Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Hasil penyelidikan


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Kalian berdua ini kenapa sih? Aku merasa ada yang aneh dengan kalian." Ucap Layla dengan, tangannya yang menari nari pada kibord laptopnya.


"Gak ada yang aneh ko dengan kita berdua." Ujar Nami.


"Dih bohong banget tuh, lo aja kali. Gw mah kaga hahaha." Mia tergelak saat melihat bibir Nami yang mengerucut.


"La, lo gak belain gw?" Tanya Nami.


"Iya aja lah, dari pada benjol." Ledek Layla.


Tok tok tok.


"Permisi Nona! Anda di minta untuk ke ruangan Tuan." Ucap Gunawan yang berdiri di ambang pintu, Gunawan tampak berdiri menunggu pergerakan Nona Muda-nya.


"Aiiihs, Layla... kau dengar itu, pangeran mu menunggu di ruangan nya, hehe." Ujar Nami dari belakang meja kerjanya.


"Udah sana, temuin dulu pangeran berkereta kencana, eh salah deh... maksud ku mobil mewah." Mia menutup mulutnya menahan tawa.


"Apa sih kalian nih!" Layla beranjak dari duduknya, meninggalkan meja kerjanya.


"Gw temuin bos dulu, ya!" Ujar Layla yang seolah sedang pamit pada ke dua temannya.


"Lama juga gak apa ko, La! Hehehe." Ledek Mia.


"Selow aja sama kita mah, La!" Ujar Nami.


Gunawan menggeser tubuhnya, membiarkan Layla melewatinya. Baru lah gunawan berjalan di belakang Layla.


"Apa pak Amer memanggil ku karena menginginkan kopinya ya, Gunawan?" Tebak Layla.


"Kalo itu saya tidak tahu, Nona." Ujar Gunawan.


"Atau mungkin... pak Amer akan membahas masalah orderan, yang di berikan Ardiansyah group?" Tebak Layla lagi.


"Maaf Nona, saya benar benar tidak tahu." Ucap Gunawan, yang memang tidak tahu alasan Tuannya memanggil Layla.


Gunawan berjalan mendahului Layla, saat Layla hampir mendekati pintu ruang kerja Amer.


Ceklek.


"Terima kasih, Gunawan." Ucap Layla sebelum ia melangkahkan kakinya, ke dalam ruang kerja suaminya.


"Sama sama, Nona." Ucap Gunawan yang langsung menutup kembali pintu itu.


"Pak Amer memanggil, saya?" Tanya Layla yang berkata formal.


"Ayo lah, sayang. Di sini hanya ada kau dan aku. Tidak usah bersikap formal begitu!" Protes Amer dengan gerakan tangannya, yang meminta Layla untuk lebih mendekat darinya.


"Iya, ada apa ka? Pekerjaan ku belum selesai." Ujar Layla.

__ADS_1


Sreek.


Bugh.


Amer menarik pinggang Layla, membuatnya jatuh di atas pangkuan Amer.


"Apa ada yang kaka khawatir kan?" Tanya Layla, saat Amer menyandar kan dagunya di bahu Layla.


"Jika benar kau akan mengerjakan disein di kantor Ardiansyah group, aku tidak bisa bertemu dengan mu, sayang!" Ujar Amer dengan suaranya yang terdengar putus asa.


"Kan kita masih bisa bertemu di rumah, berangkat kerja juga masih bareng, pulang pun bareng kan?" Ujar Layla.


"Benar juga, jam makan siang... biar ku jemput kau di sana ya sayang!" Pinta Amer.


"Ka, kita belum tahu kapan aku akan mulai bekerja di sana. Kita jalanin aja dulu yang sekarang, kaka fokus dengan pekerjaan saat ini, oke!" Ujar Layla dengan menangkup wajah Amer, menatap lekat mata Amer yang teduh.


"Baik lah. Apa pun yang terjadi, kau akan bersama dengan ku kan?" Tanya Amer dengan menggenggammm jemari Layla yang ada di pipinya.


"Pasti lah, aku akan selalu bersama dengan kaka." Ujar Layla dengan mengecup pipi Amer.


Layla beranjak dari pangkuan Amer, "Aku balik ke ruangan ku ya! Apa kaka butuh sesuatu?"


"Aku ingin minum kopi buatan mu, sayang." Ucap Amer.


