
...💔💔💔...
"Aku harap kau akan menyukainya, Layla." Amer membuka kotak merah itu di depan Layla.
"Tuan, ini indah sekali!" Seru Layla dengan mata yang berbinar.
"Apa kau menyukainya, Layla? Permata dengan diseinnya ini sengaja aku pesan hanya untuk mu." Ucap Amer.
"Indah sekali Tuan, aku menyukainya!" Seru Layla dengan mata yang tidak berkedip dari kalung yang ada di dalam kotaknya.
"Biar aku pakaikan untuk mu! Tapi jangan panggil aku Tuan lagi Layla! Kita ini sudah sepakat, bukan!"
"Maaf, aku lupa. Aku juga tidak sengaja." Ucap Layla yang mengangkat rambunya dengan tangannya, membiarkan Amer melingkarkan kalung permata biru itu di lehernya.
Amer membuang nafasnya dengan lega, dengan begini, aku akan tahu di mana pun kau berada Layla!
"Terima kasih, ka Amer! Ini pasti sangat mahal! Apa aku harus mencicilnya?" Ledek Layla.
Amer mengerutkan keningnya, "Boleh, tapi kau harus melunasinya dengan cepat, bayar aku dengan cinta mu!" Amer mengerlingkan matanya.
"Ihs ka Amer!"
Amer membawa Layla dalam dekapannya, "Aku harap kau akan selalu mendapatkan kebahagiaan!"
Layla membatin, Tuhan... egois kah aku, jika aku ingin untuk selama nya berada di samping pria ini? Laki laki yang mencintai ku dengan tulus, berikan lah aku dan dirinya selalu ke bahagiaan yang melimpah, kelilingi lah aku dengan orang orang yang berhati malaikat seperti keluarga ini.
Matahari menyinsing menyinari bumi. Dengan sinarnya yang terang, menerobos masuk ke dalam kamar lewat celah jendela.
Layla yang sudah rapih pagi pagi sekali kini berada di dapur dengan di temani koki dan asistennya, membantu Layla menyiapkan sarapan.
Sedangkan kepala pelayan yang baru, bernama Rafa, terus berdiri tidak jauh dari calon ratu kediaman itu sendiri.
Rafa membatin dengan terus mengamati setiap pergerakan kecil yang di lakukan Layla pada bahan makanan yang tengah ia buat.
Pantas saja, Tuan Amer mau melakukan apa saja untuk calon istrinya ini. Nona ini bahkan tidak segan untuk bersenda gurau dengan pelayan, meski pun sedang di dapur, tapi wanita itu masih mau berbaur. Wanita itu benar benar tidak membedakan status dirinya yang merupakan calon Nyonya rumah. Sangat jarang aku mendapati calon majikan, yang mau turun tangan langsung dengan pekerjaan yang kotor seperti ini!
Layla menoleh ke arah Rafa yang kini berdiri di sampingnya dengan terhalang meja yang terdapat kompor.
"Boleh aku bertanya pada mu, pak!" Seru Layla.
"Selama saya bisa menjawab, pasti pertanyaan Nona. Akan saya jawab." Ucap Rafa.
"Kau itu pasti bisa menjawabnya, ini pertanyaan yang mudah, tidak sulit untuk menjawabnya!" Ujar Layla.
Koki membatin dengan menatap asistennya sepintas, seolah dirinya sedang bertanya lewat gerakan matanya, 'Mudah mudahan saja Nona Muda tidak menanyakan alasan bi Asih di pecat.'
Asistennya pun membalasnya, dengan mengerdikkan bahunya.
__ADS_1
"Apa kau tahu, pak Rafa! Kenapa bi Asih di pecat dari pekerjaannya?" Tanya Layla.
Rafa membuang nafasnya dengan kasar, untung saja Tuan Amer sudah mewanti wanti diri ku... jika Nona menanyakan hal ini pada ku.
"Jika bi Asih masih bekerja di sini, bagai mana dengan saya, Nona? Pasti saat ini saya masih dengan pekerjaan saya di hotel." Ucap Rafa.
"Jadi sebelum bekerja di sini, pak Rafa bekerja di hotel? Sebagai apa pak?" Tanya Layla dengan antusias.
"Saya manager umum hotel, tempat di mana Tuan Amer menanamkan modalnya." Ucap Rafa.
"Aku baru tahu, kalo ka Amer itu ternyata ikut menanam modal di hotel. Aku pikir ka Amer hanya bergerak di bidang karpet aja!" Ujar Layla.
