
...πππ...
"Kalian sedang apa di sini!" Seru Amer dengan mata yang menatap tajam pada ke duanya.
"Aiiiihs si bapak, ya mau nemenin Layla lah pak!" Mia melangkah mendekati ranjang rawat Layla dengan tangannya yang membawa aneka belanjaan.
Kening Amer mengkerut, "Kau?" Amer mengalihkan perhatiannya pada wanita yang tidak kalah repotnya dengan Mia.
"Ya sama lah pak, nemenin Layla." Nami memeluk boneka beruang segede tubuhnya.
"Apa harus kau bawa boneka sebesar itu ke rumah sakit? Untuk apa?" Tanya Amer bingung dengan tingkah karyawan yang satu ini.
Nami menyerahkan boneka beruang besar itu pada Layla, "Ya buat nemenin Layla lah pak, biar gak sendirian lagi!" Terang Nami.
Layla memeluk boneka pemberian Nami, "Makasih ya, kalian udah mau repot repot ke sini!" Seru Layla dengan mata yang berbinar senang.
Mia memeluk sahabatnya Layla, "Cepet sembuh ya, gays biar kita bisa puyeng lagi mikirin disen buat karpet." Terang Mia yang langsung mendapat tatapan tajam dari Amer.
"Ih si bapak bos sensi amat, balik kantor gidah pak! Itu ya, tampang sekretaris bapak, eh salah deh... mantan sekretaris pribadi bapak itu tampangnya udah kaya baju yang leceeeeeek banget, gak ada enaknya buat di pandang, hahaha." Seru Nami yang membicarakan Aulia.
Layla menatap Amer dengan pandangan yang sulit di artikan, "Mantan sekretaris pribadi, pak maksudnya bapak memecat bu Aulia?" Tanya Layla.
Tangan Amer terulur mengelus puncak kepala Layla, "Tidak usah kau hiraukan perkataannya!" Seru Amer dengan menarik sudut bibirnya ke atas.
Layla membatin, apa karena perkataan ku tadi ya?
Nami mendudukkan dirinya di sofa yang ada di dekat ranjang rawat Layla, sedangkan Mia memilih duduk di tepian ranjang rawat Layla.
"Kalian bicara lah, aku ke luar sebentar!" Amer beranjak dari duduknya tangannya mengelusss lembut pipi Layla.
Saat Amer sudah hilang di balik pintu, baru lah ke tiga wanita itu melanjutkan pembicaraannya dengan sesekali tergelak tertawa melupakan pekerjaan sesaat.
"Serius lo, La?" Tanya Nami.
"Gila, salut gw sama pak Amer... udah gw sih setuju aja lo sama pak Amer, La... secara udah terbukti lo cintanya pak Amer cuma buat lo." Terang Mia.
Nami menatap tajam Layla, "Gw rasa pak Amer udah minta lo buat jadi bininya pan, La!" Tebak Nami.
Mia menatap Layla dengan penuh selidik, "Soooooo ada yang gw gak tau nih? Seriusan La? Pak Amer ngajakin lo buat merid?" Tanya Mia dengan mengguncang bahu Layla, gak nyangka gw sama lo La, bisa gaet CEO tampan kaya pak Amer, udah baik, tegas, cool banget, tipe gw banget itu pak Amer, idaman gw banget, tapi gak apa lah gw sadar diri ko kalo pak Amer cintanya sama lo.
Mata Nami mengarah pada amplop coklat yang ada di nakas dengan ranjang rawat Layla, "Surat apaan ini, La?" Tangan Nami terulur meraih amplop coklat itu.
Plak.
"Heh ege, izin dulu sama Layla... boleh gak lu tau isi suratnya! Maen ambil bae lu!" Tukas Mia dengan menepak tangan Nami.
"Ihs apa si lo! Bilang aja kalo lo juga penasaran ama ini isi amplop kan!" Seru Nami dengan mata melotot.
"Udah gak apa kalo kalian mau liet, tapi jangan sampe sobek ya!" Seru Layla yang melihat perdebatan antara Mia dan Nami.
Nami mengeluarkan isi suratnya, matanya membola membaca isi surat pengajuan cerai yang di layangkan Layla untuk Rudi.
"Ini, lo seriusan La?" Tanya Nami dengan tangannya yang terulur menyerahkan surat itu pada Mia.
__ADS_1
Layla mengangguk pasti.
"Ada angin apaan, La? Pasti ada alesan yang kuat nih sampe sampe lo mau ambil langkah ini, bukan karena pak Amer kan?" Tebak Nami yang tidak kalah taunya dari Mia, Layla tidak akan mengambil ke putusan tanpa melihat dengan mata dan kepalanya sendiri.
Mia tidak kaget lagi dengan surat gugatan cerai yang di layangkan Layla.
"Tapi, ko bisa lo ngurus ini sendiri? Secara lo kan lagi di rumah sakit ngejalanin perawatan!" Seru Mia.
"Di bantu pak Amer, pak Amer pengen cepet cepet gw lepas dari bang Rudi." Seru Layla.
Layla menoleh pada Mia dengan tatapan matanya yang penuh dengan pengharapan, "Lo bisa tolongin gw kan, Mia?"
"Wah jangan nyuruh gw buat yang aneh aneh lo!" Sungut Mia yang sudah dapat menebak pasti ada sangkut pautnya dengan adik tiri Layla yang tidak tahu diri itu.
Layla mengatupkan ke dua tangannya, "Pleasa!" Kalo gw minta tolong sama Nami, Nami pasti akan menolak keras. Beda sama lo, lo pasti mau kalo liet gw udah melas gini! Ayo dong Mia, bilang mau!
