
...💔💔💔...
"Maksud bapak, saya?" Layla menunjuk dirinya sendiri, setelah menoleh ke belakang.
"Tidak mungkin kan aku meminta Nusi, untuk pindah ke kursi belakang!" gerutu Alan dengan ketus.
Malas berdebat dengan Alan yang tidak mau mengenal kata kalah, Layla akhirnya menuruti.
Layla berkata tanpa menatap wajah Alan yang sedari tadi terus memperhatikan nya, "Apa begini baru benar, pak bos?" Layla memasangkan sabuk pengamannn pada tubuhnya.
Semakin di lihat dari dekat, kenapa semakin cantik? Ah sialll, ada apa dengan ku ini!
Alan mengalihkan perhatiannya, "Jalan Nusi! Kau tunggu apa lagi!" sungut Alan.
"Ini juga saya mau jalan, pak." ucap Nusi yang mulai melajukan mobil nya meninggalkan pelataran parkir gedung Ardiansyah group.
Beberapa menit kemudian, ke tiga nya berjalan bersama memasuki restoran yang cukup mewah, di kawasan yang cukup terkenal dan elit itu.
Seorang pelayan pria menghampiri Alan, "Permisi pak, apa bapak ini dengan pak Alan dan pak Nusi?" tanyanya dengan ramah.
"Iya, benar." jawab Alan.
"Kalo begitu bapak ikuti saya. Pak Aska sudah membuking tempat yang privat, untuk kalian sejak beberapa jam yang lalu!" ujarnya lagi.
Ke tiganya mengikuti arahan dari sang pelayan, sampai pada sebuah ruang, pelayan restoran membuka kan pintu.
"Silahkan tunggu di dalam, pak!" ujarnya yang lantas meninggalkan ruangan.
Alan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang, "Cukup berkelas juga restoran ini, selera pak Aska memang tidak bisa di anggap remeh." puji Alan untuk calon rekan kerjanya.
Alan menarik kursi untuk di duduki Layla, tapi Layla malah menduduk kan dirinya di kursi lain.
Nusi yang melihatnya langsung memberi tahu Layla, "Kau duduk lah di kursi yang di tarik pak Alan! Jangan buat pak Alan marah!" ucap Nusi dengan sedikit penekanan.
"Iya iya, bawel!" Layla kembali bernajak dan duduk di kursi yang di tarik Alan.
Alan mendudukan dirinya di samping Layla, sedangkan Nusi di sisi lain Layla.
"Apa kita akan berada lama di sini, pak?" tanya Layla pada Alan.
"Tidak tahu, bahkan orang yang kita ingin temui saja belum datang, kau sudah berani bertanya... lama atau tidak, tidak profesional sekali!" gerutu Alan.
Layla menatap Alan dengan pandangan yang sulit di artikan, bukan aku yang ingin menemui pak Aska, tapi kau pak Alan. Kenapa kesannya jadi aku... orang ingin menemui pak Aska! Pria aneh.
Ceklek.
Seorang pria berwajah tampan, berkarisma, masuk ke dalam ruang privat itu dengan wanita cantik yang mengekorinya.
"Maaf, sudah membuat anda menunggu lama." ucapnya dengan menjabat tangan Alan, yang berdiri untuk menyambut orang yang baru datang itu.
"Kami juga belum lama tiba di sini, pak Aska!" seru Alan.
__ADS_1
"Wah, rupanya ada wanita cantik juga di sini... halo Nona, maaf sudah membuat mu menunggu kama!!" ucap Aska yang menjabat tangan Layla.
"Bukan saya yang menunggu bapak, tapi bos saya yang menunggu ke hadiran bapak!" seru Layla dengan menarik tangannya, saat Aska hendak mencium jemari Layla.
Alan memicingkan mata saat melihat Aska berbuat tidak sopan pada Layla.
Alan langsung menarik tangan Layla, membuatnya menjauh dari Aska, "Bisa kita langsung saja, untuk membicarakan pekerjaan!" ujar Alan.
"Baik lah kalo begitu, time is money kan!" seru Aska dengan tatapan yang terus mengarah pada Layla.
Alan menyentuh ke dua bahu Layla, dan mendudukan nya di kursi, tempat Layla duduk sebelumnya.
Layla menatap Alan yang menduduk kan dirinya di kursi, kenapa aku merasa pak Alan sedang berusaha melindungi ku?
Meeting berjalan cukup alot, satu jam, dua jam, tiga jam sudah terlewat kan.
Alan dan Aska berjabat tangan, mana kala meeting mencapai ke sepakatan.
Alan langsung beranjak dari duduknya, "Kalo begitu kami permisi dulu, pak Aska! Sampai bertemu lagi pada meeting selanjut nya." terang Alan.
