
...💔💔💔...
Aulia menajamkan tatapan matanya pada Amer, "Ada yang ingin kau jelaskan pada ku, pak Amerkan Ahmad?" Tanya Aulia dengan suara yang tegas.
"Apa aku terlihat sedang menyembunyikan sesuatu?" Amer kembali bertanya pada Aulia.
"Kau itu tidak bisa menyembunyikan apa pun dari ku, pak Amer!" Seru Aulia.
"Oh ya? Jadi menurut mu begitu? Lalu apa yang kau tahu tentang ku?" Amer menantang balik Aulia yang mengatakan apa yang Aulia tahu tentangnya.
"Sudah lah, aku bosan berdebat dengan mu! Sudah cukup hari ini aku berdebat dengan model angkuh itu! Sudah angkuh, so jual mahal, so sibuk lagi... iiiyuh, menyebalkan." Aulia beranjak dari duduknya.
"Mau ke mana kau, Aulia?"
"Aku sibuk bos, bukan seperti mu yang bisa bersantai!" Aulia hendak meninggalkan ruang kerja Amer.
Pintu di ketuk dari luar.
Tok tok tok.
"Masuk lah!" Seru Amer menyuruh orang yang mengetuk pintu untuk masuk.
Aulia mengerutkan keningnya.
Ceklek.
Mia masuk ke dalam dan menundukkan kepalanya saat melihat Aulia yang berdiri tidak jauh dari pintu.
"Pergi lah, kau sendirikan yang bilang kau itu sibuk, Aulia!" Amer mengejek Aulia untuk meninggalkan ruangannya.
"Siapa juga yang mau lebih lama berada di sini!"
Brak.
Aulia menutup pintu dengan kasar.
"Sudah jangan perdulikan wanita itu! Silahkan duduk!" Amer menyuruh Mia untuk duduk di kursi yang ada di depannya.
"Ada apa ya pak, bapak sampai memanggil saya?" Tanya Mia saat mendudukan dirinya di kursi.
Amer menegakkan duduknya dengan ke dua tangan di atas meja.
"Begini, apa kau sudah mengambil cuti mu tahun ini?" Tanya Amer dengan menatap tajam pada Mia.
Kenapa pak Amer pake tanya soal cuti? "Emmm, tahun ini saya belum mengambil cuti, pak." Ujar Mia.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kau bekerja di kantor ini, Mia?"
Mia semakin di buat bingung dengan bosnya, "Lima tahun, pak."
"Kau bekerja di kantor ini bersama dengan Layla Savinta kan, kalau aku tidak salah menebak." Ujar Amer.
"I- iya pak.. memang ada apa ya pak? Apa saya sudah berbuat salah ya, pak?" Tanya Mia dengan tangannya yang berada di bawah meja saling bertautannn.
"Apa kau bisa meluangkan waktu mu untuk ke rumah sakit?"
Mia membola, "Apa pak? Ke rumah sakit? Untuk apa pak?" Bos Amer kenapa jadi aneh begini sih, bikin gw jadi takut aja.
"Emm begini saja, anggap aku meminta bantuan mu. Tolong temani Layla di rumah sakit, apa kau bisa?"
"Huuuh." Amer membuang nafas lega saat sudah mengatakan apa isi hatinya pada Mia.
Mia menarik sudut bibirnya ke atas, "Itu saja, pak? Tidak ada yang lain?" Tanya Mia.
"Iya hanya itu, memang ada lagi? Memang kau pikir aku meminta mu untuk datang ke ruang kerja ku untuk apa?" Kini amer menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Tapi pekerjaan saya, bagai mana pak? Saya masih banyak pekerjaan yang belum saya selesai kan!" Terang Mia.
"Kau bisa mengerjakannya di rumah sakit, aku anggap kau setuju dengan tugas ku kali ini!" Amer meraih hapenya dari atas meja, membiarkan jemarinya menari nari di atas hapenya.
"Kau bisa cek rekening mu sekarang, beli lah apa yang Layla inginkan!" Amer menaruh kembali hapenya di atas meja.
"Apa lagi yang kau tinggu? Cepat lah pergi ke rumah sakit, temani Layla." Ujar Amer yang melihat Mia masih diam tak bergeming.
"Oke lah kalo begitu, saya permisi pak!" Mia betanjak dari tempat duduknya dengan wajah yang sumringah.
"Tunggu Mia, kau bisa kan tidak mengatakan apa apa pada Layla, jangan katakan tentang uang itu." Oceh Amer.
