
...πππ...
"Tunggu! Lo mau ke mana?" Melisa menghentikan langkah kaki Mia dan bertanya padanya.
Mia menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang, "Gw mau pulang, gw mau istirahat di rumah. Mau ikut lo?" Mia berkata dengan tatapan yang sinis, saking aja Layla yang minta gw, kalo gak... muak gw ama ini anak!
"Tapi nanti lo balik lagi kan?" Tanya Melisa dengan penuh harap.
"Tergantung!" Mia meninggalkan Melisa di ruang rawatnya.
Sore berlalu meninggalkan awan jingga di langit yang kini berganti dengan awan pekat gelap gulita dengan terang bintang yang bertabur menyinari malam berdampingan dengan terangnya bulan.
Yang bertugas untuk berjaga malam ini adalah dokter Embun dan dokter Samuel.
Dokter Embun dan dokter Samuel membagi tugas untuk mengecek keadaan pasien dengan di temani seorang perawat bersamanya.
"Biar aku yang mengecek lantai 2 dan lantai 3, kau cukup tangani lantai 1 ya Embun!" Seru Samuel yang memegang 2 lantai sekaligus.
"Apa kau tidak keberatan?" Tanya Embun dengan keningnya yang mengkerut.
"Itu hal yang mudah untuk ku, lagi pula di lantai 2 ada seseorang yang aku kenal, sekalian aku akan melihat kondisinya!" Aku ingin lihat apa Nona itu sudah baikan? Kasihan sekali nasibnya, harus mengalami ke gugurannn, pada hal dia baru saja ke luar dari rumah sakit. Nasib seseorang tidak ada yang tahu.
"Baik lah kalo itu ke inginan mu, dokter Samuel." Dokter Embun mengantongi tetoskopnya ke dalam saku jubah putihnya.
"Ayo suster!" Dokter Embun meninggalkan meja jaga bersama dengan suster Mela yang kini mulai menyusuri tiap lorong rumah sakit, memasuki ruang rawat satu persatu untuk mengecek keadaan pasiennya.
Dokter Samuel pun bersama dengan seorang suster juga memulai keliling ruangan, masuk dari ruang rawat satu ke ruang rawat lain.
Hingga tiba dokter Samuel di depan ruang rawat Melisa.
"Selamat malam ibu Melisa! Bagai mana dengan ke adaan mu?" Tanya dokter Samuel dengan berdiri di samping ranjang rawat Melisa.
"Seperti yang dokter lihat!" Melisa menjawabnya dengan ketus.
Dokter Samuel menarik sudut bibirnya ke atas menatap Melisa dengan nanar, benar benar berbeda sikap dan sifatnya, untung saja kau jatih cinta dengan kakanya. Coba kalo sampai jatuh cinta dengan wanita ini! Tamat lah riwayat mu Amer!
"Bagai mana, sus?" Tanya dokter Samuel yang melihat suster tengah mengecek tekenannn darah Melisa.
"Darahnya 80 per 90 dok." Jawab suster dengan mencatatnya di kertas laporan yang ia bawa.
"Kau harus banyak istirahat ya, bu Melisa! Jangan banyak pikiran, biar tekanannn darah mu normal kembali." Ujar dokter Samuel dengan mengeluarkan tetoskopnya dari saku jubah putih yang ia kenakan, mengenakannya pada ke dua telinganya dan mengarahkan nya pada dada Melisa.
"Bicara itu mudah dokter! Tapi bagai mana dengan ku! Aku yang menjalankannya! Kau pikir aku ini apa tidak boleh banyak pikiran! Huh, dokter menyebalkan. Ke mana lagi itu Mia, dari tadi gak dateng dateng!" Melisa terus mengoceh dengan bibirnya yang terus komat kamit.
"Apa ada yang sedang kau tunggu? Di mana keluarga mu? Atau suami mu mungkin?" Dokter Samuel memicingkan matanya, menunggu jawaban apa yang akan Melisa berikan.
"Bukan urusan mu dokter! Pergi lah! Tugas mu sudah selesai di sini!" Melisa memiringkan tubuhnya memunggungi dokter Samuel yang masih menatapnya dengan lekat.
Suster yang melihatnya hanya geleng geleng kepala dengan tangannya yang mengurut dada, astaghfirullah ada ya pasien model begini! Di perhatiin sama dokter malah jutek banget, saking aja lo pasien, kalo bukan udah gw depakkk lo! Sabar sabar!