"Ahahaha, makanya Mia, lo kalo di mintain tolong sama Layla, jangan mau. Apa lagi ada hubungannya tuh sama anak kuranggg ajarrr itu!" Sungut Nami yang kini mentertawakan Mia.
"Ihs lo mah Nami!" Sungut Mia, namun matanya meminta Nami untuk mencegah Layla minta tolong padanya.
Nami hanya menggelengkan kepalanya.
Nami tergelak di buatnya, "Udah tolongin bae, lo kan temen yang paling pengertian, beda sama gw! Hahaha."
"Ayo dong Mia, sekali ini aja. Abis itu gw gak minta tolong lagi sama lo, gw cuma pengen tau kondisi Melisa, karena yang gw tau hari ini Melisa di paksa ke luar dari rumah sakit dengan surat perjanjian." Terang Layla dengan raut wajah yang sendu.
"Kenapa lagi sama itu anak?" Tanya Nami.
"Ihs, nanti juga lo bakal ke luar dari rumah sakit, terus lo bakal pulang kan ke rumah... ngapain juga pake gw yang harus ke rumah lo buat liet itu si Melisa." Terang Mia yang masih belum tahu jika Layla sudah tidak tinggal di rumah yang sama dengan Melisa.
Layla menundukkan kepalanya, "Gw udah gak tinggal di rumah itu! Gw udah di usir dari rumah itu!" Gumam Layla.
"Ko bisa?" Tanya Mia.
Nami beranjak dari duduknya, berpindah duduk di ranjang rawat Layla, "Terus selama ini lo tinggal di mana?" Tangan Nami mengelusss punggung Layla.
Layla membuang nafasnya dengan kasar, "Tinggal di rumah pak Amer." Terang Layla.
"Bearti yang bawa lo ke rumah sakit juga pak Amer?" Tebak Mia.
Layla menganggukkan kepalanya.
"Sekarang terbukti kan, itu namanya karma buat Melisa, itu anak kan udah keterlaluan banget!" Sungut Mia dengan tangannya yang ikut terulur mengusappp usappp punggung Layla.
"Gw rasa itu dari pelanggannya aja, secara lo tau sendiri. Ade lo itu kan mainannya om om berduit." Terang Nami.
"Entah lah, tapi gw rasa bang Rudi terlibat di dalamnya, karena pria yang membawa Melisa ke rumah sakit itu ya bang Rudi dan ke dua temannya." Terang Layla yang membuat Mia dan Nami melongo.
"Serius lo?" Tanya Mia.
Layla menganggukkan kepalanya sebagai jawaban iya dan membenarkannya.
"Lo kata siapa Melisa di bawa sama bang Rudi ke rumah sakit?" Tanya Nami.
__ADS_1
"Pak Amer yang ngomong, pak Amer denger sendiri pengakuan dari salah satu pria yang udah ikut gilirrr Melisa." Terang Layla.
"Gila juga ya laki lo kalo sampe terlibat, bagus deh kalo lo ambil keputusan buat pisah dari bang Rudi." Terang Nami, kalo lo lebih lama lagi jadi bininya bang Rudi, bukan cuma keringat lo aja yang di peres, yang ada itu lo juga bakal di duitin sama bang Rudi.
"Iya udah, tar gw liet ade lo itu. Gimana ke adaannya." Terang Mia yang akhirnya mengalah dan mau melihat kondisi Melisa.
Layla berhambur memeluk Mia, "Lo emang the best deh kalo masalah ini, thanks ya Mia."
"Terus gw gak the best gitu?" Sungut Nami dengan ekor matanya yang menatap sinis pada Mia.
Ceklek.
πRumah Melisaπ
Dengan berjalan yang tertatih tatih Melisa mendekati ke dua pasangan mesum yang tengah memadu cinta di atas ranjang Rudi dan Layla dulu.
Sreeek.
Melisa menarik tangan Rudi dari tubuh wanita yang tengah berada di bawah kungkungannya.
"Apa yang udah lo lakuin, bang?" Tanya Melisa dengan tatapan mata yang tajam namun berembun, begini rasanya di hiyanati!
Dengan geram tangan Rudi mendorong Melisa, "Ganggu aja lo! Pergi lo dari sini!"
Tubuh Melisa terhuyung ke belakang namun tidak sempat jatuh tangan kekar Herman menangkap bahu Melisa, hingga Melisa terselamatkan dari jatuh.
"Lo, ngapain cuma diem! Bawa cewe sialll itu ke luar dari sini! Ganggu kesenangan gw aja lo!" Sungut Rudi.
Sementara wanita yang berada di bawah kungkungan Rudi, tangannya bergerak liar dengan suaranya yang mendesah.
"Abang, abaikan saja mereka! Jika mereka punya malu, mereka akan ke luar dengan sendirinya!"
"Dasar kau pelakor, kau yang harusnya malu, cepat bangun, gunakan baju mu! Bang Rudi tidak pantas untuk mu!" Sungut Melisa yang mencoba mendekati ranjang hendak menarik tangan wanita itu.
"Herman!" Rudi berseru dengan suara yang melengking.
Herman langsung membawa Melisa ke luar, mencari aman untuk dirinya sendiri, gawat nih bang Rudi bakal ngamuk kalo gw diemin Melisa di dalam sini.
Melisa meronta ronta minta di lepaskan Herman, "Lepasin tangan gw! Gw harus kasih pelajaran sama itu pelakor! Beraninya dia rebut bang Rudi dari gw!" Sungut Melisa.
Herman mendudukan Melisa di sofa, "Lo gak malu? Pelakor teriak pelakor?" Sungut Herman dengan sinis.
Deg.
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
Author gabut sebatas halu π
__ADS_1