
Setelah Amer menyelesaikan urusannya di kantor, Amer kembali lagi ke rumah sakit dengan pak Jojo yang mengemudikan mobilnya, sedangakan Amer duduk di kursi belakang dengan menyandarkan punggungnya dan melonggarkan ikatan dasinya.
"Kita mau ke mana, Tuan?" Tanya pak Jojo.
"Antar saya ke rumah sakit, pak!" Seru Amer pada lelaki paruh baya yang sudah ikut bekerja dengannya sejak perusahaan di pegang oleh orang tua Amer.
"Bagai mana dengan keadaan, Nona itu Tuan?" Tanya Jojo dengan melirik Tuan-nya Amer dari balik kaca spion mobil.
"Layla Savinta, pak... bapak bisa memanggilnya Nona Layla!" Terang Amer memberitahu nama wanita yang di maksud Jojo.
"Iya Tuan, namanya cantik Tuan... sama seperti orangnya, pasti peringainya juga baik sampai Tuan mau menolongnya sejauh ini." Ujar Jojo panjang lebar, baru kali ini aku melihat Tuan Amer mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk seorang wanita.
"Sangat baik, pak... tapi sayangnya dia terlalu lemah, sangat perasa dan pemaaf." Amer memijat keningnya dengan tangannya yang menyandar pada pintu mobil.
"Maaf, Tuan jika saya lancang... apa Tuan Amer mencintai wanita itu?" Jojo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mudah mudahan saja Tuan Amer tidak marah jika aku bertanya seperti itu.
Amer menajamkan sorot matanya pada Jojo, "Apa aku terlihat seperti itu, pak?" Tanya Amer yang melihat dirinya pada pantulan kaca spion mobil dengan menoleh kanan dan kiri pada pipinya.
Pak Jojo terkekeh, "Hihihi, bukan begitu Tuan... jika Tuan benar benar mencintainya, kenapa tidak langsung Tuan nikahi saja, umur Tuan juga sudah pantas untuk menikah, bahkan sudah pantas untuk menimang anak." Terang Jojo, Tuan Amer ini kan pemimpin perusahaan yang terkemuka, sudah gagah, tampan, berkharisma tapi sayangnya Tuan belum juga mau menikah, entah apa yang selama ini Tuan tutupi hingga Tuan Amer seperti menjaga jarak pada setiap wanita yang ingin mendekatinya.
Amer menyandarkan kembali punggungnya pada kursi mobil, "Saya harus lebih bersabar pak untuk mendapatkan hatinya Layla." ke dua mata Amer terpejam membayangkan bagai mana caranya untuk mengajak Layla serius dalam hubungannya sedangakan Layla sendiri masih di landa trauma psikisnya.
Luka fisik yang Rudi berikan tidak lah seberapa tapi hati Layla yang merasa di khianati oleh orang terdekatnya, rasanya sangat sulit untuk Layla bisa percaya dengan orang orang yang ada di sekitarnya.
"Kenapa Tuan tidak meminta bantuan Nyonya besar saja?" Tanya Jojo yang tiba tiba ingat dengan Nyonya besarnya, ibu dari Amer.
"Aku tidak ingin melibatkannya, pak... mama bahkan belum tau jika aku mencintai seorang wanita yang sudah bersuami." Amer mengatakannya dengan ke dua mata yang terpejam.
Ciiiit.
Pak Jojo menginjak pedal rem saking kagetnya mendengar Tuannya Amer jatuh cinta pada wanita yang berstatus kan istri orang.
Tubuh Amer terhuyung ke depan dan jika tidak mengenakan sabuk pengaman, sudah di pastikan jika kening Amer pasti akan membentur jok mobil yang sedang di duduki Jojo.
"Ihs pak, biasa aja dong pak bawa mobilnya!" Gerutu Amer.
__ADS_1
Jojo memiringkan duduknya dan membungkukkan badannya sembari berseru, "Maaf Tuan, saya refleks menginjak pedal rem saking terkejutnya mendengar pengakuan Tuan barusan!"
"Ihs tenang pak, saya bukan pria yang merebut Layla dari suaminya, rumah tangga mereka memang tidak bisa lagi di pertahankan. Wajar dong jika saat ini saya ingin mendapatkan cinta pertama saya kembali!" Amer menarik sudut bibirnya ke atas, rona bahagia kini terpancar pada wajahnya.
"Yah kalo begitu mah pak Jojo pasti bakal dukung Tuan lah. Maju terus Tuan, buat Non Layla menjadi ratu di rumah." Ujar Jojo yang melajukan kembali mobil yang tengah ia kemudian. Sekarang aku jadi tau alasan Tuan Amer yang belum kunjung mengakhiri masa lajangnya, rupanya Tuan menunggu cinta pertamanya. Saya do'akan Tuan bisa bersatu dengan cinta pertama Tuan, saya harap Nyonya dan Tuan besar tidak menjadi penghalang untuk bersatunya Tuan Amer dan cinta pertamanya itu.
π Rumah sakitπ
Herman membawa pulang Melisa dengan menanda tangani surat pernyataan pada pihak rumah sakit.
