Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Sesuai dengan kemampuan


__ADS_3

...💔💔💔...


Membuat Layla dan Amer menatap ke arah hape itu.


"Siapa yang menelpon mu, Layla?" Tanya Amer.


Yang ada dalam benak Layla hanya dua nama, yaitu Mia dan Nami.


"Mungkin Mia atau bisa juga Nami, Tuan. Hanya Mia dan Nami yang tahu nomor telepon ku yang baru." Ucap Layla.


Amer mengambilkan hape yang ada di atas nakas dan menduduk kan dirinya kembali di tepian ranjang rawat Layla.


...Calling...


...Mia...


"Kau benar, ini dari Mia. Mau apa dia menelpon mu?"


"Kan aku sudah bilang pada Mia, aku akan masuk kantor hari ini. Mungkin dia akan menanyakan hal itu pada ku, Tuan!" Ucap Layla dengan santainya.


Amer menganggukkan kepalanya dan menyerahkan hape itu pada Layla.


Mia mencecar Layla dengan berbagai pertanyaan saat Layla menjawab panggilan teleponnya.


[ "Laylaaaa, lo ke mana ajah? Kata lo, lo bakal masuk kantor hari ini? Ko gw tungguin sampe sekarang belum juga nongol batang hidung lo? Kemana lo, Layla!" ]


"Iya iya sorry, Mia... hari ini gw gagal masuk kantor. Tadi pagi gw udah berangkat menuju kantor bareng pak Amer, cuma di jalan ada musibah jadi ---"


Mia memotong perkataan Layla dengan hebohnya.


[ "Apa Layla? Lo ada musibah? Musibah apa lo? Lo berangkat kantor bareng, pak Amer? Serius lo Layla?" ]


"Ihs lo bawel banget, Mia. Towa lo bisa gak di rem sedikit!"


[ "Ihs lo, Layla. Gak tau apa gw khawatir sama lo? Betewe, gw ada berita terhits nih." ] Oceh Mia.


"Kabar hits apa?"


[ "Aulia di turunin jabatan dari sekretaris pribadi pak Amer, jadi asisten pak Gunawan. Sekretaris barunya pak Amer." ]


Layla mengerutkan keningnya menatap Amer dengan tanda tanya di kepalanya, ada apa dengan pak Amer, sampai ia mengganti posisi bu Aulia.


Sedangkan Amer melangkah mendekati meja dan mengambil sekotak mertabak telor di atasnya lalu membawanya ke arah ranjang rawat Layla dengan air mineral botol di tangannya.


Amer meletakkan botol minuman maneral di sisi Layla, tangannya terulur menyuapkan Layla mertabak telor.


Layla menerima suapan dari tangan Amer dengan malu malu dan pipinya merona.

__ADS_1


"Kau harus banyak makan Layla!" ucap Amer dengan tegas yang dapat di dengar oleh Mia di sebrang sana lewat sambungan teleponnya.


[ "Oh IMG, jadi pak Amer lagi sama lo, Layla?" ] Tanya Mia.


"Iya." Layla menjawabnya dengan singkat.


[ "Lo lagi di mana, Layla?" ] Tanya Mia dengan penasaran.


"Aku di ---"


Layla belum menyelesaikan perkataannya pada Mia, Amer sudah memberinya perintah.


"Tempelkan telponnya pada telinga ku!" Amer memiringkan telinganya untuk di tempelkan benda pipih yang ada di tangan Layla.


Seperti terhipnotis dengan bola mata Amer yang indah, Layla menuruti perkataan Amer.


Tangan Layla terulur mengarahkan dan menempelkan benda pipihnya ke daun telinga Amer, Layla memegang benda pipihnya dan membiarkan Amer yang berbicara dengan Mia di telpon.


[ "Layla, lo lagi di mana? Lo lagi gak di hotel apa lagi di taman kan?" ] Tebak Mia yang sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban Layla.


Amer balik menyerang Mia dengan berbagai pertanyaan, yang membuat Layla saat mendengar nya hanya ternganga.


Layla tidak menyangka jika Tuan Amer yang tidak banyak bicara, bisa berbicara panjang lebar pada bawahannya meski lewat hape.


"Ehem, memang kenapa jika Layla sedang di hotel bersama dengan ku? Apa masalah untuk mu? Apa kau ingin di pecat saat ini juga... di jam kantor malah asik bergosip? Apa pekerjaan mu sudah selesai kau kerjakan?" Ucap Amer dengan tegas dan suaranya yang datar.


Layla membatin, astaga Tuan Amer, Mia pasti gelagepan untuk menjawab setiap pertanyaan Tuan Amer.


Amer bertanya pada Mia di hape namun ke dua matanya menatap teduh pada Layla, dengan tangan nya yang tetap menyuapkan mertabak telor ke dalam mulut Layla.