"Beres, pak!" Mia mengacungkan jempol kanannya pada Amer, tiap hari aja kaya gini, gw jamin berangkas di rekening gw bakal cepet penuh kalo kaya gini caranya.
Mia di hadang oleh Aulia saat akan menuju ruang kerjanya.
"Permisi, bu... saya ingin lewat!" Seru Mia saat ia akan lewat tapi tangan Aulia di rentangkan hingga menghalanginya untuk lewat.
"Apa yang kalian bicarakan di dalam?" Tanya Aulia dengan sinis.
"Masalah pekerjaan, bu." Di jawab dengan santai oleh Mia.
"Jangan bohong kamu! Kata kan pada ku! Apa yang pak Amer katakan pada mu?" Aulia mendesak Mia untuk mengatakan apa yang di bicarakan mereka berdua di dalam.
Mia menajamkan tatapan matanya pada Aulia, sekretaris bos besarnya itu di kantor.
__ADS_1
"Kalo ibu Aulia memang sangat ingin tahu, ibu bisa tanyakan sendiri pada pak Amer" Mia melangkah maju dengan menepis tangan Aulia dengan tangannya.
Aulia di buat geram dengan tingkah Mia, "Berani sekali anak itu pada ku! Awas saja kau, akan ku beri perhitungan pada mu!" Aulia mengepalkan ke dua tangannya menatap puggung Mia yang semakin jauh dari pandangannya.
Mia merapihkan semua berkas yang ada di atas meja kerjanya, memasukkan laptop ke dalam tas yang ia kenakan.
"Mau kemana lo, Mia?" Tanya Nami teman satu divisi bagian disein yang tengah duduk di belakang laptopnya.
"Ada urusan urgent nih gw, gw balik duluan ya Nami!" Mia melambaikan tangannya pada Nami.
"Yaaah, tinggal gw dong yang sendiri di sini... kacau sih ini mah... ke mana lagi itu si Layla, pake gak masuk kerja lagi! Gw hubungi malah gak di angkat angkat." Gerutu Nami dengan jemari yang menari nari pada keyboard laptopnya.
Saat di lobby kantor, Reina menghentikan langkah Mia.
"Ehem, kamu dari bagian divisi disein kan?" Tanya Reina pada Mia dari meja resepsionis.
Mia berdiri di depan Reina yang terhalang meja resepsionis, "Iya, mbak!"
Mata Reina menatap tajam pada Mia saat melihat wanita itu membawa tas kerjanya.
"Ini masih jam kerjakan!" Seru Reina dengan sinis.
"Iya, mbak... tapi saya udah dapat izin ko buat pulang lebih awal." Oceh Mia, kaga tau bae lo.. pak Amer sendiri yang nyuruh gw pulang lebih awal.
Kening Reina semakin mengkerut dengan tatapan yang mengintimidasi, "Izin? Siapa yang kasih izin kamu? Dengar ya, ini jam kerja, masih banyak kerjaankan? Naik gih, selesaikan pekerjaan mu itu!" Dengan angkuhnya Reina meminta Mia untuk kembali ke ruang kerjanya.
Mia membatin, gini banget gw mau ke tempat lo Layla, harus berhadapan dengan ibu Aulia dan Reina yang sama saja, nyebelinnya.
Mia membuan nafasnya kasar, tanpa menunggu waktu lagi, Mia mengeluarkan hapenya dari saku blezer yang kini ia kenakan, jarinya mendiel nomor seseorang yang dapat membungkam mulut Reina.
[ "Apa kau sudah sampai di rumah sakit?" ] Tanya Amer setelah mendapat telpon dari Mia, dia langsung menjawabnya dengan semangat.
"Saya tertahan di resepsionis kantor, pak... mbak Reina tidak mengizinkan saya untuk pulang lebih awal." Seru Mia dengan santai.
Reina mengerutkan keningnya, menatap jengah pada Mia, alah, pasti hanya sedang pura pura berbicara di telpon, aslinya mah bicara sendiri.
Mia menyodorkan hapenya pada Reina, "Bos besar ingin bicara dengan anda, mbak!"
Reina menyambar hape Mia dengan malas tanpa melihat nama siapa yang di hubungi oleh Mia di layar hapenya dan Reina mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanannya.
"Halo!" Seru Reina dengan ketus.
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
__ADS_1
Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol ðŸ¤
Author gabut sebatas halu.