
...💔💔💔...
"Benar Tuan."
"Kalo begitu, akan semakin mudah untuk ku membalas ke duanya, aku benar benar bisa memanfaatkan wanita itu!" Gumam Alan.
"Sudah pasti Tuan, bahkan wanita itu tidak kalah jahatnya dengan anda Tuan." Ucap Nusi.
Alan menyeringai, "Kau benar, ada seorang adik yang tega merebut suami kakanya sendiri! Heh, sulit di terima akal sehat, bukan begitu Nusi?" Ucap Alan dengan sinis.
"Benar Tuan, apa Tuan tidak tertarik pada Nona Layla?" Tanya Nusi.
"Aku tertarik pada wanita sialannn itu? Jangan mimpi! Mana mungkin aku bisa tertarik pada wanita itu! Dia jauh dari tipe ku, Nusi!" Alan berkata dengan sinis.
"Lalu apa alasan Tuan, yang menginginkan Nona Layla mengerjakan setiap disein nya di kantor Ardiansyah group?"
"Aku akan mempersulitnya, kalo bisa aku akan berusaha untuk mendekati nya, membuat hubungannya dengan Amer berantakan, dengan begitu sangat mudah untuk menghancurkan perusahaan nya." Alan mengepal kan tangannya.
"Sayang Tuan kalo hanya untuk di hancurkan perusahaan nya, lebih baik Tuan ambil alih saja, hitung hitung melebarkan sayap usaha Tuan." Ujar Nusi.
"Iya, kau benar juga Nusi. Kalo begitu, buatkan beberapa orderan untuk pihak Amer Crop. Agar Nona Layla bisa segera bekerja di kantor ku." Alan beranjak dari duduknya, melangkah kan kakinya ke luar dari ruang kerjanya, di ikuti oleh Nusi yang berjalan mengekori Tuannya.
"Aku ingin, selama Nona Layla di kantor, ia mengerjakan tugasnya di ruang kerja ku! Kau tau kan, apa maksud ku?" Alan berkata tanpa menoleh.
"Segera akan saya siapkan, Tuan. Seperti apa yang Tuan inginkan." Ujar Nusi.
...🍂Ke esokan hari nya🍂...
Pagi hari yang cerah, menjadi saksi kebersamaan Layla dan Amer di ruang makan. Mengawali hari mereka dengan mengisi perut, sebagai asupan energi untuk mereka melakukan aktivitas hari ini.
"Emmmmh ka, hari ini aku masih bisa bekerja di tempat kaka kan?" Tanya Layla di saat tengah tengah sarapannya.
Sebelum menjawab, Amer meraih gelas yang berisi air putih, yang ada di hadapannya. Lalu menengguk minumnya.
Layla memperhatikan jakun Amer, yang bergerak seirama saat Amer menenggak minuman nya. Wajah Amer yang ke arab araban, hidung mancung, alis tebal, iris mata yang kecoklatan, tulang rahangnya yang tegas, menampah ketampanan pada diri Amer.
"Selama belum ada orderan dari pihak Alan, pasti kau akan tetap berada di kantor Amer Crop, sayang!" Amer melanjutkan makannya, dengan mematap wajah Layla.
__ADS_1
Layla terus memperhatikan wajah Amer, ya ampun, ka Amer... kenapa hari ini terlihat begitu tampan? Terlihat begitu memggoda, ka Amer... kau membuat hati ku melelehhh, kalo kata es batu yang lagi ada di gurun yang panas, cair secair cairnya.
"Layla? Hei? Apa ada yang salah dengan wajah ku?" Amer meraba wajahnya sendiri dengan tangan nya, saat dirinya menyadari Layla yang terus memperhatikan wajah nya.
"Eh, emmh ti- tidak ka... Tidak ada yang salah dengan wajah kaka hehehe ayo lanjutkan sarapannya lagi ka!" Ujar Layla yang merasa malu, aksinya yang tengah memperhatikan wajah Amer kepergokkk si empunya wajah.
Amer terkekeh, "Apa kau sedang memandangi wajah ku, sayang?" Amer menggoda Layla.
Wajah Layla bersemu, namun tidak menjawab ledekan Amer. Layla justru beranjak dari duduknya, tangannya meraih tas yang ada di kursi sebelahnya, lalu menyantel tasnya di bahu.
"Ayo kita berangkat, ka!" Layla menyunggingkan senyum manisnya pada Amer.
