Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Tambatan hati Amer


__ADS_3

...💔💔💔...


Di koridor menuju ruang rawat Layla, "Tuan, aku ingin ke luar dari rumah sakit sekarang juga! Aku ingin segera menyerahkan surat itu pada bang Rudi!" Seru Layla dengan mendongakkan kepalanya pada Amer.


Amer menatap Layla dengan hangat, "Baik lah jika itu keinginan mu, keinginan mu sama dengan perintah untuk ku yang harus aku turuti!" Seru Amer dengan menarik sudut bibirnya ke atas.


"Apa sih Tuan Amer nih, aku serius Tuan!" Pipi Layla merona mendengar ucapan manis Amer.


"Aku juga serius dengan perkataan ku, Layla."


Layla diam tidak lagi berani berkata.


Sampai di koridor dekat dengan ruang rawat Layla, Amer dan Layla bertemu dengan Hendra dan temannya.


"Tuan, anda si sini!' Seru Hendra dengan membungkuk hormat pada ke dua Tuan-nya begitu pun temannya.


"Tolong kau urus ke pulangan Layla." Amer menyerahkan benda pipih dari dalam dompetnya pada Hendra.


"Baik, Tuan!" Hendra meninggalkan ke dua Tuannya dan berjalan menuju ruang administrasi untuk mengurus ke pulangan Nona Muda-nya.


Sementara Amer dan Layla di dalam ruang rawat, mempersiap kan diri untuk ke luar dari rumah sakit, Jono yang merupakan pengawal yang di sewa. Amer pun bertugas berjaga di depan ruang rawat Layla.


Layla mengganti bajunya dengan dress yang sudah di belikan Amer dan kini sedang memperhatikan Amer yang tengah mengemasi apa saja yang akan di bawa pulang dari dalam ruang rawat Layla.


"Apa ini mau kau bawa pulang, Layla?" Amer mengarahkan boneka beruang besar pada Layla.


"Tentu saja Tuan, itu kan pemberian dari sahabat ku, Nami." Ujar Layla.


"Kalo makanan dan minuman, apa kau mau bawa pulang juga La?" Tanya Amer yang melihat isi lemari pendingin yang ada di dalam ruang rawat sudah hampir terisi penuh dengan cemilan.


"Yang masih utuh biar di berikan saja Tuan sama pak security, suster dan dokter yang berjaga." Layla melangkahkan ke dua kakinya untuk menghampiri Amer.


"Bagai mana dengan sisanya? Apa mau kau makan lagi, atau mau kau buang saja?" Tanya Amer.


"Di bawa pulang aja Tuan, nanti kalo di jalan aku iseng, aku bisa memakannya hehehe!"


Layla sudah berdiri di belakang Amer, "Kau mengagetkan ku saja Layla!" Amer mengurut dadanya dengan tangannya.


Tangan Layla terulur mengelusss lengan Amer yang besar, "Maaf ya Tuan, aku tidak bermaksud untuk mengagetkan Tuan!" Seru Layla.


"Iya, lain kali jangan kau ulangi lagi. Untuk apa kau di sini?" Tanya Amer dengan melirik sepintas Layla yang berdiri di sampingnya.


"Aku hanya ingin membantu, Tuan."


Tangan Layla terulur ingin meraih sesuatu dari dalam lemari pendingin, tapi Amer menahan tangan Layla.


"Biar aku saja! Kau duduk lah di tempat mu!"


"Tapi, Tuan ---"


Hap.


"Akkkhhhh." Layla berteriak saat ke dua tangan besar Amer mengangkat tubuh Layla yang ringan bak kapas bagi Amer, Amer membawa Layla menuju kursi roda yang ada di sebelah ranjang rawat inap.


"Kau duduk lah di sini?" Amer mendudukkan Layla dengan hati hati di kursi roda.


Amer juga memberikan hape Layla yang ada di atas meja pada tangan Layla, "Kau cukup mainkan ini jika kau merasa bosan." Seru Amer yang kini tinggal menunggu Hendra menyelesaikan urusan administrasi ke luarnya Layla dari rumah sakit.


Tok tok tok tok.

__ADS_1


"Tuan, ini saya." Suara Hendra dari luar pintu ruang rawat Layla.


