Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Untuk menghancurkan


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Ali Khan, mengelusss dadanya dengan suara yang di hasilkan dari istrinya itu, "Astaga mami, jantung papa hampir copot! Pelankan sedikit suara mu itu, mami!" sungut Ali Khan.


Prak prak.


Noer menggeprak lengan putranya itu, dengan mulut yang mengomel, "Apa yang sudah kamu lakukan Amer? Kenapa lagi dengan menantu mami ini?"


"Astaga mami, ini aku lagi gendong Layla." Amer meringis merasakan panasss, pada bagian lengannya yang di geprak Noer dengan telapak tangannya.


"Ini bukan salah ka Amer, mah." cicit Layla.


"Kamu itu tidak usah membelanya Layla, kamu tenang saja. Sudah ada mami yang akan membela mu!" cicit Noer.


Amer mendudukan Layla di sofa, Noer langsung duduk di samping Layla, dengan tangannya yang mengelusss punggung Layla.


"Coba, sekarang ceritakan pada mami... apa yang terjadi?" oceh Noer, dengan pandangan yang serius menatap Layla.


Amer mencium punggung tangan ayahnya, Ali Khan. Ia juga melakukan hal yang sama pada Noer.


"Tolong ambil kan minum, Rafa!" cicit Amer dengan tatapan matanya mengarah pada Rafa.


Rafa menunduk hormat, lalu berjalan ke dapur. Meminta pelayan untuk menyiapkan minum untuk Tuannya.


Layla menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya, hingga kakinya bisa terkilir. Sementara yang lain, menyimak apa yang di katakan Layla.


Pelayan datang dengan membawa nampan yang berisi kan, secangkir teh untuk Layla dan secangkir kopi untuk Amer.


"Jelaskan mi, ini bukan salah Amer!" sungut Amer dengan meraih cangkir kopinya dan menyeruput nya perlahan.


"Iya maaf, sayang. Mami pikir kan Layla seperti ini karena ulah mu, nak!" ujar Noer.


"Mami pikir aku akan setega itu pada Layla, mau menyakiti fisiknya? Yang benar saja, mami!" sungut Amer.


"Mami rasa kamu tidak akan sanggup menyakiti, Layla." oceh Noer yang bisa berfikir dengan jernih.


"Wah mami ku ini, benar benar luar biasa. Tadi saja menyalahkan ku, menuduh ku yang membuat Layla terkilir. Sekarang membela ku. Nanti apa lagi mi?" Ledek Amer.


"Jangan banyak bicara, anak nakal." gumam Noer.


"Oh iya, ngomong ngomong... angin apa yang membawa mami dan papa ke sini?" tanya Amer pada ke dua orang tuanya.


Amer berbicara pada Ali dengan serius, sedangkan Noer berbicara pada Layla.


"Bagai mana kabar mama? Selama ini mama ke mana saja?" tanya Layla pada Noer.

__ADS_1


"Owh menantu ku, aku ada di rumah suami ku yang pastinya, menunggu kabar baik dari kalian tentunya." ucap Noer.


Hingga waktu yang cerah, dengan sinar senja, berubah menjadi gelapnya awan malam. Dengan penerang cahaya lampu di setiap sudut ruang. Serta lampu kristal yang bertengger di langit langit.


Meja makan kini terasa lebih berwarna, saat ke hadiran orang tua ada di dalamnya.


"Kenapa mami dan papa tidak tinggal di sini saja?" tanya Layla.


"Owh tidak dong sayang, kalo kami tinggal dengan kalian. Maka tidak ada ruang privasi untuk kalian berdua." jelas Noer.


"Ngomong ngomong, kapan kalian akan pergi berbulan madu?" lagi lagi Noer mempertanyakan hal yang sama.


Membuat Layla yang sedang minum menjadi tersendak.


"Uhuk uhuk uhuk."


Amer langsung menyodorkan segelas air putih pada Layla, "Ayo minum dulu!"


Layla langsung meminumnya, menenggak air yang ada dalam gelas itu, hingga isinya kini tandas.


"Kau haus sayang?" Ledek Amer.


Layla mengerucut kan bibirnya, sementara Noer dan Ali, mentertawa kan tingkah ke duanya.


