
...πππ...
Hingga suara ketukan pintu terdengar dan membuyarkan pandangan dan pikiran mereka.
Tok tok tok tok.
"Apa aku sudah bisa masuk!" Suara dokter Samuel yang tengah mengetuk pintu ruang rawat Layla dari luar.
"Masuk saja, dasarrr pengacau!" Gerutu Amer.
"Jangan begitu, Tuan." Ujar Layla.
"Ah kau ini, kau belum tahu saja dokter Samuel itu seperti apa!"
Dokter Samuel masuk ke dalam ruang rawat Layla tanpa perawat.
"Mau apa lagi kau ke sini?" Tanya Amer dengan menatap tajam Samuel tanpa berniat untuk beranjak dari duduknya. Tangannya menggenggam tangan Layla, seolah memberi tahu Samuel jika Layla adalah miliknya.
"Jangan pamer kemesraan, ini rumah sakit!" Celetuk dokter Samuel dengan mendudukan dirinya di sofa yang ada di dekat ranjang rawat Layla.
Layla menatap tangannya yang masih di genggam Amer, pantas saja.
Layla pun menarik tangannya dari genggaman Amer.
Amer berdecak di buatnya saat Layla menarik tangannya dari genggamannya, "Ihs kau ini!"
"Kapan aku bisa pulang, dok?" Tanya Layla pada dokter Samuel.
"Wah sepertinya wanita mu ini tidak betah berlama lama di rumah sakit ya!" Seru dokter Samuel dengan menopang ke dua tangannya pada pahanya, menatap tajam amplop coklat yang ada di tangan Layla.
"Sedang apa kau di sini? Pergi sana! Apa terlalu senggang waktu mu di rumah sakit ini hingga memilih duduk di sini?" Ketus Amer.
"Ihs, kau itu... ngomong ngomong apa itu yang ada di tangan mu, Layla?" Tanya dokter Samuel dengan jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah amplop coklat.
"Ini?" Layla menatap amplop coklat yang ada di tangannya.
"Iya lah, kau ini... jangan sampai ketularan loli seperti Amer." Ejek dokter Samuel.
Layla mengerutkan keningnya, "Loli? Apa itu loli?" Tanya Layla dengan polosnya pada Amer, seolah meminta Amer untuk menjelaskannya.
Dokter Samuel beranja dari duduknya, "Loli, Lo telat mikir kali... jadi inceran lo di embat orang lain. Hahhahah." Dokter Samuel tergelak sendiri dengan ocehannya.
Dokter Samuel tau benar akan kisah cinta Amer yang kandas dahulu sebelum mengutarakannya pada Layla. Bukan lagi cinta bertepuk sebelah tangan, tapi cinta yang terlalu banyak mikir dan menanggapinya dengan santai hingga saatnya tiba rasa kecewa yang Amer dapat karena wanitanya ternyata menikah dengan pria lain tanpa ia ketahui.
"Dasar sintinggg." Amer mengumpat dokter Samuel.
Dokter Samuel menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan menatap Layla dengan heran, "Oh ya, Layla. Apa kau punya saudara perempuan? Adik atau kaka perempuan gitu?"
Layla terperengah di buatnya, "Hah?" Mau apa dokter Samuel menanyakannya?
__ADS_1
Dokter Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apa hanya nama belakangnya saja yang sama? Savinta? "Sudah lah, kau mungkin tidak akan mengenalnya!" Dokter Samuel kembali melangkah ke luar dari ruang rawat Layla dengan mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Apa yang sebenarnya ingin dokter Samuel katakan ya, Tuan?" Layla malah bertanya pada Amer.
Amer mengerdikkan bahunya, "Entah lah, aku tidak tahu." Amer menangkup wajah Layla dengan ke dua tangannya.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Layla dengan tangannya yang memegang pergelangan tangan Amer.
"Telinga ku panas mendengar mu memanggil ku, Tuan!" Amer menatap sepasang mata coklat muda milik Layla, tatapannya penuh kelembutan dan kehangatan.
"Dari kemarin kemarin juga aku memanggil anda Tuan kan?" Layla mengerjapkan matanya.
"Ganti, aku tidak ingin di panggil Tuan oleh mu!" Amer mendekatkan wajahnya pada wajah Layla.
"Tuan, i- ini terlalu dekat! Tu- Tuan ---"
Deg deg deg deg deg.
Jantung Layla berdebar dengan sangat cepat apa lagi saat kening Amer menyentuh dengan kening Layla, hidung mereka saling bertautan.
"Apa yang kau rasakan, Layla?" Amer menarik sudut bibirnya ke atas.
"A- apa?" Layla balik bertanya.
"Apa ada getaran rasa di hati mu?" Aku harap kau memiliki rasa yang sama dengan ku, Layla. Maaf jika aku terlalu memaksa mu.
Layla memundurkan kepalanya dari wajah amer, "A- aku se- sesak." Layla memalingkan wajahnya yang bersemu dari Amer.
Dengan semangat Layla bertanya, "Kapan aku di perbolehkan untuk pulang, Tuan?"
"Setelah kau bangun tidur, baru aku akan menjawabnya... istirahat lah dulu!" Amer mengelus pucuk kepala Layla dengan sayang.
Layla mengangguk patuh.
Amer ke luar dari ruang rawat Layla.
Layla menatap amplop coklat yang ada di tangannya, "Akan aku serahkan ini pada mu, bang Rudi... secepatnya." Ujar Layla dengan senyum yang merekah, membayangkan jika ia akan lepas dari ikatan pernikahan yang tidak lagi membuatnya bahagia.