Amer yang sudah rapih dengan setelan jasnya pun mengetuk pintu kamar Layla.
Tok tok tok.
"Layla! Apa kau sudah bangun? Ini sudah pagi, Layla!" Seru Amer dengan mengetuk pintu kamar Layla.
Namun tidak mendapat jawaban.
Tok tok tok.
"Layla, buka pintunya Layla! Katanya kau mau ke persidangan... ayo Layla, kalo tidak nanti kau bisa terlambat!" Oceh Amer.
"Aku tidak akan mungkin terlambat, ka Amer!" Ucap Layla yang kini berdiri di belakang Amer.
Puk.
Tangan Layla menepuk bahu Amer.
Sreet.
Hap.
"Akkh!" Pekik Layla, "Ini aku, ka!"
Dengan gerakan yang reflek. Amer menarikkk tangan yang mendarat di bahunya, siap menghempasss kan tubuh ringan seringan kapas itu ke lantai. Namun urung setelah ia tahu, jika ia hampir saja membuat Layla celaka.
Amer menahan tubuh Layla dengan satu tangannya yang menahan pinggang Layla.
Satu tangan Layla mencengkram lengan Amer, menahan dirinya agar tidak jatuh.
Tatapan mereka beradu pandang.
"Ka Amer! Bisa kau bantu aku berdiri!" Ucap Layla yang mulai pegel dengan pinggang belakangnya.
Sreek.
Bugh.
__ADS_1
Tangan Layla mendarat di bahu Amer, dengan tubuh mereka yang tanpa jarak.
Ke dua tangan Amer merengkuh pinggang Layla, menatap sepasang mata yang lentik dengan sesekali memejamkan ke dua matanya, bulu matanya yang menggoda, hidung Layla yang mancung, bibir Layla yang menggoda dengan Layla yang menggigit bibir bawahnya.
"Ka Amer! Apa yang sedang kau pandang ka?" Tanya Layla dengan mengangkat dagunya sedikit.
"Hanya bibir mu, nampaknya bibir mu merindukan ku!" Ceketuk Amer.
Layla mengerutkan keningnya, "Mana bisa bibir merindukan mu, ka?" Layla berusaha menjauhkan dirinya dari tubuh Amer yang tinggi dan gagah. Namun tangan Amer menahannya, hingga tubuh ke duanya saling menempel tanpa jarak.
"Mau ke mana? Apa kau tidak ingin terus dekat dengan ku?" Tanya Amer dengan menyeringai, tatapan matanya tajam seakan ingin menerkammm mangsanya.
"Aku harus ke pengadilan ka, ini sidang mediasi ku!" Ucap Layla.
"Lantas!" Seru Amer dengan santainya.
"Aku ingin mengakhiri pernikahan ku dengan, bang Rudi." Ucap Layla, aku harus mengakhiri nya.
Amer menyambir bibir ranum Layla dengan rakusnya, melumattt bibir yang sejak tadi menggodanya. Hingga Amer menyudutkan tubuh Layla di pintu kamar Layla.
Tak tak tak tak.
Amer dan Layla mendengar suara langkah kaki menaiki anak tangga.
"Ka, ada yang dat-- emmmm!"
Amer melumattt kembali bibir ramun Layla, karena yang ada di pikirannya pasti hanya lah Rafa atau pelayan lainnya, yang datang untuk sekeder mengingatkan mereka untuk turun.
"Ehem ehem." Suara deheman, seorang wanita paruh baya nampak di telinga ke duanya.
Layla memukulll keras dada bidang Amer, hingga akhirnya bibir Amer melepasss kan pagutannn nya. Dengan gerakan yang cepat, Layla langsung membuka pintu kamar dan menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.
"Mama mengganggu saja!" Seru Amer saat membalikan badannya, menatap wanita paruh baya yang tengah menyilangkan ke dua tanyakan di depan dada.
"Hey anak nakal! Siapa suruh kau buat mama dan papa mu ini menunggu lama? Apa kau tau, masakan calon menantu mama itu sangat enak! Rasanya sulit jika mama melewatkan sarapan bersama dengan kalian!" Celetuk Noer yang melenggang pergi meninggalkan Amer.
Amer memukulll angin, ah sialll mama ku ini seperti kuyang saja!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran ðŸ¤ðŸ¤
Author gabut sebatas halu 😊
__ADS_1