"Terus!"


Layla langsung menjauhkan hapenya dari daun telinga Amer dan menempelkan benda pipih itu kembali pada daun telinganya,


"Maaf Mia, nanti aku telpon kembali diri mu ya! Dah Mia!" Ucap Layla yang lantas mengakhiri sambungan teleponnya dengan Mia.


Amer mengerutkan keningnya, "Kenapa kau putuskan sambungan teleponnya? Aku belum selesai bicara dengan anak itu!" Ucap Amer.


"Tidak perlu, Tuan... apa Tuan tidak masuk kantor karena aku?" Tanya Layla dengan polosnya, tangan Layla terulur menghentikan tangan Amer dengan menyentuh tangan Amer.


"Aku akan masuk kantor, tapi nanti setelah jam makan siang." Ucap Amer yang tetap memaksaaa kan Layla untuk makan dari tangannya.


"Tadi Tuan pergi ke mana? Apa yang di minta Tante Noer pada, Tuan? Tuan nampak tertekan dengan permintaan tante Noer? Kan tante Noer itu mamanya Tuan Amer sendiri." Ucap Layla.


"Yah seperti yang kau tahu, dia memang mama ku. Dia juga sudah memberikan restu untuk kita melangkah ke jenjang yang lebih serius." Ucap Amer.


"Apa tidak ada ke raguan di hati Tuan untuk memilih ku?" Tanya Layla.

__ADS_1


Amer menghembuskan nafasnya dengan kasar, menaruh sekotak mertabak telor yang isinya sudah berkurang di atas nakas. Tangan nya membukakan penutup botol minum mineral dan menyodorkan nya pada Layla untuk di minumnya.


Layla meminum air yang di sodorkan Amer dan menyerahkan nya kembali pada Amer setelah ia selesai dengan minumannya.


"Apa ada lagi yang ingin kau makan, Layla?" Tanya Amer mengalihkan perhatian Layla.


Layla menggenggam tangan Amer, "Tuan belum menjawab pertanyaan, ku! Apa yang tante Noer minta dari Tuan?" Tanya Layla dengan matanya yang menatap tajam pada Amer, meminta Amer untuk berterus terang.


"Hanya soal pekerjaan, tidak lebih." Amer mengukir senyum di bibirnya dengan membuang pandangannya pada yang lain.


"Tuan, jika Tuan ingin aku percaya dengan Tuan. Terbuka lah pada ku, jangan menutupi apa pun dari pasangan mu Tuan uppps." Layla menutup mulutnya dengan tangannya.


Layla menatap lantai rumah sakit dengan pipi yang merona, alamak, aku keceplosan, aku kan belum menjadi pasangan Tuan Amer, dasarrr bodoh, mulut tidak bisa di rem.


Grap.


Amer membawa Layla dalam pelukannya, "Aku senang kau mengatakan itu. Itu artinya kau menerima ke hadiran ku di sisi mu, ia kan Layla?" Amer mengelusss kepala Layla dengan sayang dengan sesekali menghujaninya dengan ke cupan di pucuk kepala Layla.


Layla mengurai pelukan dari Amer, menatap mata indah Amer yang mampu membuatnya bungkam, "Jadi Tuan mau kan mengatakan nya pada ku?"


"Mama meminta ku untuk memberi kan pekerjaan pada Tasya di kantor." Ucap Amer.


"Ya sudah, Tuan berikan saja... kenapa Tuan jadi pusing sendiri?" Tanya Layla dengan polosnya.


"Persoalannya adalah, anak itu tidak bisa melakukan pekerjaan apa pun, Layla! Kau tahu dengan dia bekerja di kantor, itu sama saja dengan memberikannya peluang untuk lebih dekat dengan ku!" ucap Amer menatap lekat wajah Layla yang mampu memberikan ke tenangan dalam hati Amer yang sekian lama gersang tanpa di sirami bunga cinta.


"Tuan Amer kan bos, Tuan bisa memberikannya pekerjaan apa pun, sesuai dengan kemampuan anak itu kan?"


Amer nampak berfikir dengan perkataan Layla dan tidak lama wajah Amer yang serius kini berubah.


Amer menatap genit dengan senyum yang menyeringai pada Layla.


Layla mengangkat kepalanya sedikit dan bertanya pada Amer, "Apa yang Tuan Amer pikirkan?"


"Apa kau tidak merasa cemburu jika aku dekat dengan wanita lain?"


Amer mendekatkan wajahnya dengan wajah Layla.


Deg deg deg deg.


...Bersambung......


...💔💔💔💔💔...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭

__ADS_1


Author gabut sebatas halu 😉


__ADS_2