Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Jadi benar Layla


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Suka banget ka, apa ini aku sedang di dunia nyata? Atau aku lagi mimpi ka? Apa mungkin ini halusinasi ku aja ya ka?" Oceh Layla.


Tak.


Amer menjitak kening Layla dengan kepalan tangannya.


"Awhh, sakit ih." Rengek Layla dengan mengusappp keningnya yang di jitak Amer.


Grap.


Amer membawa Layla ke dalam pelukannya, "Sekarang kau sudah sadar kan! Kalo ini nyata sayang!"


Layla menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Amer, jika ini nyata bukan lah halusinasi.


Dengan melangkah bersama, ke duanya berjalan menuju tepian kolam renang, tempat di mana ke dua nya akan melewati makan malam bersama, diner romantis yang sudah di persiapkan oleh Rafa dan beberapa maid lainnya.


"Kapan kaka menyiapkan ini semua? Kaka kan dari tadi terus bersama dengan ku." Layla duduk di kursi yang sudah di tarik oleh Amer.


Kini Amer mendudukan dirinya, di kursi satunya yang ada di hadapan Layla.


"Aku tidak melakukan apa apa, sayang. Aku hanya memberikan perintah pada Rafa untuk menyiap kan segalanya." Ujar Amer.

__ADS_1


"Waaah tapi ini keren ka, aku sangat suka." Ucap Layla.


Rafa muncul di antara ke duanya dengan petikan gitarnya yang indah, dengan suaranya yang merdu. Rafa menyanyikan lagu romantis untuk ke dua Tuan-nya.


Layla dan Amer menikmatiii makan malam romantis mereka, di bawah sinar bulan yang terang. Dengan suara merdu Rafa yang menambah romantis suasana.


Sesekali Amer menyuapkan bagian makanan nya pada Layla.


"Udah ihs, aku juga ada bagian ku ka!" Seru Layla yang menolak, untuk di suapi Amer saat tangan nya terulur dengan sendok yang ada makanan nya.


"Tidak apa, kau butuh banyak asupan gizi. Kau kan baru sembuh." Ucap Amer.


...πŸ‚ Kediaman AlanπŸ‚...


Ia melewati begitu saja beberapa penjaga yang berdiri di depan pintu masuk, tanpa ragu, Nusi melangkah masuk ke dalam salah satu ruang yang ada di lantai satu.


Tok tok tok.


"Pak ini saya Nusi, boleh saya masuk pak!" Suara Nusi dari luar ruang kerja Alan.


"Masuk lah!" Alan membiarkan Nusi untuk memasuki ruang kerjanya.


Ceklek.

__ADS_1


Nusi mendapati Tuannya Alan yang tengah duduk di kursi ke besaran nya, dengan tatapannya yang serius menatap layar laptop miliknya.


"Ini data data yang Tuan inginkan, semuanya ada di dalam sini." Nusi menyerahkan flash disk pada Alan.


"Biar ku lihat dulu! Apa ini benar, seperti apa yang sudah aku perintah kan pada mu?" Alan mengecek ke benaran dari flas disk yang ada di tangannya.


Alan menghubungkan flash disk yang ia peroleh dari Nusi dengan laptopnya. Hingga selang beberapa detik, muncul lah beberapa informasi penting mengenai Melisa.


Alan tampak geram dengan kepalan tangannya, saat membaca bagai mana perbuatan Melisa pada Layla saat masih tinggal bersama.


Meski pun Alan sendiri belum yakin, apa yang di maksud dengan Layla itu adalah Layla yang sama, dengan Layla yang di nikahi oleh Amer, pria yang menjadi lawannya kini.


Di saat Alan menscroll ke bawah, nampak beberapa foto yang menunjukkan siapa itu Layla, Melisa, serta orang tua mereka yang sudah tiada.


"Apa? Jadi benar Layla yang di maksud adalah Layla yang sangat aku benci?" Alan menyeringai.


"Benar Tuan."


"Kalo begitu, akan semakin mudah untuk ku membalas ke duanya, aku benar benar bisa memanfaatkan wanita itu!" Gumam Alan.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......

__ADS_1


Salam manis author gabut 😊


__ADS_2