Dokter Samuel menggenggammm tetoskopnya, "Baik lah kalo begitu, selamat beristirahat bu Melisa!" Seru dokter Samuel dengan tetap berusaha bersabar menghadapi pasiennya ini, "Ayo suster kita lanjut ke ruang sebelah." Dokter Samuel melangkah meninggalkan ruang rawat Melisa dengan menutup pintu.
Tidak berapa lama, pintu ruang rawat Melisa di buka.
Ceklek.
__ADS_1
Melisa berkata tanpa melihat ke arah pintu meski hanya sekedar melihat siapa yang datang dan masuk ke dalam ruang rawatnya.
"Ke man aja lo baru dateng!" Sungut Melisa jika yang ia pikir itu adalah Mia, sahabat kakanya Layla.
π Rumah kediaman Amerπ
Amer dan Layla tengah menyantap makan malamnya dengan berbagai menu yang sudah tersaji oleh bi Asih.
"Kau makan lah yang banyak, Layla!" Amer menaruh potongan daging rendang pada piring yang ada di hadapan Layla.
"Ini sudah cukup, Tuan!" Layla menatap piringnya yang kini lengkap sudah dengan berbagai lauk 4 sehat 5 sempurna.
Bi Asih berdiri tidak jauh dari Tuannyya berada dengan tatapan yang tidak suka saat melihat Amer begitu memperhatikan Layla, apa apaan itu, coba lihat gayanya? Sudah seperti Nona rumah ini saja! Huh, hanya tamu sementara saja lagunya sudah seperti itu! Dasarrrr wanita kampungannn.
Bi Asih dan pekerja lainnya makan malam setelah Tuan-nya selesai dengan makannya itu pun mereka akan makan di meja yang Amer gunakan. Amer yang membuat peraturan jika makan harus di meja makan, apa pun pekerjaannya di kediaman Amer saat ini, semuanya di perlakukan sama oleh Amer, tidak ada pekerjaan yang di istimewa oleh Amer.
Ting nong. Ting nong.
Bel rumah berbunyi.
Asih langsung buru buru ke luar dari ruang makan dan membukakan pintu.
Ceklek.
Berdiri di hadapan Asih sepasang suami istri yang tidak lagi muda namun tampak mesra dengan tangan pria yang menggandeng erat lengan sang istri.
"Nyonya! Tuan besar! Ayo masuk!" Asih membukakan pintu lebar lebar, membiarkan ke dua pasangan yang tadi memencet bel rumah untuk masuk ke dalam rumah.
"Tuan di mana, bi?" Tanya Noer, wanita paruh baya namun tampak awet muda di usianya kini yang menginjak 50 tahun.
"Ada Nyonya, Tuan Muda sedang makan malam. Apa Nyonya dan Tuan besar ingin makan malam sekalian?" Bi Asih menawarkan ke duanya untuk ikut serta makan malam bersama dengan Amer, putra tunggal mereka.
"Hemmmm, bagai mana ya! Pah, kau lapar tidak?" Noer bertanya pada suaminya Ali Khan yang kini sedang menatap layar hapenya yang ada di genggamannya.
"Jika mama mau, mama saja yang makan, papa masih kenyang." Ali Khan menolak untuk makan.
"Oke deh kalo gitu." Noer beranjak dari duduknya.
"Biar saya antar Nyonya, Tuan apa mau saya buatkan minuman?" Sebelum meninggalkan Tuan besarnya, Asih menawarkan lebih dulu Tuan besarnya untuk minum.
"Boleh, bi. Kopi hitam ya bi! Jangan terlalu manis." Seru Ali Khan yang di jawab oleh Noer.
"Cukup lihat mama saja pah, kopi papa akan jauh lebih manis!" Seru Noer yang kini melangkah ke arah ruang makan di ikuti oleh bi Asih yang mengikuti langkah kaki Nyonya nya.
Layla bertanya pada Amer di saat bi Asih belum juga kembali.
"Siapa yang bertamu, Tuan?" Tanya Layla dengan tangan yang menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.
Amer mengerdikkan bahunya, "Entah lah. Aku tidak tahu siapa yang bertamu." Ujar Amer.
