Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Mia


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Amer memperhatikan Layla yang diam saja saat Amer menyodorkan hapenya pada Layla.


"Layla, tadi kau bilang mau pinjam hape ku... kenapa sekarang kau diam saja?" Tanya Amer namun tidak di jawab oleh Layla.


Pletak.


Amer menjitak kepala Layla.


"Awh!" Layla mengaduh kesakitan dengan tangannya mengusappp bagian kepalanya yang di jitak Amer, "Tuan kenapa menjitak kepala ku?" Tanya Layla dengan polosnya.


"Tadi kamu bilang mau pinjam apa, La?" Amer menyodorkan hapenya ke depan wajah Layla.


Layla terkekeh, "Hihihi, pinjam dulu ya Tuan!" Tangan Layla menyambar hape dari tangan Amer.


Amer tidak banyak bertanya pada Layla, tentang alasan apa yang membuat Layla meminjam hapenya.


Amer memberi ruang untuk Layla sendiri dalam menggunakan hapenya, ia beralasan ingin ke luar dan menawarkan apa yang ingin Layla makan.


"Aku ke luar sebentar ya! Apa ada yang ingin kau makan, La?" Tanya Amer yang memilih melepas jasnya dan menaruhnya di sofa.


"Emmmm apa ya!" Layla tampak berfikir dengan menatap atap ruang rawatnya.


"Apa pun yang ingin kau makan, akan aku usahakan untuk mendapatkannya." Terang Amer.


Dengan berbinar Layla berkata, "Aku mau duren montong." Layla menunjukkan sederet gigi putihnya pada Amer.


Amer menatap Layla dengan melipat ke dua lengan kemeja biru dongker yang tengah ia kenakan, kau tampak bersinar di saat tersenyum, La... tetap lah tersenyum apa pun ke adaan mu!


"Apa ada lagi selain durian montong?" Tanya Amer.


"Es teller atau es buah rasanya segar." Layla menelan salivanya membayang es buah yang rasanya manis, dingin, segar di mulut.


"Tapi ini masih pagi, La... apa ada orang yang menjualnya di jam seperti ini?" Tanya Amer dengan menggaruk keningnya dengan jari telunjuk kanannya


"Tidak ada juga tidak apa, Tuan... aku tidak memaksa." Ujar Layla dengan wajah yang murung nampak kecewa dengan alasan Amer.


"Baik lah, akan aku usahakan untuk mendapatkannya." Amer meninggalkan Layla di ruang rawat VVIP mawar seorang diri.

__ADS_1


Layla mulai berseluncur menggunakan hape Amer.


Layla mengirim pesan pada nomor sahabatnya di kantor.


Hy Mia, aku izin tidak masuk kerja selama 3 hari ya, aku sedang di rawat di rumah sakit.


By : Layla Savinta.


Dengan cepat pesan itu di baca oleh Mia, sahabatnya Layla di kantor.


Mia tidak membalas pesan yang di kirim oleh Layla tapi Mia langsung menghubungi nomor telepon yang mengirimnya pesan.


[ "Halo Layla, La ini beberan lo La?" ] Mia tampak tidak percaya dengan orang yang mengiriminya pesan.


"Iya ini beberan gw, gw Layla Savinta... kenapa Mia?" Tanya Layla.


[ "Gw be- benaran lagi ngomong sama lo, La?" ] Tanya Mia lagi.


"Iya ih, lo kenapa si Mia? Ada yang salah sama pesen gw? Apa ada yang salah sama suara gw?" Layla mencecar Mia dengan beberapa pertanyaan.


Mia menyangka dan menuduh Layla menghubunginya menggunakan hape curian, apa lagi Mia menyimpan nomor kontak yang di gunakan Layla untuk mengiriminya pesan.


"Ihs, yang bener aja Mia... biar di kata gw ga punya duit sepeser pun, gw gak akan berani makan uang haram. Gw pinjam hape ini dari Tuan Amer, Tuan Amer juga yang udah bawa gw ke rumah sakit." ucap Layla dengan nada suara yang naik satu oktaf, gak nyangka gw... Mia bisa nuduh gw nyuri ini hape orang. Udah jelas jelas gw pinjam hape ini dari Tuan Amer.


[ "Sorry Layla, sorry banget kalo gw nyinggung lo... lo mau kan maafin gw, La? Gw percaya ko kalo lo gak nyuri ini hape orang, gw percaya kalo lo pinjem hape ini." ] Mia menyesal sudah menuduh Layla mencuri.