Amer beranjak, lalu melingkarkan satu tangannya di pinggang belakang Layla. Ke duanya melangkah bersama meninggalkan ruang makan.
"Kami jalan dulu ya, pak!" Ucap Layla pada Rafa, seolah ia sedang berpamitan.
"Selamat beraktifitas Nona, Tuan! Semoga hari kalian, menyenang kan." Ucap Rafa yang mengantar ke duanya sampai menaiki mobil.
Layla masuk ke dalam mobil lebih dulu, setelah itu baru Amer. Dengan pak Jojo yang mengemudi.
"Pak Hendra ko ngak kelihatan ya, ka?" Tanya Layla yang tidak melihat keberadaan Hendra.
Layla mengerutkan keningnya, menatap curiga pada Amer, "Kaka sedang tidak membohongi ku kan?"
"Mana mungkin aku berbohong pada mu, sayang." Kilah Amer.
...☘️☘️...
Sementara Gunawan, baru saja mendapat kiriman email dari pihak Ardiansyah group. Gunawan langsung mencetak, apa yang di kirimkan asistennya Alan, yang nantinya akan di berikan pada Tuannya Amer.
Setelah itu, Gunawan langsung turun ke lobby, untuk menyambut ke datangan Tuannya di perusahaan.
Mobil yang di tumpangi Amer, berhenti tepat di depan pintu lobby hotel. Scurity yang berjaga pun langsung membukakan pintu untuk Tuannya. Menyambut ke datangan Tuannya.
Ceklek.
"Selamat datang, Tuan!" Ucap scurity, yang selalu sopan untuk menyapa, siapa saja yang datang ke kantor Amer.
__ADS_1
"Terima kasih, pak!" Ucap Amer setelah ke luar dari dalam mobil.
"Selamat bekerja, pak!" Ucap Layla saat ke luar dari dalam mobil.
"Selamat datang, Tuan." Sapa Gunawan, dengan mengikuti langkah kaki Tuan-nya di belakang Amer, sedangkan Layla melangkah beriringan dengan Amer.
"Apa ada yang ingin kau sampai kan pada ku, Gunawan?" Tanya Amer tanpa menghentikan langkah kakinya, atau pun menoleh ke arah Gunawan.
"Ada Tuan, pak Nusi selaku asisten nya sudah mengirimkan beberapa orderan untuk satu tahun ke depan." Ucap Gunawan.
Layla membola dengan langkah kakinya yang terhenti, saat mendengar orderan untuk satu tahun ke depan.
"Apa? Satu tahun ke depan? Apa gak salah dengar itu, ka Gun?" Tanya Layla pada Gunawan.
"Dari email yang saya dapatkan pagi ini, memang untuk satu tahun, Nona." Gunawan ikut menghenti kan langkah kakinya, menjelaskan pada Layla.
Amer yang tidak menyadari, jika istri dan asistennya berhenti mengikuti nya, tetap melangkah ke arah lift.
"Apa Ardiansyah group mencantum kan keterangan, kapan saja barang orderannya untuk di kirim?" Tanya Amer.
Sedangkan beberapa karyawan yang melihat Amer berbicara sendiri, menatap aneh wajah bos nya.
"Maaf pak Amer... bapak lagi ngomong sama siapa ya?" Tanya karyawan wanita yang baru saja ke luar dari ruang HRD.
Amer mengerutkan keningnya, "Tentu saja aku sedang berbicara dengan asisten baru ku Gunawan, apa ada yang salah dengan ku?" Tanya Amer.
Wanita itu menutup mulutnya dengan tangannya, menahan tawanya, "Maaf pak, saya tidak melihat ada asisten bapak, saya hanya melihat bapak tengah berjalan seorang diri."
"Apa kau bilang? Aku tidak sendiri, tapi di sini juga a---" Amer menoleh ke belakang dan menjeda perkataannya, "Tadi ada Layla dan Gunawan! Tapi ke mana mereka?" Amer bermonolog pada dirinya sendiri.
"Ka Amer! Kenapa meninggalkan ku?" Tanya Layla yang berdiri tidak jauh dari Amer, dengan Gunawan yang bersama dengan Nona Muda nya.
"Kalian yang dari mana saja heh?" Amer menatap ke duanya dengan penuh selidik.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
__ADS_1
Salam manis author gabut 😊