"Oh iya bi, apa benar Amer membawa seorang wanita pulang ke rumah?" Tanya Noer saat langkah kakinya semakin dekat dengan ruang makan.
Bi Asih memelankan suaranya, "Benar Nyonya, bahkan wanita yang di bawa oleh Tuan, bukan wanita baik baik Nyonya. Wanita itu sudah bersuami Nyonya. Mana boleh seorang istri bermalam di rumah seorang pria yang masih lajang, apa kata orang nanti Nyonya jika sampai tahu!" Bi asih menyeringai.
Noer mengerutkan keningnya, "Apa benar seperti itu, bi?" Tampak dari wajahnya tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh kepala pelayan yang di pekerjakan oleh putra tunggalnya Amer.
__ADS_1
"Mana berani saya berbohong pada Nyonya." Hehehe dengan begini pasti tidak lama lagi wanita itu akan di usir dari rumah ini oleh Nyonya besar.
"Hello sayang, mami pulang nak!" Noer berseru dan mengecup pipi putranya yang kini sudah dewasa.
"Hello mah, bukan mami!" Amer mengatakannya dengan penekanannn pada kata mami.
"Terserah apa kata mu lah, sayang!" Noer menatap lekat wanita yang duduk di sisi kanan Amer.
"Oh oya, mah. Kenalkan ini ---"
Belum selesai Amer mengatakannya, Noer lebih dulu bertanya.
"Siapa wanita ini sayang? Apa kekasih mu? Atau calon mantu untuk mama?" Tanya Noer dengan tatapan yang sulit di artikan, cantik, tapi apa iya wanita seperti ini sama dengan apa yang di katakan oleh bi Asih? Wanita ini sepertinya wanita baik baik.
Amer mengelus lengan Layla dengan tatapan yang hangat pada Layla, "Namanya Layla mah, calon pendamping Amer.
"Really sayang?" Noer membola dengan pengakuan Amer.
Amer menganggukkan kepalanya.
Bi asih tampak mengerucutkan bibirnya saat telinganya mendengar apa yang di katakan oleh Amer jika Layla adalah calon istrinya.
Ting ting ting.
Bi Asih mengaduk kopi hitamnya dengan kasar hingga sendoknya membentur cangkir.
Noer kini melangkah ke arah Layla dan berdiri di depan Layla, ke dua mata Noer menelisik Layla yang sedang duduk di kursi dengan tatapannya yang selalu menundukkan kepalanya.
Layla tampak ragu untuk memperlihatkan wajahnya, kenapa ibunya Tuan Amer melihat ku seperti itu,? Apa ada yang salah dengan ku?
Noer mengerutkan keningnya, menimang nimang pertanyaan yang akan ia ajukan pada Layla, jika aku tanyakan sekarang, kurang etis rasanya.
Amer beranjak dari duduknya dan menarik sebuah kursi untuk Noer, "Ayo mah duduk dulu, kita makan malam bersama!" Seru Amer, "Papa tidak ikut, mah?" Amer mendudukan dirinya kembali di kursinya setelah Noer mendudukkan dirinya.
"Papa ada si depan, hanya ingin minum kopi. Di ajak makan tapi malah gak mau!" Amer mulai melayaniii ibunya untuk makan dengan membalikkan piring yang ada di hadapannya dan menaruh nasi serta lauk di atasnya.
"Ayo mah, makan dulu. Setelah makan baru kita ngobrol banyak." Ujar Amer dengan bersemangat.
"Oke kalo fitu, ayo Layla. Di habiskan makanannya, jangan sungkan karena ada tante ya!" Seru Noer pada Layla.
"I- iya tante." Layla menjawabnya dengan gugup.
Amer tahu jika Layla tengah gugup dengan kehadiran orang tuanya di meja makan, tangan Amer terulur menggenggammm tangan Layla.
"Tidak usah gugup, mama ku juga nantinya akan jadi mama mu kan!" Amer menarik sudut bibirnya ke atas meyakinkan Layla dengan apa yang ia katakan.
Bi Asih membawakan secangkir kopi untuk Tuan besarnya yang berada di ruang tamu, enak banget si Layla, baru jadi tamu beberapa hari udah di akui calon mantu! Awas saja kalo Nyonya besar sampai tidak mengusir wanita itu!
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
__ADS_1
Author gabut sebatas halu π