Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Bukan ke dua orang itu


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Kenapa nasib gw jadi gini banget ya! Lo di mana sekarang Layla, apa lo mikirin gw saat ini?" Melisa bergumam di depan foto Layla yang terpasang di dinding tengah tersenyum seorang diri.


Suara pintu di ketuk dari luar.


Tok tok tok tok.


"Siapa sih yang dateng bertamu jam segini... gak tau orang lagi cape apa!" Melisa menggerutu.


Tok tok tok tok.


"Iya, tunggu sebentar!" Seru Melisa dari dalam rumah.


Kakinya melangkah untuk membukakan pintu.


Ceklek.


Berdiri seorang pria berbadan tegap dengan rambut gondrong tengah menyeringai saat pintu di buka oleh Melisa.


Pria berambut gondrong membatin dengan menatap Melisa dari ujung kaki sampai ujung rambut, gila ini sih lebih bening dari bininya bang Rudi, gak salah gw desek Rudi buat jadiin bininya taruhan, ikan kakap yang gw dapet.


Melisa yang di tatapnya menjadi jengah, "Heh! Situ gak sopan ya! maen sembarangan ketok pintu rumah orang, sekarang natap saya juga kaya gitu!" Melisa mengomel dengan ketus, ke dua tangannya berada di pinggang.


Aiiih galak juga ternyata, makin demen nih gw!


"Maaf ya neng cantik, saya temannya bang Rudi...bang Rudi bilang ada urusan sama saya, saya di suruh menuggu bang Rudi di rumahnya, ini benar rumah bang Rudi kan?" Tanya pria berambut gondrong dengan sopan.


Melisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Iya benar ini rumah bang Rudi... tapi bang Rudi lagi gak ada di rumah." Ujar Melisa dengan menatap tajam pria berambut gondrong, harus was pada ini gw, tampang ini cowo kaya reman bin nyeremin.


"Tadi kan saya sudah bilang sama neng cantik, bang Rudi menyuruh saya untuk menunggunya di rumah bang Rudi."


Melisa tampak berfikir, apa iya bang Rudi beneran nyuruh ini reman nunggu di rumah? Gak yakin gw bang Rudi bisa kenal sama ini cowo!


Pria berambut gondrong mengepalkan ke dua tangannya, kayanya ini cewek gak percaya deh sama gw!


Pria berambut gondrong itu tidak ke habisan akal, ia mengeluarkan hapenya dari saku celana jins yang ia kenakan, menyodorkannya pada Melisa, "Neng cantik bisa hubungi bang Rudi jika memang tidak percaya dengan saya!"


Melisa mengerutkan keningnya, kalo gw telpon bang Rudi, yang ada bang Rudi nanti marah lagi sama gw! Apa gw suruh aja ini orang buat masuk ya?


"Gimana neng? Atau biar saya aja ya yang telpon bang Rudi, biar neng yang tanyakan langsung sama bang Rudi!"


"Gak usah, kalo bener ada urusan sama bang Rudi... situ masuk aja!" Melisa membiarkan pria berambut gondrong memasuki rumahnya.


Dengan seringai liciknya, pria berambut gondrong mengikuti langkah kaki Melisa.


"Tunggu di situ!" Melisa menyuruh pria itu menunggu di ruang depan dan duduk di sofa.

__ADS_1


Melisa hendak meninggalkan pria itu sendiri.


"Neng cantik mau pergi ke mana? Mending temenin abang, duduk di sini!" Seru pria berambut gondrong dengan tangan kanannya menepuk sofa yang ada di sebelahnya.


"Saya mau ke mana, itu bukan urusan situ!"


Brak.


Melisa menutup pintu kamarnya dengan kasar.


Melisa mendudukkan dirinya di tepian kasur, siapa sih itu cowo... nyebelin banget, udah gondrong, item, bada gede, idup lagi, nyempit nyempitin muka bumi ini aja sih!


Melisa menghubungi Rudi lewat hape milik Layla.


"Abang, lo di mana?" Tanya Melisa saat Rudi sudah menjawab panggilan teleponnya.


