
...πππ...
"Bang Rudi ngajak perempuan masuk ke dalam rumah? Semalam?" Tanya Melisa lagi untuk meyakinkan indra pendengarannya.
"Iya, neng!" Seru ibu berdaster dengan semangat, asiiiiik ada pertunjukan nih sebentar lagi, bakal rame nih.
Herman memicingkan matanya menatap tajam pada si ibu berdaster yang tampak sedang menantikan pertunjukan.
Melisa mematung untuk sesaat, otaknya mencerna apa yang baru saja si ibu katakan, apa benar bang Rudi ada di dalam bersama dengan wanita cantik? Untuk apa? Bang Rudi kan sudah memilih aku dari pada Layla yang nota benenya adalah istrinya.
"Udah lo gak usah mikir yang aneh aneh, mending gw dobrak nih pintu, dari pada lu percaya sama omongan ini ibu!" Herman bersungut.
"Yeeee, emang bener ko, bang Rudi tuh semalam masuk ke dalam rumah sama cewek cantik, seksi pula, waaah kalah deh sama penampilan lu neng Melisa! Ya kalo di lihat lihat itu cewek sama lembutnya kaya neng Layla, iya persis kaya neng Layla, tutur katanya lembut benerrr!" Si ibu beraster mengompori Melisa.
Jangankan ibu berdaster, para tetangga yang tinggal di lingkungan Melisa saja tahu jika Melisa sudah memiliki hubungan terlarang dengan kaka iparnya sejak lama. Namanya cinta itu buta, Layla tidak menghiraukan perkataan dan aduan dari para tetangganya, ia percaya dan yakin jika suaminya lelaki yang setia, kedekatan Rudi dan Melisa hanya lah sebatas kaka dan adik.
Hingga waktu juga yang membuktikan dan membuka mata Layla yang sudah di butakan oleh cinta.
Dengan mata dan kepalanya sendiri, Layla menyaksikan Rudi dan Melisa tengah bermain gila di ranjang yang selama ini menjadi tempat beristirahat Layla dari kesibukannya setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya, tempat di mana Layla berbagi tempat tidur bersama dengan suaminya juga dan justru di nikmati pula oleh adik tirinya, Melisa.
Namun sayangnya saat itu para tetangga tidak ada yang tahu akan Layla yang memergoki tingkah bejattt keduanya.
"Mending lo pergi deh, bu! Atau mau sepatu gw melayang di muka lo?" Herman menunjuk sepatunya dengan jari telunjuknya sedangkan matanya menatap tajam pada si ibu berdaster.
"Huuuu mau seenak jidat lo aja maen lemaparrrr itu sepatu, sepatu butut udah butut pake bau lagi, uuuuuwek!" Si ibu berdaster berlagak ingin mengeluarkan isi perutnya membayangkan sepatu yang kini di kenakan Herman sangat lah bau.
"Kampretttt nih si ibu, bener bener minta gw lempar lo ya!" Dengan tangannya Herman hendak melayangkan salah satu sepatunya ke arah si ibu berdaster.
Bugh.
__ADS_1
Sepatu Herman melayang di lempar ke arah si ibu, tapi sayangnya si ibu berhasil menghindar dari sepatu yang di layangkan Herman ke arahnya.
"Kaga kena! Weeeek!" Si ibu menjulurkan lidahnya ke arah Herman lalu pergi kocar kacir.
"Dasarrrr kampung sablenggg!" Sungut Herman.
Plak.
Melisa menoyor kepala plontos Herman, "Lo begooo! Udah tau si ibu sablenggg, pake lo timpalin!Sama sablengggnya kan lo sekarang sama si ibu berdaster tadi!" Oceh Melisa lalu mendorong Herman untuk fokus pada pintu.
Dalam hitungan ke 3, Herman mendobrak pintu rumah Melisa dengan lengannya yang keras.
"Satu, dua, tiga!"
Bugh.
Prak.
Herman menggeser tubuhnya dan memberi ruang untuk Melisa masuk ke dalam rumahnya, tampak kacau dengan di atas meja terdapat beberapa botol minuman yang memabukkan tanpa isi, beberapa sisa puntung roko, kulit kacang yang berserakan di mana mana.
"Astaga, kelakuan siapa ini?" Melisa tercengang.
Matanya kini mengarah pada kamar yang ia tempati.
"Bang Rudi pasti ada di dalam." Gumam Melisa dengan yakinnya Rudi berada di dalam kamarnya.
Brak.
Hasilnya kosong, Rudi tidak ada di kamarnya, kamar Melisa masih tampak seperti beberapa hari yang lalu saat Melisa di larikan ke rumah sakit.
__ADS_1
Tatapan Herman dan Melisa kini mengarah pada kamar yang satunya, kamar yang selama ini di tempati Rudi bersama dengan Layla.
Brak.
"Bang Rudi!" Seru Melisa yang seketika darahnya mendidihhh, berkecamukkk muakkk dan marah.
Herman hanya menatap sinis pada Melisa, mang enak lo!
πDi rumah sakitπ
"Perempuan atau laki laki?" Tanya Amer dengan tegas.
"Perempuan, pak... dua orang." Terang Hendra.
Layla menggenggam pergelangan tangan Amer, "Biarkan saja mereka masuk, Tuan." Ucap Layla yang tidak mau ambil pusing dengan tatapan matanya yang teduh.
Amer menoleh ke arah Layla, "Ya sudah jika itu mau mu!" Amer mengalah pada Layla dengan membiarkan ke dua tamu yang tidak Amer ke tahui untuk masuk ke dalam ruang rawat Layla.
Hendra berjalan ke luar dan mempersilahkan untuk tamu Layla masuk ke dalam ruang rawat.
"Kalian sedang apa di sini!" Seru Amer dengan mata yang menatap tajam pada ke duanya.
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
__ADS_1
Author gabut sebatas halu π