"Apa tidak sebaiknya kita makan siang bersama dulu, pak Alan!" Aska melirikkan matanya pada Layla, "Kasian Nona, ini sudah waktunya makan siang kan!" ujar Aska lagi.
"Tidak terima kasih! Ayo pak, kita kembali ke kantor!" Layla menarik lengan jas Alan.
"Kami permisi, pak!" Alan meninggalkan ruang meeting dengan menggenggammm pergelangan tangan Layla, tidak ada penolakan dari Layla.
Sampai di mobil, Alan menyandar kan punggungnya pada sandaran kursi, memperhatikan Layla yang seolah mencari cari benda di setiap saku blezer dan rok yang ia kenakan.
"Apa yang sedang kau cari, Layla?" tanya Alan dengan lembut.
"Anu pak, aku sedang mencari hape ku... tapi kenapa tidak ada ya!" ujar Layla dengan berusaha menampil kan wajah tenangnya.
Alan menyeringai, dia pasti ingin menghubungi Amer, kali ini kau tidak akan bisa makan siang dengan istri mu Amer. Tapi kau akan menghabiskan sisa waktu mu bersama dengan Melisa! Kau akan kehilangan Layla untuk selamanya!
Alan menatap tajam pada Nusi, memberikan perintah lewat matanya.
Ciiiiit.
Layla mengerutkan keningnya, "Kenapa kau menepikan mobilnya, pak Nusi?"
"Aku harus mengecek bannya, sepertinya tadi aku menginjak sesuatu." Nusi langsung ke luar dari mobil.
Ia berjalan ke roda belakang mobil, mencondongkan tubuhnya lalu mulai menjalankan aksinya, sesuai dengan perintah dan rencana Alan.
...🔥🔥🔥...
Sementara di tempat lain.
Amer menunggu di lobby hotel, mencoba berkali kali menghubungi nomor telepon Layla.
"Kau kemana Layla, kenapa kau tidak menjawab panggilan ku!" gerutu Amer yang tidak kunjung juga, di jawab panggilan teleponnya oleh Layla.
__ADS_1
Amer beranjak dari duduknya, mencoba menanyakan pada petugas resepsionis.
"Maaf Nona, apa kalian tidak tahu ke mana perginya bos kalian? Mungkin saja ada meeting di luar!" ucap Amer saat berdiri di depan meja resepsionis.
"Maaf pak, kalo itu kami tidak tahu. Kenapa bapak tidak coba tanya kan saja langsung pada pak Alan atau asistennya." usul salah satu petugas resepsionis.
"Ia juga ya! Kenapa tidak terpikir kan oleh ku!" gumam Amer.
"Ya sudah, terima kasih ya!" Amer langsung meninggalkan meja resepsionis, berjalan menuju mobil nya, yang terparkir di pelataran parkir gedung Ardiansyah group.
"Loh, Nona Layla nya mana, pak? Ko tidak bersama dengan pak Amer?" tanya pak Jojo, saat Amer mendudukkan dirinya di kursi belakang mobil.
"Layla tidak ada di tempat, pak Jo. Kita jalan saja pak Jo!" seru Amer meminta pak Jojo untuk meninggal kan gedung Ardiansyah group.
Pak Jojo melakukan apa yang di minta Amer, "Sekarang tujuan kita ke mana, pak?" tanya pak Jojo, yang belum tahu akan ke mana.
"Kau jalan saja dulu! Aku akan mencoba menghubungi pak Alan." sungut Amer.
Amer menempelkan benda pipih di telinganya, menunggu Alan menjawab panggilan teleponnya.
Mesin operator yang menjawab panggilan teleponnya.
[ "Nomor telepon yang anda tuju... sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi!" ]
Amer mencoba menghubungi nomor telepon Nusi, sang asisten Alan. Wajah Amer semakin di liputi rasa kesal, saat panggilannya di jawab oleh mesin operator.
[ "Nomor telepon yang anda tuju... sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi." ]
Amer melemparkan benda pipih itu dengan kesal, "Aaah sialll, kemana mereka membawa Layla! Apa yang sedang mereka lakukan pada Layla!"
Pak Jojo yang melihatnya tidak berani bersuara, hanya melirikkan matanya pada kaca spion, memperhatikan wajah majikannya.
Astaga apa lagi ini sekarang, jangan sampai terjadi apa apa pada Nona.
Bugh.
Ciiit.
Seketika pak Jojo menginjak pedal rem, saat mobil yang ia ke mudikan menabrak sesuatu, yang ada di depan mobilnya.
Amer mengerut kan keningnya, "Apa apa, pak?" tanya Amer pada sang supir.
"Maaf pak, sepertinya saya menabrak seseorang." ucap pak Jojo.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊
__ADS_1