"Baik lah, akan aku buatkan." Layla ke luar dari ruang kerja Amer.


Ceklek.


"Pagi bang, bang Hendra mau ketemu ka Amer?" Tebak Layla.


"Iya Nona."


"Bang Hendra kalo boleh tau, ngerjain tugas apa dari ka Amer?" Tanya Layla yang ingin tahu.


"Maaf Nona, saya tidak bisa mengatakan nya Nona. Biar Nona tanyakan langsung sama Tuan." Ujar Hendra.


"Gitu ya?" Layla tampak berfikir.


"Kalo begitu, saya masuk dulu Nona." Ujar Hendra.


Hendra masuk ke dalam ruang kerja Amer, sedangkan Layla tampak memperhatikan pintu yang kini tertutup rapat.


Rasanya aku ingin masuk, ingin mendengar apa yang di katakan ka Amer dengan bang Hendra.


Gunawan yang melihat tingkah aneh Layla, langsung menegurnya, "Maaf Nona, apa yang sedang Nona lakukan?"


Layla gelagepan untuk menjawabnya, astaga bodohnya gw. Kenapa gw bisa ngelupain kalo ada Gunawan di depan sini.


"Emm anu, i- itu baru aja mau ke sana, iya mau buatin pak Amer kopi." Kilah Layla yang lantas melangkah meninggalkan Gunawan yang keheranan.


Gunawan geleng geleng kepala melihatnya, bertambah lagi orang aneh di kantor ini.

__ADS_1


☘️Di dalam ruang kerja Amer☘️


"Selamat pagi, Tuan." Hendra berdiri di depan meja kerja Tuan-nya.


"Duduk Hendra." Amer mempersilah kan Hendra, untuk duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.


"Apa yang sudah kau dapatkan dari hasil penyelidikan mu, Hendra?" Tanya Amer yang langsung pada intinya.


Hendra mengeluarkan flashdisk dari dalam saku celananya dan map coklat, dari selipan punggung nya. Ia menyerahkannya ke dua benda itu pada Amer.


"Semua hasil penyelidikan saya selama ini, ada di dalam situ, Tuan." Ujar Hendra.


Amer meraih map coklat itu dari atas meja, ia mengeluarkan beberapa berkas dari dalam sana.


Amer menyimpan flashdisk, yang ada di atas meja ke dalam saku kemejanya.


Amer mengerutkan keningnya, saat mengetahui kenyataan, jika ia sedang berhadapan dengan pria yang arogan dalam setiap langkahnya.


Alan Ardiansyah, sosok pria yang berbeda, dengan rekan kerjanya yang selama ini menjalin kerja sama dengan pihak Amer Crop.


Ceklek.


"Maaf, apa aku mengagetkan kalian?" Tanya Layla, dengan tangannya yang membawa nampan berisi kan dua cangkir kopi.


Wajah Amer tampak tegang begitu Layla masuk. Ia langsung menyimpan kembali, berkas yang ada di tangannya ke dalam map coklat itu.


Layla meletakkan cangkir kopi di depan Amer dan Hendra, "Di minum dulu kopinya!" Ujar Layla.


Amer meraih cangkir kopinya dan menyimpan map coklat itu di atas meja, "Ayo Hendra, di minum dulu kopinya! Kopi buatan istri ku ini paling enak, tidak ada yang seenak buatan istri ku Layla." Ucap Amer dengan menyeruput kopinya.


Ke dua mata Layla tertuju pada map coklat yang ada di atas meja kerja Amer, apa isi map coklat itu ya? Apa ada yang ka Amer sembunyikan dari ku? Tapi apa?


"Iya, Tuan." Hendra meraih cangkir kopinya dan menyeruput kopinya perlahan, benar juga apa yang di katakan Tuan Amer, kopi buatan Nona... beda dengan kopi yang aku minum sebelumnya.


"Ka Amer berlebihan nih mujinya." Layla tampak bersemu.


Tok tok tok.


"Boleh saya masuk l, Tuan!" Seru Gunawan dari depan pintu.


"Masuk lah." Jawab Amer.


"Maaf Tuan, saya baru saja dapat pesan dari pak Nusi. Jam 10 nanti meminta izin bapak untuk, menjemput Nona Layla." Ujar Gunawan.


Layla membola, "Ha? Menjemput saya? Untuk apa Gunawan?"


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


__ADS_2