"Kali ini gw maafin lo, satu lagi... lo hapus itu nomor kontak gw dari hape lo." Ujar Layla.


"Loh, kenapa gw harus hapus kontak lo? Lo ganti nomor Layla? Atau hape lo di curi orang?" Tanya Mia.


Layla tampak berfikir sebelum menjawab pertanyaan Mia, ga mungkin gw bilang kalo hape gw di ambil bang Rudi terus bang Rudi kasih itu hape ke Melisa.


"Anggap aja hape gw ilang." Ucap Layla dengan suara yang pelan, ada rasa sedih yang menyelimuti hatinya hingga wajah Layla tampak sedih.


[ "Lo di rawat di mana, La? Biar nanti kalo sempet, gw jenguk lo." ]


Layla mengatakan dengan manja dan pura pura menangis karena senang dan terharu, "Aaaaah lo care banget si sama gw, Mia hiks hiks hiks, gw terhura Mia... sohib gw... pengen peyuk."


[ "Hehehehe, iya lah gw care, secara sahib lo cuma gw kan!" ] Mia terkekeh meledek Layla tapi itu kenyataannya, Mia sahabat satu satunya yang Layla miliki dari ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas sampai saat ini.

__ADS_1


"Ya udah ya Mia, gw gak enak nih kelamaan minjem hapenya, gw mau balikin dulu ke pemilik ini hape ya, dah Mia!" Layla memutuskan sambungan teleponnya.


Layla menaruh hape itu di atas ranjang rawatnya dan menangis sejadi jadinya.


"Ya Allah, kenapa berat sekali cobaan yang kau berikan pada ku? Apa salah yang pernah aku perbuat di kehidupan yang sebelumnya, hingga kau hukum aku dengan cara mu yang sadisss ini. Bang Rudi selingkuh dengan adik tiri ku, hape ku di rebut olehnya, aku di usir dari rumah di saat hujan menggur bumi mu, ya Allah... berikan aku kekuatan untuk melewati setiap cobaan yang kau berikan ini. Kuat kan lah aku dalam jalan terang mu." Gumam Layla.


Karena lelah menangis dan efek obat yang Layla minum, mata Layla terpejam dengan sendirinya.


Cukup lama Amer berdiri di depan ruang rawat Layla, hingga indra pendengaran Amer tidak lagi mendengar suara Layla yang tengah berkeluh kesah dalam tangisnya pada Tuhan sang pencipta, baru lah Amer kembali masuk ke ruang rawat.


Tangannya meraih kunci mobil yang tertinggal di saku jasnya yang ia letakkan di sofa.


Amer melangkah mendekati ranjang rawat inap Layla, "Aku jamin Layla, kamu akan berpisah dengan suami bejattt mu itu, akan ku buat kamu itu menjadi milik ku. akan ku buat dalam tangis dan do'a mu hanya ada kebahagiaan dan rasa syukur." Gumam Amer yang lantas mencuri kecupan di kening Layla.


Cup.


Amer meninggalkan Layla tidur di ruang rawat sementara ia pergi membeli apa yang Layla inginkan.


Amer menugaskan seorang security untuk berjaga di depan ruang rawat Layla.


πŸ€ Sementara di tempat lainπŸ€


Rudi tengah mabuk dan bermain judi kartu di sebuah gang dengan teman temannya.


"Ah kalah lagi gw, apesss banget sih hidup gw!" Rudi melempar kartu yang ia mainkan ternyata membuatnya kalah.


"Ahahhaha lo emang lagi apesss aja kali bang, apa lagi sekarang yang mao lo jadiin bahan taruhan, bang?" Tanya temannya Rudi, pria berkepala plontos.


"Duit gw udah abis buat taruhan dan beli minuman, motor udah gw jadiin taruhan dan ternyata kalah, apa lagi yang bisa gw jadiin bahan taruhan ya?" Rudi berfikir apa yang bisa ia jadikan bahan taruhan.


"Di rumah lo ada bini lo, bang?" Tanya pria berambut gondrong.


Rudi mengerutkan keningnya, Layla gak ada di rumah, udah gw usir semalam, "Kenapa lo nanya bini gw? Demen lo sama bini gw?" Tanya Rudi geram.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol 🀭

__ADS_1


Author gabut sebatas halu.


__ADS_2