementara di luar ruang rawat Layla, tidak jauh dari pintu ruang rawat Layla, Ali dan Amer tengah berbicara serius nampak raut wajah Ali sesekali menegang saat mendengar apa yang di sampaikan Amer padanya terkait penyebab Layla sampai harus di rawat kembali.


Ali menepuk bahu Amer yang tampak bingung harus mengambil sikap bagai mana jika memang bi Asih tidak mengakui apa yang sudah ia perbuat pada Layla.


Puk.


"Jika aku ada di posisi mu, papa mu ini tidak akan membiarkan seseorang menyakiti mama mu lebih jauh lagi." Terang Ali yang lantas meninggalkan Amer dalam diamnya dengan bersandar pada di dinding rumah sakit.


"Apa aku perlu memecat bi Asih, pah?" Tanya Amer meminta pendapat pada papanya Ali.


Ali menghentikan langkah kakinya lalu membalikkan tubuhnya dan ke ke dua matanya menatap putranya dengan tatapan yang tajam.


"Kau lebih tau jawabannya, Amer!" Ali melangkah melewati pengawal yang sedari tadi menunggu di depan kamar rawat Layla.


Amer geleng geleng kepala, "Bukannya memberikan ku solusi, papa malah membuat ku gila tanpa memberikan jawaban yang membuat telinga ku puas untuk mendengarkannya!" Gerutu Amer.


Ceklek.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Ali pada ke dua wanita yang beda usia tengah bersenda gurau..


...Bersambung......


...💔💔💔💔💔...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭


Author gabut sebatas halu 😉

__ADS_1


__ADS_2