"Masuk, Hen!" Amer mempersilahkan untuk Hendra memasuki ruang rawat Layla.


Ceklek.


Hendra melangkahkan kakinya memasuki ruang rawat Layla, "Ini Tuan, berkas yang anda minta!" Hendra menyodorkan berkas untuk ke pulangan Layla.


Amer meraih berkas yang di berikan Hendra beserta benda pipih yang tadi di berikan Amer untuk mengurusi biaya administrasi.


"Kau bawa lah itu!" Amer mengarahkan Hendra untuk membawa beberapa kanton belanjaan yang sudah tersusun rapih di atas lantai.


Layla meninggalkan ruang rawat inapnya, ruang di mana ia bisa mendengar sendiri jika dirinya bukan lah wanita biasa di mata Amer.


Ruang yang menjadi saksi bisu, pengakuan cinta Amer pada Layla, pengakuan cinta pertanya pada Layla yang sudah lama ia simpan sendiri.


Amer mendorong kursi roda Layla dengan berjalan di depan, sedangkan Hendra dan Jono berjalan di belakang ke dua Tuan-nya dengan tangan mereka yang sama sama menenteng kantong belanjaan berisi cemilan selama Layla berada di rumah sakit.


Saat Amer dan Layla akan melewati meja jaga petugas medis, Amer menyerahkan sekantong belanjaan cemilan pada mereka.


"Terima masih, Tuan." Ujar perugas medis.


Begitu pun saat di lobby rumah sakit. Amer juga menyerahkan sekantong belanjaan cemilan pada perugas yang berjaga.


Hingga sampai di tempat pos penjaga ke amanan, langkah kaki mereka terhenti kembali.


"Pak, ini ada sedikit cemilan, lumayan buat temen jaga!" Seru Amer pada security yang kemarin sempat ia mintai tolong.


"Terima kasih Tuan, Nona! Semoga cepat pulih ya Nona!" Seru pak security.


"Iya, pak." Ucap Layla dengan seutas senyum yang mengembang di bibirnya.


Sedangkan Hendra dan Jono menaiki kuda besinya yang berada di belakang mobil Tuan-nya.


"Kita langsung pulang, Tuan?" Tanya pak Jojo yang berada di belakang setir kemudi.


"Kita ke penjara dulu, pak!" Seru Amer.


Amer menurunkan kaca mobilnya dan meminta Hendra untuk mendekat.


"Iya, Tuan?" Tanya Hendra yang kini sudah turun dari kuda besinya dan berdiri di samping pintu tepat Amer duduk.


"Kita ke kantor polisi, dulu!"


"Baik, Tuan." Hendra kembali pada kuda besinya dan mengikuti ke mana mobil membawa Tuannya kini.


Layla tampak gugup dengan berkali kali membuang nafasnya dengan kasar. Matanya menatap amplop coklat yang kini ada dalam pangkuannya.


Amer menyandarkan kepala Layla pada lengannya, "Kau tenang lah, ada aku di sini yang akan selalu bersama mu!" Seru Amer dengan menarik sudut bibirnya ke atas melihat Layla yang tampak gusar dan gugup.


"Terima kasih, karena Tuan aku bisa mengambil langlah ku yang sempat tertunda." Ucap Layla dengan tulus.


"Jadi selama ini kau benar benar ingin berpisah dengan suami brengsekkk mu itu, Layla?" Tanya Amer dengan kening yang mengkerut.


"Tentu saja Tuan, ke salahan bang Rudi sudah tidak bisa lagi aku toleransi." Ucap Layla dengan menyunggingkan senyum manisnya yang membuat tampak ke dua lesung pipinya.


"Kau sangat manis Layla saat tersenyum." Ujar Amer.


"Terima kasih, Tuan atas pujiannya."

__ADS_1


Amer mengelus sayang kepala Layla, "Apa pun itu, terserah kau saja lah."


Pak Jojo melirik kehangatan yang tercipta di antara Tuannya Amer dengan Nona yang menjadi tambatan hati Amer, Nyonya dan Tuan besar pasti akan sangat bahagian jika melihat Tuan Amer bahagia seperti ini bersama dengan wanita yang telah lama di cintainya.


Amer dan Layla menunggu ke datangan Rudi di ruang besuk.