...☘️Ke esokan harinya☘️...


Setelah mendapat tekanan dari Amer dan Noer, Layla mengalah dan selama 3 hari akan tetap di rumah.


"Aku berangkat dulu ya, sayang!" Amer mengecup kening Layla, yang mengantarnya sampai di depan pintu.


"Hati hati ya, ka!" Layla mencium punggung tangan kanan Amer.


"Iya sayang. Jika perlu apa apa, katakan saja pada mami, papa dan Rafa, atau kau bisa memintanya langsung dengan menelpon ku!" Amer mengelusss pipi Layla.


"Sudah sana berangkat, anak nakal!" sungut Noer yang menghampiri Layla dan ke duanya.


"Titip Layla ya, mai!" Amer menyalami tangan kanan Noer.


"Iya, tidak usah kau khawatir kan Layla, fokus saja pada pekerjaan mu!" cicit Noer.


Noer membantu Layla, memapah nya masuk ke dalam rumah.


"Ma, aku ingin duduk di taman belakang aja!" ucap Layla.


"Baik lah, udara pagi hari sangat baik untuk mu." ke duanya pun berjalan ke arah taman yang ada di belakang rumah.

__ADS_1


Mereka duduk bersama di bangku kayu, dengan memandangi bunga mawar yang tengah mekar.


"Apa kau suka berada di sini, sayang?" tanya Noer, yang melihat Layla tengah tersenyum, menatap indahnya bunga mawar.


"Sangat suka, di sini pula ka Amer membuat makan malam romantis untuk ku, malam yang sangat indah. Makan malam romantis yang pernah aku rasakan." Layla menceritakan nya dengan sorot mata yang berbinar.


"Kau pasti sangat bahagia, apa lagi yang sudah di lakukan anak nakal itu pada mu, sayang?" tanya Noer dengan antusias, ingin mendengar lebih banyak lagi, apa yang sudah di lakukan Amer untuk Layla.


...☘️Di sisi lain☘️...


Di dalam sebuah mobil, Alan bersama dengan Nusi tengah menuju sebuah tempat.


Setelah beberapa lama, akhirnya ke duanya sampai, pada tempat yang menjadi tujuan mereka.


Nusi membukakan pintu mobil, untuk Tuannya Alan.


"Apa Tuan yakin, ingin menemuinya saat ini?" tanya Nusi, meyakinkan pada Tuannya sebelum memasuki sebuah gedung rumah sakit.


"Tidak ada ke raguan sedikit pun dalam langkah saya, kau tahu itu kan... Nusi!" terang Alan yang melangkah dengan pasti, menyusuri koridor rumah sakit, menuju kamar rawat seseorang.


"Baik lah, jika Tuan sudah membuat ke putusan, apa lah saya." Nusi mengikuti langkah kaki Alan dengan mengekori nya.


Alan menyeringai, kali ini aku tidak akan salah menggunakan wanita itu, kita akan lihat bagai mana ia akan dapat berguna untuk ku. Untuk menghancurkan Layla dan Amer, jika sebelumnya ia berhasil merusak hubungan Layla dengan suaminya terdahulu, apa saat ini ia akan berhasil melakukan nya kembali.


"Maaf Tuan, anda terlewat. Di sini ruang rawatnya!" Nusi mengingat kan Alan, saat Alan sudah melewati ruang rawat yang di tuju Tuannya.


"Bodoh, kenapa kau tidak katakan dari awal!" sungut Alan.


"Ini saya sudah mengatakan pada, Tuan." Nusi membukan hendle pintu ruang rawat.


Ceklek.


Alan melangkah masuk, di lihatnya seorang wanita tengah berbaring di atas ranjang rawat, dengan selang infus menancap di pergelangan tangannya.


Nampak luka lebam di lengannya, wajahnya juga tampak ada perban yang memutupi luka di wajah dan keningnya.


"Hei! Bangun, sudah waktunya kau berguna untuk ku!" seru Alan, saat sudah berdiri di dekat ranjang rawat.


Wanita yang merupakan Melisa mulai mengerjapkan ke dua matanya.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊


__ADS_2