Melisa hanya diam tidak banyak bicara di saat dirinya di dorong dengan kursi roda menuju pelataran parkir, mobil taksi sudah menunggu ke pulangannya yang akan membawanya pulang ke rumah.
Melisa mencari cari keberadaan Rudi, di mana bang Rudi? Sejak aku sadar hingga saat aku ke luar dari rumah sakit, aku sama sekali tidak melihat bang Rudi. Mungkin bang Rudi tengah menyiapkan kejutan untuk ku di rumah, ya mungkin, bisa saja begitu kan! Tunggu aku pulang, bang Rudi.
Melisa membesarkan hatinya sendiri saat tidak melihat keberadaan Rudi, memupuk rasa percaya dalam hatinya jika Rudi tengah membuat kejutan untuk menyambut ke pulangan Melisa di rumah.
Tangan besar Herman menggendong tubuh montok Melisa memasukkannya ke dalam mobil.
"Ingat pesan saya ya, pak!" Seru dokter Maya yang mengantar Melisa sampai di parkiran rumah sakit.
Dokter Maya mencondongkan tubuhnya dengan tangan kanannya yang terulur menyentuh bahu Melisa, "Obatnya jangan lupa di minum ya, bu! Jangan terlalu banyak gerak! Jangan melakukan pekerjaan yang berat berat dulu!" Dokter Maya mewanti wanti pada pasiennya.
"Pasti bu dokter, terima kasih sudah merawat saya!" Seru Melisa, males banget gw ada drama kaya beginian, cepat apa lo pergi, gw pengen cepet cepat pulang terus ke temu deh sama bang Rudi, bang Rudi pasti udah kangen banget nih sama gw! Melisa menarik sudut bibirnya ke atas dengan mata yang berbinar.
Mobil taksi yang membawa Melisa ke luar dari area rumah sakit menuju rumah yang selama ini di tinggalinya.
Beberapa kali Herman melirik Melisa yang duduk di kursi belakang dari balik kaca spion mobil.
"Apa lo liet liet? Gw tau, gw ini cantik, gak usah ngarep deh lo buat deket sama gw!" Seru Melisa dengan ketus saat matanya beradu pandang dengan Herman.
"Ihs sorry ya Mel, tadinya gw juga naksir berat sama lo, gw juga berharap banget sama lo, tapi setelah gw tau sikap lo ke gw kaya gini, rasanya sangat pantas ya gw bawa lo ke luar dari rumah sakit tanpa harus menunggu kondisi lo pulih! Dan satu lagi, gw minta lo balikin duit gw selama perawatan lo di rumah sakit!" Herman menatap sinis Melisa, tidak ada lagi rasa iba di ke dua mata Herman untuk Melisa.
"Bagus deh kalo lo mikir kaya gw, gw jadi gak perlu tuh repot repot buat ngejauhin lo! Biar nanti bang Rudi yang gantiin duit lo, paling berapa sih!" Terang Melisa dengan tatapan mata yang sinis dan bibirnya yang meremehkan Herman.
Herman menatap Melisa dengan malas, asal lo tau aja Melisa, orang yang selama ini lo pikir cinta sama lo, ternyata cuma manfaatin tubuh lo doang!
__ADS_1
"Duit dari mana bang Rudi buat gantiin duit gw?" Tanya Herman dengan sinis.
"Yah itu mah lo gak perlu tau bang Rudi duit dari mana, yang penting bang Rudi bisa ganti duit lo!" Terang Melisa, gw harap bang Rudi masih punya duit di ATM Layla, bisa lah di pake buat biaya rumah sakit gw selama ini.
Supir taksi yang sedari tadi diam namun menyimak pembicara 2 orang penumpangnya yang saling berargumen.
Supir taksi membuang nafasnya dengan kasar, begini nih, salah satu contoh wanita yang gak tau di untung plus gak tau diri, masih untung ada ini cowo yang mau sama dia, masih aja congornya ketus, gw sumpahin lo kaga ada yang mau cowo sama lu!
Melisa yang menyadari sedang di tatap oleh pak supir pun angkat bicara, "Kenapa, pak?" Tanya Melisa dengan tatapan yang tajam mengarah pada supir taksi yang sedang mengendarai mobilnya.
"Tidak ada, Nona." Ujar sopir taksi.
πRuang rawat Laylaπ
Layla baru saja membuka ke dua matanya, terbangun dari tidurnya.
Matanya mencari sosok pria yang sudah beberapa hari ini memberikannya perlindungan, pria yang sudah beberapa hari ini mencurahkan tenaganya, pikirannya dan isi dompetnya untuk Layla seorang.
"Apa Tuan Amer sudah pergi ke kantor ya?" Gumam Layla.
Layla memainkan hape yang ia dapat dari Amer. Di saat ia akan membukanya, matanya membola saat melihat wallpaper hapenya menampilkan dirinya dan Amer yang sedang bersama, di sana Layla dan Amer sama sama terpejam.
"Kapan foto ini di ambil?" Tanya Layla pada dirinya sendiri.
Ceklek.
"Kau sudah bangun?"
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
__ADS_1
Author gabut sebatas halu π