[ "Bukan urusan lo!" ]


"Ih, itu ada temen lo di rumah, cowo dekilll, rambutnya gondrong." Terang Melisa.


[ "Iya, gw langsung pulang!" ] Rudi mematikan sambungan teleponnya.


Sementara Melisa enggan ke luar kamar, Melisa mengunci dirinya di dalam kamar.


Pria berambut gondrong menggenggam hapenya dan mengirimkan pesan pada Rudi.


"Beres!" Pesan balasan dari Rudi.


πŸ‚Rumah sakitπŸ‚


Mia memasuki ruang rawat Layla tanpa mengetuk pintunya lebih dulu.


Ceklek.


"Sialannn lo, gw pikir siapa yang datang!" Seru Layla saat melihat Mia memasuki ruang rawatnya dengan membawa banyak tentengan.


"Ahaha lo kata gw ini hantu, yang mau jenguk lo?" Mia menyimpan sebagian belajarannya dan juga tasnya di atas meja lalu membawa satu box donat ke arah ranjang Layla.


"Gimana ke adaan lo, La?" Mia cipika cipiki pada Layla.


"Ya Alhamdulillah mendingan ini."


Layla beranjak dari tidurnya dan memilih untuk duduk.


"Lo bukannya lagi kerja ya, Mia? Ko lo bisa ada di sini sih?" Tanya Layla saat Mia mendudukan dirinya di pinggiran ranjang rawat.


"Gw ke sini buat jadi perawat lo, sekalian ngerjain tugas nih gw... bantuan yuk! Ini kan tugas lo juga!" Mia membuka boxs donat, mengarahkan pada Layla, Layla mencomotnya dan memakannya, Mia pun ikut memakannya.

__ADS_1


"Ih lo mah gitu, udah tau gw lagi sakit masa di suruh kerja!" Layla mengerucutkan bibirnya.


"Justru lo lagi sakit, biar otak lo ora melehoy karena obat, hahaha." Ejek Mia.


"Lo belanja sebanyak itu, duit dari mana Mia?" Layla menunjukkan jari telunjuk kirinya pada meja yang terdapat banyak bungkusan belanjaan.


"Ada deh, yang pasti halal... udah ah, ini makan lagi atau lo mau gw ambilin yang lain?" Mia menyodorkan kembali boxs donat pada Layla.


Layla geleng geleng kepala, "Yang bener aja lo, makanan sebanyak itu mau kita yang habisin?" Layla mencomot kembali donatnya dan memakannya lagi.


Mia mengerdikkan bahunya, "Kalo lo sanggup buat habisin, gak masalah buat gw!"


"Ihs, lo kata perut gw karung... sanggup habisin itu semua!"


Mia memicingkan matanya pada hape ke luaran terbaru yang ada di dekat bantal kepala Layla.


"Hape siapa itu, La?"Tanya Mia dengan penasaran.


"Hape orang."


"Ko bisa ada sama lo?" Mia menatap curiga pada Layla.


"Iya, pak Amer yang beliin itu buat gw." Terang Layla.


"Uhuk uhuk." Mia tersendak donat ke dua yang tengah ia makan, gila itu kan hape mahal banget... ko pak Amer gak sayang ya beliin Layla itu hape?


"Biasa aja dong lo!" Layla mengambilkan botol minum mineral yang baru yang ada di atas lemari kecil dekat ranjang rawatnya.


Mia meminumnya, "Bang Rudi sama Melisa, ke mana La? Ko gw gak liet mereka sih?" Mia menaruh botol mineral di atas ranjang Layla.


Wajah sedih tampak di tunjukkan oleh Layla, "Gak tau gw kabar mereka berdua."


"Ko lo gak tau sih? Terus yang bawa lo ke rumah sakit? Bang Rudi atau Melisa?"


Layla membuang nafasnya dengan kasar.


"Bukan ke dua orang itu, Mia!"


Mia mengerutkan keningnya, "Kalo bukan mereka berdua, siapa dong yang bawa lo?"


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol 🀭


Author gabut sebatas halu.

__ADS_1


__ADS_2