Rudi menatap tajam pada pria yang kini duduk bersebelahan dengan Layla, siapa pria itu? Kenapa bisa bersama dengan Layla?


Rudi mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan Layla yang kini terhalang meja di antara ke tiganya.


"Ada apa kau mencari, ku? Meminta ku untuk bertanggung jawab akan ke hamilan Melisa?" Tanya Rudi dengan sinisnya.


"Aku rasa kau tidak pantas untuk bertanggung jawab pada Melisa, jika kau saja tidak mampu untuk bertanggung jawab atas diri ku, bang Rudi!" Jawaban menohok ke luar begitu saja dari bibir mungil Layla.


Rudi di buat geram dengan ucapan Layla, "Kau! Lantas mau apa kau ke sini? Mau mengeluarkan ku dari penjara? Sudah menyesal telah memasukkan ku ke dalam sel?" Rudi mengejek Layla, aku yakin Layla masih memiliki rasa cinta di hatinya untuk ku. Aku ini lelaki pertama yang menyentuhnya, lelaki pertama yang dekat dengannya.


"Maaf, abang jangan terlalu besar kepala, sayangnya semua ucapan bang Rudi tidak ada yang benar. Maksud ke datangan ku saat ini hanya ---"


Belum selesai Layla berkata, Rudi lebih dulu mencela perkataan Layla.


"Kau masih mencintai ku? Kau tidak bisa kan hidup tanpa ku!" Oceh Rudi dengan yakinnya.


Layla menggeser amplop coklat ke hadapan Rudi, "Lebih baik bang Rudi buka dan baca apa yang ada di dalamnya, maka bang Rudi akan tahu dengan jelas maksud ke datangan ku saat ini." Ujar Layla.


Rudi mengambil amplop coklat itu dari atas meja, mengeluarkan isi surat yang terdapat di dalamnya, Rudi membacanya dengan perlahan.


"Apa maksudnya ini, Layla?" Tanya Rudi dengan kening yang mengkerut menatap tajam Layla, mana mungkin Layla bisa menggugat cerai diri ku! Hanya aku yang bisa menceraikan mu dan saat ini aku membutuhkan mu untuk mengeluarkan ku dari dalam penjara ini!


"Aku rasa bang Rudi cukup pandai untuk mengerti apa yang tercantum dalam isi surat itu, kalo begitu saya permisi bang, kita bertemu lagi di pengadilan agama." Terang Layla yang terlihat tegar.


Tegarnya Layla tidak seiringan dengan hati kecilnya yang merasa hancur, dulu saat memutuskan hidup bersama dengan Rudi di bawah ikatan pernikahan. Layla berharap akan menua bersama hingga menutup mata bersama dengan Rudi. Tapi di saat ke tulusan berubah dengan benang kusut yang terjalin antara Rudi dan Melisa sudah cukup baginya untuk mengakhiri hubungan yang ada antara dirinya dengan Rudi.


Layla beranjak dari duduknya di ikuti dengan Amer yang juga ikut beranjak dari duduknya, Amer tidak mengeluarkan sekata patah pun hingga Rudi menyerukan penolakan.


"Maaf Layla, kau tidak akan bisa berpisah dengan ku! Jika alasan mu ingin berpisah dengan ku adalah pria ini!" Rudi menunjuk jari telunjuk kanannya pada Amer.


"Apa pun yang ingin kau katakan, katakan saja di pengadilan nanti, dasarrr pria brengsekkk!" Sungut Amer menatap tajam pada Rudi.


"Sialannn kau! Bedebahhh!"


Rudi hendak melayangkan pukulan tangannya pada wajah Amer, namun sayangnya Amer lebih jeli saat melihat gerakan tangan Rudi yang akan memukulnya.


Amer menepis tangan Rudi dan menariknya ke belakang, menahan tangan Rudi hingga menempel pada punggungnya.


"Aaaakkkkhh, tangan ku!" Rudi mengerang kesakitan.


"Jangan coba coba bermain main dengan saya ya! Anda belum tahu siapa saya!" Seru Amer dengan suaranya yang datar dan penuh penekanan.


"Ada apa ini!"


...Bersambung......


...💔💔💔💔💔...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭


Author gabut sebatas halu 😉

__ADS_1


__ADS_2