πDi ruang rawat lain, yang hanya berjarak 2 blok dari ruang rawat Laylaπ
Setelah beberapa jam di rawat. Melisa akhirnya dapat melewati masa kritisnya.
Melisa mengerjapkan ke dua matanya dan jemarinya mulai bergerak secara perlahan.
Sedangkan Herman yang berada di dalam ruang rawat Melisa bersorak senang, "Akhirnya lo sadar juga, Mel!" Seru Herman dengan menciumi jemari tangan Melisa dengan dirinya yang duduk di kursi dekat dengan ranjang rawat Melisa.
Melisa menarik tangannya, "Ihs, apa si lo!" Seru Melisa dengan suaranya yang lemah menarik tangannya dari genggaman tangan Herman, pria berkepala plontos yang selalu setia menemani Melisa tanpa ia tahu.
"Maaf, gw cuma terlalu senang liet lo udah sadar." Tatapan kecewa nampak di mata Herman, Melisa menolak kehadiran gw! Pasti yang dia harapkan cuma bang Rudi, sejahat itu Mel lo sama kaka lo sendiri, ngerebut suami kaka lo. Begooo nya gw malah jatuh cinta sama cewek yang gak bermoral seperti lo.
__ADS_1
Melisa mengedarkan pandangannya menatap ruang rawat dengan gordeng hijau dan dinding berwarna putih, tangan kiri Melisa menancap jarum infus.
"Gw di mana? Mana bang Rudi? Lo, lo ngapain di sini?" Melisa mencecar Herman dengan berbagai pertanyaan yang terlontar dari bibirnya yang pucat.
"Lo di rumah sakit."
Saat Melisa ingin beranjak dari tidurnya dan mendudukkan dirinya, Melisa meringis sakit, "Akkkkhhh." Tangannya dengan spontan menyentuh area sensitifffnya.
Ke dua tangan Herman yang kekar terulur memegangi lengan Melisa, "Lo jangan banyak gerak dulu! Lo itu harus betresss di atas tempat tidur." Gerutu Herman dengan cemas dan membantu Melisa tidur kembali di atas ranjang rawatnya.
"Gw kenapa? Kenapa xx gw sakit banget?" Tanya Melisa dengan ketus dan sorot mata yang tajam pada Herman, malas banget gw di sentuh sama lo, bajingannn lo!
"Lo itu habis ngejalanin oprasi kecil, ada luka robekkk pada area ke maluannn lo! Dan satu hal lagi lo saat ini sedang hamil dua bulan, jadi lo jangan banyak gerak." Terang Herman dengan berdiri di samping ranjang rawat Melisa mengatakan dengan terus terang apa yang terjadi pada wanita itu.
Jari tangan Herman terulur memencet tombol pada atas kepala ranjang rawat Melisa.
"Gw hamil? Dua bulan?" Melisa mengulangi perkataan Herman dengan suara yang bergetar.
"Iya, lo lagi hamil dua bulan, lo hampir kehilangan kandungan lo. Karena kejadian semalam itu. Tapi sumpah, gw gak berbuat kasarrr kan selama ngelakuinnn itu sama lo?" Celoteh Herman.
Melisa menggeleng gelengkan kepalanya, gw gak hamil, gw gak boleh hamil, kalo gw hamil, ini ini anak siapa? Semalam, semalam Andri dan Herman udah perkosaaa gw! "Aaaaaah." Melisa menjerit mengetahui dirinya hamil di tambah kejadian semalam yang membuatnya jadi seperti ini dan yang tambah membuatnya kacau, Melisa tidak tahu anak siapa yang ia kandung.
"Ini semua gara gara lo! Pergi lo dari sini! Dasar berengsekkk lo, bajingannn lo! Pergiii, pergiii gw muak liet muka lo!" Melisa mengamuk, bulir bening menetes deras dari pelupuk matanya, dengan berusaha bangun dari tidurnya dan meraih bantal yang ia gunakan untuk kepalanya, ia lempar ke arah Herman.
Ceklek.
Seorang dokter dan seorang suster masuk ke dalam ruang rawat.
"Ada apa ini?" Seorang wanita dengan jubah putih yang melekat pada tubuhnya menghampiri ranjang rawat Melisa.
"Saya tidak tahu, dok... tiba tiba saja dia mengamuk." Terang Herman yang di buat bingung dengan Melisa.
"Maaf, sepertinya anda harus ke luar." Seorang suster yang tadi masuk bersama dengan dokter mendorong Herman untuk ke luar dari ruang rawat.
"Tapi saya ingin melihatnya, sus!" Herman menolak untuk ke luar dan meninggalkan Melisa di dalam.
"Bapak tenang saja, ada dokter yang akan menangani... jika bapak ingin keadaan istri anda membaik, menurut lah, do'a kan yang terbaik untuk istri anda." Terang suster dengan menutup pintu ruang rawat dan menutup gordengnya pula.
Dokter dan suster menangani Melisa di dalam yamg terus histeris.
Sementara di luar Herman duduk di ruang tunggu sendirian. Rudi meninggal kan nya dan tidak kembali lagi saat tahu Melisa hamil, sedangkan Andri sudah lelah dengan menuggu Melisa di rumah sakit, jadi lah hanya Herman seorang diri yang menunggu Melisa.
Herman menggaruk kepalanya frustasi, "Apa gw salah ngomong ya tadi sama Melisa?"
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
__ADS_1
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
Author gabut sebatas halu π